... NOSTALGIA CINTA SEORANG SUAMI SHALEH ...
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Teringat ketika dulu saat pertama kali
aku melihatmu, berlalu di hadapanku. Aku hanya melihat gamis ungu tua
dipadankan dengan rok dan jilbab dengan warna senada. Tak sempat ku
lihat wajahmu, hingga rasa penasaranku berlalu karena aku tak mungkin
bisa mengenalmu.
Teringat ketika seorang saudara menawarkan
wanita shalihah padaku. Yang ku tahu bahwa pilihannya insyaAllah bagus
untukku. Saudara yang ku kenal ke shalihannya, tak kan mungkin
menjerumuskanku. Rumus husnuzhan yang ku yakini saat itu. Bukanlah
sebuah kepasrahan, namun keyakinan.
Teringat ketika dulu aku
menadhormu, suasana menegangkan yang ku rasakan. Bertandang ke rumah
keluargamu dengan hati penuh rasa, detak jantungku semakin cepat saat
aku melihat gaun yang kau kenakan, warna yang sama yang berlalu di
hadapanku. Gamis ungu tua dipadankan dengan rok dan jilbab dengan warna
senada. Ya Allah...itu dia desahku. Saat ku lihat wajahmu yang tertunduk
begitu dalam, ku yakin bahwa tidak hanya aku yang deg-degan, detak
jantungku mulai kembali normal.
Teringat ketika dulu aku
mengkhitbahmu. Hari itu hatiku berbunga senang, namun jantungku masih
deg-degan, tetap berdetak tak normal. Berlalu dengan hasil yang
membanggakan, I am the winner karena berhasil memenangkan hatimu, kau
menerima pinanganku sayang.
Teringat ketika dulu aku mengikatmu
dengan kalimat ijab kabul dan jabat tangan ayahmu dalam genggaman. Do’a
makbul terucapkan “ baarokallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jam’a
bainakuma fii khair”. Qalbuku berdesir kalimat ALHAMDULILLAH... Allah
bukit tursina kini ada di pundakku, mudahkan hamba mengemban amanah
untuk kehidupan dunia – akhirat semoga sampai ke syurgaNya, amiin.
Rabb, pilihanMu tak pernah salah, ialah istriku kini wanita shalihah.
Melahirkan jundi-jundi permata kehidupan. Letihmu yang terhias sabar.
Teringat ketika dulu pergi dan pulangku disambutnya dengan senyuman.
Mulai dari menyiapkan sarapan sampai menjelang tidurpun ada saja
pekerjaan yang kau lakukan. Seakan tak ada bagimu waktu luang, tapi
istriku memang pintar, ia tak pernah lupa dengan penampilan terbaik
untukku suaminya. Istriku sabar dalam mengurusi anak-anak kami, anak
menangis kau tenangkan dalam gendongan, kau usap airmatanya dengan
lembut dan senyuman.
Bahtera kita memang tak selalu berjalan
lancar, ada riak kecil sampai gelombang menghantam, namun kau bantu aku
menyeimbangkan bahtera kita agar tak tenggelam. Saat aku harus
menyelesaikan pekerjaan yang begitu banyak, kau pun tak lupa menyiapkan
bekal. Kopi atau teh hangat kau sediakan serta camilan ringan agar
perutku tak lapar. Sementara aku terjaga dengan setumpuk kerjaan, namun
kulihat kau di sana terurai tangis bermunajad dalam kekhusukan.
“ Abi...., sarapan dan vitamin di meja sudah ku siapkan, jangan lupa
periksa tas kerja kalau-kalau ada yang lupa ummi siapkan”, kalimat ini
yang selalu terlontar setiap pagi, saat kau sibuk membenahi rumah dan
mengurusi anak-anak kita. Setiap siang kau selalu sempat mengirimkan SMS
kasih sayang padaku, semua berbeda setiap harinya. Aku selalu tersenyum
membacanya, entah dari mana kau dapatkan kalimat-kalimat sayang itu
istriku.
Teringat ketika dulu saat aku sakit dan harus
istirahat dari aktivitas harian, sepekan aku terbaring di rumah untuk
memulihkan kembali kesehatan setelah dua pekan perawatan di rumah sakit
karena gejala ginjal. Kau tak mengeluh dan tetap sabar, menyiapkan
makanan khusus untukku, tak membiarkan anak-anak mengganggu waktu
istirahatku.
Teringat ketika dulu saat kau jatuh sakit dan
harus menjalani perawatan. Dua pekan kau terbaring lemah di rumah sakit,
dokter memvonismu terkena kanker tulang belakang. Ketika ku dengar
berita itu, seketika aku jatuh lemas tak berdaya. “ Abi.., aku istirahat
di rumah saja”. Kalimat itu terucap, karena dia membaca kesedihanku
karena melihatnya dalam perawatan. Aku semakin sedih mendengar
ucapannya, ia tak mau berlama-lama di rumah sakit hanya berteman infus
dan obat-obatan. Aku tak sanggup menolak permintaannya, karena kerasku
akan membuatnya terluka.
Rumah membuat senyumnya terkembang,
melihat anak-anak kami yang masih kecil bermain riang, bisa memeluk dan
tidur dengan mereka membuatnya bahagia. Walaupun kau hanya terbaring dan
tak bisa melakukan apa-apa. Hari itu adalah jum’at kedua kau bersama
kami.
Setelah sholat subuh dan seperti biasa aku duduk di
sampingnya untuk tilawah. Setelah selesai kau bekata padaku “ Abi,
kenapa ya mataku begitu ingin terpejam, padahal kan sudah tidur
semalaman”. Aku hanya terdiam mendengar ucapannya. Kembali ia berucap “
Abi..., ummi tidur dulu ya, jangan lupa anak-anak di perhatikan, yang
sabar ya. Abi juga jaga kesehatan “
Sesaat dengan senyum
matanyapun terpejam sambil menggenggam tanganku. Ku pandang wajahmu saat
tidur, ada damai tersirat disana. Ketika genggaman eratmu terlepas dari
tanganku, kuperiksa detak jantungmu. Ya Allah....kekasihku kembali ke
pangkuanMu. Air mataku tak terbendung, mengalir dengan derasnya.
Istriku, tak terasa sudah begitu lama kau meninggalkanku. Kini aku
hanya bisa mengenangmu, setiap tahun ku lakukan di tempat yang sama. Di
sampingmu dan memandang pusaramu. Kau memang shalihah, walau kini tak
ada lagi tempatku bermanja, namun aku selalu bahagia bahwa kau pernah
ada, mengisi sejarah kehidupan yang takkan ku lupakan. Hiduplah di
sisiNya, yang kupinta dariNya...
Kelak ku ingin -wanita shalihah- ini mendampingiku dalam kekalnya syurga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar