Jumat, 29 Maret 2013
Faedah Menikah di Usia Muda
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam dan satu-satunya layak untuk
disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para
sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari
kiamat.
Menikah di usia muda, siapa takut?
Berikut
penjelasan yang bagus dari ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Sholih bin
Fauzan bin 'Abdillah Al Fauzan -hafizhohullah- yang kami kutip dari Web
Sahab.net (arabic).
[Faedah pertama: Hati semakin tenang dan sejuk dengan adanya istri dan anak]
Di antara faedah segera menikah adalah lebih mudah menghasilkan anak yang dapat menyejukkan jiwa. Allah Ta'ala berfirman,
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
“Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada
kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati
(kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ” (QS.
Al Furqon: 74)
Istri dan anak adalah penyejuk hati. Oleh karena
itu, Allah -subhanahu wa ta'ala- menjanjikan dan mengabarkan bahwa
menikah dapat membuat jiwa semakin tentram. Dengan menikah seorang
pemuda akan merasakan ketenangan, oleh karenanya ia pun bersegera untuk
menikah.
هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan
keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam
bagi orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Al Furqon: 74)
Demikian pula dengan anak. Allah pun mengabarkan bahwa anak adalah separuh dari perhiasan dunia sebagaimana firman-Nya,
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi
amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi
Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. ” (QS. Al Kahfi: 46)
Anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Setiap manusia pasti
menginginkan perhiasan yang menyejukkan pandangan. Sebagaimana manusia
pun begitu suka mencari harta, ia pun senang jika mendapatkan anak.
Karena anak sama halnya dengan harta dunia, yaitu sebagai perhiasan
kehidupan dunia. Inilah faedah memiliki anak dalam kehidupan dunia.
Sedangkan untuk kehidupan akhirat, anak yang sholih akan terus
memberikan manfaat kepada kedua orang tuanya, sebagaimana Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : علم ينتفع به ، أو صدقة جارية ، أو ولد صالح يدعو له
“Jika manusia itu mati, maka amalannya akan terputus kecuali tiga
perkara: [1] ilmu yang bermanfaat, [2] sedekah jariyah, dan [3] anak
sholih yang selalu mendoakannya.”1
Hal ini menunjukkan bahwa anak memberikan faedah yang besar dalam kehidupan dunia dan nanti setelah kematian.
[Faedah kedua: Bersegera nikah akan mudah memperbanyak umat ini]
Faedah lainnya, bersegera menikah juga lebih mudah memperbanyak anak,
sehingga umat Islam pun akan bertambah banyak. Oleh karena itu, setiap
manusia dituntut untuk bekerjasama dalam nikah membentuk masyarakat
Islami. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
تزوجوا فإني مكاثر بكم يوم القيامة
“Menikahlah kalian. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku
pada hari kiamat.”2 Atau sebagaimana sabda beliau shallallahu 'alaihi wa
sallam.
Intinya, bersegera menikah memiliki manfaat dan dampak
yang luar biasa. Namun ketika saya memaparkan hal ini kepada para
pemuda, ada beberapa rintangan yang muncul di tengah-tengah mereka.
Rintangan pertama:
Ada yang mengutarakan bahwa nikah di usia muda akan membuat lalai dari
mendapatkan ilmu dan menyulitkan dalam belajar. Ketahuilah, rintangan
semacam ini tidak senyatanya benar. Yang ada pada bahkan sebaliknya.
Karena bersegera menikah memiliki keistimewaan sebagaimana yang kami
utarakan yaitu orang yang segera menikah akan lebih mudah merasa
ketenangan jiwa. Adanya ketenangan semacam ini dan mendapatkan penyejuk
jiwa dari anak maupun istri dapat lebih menolong seseorang untuk
mendapatkan ilmu. Jika jiwa dan pikirannya telah tenang karena istri dan
anaknya di sampingnya, maka ia akan semakin mudah untuk mendapatkan
ilmu.
Adapun seseorang yang belum menikah, maka pada hakikatnya
dirinya terus terhalangi untuk mendapatkan ilmu. Jika pikiran dan jiwa
masih terus merasakan was-was, maka ia pun sulit mendapatkan ilmu. Namun
jika ia bersegera menikah, lalu jiwanya tenang, maka ini akan lebih
akan menolongnya. Inilah yang memudahkan seseorang dalam belajar dan
tidak seperti yang dinyatakan oleh segelintir orang.
Rintangan kedua:
Ada yang mengatakan bahwa nikah di usia muda dapat membebani seorang
pemuda dalam mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Rintangan ini pun
tidak selamanya bisa diterima. Karena yang namanya pernikahan akan
senantiasa membawa keberkahan (bertambahnya kebaikan) dan akan membawa
pada kebaikan. Menjalani nikah berarti melakukan ketaatan kepada Allah
dan Rasul-Nya. Ketaatan seperti ini adalah suatu kebaikan. Seorang
pemuda yang menikah berarti telah menjalankan perintah Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam. Ia pun mencari janji kebaikan dan membenarkan
niatnya, maka inilah yang sebab datangnya kebaikan untuknya. Ingatlah,
semua rizki itu di tangan Allah sebagaimana firman-Nya,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا
“ Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.” (QS. Hud: 6)
Jika engkau menjalani nikah, maka Allah akan memudahkan rizki untuk dirimu dan anak-anakmu. Allah Ta'ala berfirman,
نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
“Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An'am: 151)
Oleh karenanya ,yang namanya menikah tidaklah membebani seorang pemuda
sebagaimana anggapan bahwa menikah dapat membebani seorang pemuda di
luar kemampuannya. Ini tidaklah benar. Karena dengan menikah akan
semakin mudah mendapatkan kebaikan dan keberkahan. Menikah adalah
ketetapan Allah untuk manusia yang seharusnya mereka jalani. Ia bukan
semata-mata khayalan. Menikah termasuk salah pintu mendatangkan kebaikan
bagi siapa yang benar niatnya.
discovermagazine | hidayatullah | muslih abdul karim
-
Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
digitalhuda.com/?f1
-
Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
www.rumahhajidanumrah.com
-
Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
tokopedia.com/tokobukumuslim
-
Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
rubystore.wordpress.com/
Ketika wafat, ‘Isa lagi-lagi menjadi perbincangan hangat. Kaum Yahudi mengaku telah menyalib dan membunuhnya. Kaum Nasrani juga berpandangan serupa, serta menyakini bahwa beberapa hari kemudian ‘Isa di angkat oleh Tuhan.
Adapun Islam, sejak awal meluruskan pandangan keliru mereka dengan menegaskan tentang kemuliaan akhlak Maryam sebagai perawan suci, yang Allah takdirkan mengandung dan melahirkan ‘Isa meski perempuan itu tidak pernah disentuh oleh seorang lelaki pun.
Begitu pula mengenai sangkaan orang bahwa ‘Isa mati di kayu salib, Islam juga meluruskan pandangan keliru dengan menegaskan bahwa beliau tidak mati disalib melainkan diselamatkan Allah dan diangkat ke langit, ditempatkan ke langit kedua, kemudian menunggu untuk diturunkan kembali ke dunia pada akhir Zaman.
Kontroversi itu menarik perhatian Dr.Muslih Abdul Karim, MA, sehingga oleh beliau kemudian dijadikan tema disertasi gelar Doktornya (1995). “Banyak saudara kita sesama muslim yang kurang memahami tentang siapa itu Nabi ‘Isa. Oleh karena itu, perlu ada rujukan yang berpijak pada kebenaran, Al-Qur’an dan Hadits shahih (valid),” pria ramah ini memberikan alasan mengapa ia begitu concern (perhatian) terhadap sosok ‘Isa.
Dosen pasca-sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga mengkaji tentang turunnya ‘Isa di akhir zaman. Menurutnya, munculnya Dajjal, Imam Mahdi, turunnya Nabi ‘Isa ke bumi, dan peristiwa Kiamat memang sudah dekat.
Berikut ini redaksi Fimadani ringkaskan pendapat beliau dalam wawancaranya dengan Majalah Hidayatullah yang dimuat dalam edisi 08/XVIII/Desember tahun 2005:
Awal Kehidupan Dakwah ‘Isa
Sebagai utusan Allah, Nabi ‘Isa berdakwah kepada Umatnya, Bani Israil. Ada yang beriman, yaitu kaum Hawariyyun, ada pula yang kafir (menentangnya), kebanyakan dari kalangan Yahudi.
Pengikutnya semakin besar. Kaum Yahudi dan penguasa Romawi saat itu gerah, pasalnya, materi dakwah Nabi ‘Isa berhasil mengubah kebiasaan-kebiasaan para pembesar Romawi, seperti; gemar berzina, minuman keras, dan suap-menyuap. Itulah sebabnya ‘Isa dikejar-kejar.
‘Isa lalu berpindah-pindah tempat. Kaum Hawariyyun bisa menyimpan rahasia tentang keberadaannya sehingga ‘Isa lolos dari upaya pengejaran. Namun rupanya ada seorang murid ‘Isa yang berkhianat. Dialah Yudas, yang telah disuap oleh aparat kerajaan Romawi.
Lalu ketemulah tempat persembunyian Nabi ‘Isa. Ketika hendak ditangkap, Allah mengangkat ‘Isa ke langit sehingga selamat dari tipu daya dan fitnah kaum Yahudi. Pada saat itu, tentara Yahudi menangkap Yudas yang oleh Allah dimiripkan dengan ‘Isa, baik suara maupun tampilan fisiknya.
Allah berfirman, “.. wa maa qataluuhu wa mashalabuuhu wa laakin syubbihalahum..”(dan mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka…). (An Nisa’ :57)
Jadi, yang disalib dan dibunuh itu bukanlah ‘Isa melainkan Yudas yang diserupakan oleh Allah seperti Nabi ‘Isa.
Pengangkatan Fisik Nabi ‘Isa
Umat Islam berbeda pendapat mengenai pengankatan Nabi ‘Isa, apakah fisiknya atau hanya ruhnya saja. D i kalangan umat Islam sendiri ada beberapa versi, bahkan di kalangan ahlus-sunnah wal jama’ah juga begitu.
Di kalangan kita sendiri, semua sepakat dalam hal ‘Isa adalah hamba dan utusan Allah, namun berbeda pendapat dalam hal wafatnya.
Dalam Tafsir Al Maraghi karya Syaikh Maraghi misalnya, dinyatakan bahwa Nabi ‘Isa sudah meninggal dunia. Yang diangkat adalah derajat dan kemuliaannya. Ini pula yang dinyatakan oleh Buya HAMKA dalam Tafsir Al Azhar nya, yang tampaknya mengacu pada Maraghi. Pendapat serupa juga dianut Syaikh Mahmud Syaltut. Jadi, pendapatnya hampir sama dengan apa yang diyakini oleh kaum Yahudi dan Nasrani.
Ada pula yang menyebut Nabi ‘Isa diangkat dalam keadaan tidur, misalnya dalamTafsir Al-Alusi. Namun Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Al-Qurtubi, dan jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa Nabi ‘Isa diangkat roh dan jasadnya, dalam keadaan hidup, dan tidak tidur.
Perbedaan Pendapat di Kalangan Yahudi dan Kristen
Orang Yahudi menyakini telah menyalib dan membunuh ‘Isa. “Dan karena ucapan mereka. Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih ‘Isa putra Maryam..” (An Nisa’: 157)
Keyakinan seperti itu juga diikuti oleh kaum Nasrani, yang juga menyakini bahwa setelah meninggal, beberapa hari kemudian ‘Isa diangkat ke langit oleh Tuhan. Penyaliban Isa merupakan salah satu prinsip doktrin agama Kristen (terutama sejak Konsili Nicea tahun 400an). Seseorang tidak dianggap sebagai pemeluk Nasrani kecuali yang percaya kepada penyaliban ‘Isa untuk menebus dosa umat manusia.
Dalam Al-Qur’an ada beberapa ayat yang membantah itu semua.
“Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti ‘Isa akan menjadi saksi terhadap mereka.” (An Nisa’: 159)
“Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu tentang kiamat itu…” (Az Zukhruf: 61)
“… dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shaleh.” (Ali ‘Imran :46)
Ada kata “kahlan” dalam ayat itu yang berarti dewasa, usia antara 30-40 tahun, jumhur ulama menyebutnya 33 tahun. Pada usia itulah (33 tahun) ‘Isa di angkat ke langit dan kelak akan turun lagi (ke bumi). Ath Thabari dan Ibnu Jarir mengatakan bahwa ‘Isa berbicara ketika masih bayi dan ketika dewasa saat membunuh Dajjal.
Ayat-ayat di atas menerangkan bahwa Nabi ‘Isa memang masih hidup dan kelak akan turun di akhir zaman.
Dimana ‘Isa Sekarang Berada?
‘Isa diangkat oleh Allah dan sekarang ditempatkan di langit kedua. Kenapa di langit kedua? Karena kelak akan turun ke bumi lagi. Barangkali logika kita sulit menerima tentang hal ini. Kalau di langit kedua, di sebelah mana, bagaimana caranya, makan apa? Wallahu a’lam. Itu urusan Allah. Kalau menurut logika memang barangkali sulit di mengerti sebab ini masalah ghaib, yang dapat menerima adalah keimanan kita. Yang jelas itu ada di dalam Hadits, bukan omongan saya.
Perihal ‘Isa akan turun ke bumi pada akhir zaman diterangkan oleh banyak Haditsshahih, termasuk yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Kalau nanti akan turun, berarti memang benar bahwa Nabi ‘Isa belum meninggal.
Kisah Turunnya Nabi ‘Isa
Dari Aus bin ‘Aus, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “‘Isa bin Maryam akan turun di (masjid) menara putih di Damaskus (Suriyah).” (Riwayat Thabrani). Allah izinkan Nabi ‘Isa turun dengan di antar dua malaikat.
Menurut Hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah, saat itu kaum muslimin tengah bersiap-siap untuk shalat shubuh di masjid menara putih Damaskus (Suriah). Iqamat dikumandangkan, lalu ‘Isa turun. Melihat kedatangan utusan Allah, Imam Mahdi yang saat itu menjadi pimpinan kaum muslimin mempersilahkan ‘Isa untuk menjadi Imam shalat. Namun ‘Isa menolak dan mempersilahkan Al Mahdi untuk menjadi imam. Ibnu Katsir 800 tahun yang lalu sudah menyebutnya, dan menara putih itu sampai sekarang masih ada di Damaskus.
Rombongan 70 ribu orang Yahudi bersenjata lengkap yang dipimpin oleh Dajjal hendak menyerang dan membunuh kaum muslimin. Usai shalat, maka Nabi ‘Isa dan Al-Mahdi keluar dari masjid dan terjadilah pertempuran hebat.
Begitu melihat Nabi ‘Isa, Dajjal pun lari ketakutan dan bersembunyi ke dalam barisan pasukannya, seperti garam yang dimasukkan ke dalam air, lenyap begitu saja. Namun Nabi ‘Isa tetap mengetahui keberadaan Dajjal dan pada akhirnya ‘Isa berhasil membunuh Dajjal.
Ini diterangkan dalam Hadits riwayat Ahmad dan Hakim. Hadits tersebut diriwayatkan Ahmad dengan dua sanad, satu di antaranya dengan perawi-perawi Hadits shahih.
Setelah membunuh Dajjal, ia menghancurkan salib, membunuh babi, menyudahi peperangan, dan harta benda melimpah ruah. Ini terdapat di dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad.
Maksudnya menghancurkan salib adalah benar-benar dihancurkan dalam arti sebenarnya. Salib adalah simbol penyembahan kepada Nabi ‘Isa sebagai Tuhan Yesus. Menurut Ibnu Hajar, ini untuk meruntuhkan agama Nasrani (Kristen). Juga membunuh babi, karena selama ini orang Nasrani mengaku pengikut ‘Isa tetapi mereka menghalalkan (memakan) babi.
Menurut Dr Muslih Abdul Karim, penghancuran salib itu dilakukan juga oleh kaum Muslimin. Salib kan tidak cuma ada satu. Sama halnya seperti yang dilakukan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menghancurkan berhala-berhala, diikuti pula oleh umatnya.
‘Isa juga menyerukan Tauhid dan menerapkan syariat Islam. Ia menjadi penguasa yang adil. Selain itu, ‘Isa melaksanakan ibadah Haji dan juga umrah, serta berziarah ke makam Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Keterangan tentang hal ini bersandar pada beberapa Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Bukhari, Ahmad dan Hakim.
Dalam surat An Nisa’ ayat 159 dinyatakan bahwa kelak Ahlul-Kitab akan beriman kepada Nabi ‘Isa. Maksudnya adalah bahwa ereka (Ahli Kitab) mengaku bahwa ‘Isa itu adalah utusan Allah, hamba –Nya, dan beriman kepada kalimat Allah yang disampaikan kepada Maryam. Bukan seperti anggapan orang Yahudi sekarang yang menganggap ‘Isa adalah anak pelacur, atau seperti anggapan orang Nasrani yang menyakini bahwa ‘Isa adalah Yesus, anak Allah. Dengan demikian, semua agama runtuh kecuali agama Islam. Jadi, apa yang disebut sebagai Ahlul-Kitab adalah kaum Yahudi dan Nasrani.
Peristiwa ini akan terjadi sebelum kematian ‘Isa. Sebelumnya ada rentetan peristiwa, diantaranya ialah munculnya Imam Mahdi, al malhamah kubra (peperangan besar), munculnya Dajjal, dan kemudian Dajjal terbunuh. Jadi, ahlul-kitab akan beriman setelah melakukan peperangan melawan kaum muslimin.
Menurut Hadits riwayat al-Hakim dan beberapa Hadits lain, ‘Isa tinggal selama 40 tahun. Ia mengemban misi yang diperintahkan Allah kepadanya. Setelah dunia aman dan tenteram selama tujuh tahun, ia meninggal dunia, di shalati, dan dimakamkan oleh kaum muslimin. Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, ‘Isa akan dimakamkan disamping makam Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (di Madinah).
Ciri-ciri Kemanusiaan ‘Isa
Ada banyak ciri-ciri kemanusiaan ‘Isa dalam Al-Qur’an, Allah menerangkan bahwa ibunya dan ‘Isa sendiri itu makan dan minum. Perilaku itu berlaku pada Tuhan atau manusia? Nah, kalau misalnya sehabis makan, kenyang, lalu apa? (maaf) tentu akan buang air besar. Apakah Tuhan buang air besar?
Selain itu, ‘Isa berada di dalam kandungan ibunya selama sembilan bulan, sama seperti kita, lalu kemudian lahir. Masa’ Tuhan dilahirkan?
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dijelaskan bahwa kelak di akhir zaman ‘Isa melaksanakan ibadah Haji, lalu menikah. Kemudian, ‘Isa akan meninggal. Bagaimana Tuhan bisa meninggal?
Untuk mengenali ciri fisik Nabi ‘Isa, telah disebutkan dalam hadits berikut. Menurut Hadits riwayat Ahmad dari Abu Hurairah, dia berbadan sedang (tidak tinggi dan juga tidak pendek), kulitnya putih kemerah-merahan, berambut lurus, seolah-olah rambut kepalanya meneteskan air walaupun tidak basah, mengenakan dua potong pakaian berwarna kekuning-kuningan.
Hadits Ahad dalam Kisah Turunnya ‘Isa
Menurut Ibnu Katsir, Hadits-hadits tentang turunnya ‘Isa sebelum kiamat itu mutawatir, minimal diriwayatkan oleh 33 sahabat Nabi. Begitu pula pendapat Al Kautsari, Al Maududi, Al Kattani, dan lain-lain. Menurut Al Maududi, ada lebih dari 70 Hadits yang menceritakan perihal tentang turunnya Nabi ‘Isa di akhir zaman.
Berita tentang ‘Isa bukan dari Hadits ahad (riwayat perorangan) seperti pendapat beberapa pihak. Dan seandainya satu saja Hadits dan itu shahih, misalnya dari Bukhari atau Muslim, itu sudah cukup (untuk menjadi dalil).
Detik-detik Menjelang Kematian Rasulullah
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah:
“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya.
Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada
kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku
berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan
bersama-sama masuk surga bersama aku,“
Khutbah singkat itu
diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya
satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar
dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas
panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam. (sesuai dengan
kepribadian para sahabat Abu Bakar yg lembut hatinya, Umar yg kuat dan
pemberani, ustman yg tabah,Ali yg cerdas…)
Isyarat itu telah
datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua”
desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai
menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap
menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu,
seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik
berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah
Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang
terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah
kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar
seseorang yang berseru mengucapkan
salam.
“Assalaamu’alaikum… .Bolehkah saya masuk ?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang
demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian
ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan
bertanya kepada Fatimah. “Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak
tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya” tutur
Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan
yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat Maut datang
menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut
menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap
diatas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini.
(sepertinya Malaikat Jibril Tidak Sanggup melihat Rasulullah dicabut
nyawanya)
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah
dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah dibuka, para
malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti
kedatanganmu” kata Jibril. Tapi itu semua ternyata tidak membuat
Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan Khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah
berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat
Muhammad telah berada didalamnya’” kata Jibril.
(subhanallah
Beliau mencemaskan kita semua..amien) Detik-detik semakin dekat, saatnya
Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh
tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit Sakaratul Maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan
Jibril memalingkan muka. “Jijikkah engkau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu wahai Jibril?”
Tanya Rasulullah pada malaikat
pengantar wahyu itu. “Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah
direngut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
memekik karena sakit yang tak
tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku”. (Beliau Begitu Memikirkan
umatnya, Seharusnya bisa Saja Rasulullah Meminta untuk dihilangkan rasa
sakitnya karena doa Beliau sungguh didengarkan oleh-Nya. Tetapi Beliau
lebih Mengkhawatirkan Umatnya)
Badan Rasulullah mulai dingin,
kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan
hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu”
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling
berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “umatku,
umatku, umatku”
dan……..
PUPUSLAH KEMBANG HIDUP MANUSIA MULIA ITU………
“Wahai Jiwa Yang Tenang
Kembalilah Kepada Tuhanmu
Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya
Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba- Ku
Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku”
Assalamu'alaikum.
disaat sakit.
Rasullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له
“Sungguh mengagumkan urusan orang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya
adalah baik , dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang
Mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, dan demikian itu
lebih baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, dan
demikian itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim, al Baihaqi dan Ahmad )
Orang yang sakit harus benar-benar berada dalam keadaan antara rasa
takut dan berharap, takut kepada siksa Allah atas dosa-dosanya disertai
dengan perasaan mengharapkan rahmat-Nya. Dasarnya adalah hadis Anas
radhiyallahu ‘anhu:“Bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam
pernah menjenguk seorang pemuda saat menjelang kematiannya. Kemudian
beliau bertanya : “Apa yang engkau rasakan?” Dia menjawab: Demi Allah,
wahai Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar berharap kepada Allah dan
sesungguhnya aku takut akan dosa-dosaku.” Maka Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
لا يجتمعان في قلب عبد في مثل هذا الموطن إلا أعطاه الله ما يرجو وآمنه مما يخاف
“Tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba kedua hal tersebut dalam
keadaan semacam ini (sakit), melainkan Allah akan merealisasikan
harapannya dan memberikan rasa aman dari apa yang dia takuti.” (HR.
Turmudzi dan yang lainnya dengan sanad hasan).
Separah apapun
penyakit yang diderita seseorang, dia tidak diperbolehkan untuk
mengharapkan kematian. Pernyataan ini berdasarkan hadis Ummu al-Fadhl
(istri Abbas) radiyallahu ‘anha, bahwasannya Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam pernah menjenguk mereka, sementara ‘Abbas, paman
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tengah mengeluh (karena sakit)
sampai mengharapkan kematian. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
يا عباس يا عم رسول الله لا تتمن الموت ان كنت محسنا
تزداد إحسانا إلى إحسانك خير لك وان كنت مسيأ فان تؤخر تستعتب خير لك فلا
تتمن الموت
“Wahai pamanku, janganlah engkau mengharapkan
kematian. Karena sesungguhnya, jika engkau seorang yang baik lalu diberi
usia yang panjang, engkau bisa menambah kebaikanmu, dan itu lebih baik.
Adapun jika engkau seorang yang banyak berbuat buruk lalu diberi
tenggang usia, kemudian engkau berhenti dari perbuatan buruk tersebut
dan bertobat, maka yang demikian itu lebih baik. Karena itu janganlah
engkau mengharapkan kematian.” (HR. Ahmad)
NASIHAT KHIDIR UNTUK MUSA
Nabi Musa a.s.berkata kepada Khidir,"Berilah aku nasihat!" Maka, Khidir pun memberi nasihat:
1."Jadilah orang yang banyak senyum dan jangan jadi orang yang banyak marah.
2.Jadilah orang yang banyak manfaat bagi sesama,dan jangan jadi orang yang banyak mudaratnya.
3.Jauhilah sikap keras hati dalam berdiskusi.
4.Jangan berjalan tanpa keperluan.
5.Jangan tertawa tanpa sesuatu yang benar-benar mengagumkan.
6.Jangan memperolok-olok orang yang bersalah atas kesalahan mereka,tapi menangislah atas
kesalahan-kesalahan kamu sendiri,wahai putra Imran."
---Dikutip dari Kitab At-Taubah,Ihya Ulumuddin,karya Imam Ghazali.
Kamis, 28 Maret 2013
DOSA MENINGGALKAN SOLAT 5 WAKTU
Sekadara peringatan untuk diri sendiri yang selalu lagro dan
meninggalkan solat 5 waktu dengan sengaja. Eh. Juga peringatan untuk
anda diluar sana. Semoga kita mendapat keberkatan dan hidayah-Nya.
Semoga solat 5 waktu kita cukup. Aamiinn.
Dosa Meninggalkan Solat 5 Waktu
1. Solat Subuh : satu kali meninggalkan akan dimasukkan ke dalam neraka selama 30 tahun yang sama dengan 60.000 tahun di dunia.
2. Solat Zuhur : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan membunuh 1.000 orang umat islam.
3. Solat Ashar : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan menutup/meruntuhkan ka’bah.
4. Solat Magrib : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan berzina dengan orangtua.
5. Solat Isya : satu kali meninggalkan tidak akan di redhai Allah SWT
tinggal di bumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari
nikmatnya.
6 Siksa di Dunia Orang yang Meninggalkan Solat Fardhu :
1. Allah SWT mengurangi keberkatan umurnya.
2. Allah SWT akan mempersulit rezekinya.
3. Allah SWT akan menghilangkan tanda/cahaya soleh dari raut wajahnya.
4. Orang yang meninggalkan solat tidak mempunyai tempat di dalam islam.
5. Amal kebaikan yang pernah dilakukannya tidak mendapatkan pahala dari Allah SWT.
6. Allah tidak akan mengabulkan doanya.
3 Siksa Orang yang Meninggalkan Solat Fardhu Ketika Menghadapi Sakratul Maut :
1. Orang yang meninggalkan solat akan menghadapi sakratul maut dalam keadaan hina.
2. Meninggal dalam keadaan yang sangat lapar.
3. Meninggal dalam keadaan yang sangat haus.
3 Siksa Orang yang Meninggalkan Solat Fardhu di Dalam Kubur :
1. Allah SWT akan menyempitkan kuburannya sesempit sempitnya.
2. Orang yang meninggalkan solat kuburannya akan sangat gelap.
3. Disiksa sampai hari kiamat tiba.
3 Siksa Orang yang Meninggalkan Solat Fardhu Ketika Bertemu Allah :
1. Orang yang meninggalkan solat di hari kiamat akan dibelenggu oleh malaikat.
2. Allah SWT tidak akan memandangnya dengan kasih sayang.
3. Allah SWT tidak akan mengampunkan dosa dosanya dan akan di azab sangat pedih di neraka.
Hadith Mengenai Dosa Meninggalkan Solat 5 Waktu
Mengenai balasan bagi orang yang meninggalkan Solat Fardu: “Rasulullah
SAW, diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada
batu, Setiap kali benturan itu menyebabkan kepala pecah, kemudian ia
kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak terus berhenti
melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: “Siapakah ini wahai Jibril”?
Jibril menjawab: “Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan
Solat fardhu”. (Hadits Riwayat Tabrani, sanad shahih)
Nabi
shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Perjanjian di antara kita orang
Islam dan orang kafir ialah solat dan sesiapa meninggalkan solat
sesungguhnya dia telah menjadi seorang kafir. (HR al-Tirmidzi)
Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya yang membezakan
antara seseorang dengan kesyirikkan dan kekufuran adalah dengan
meninggalkan solat". (HR Muslim)
Diterangkan oleh An-Nawawi
bahawasanya orang yang meninggalkan solat dengan menolak atau
mengingkari kewajipan solat, dipandang telah menjadi kafir, telah
terkeluar dari Islam. (ijma' ulamak Islam).
Jika dia
meninggalkan solat kerana malas atau lalai tetapi masih mengi'tikadkan
kewajiban solat itu atas dirinya, maka Imam Malik dan Asy Syafi'i
menetapkan bahawa orang itu tidak kafir, hanya dipandang fasik
(melakukan dosa besar) dan disuruh bertaubat. Jika dia tidak mahu
bertaubat, nescaya dibunuh, selaku suatu hukuman yang mesti dijalankan.
♥ Bila Aku Jatuh Cinta ♥
Ya Allah, jika aku jatuh cinta, Cintakanlah aku pada seseorang yang
melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk
mencintai-Mu.
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta
semu.
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan surga-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu
melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku
tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia
kepada-Mu.
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta
hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah, Engkau
mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Ya Allah, Kukuhkanlah
ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah
hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah
dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan
bertawakal di jalan-Mu.
3 Resep Keluarga Sakinah untuk yang Baru Menikah
Diposkan oleh Admin BeDa pada Rabu, 09 Januari 2013 | 22.00 WIB

Bagaimana
agar pasangan suami istri yang sebelumnya tidak saling kenal kecuali
sekedar ta'aruf singkat, bisa mudah menyatu dan kemudian terbentuk
keluarga sakinah mawaddah wa rahmah serta menjadi keluarga dakwah?
Berikut ini tiga resep keluarga almarhumah Yoyoh Yusroh yang terbukti
mudah menyatu, harmonis dengan 13 anak-anaknya, serta menjadi keluarga
dakwah.
Seperti ditulis Zirlyfera Jamil dkk dalam buku "Langkah Cinta untuk Keluarga", tiga resep keluarga Yoyoh Yusroh:
Pertama, memiliki komitmen bersama untuk tujuan bersama.
Jika pasangan suami istri memiliki komitmen yang sama, mak keluarga tersebut akan mudah menyatu. Meskipun tidak begitu saling kenal, tujuan yang sama akan mendekatkan. Meskipun sifat dan latar belakang berbeda, tujuan yang sama akan menghimpun warna-warna menjadi pelangi. Tentu, tujuan yang bisa demikian adalah tujuan yang robbani. Seperti keluarga Yoyoh Yusroh yang ingin sejak awal berkomitmen membawa seluruh anggota keluarga meraih surga.
Kedua, masing-masing pasangan suami istri memiliki kesiapan untuk saling mendukung dan menerima. Menyadari bahwa setiap mereka adalah manusia yang tidak sempurna. Menyadari bahwa suami dan istri adalah pribadi yang terus berproses dan bertumbuh. Kesadaran ini akan membuat suami mudah memaafkan istrinya, apalagi jika itu adalah kesalahan kecil atau kesalahan pertaama. Istri juga berlapang dada jika ada hal yang tak disukainya. Dan demikianlah cinta. Cinta karena Allah. Sungguh indah sabda Rasulullah, "Bukanlah cinta karena Allah, jika karena kesalahan pertama membuat mereka berpisah."
Ketiga, berbagi syukur dan sabar silih berganti.
Adakalanya istri bersabar dan suami bersyukur, adakalanya juga istri yang bersyukur dan suami yang bersabar. Sebab, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita sebelumnya tidak tahu persis istri dan suami kita itu kelebihannya apa dan kekurangannya apa. Dalam ta'aruf memang diungkapkan kelebihan dan kekurangan tersebut, namun sering kali bahasa verbal tidak bisa kita pahami lebih baik daripada setelah berinteraksi dengannya, bersama dalam rumah tangga. Percayalah, jika kita mencari istri atau suami yang sempurna dalam segala hal, kita takkan pernah menemukannya. [IK/Rpb/bsb]
Seperti ditulis Zirlyfera Jamil dkk dalam buku "Langkah Cinta untuk Keluarga", tiga resep keluarga Yoyoh Yusroh:
Pertama, memiliki komitmen bersama untuk tujuan bersama.
Jika pasangan suami istri memiliki komitmen yang sama, mak keluarga tersebut akan mudah menyatu. Meskipun tidak begitu saling kenal, tujuan yang sama akan mendekatkan. Meskipun sifat dan latar belakang berbeda, tujuan yang sama akan menghimpun warna-warna menjadi pelangi. Tentu, tujuan yang bisa demikian adalah tujuan yang robbani. Seperti keluarga Yoyoh Yusroh yang ingin sejak awal berkomitmen membawa seluruh anggota keluarga meraih surga.
Kedua, masing-masing pasangan suami istri memiliki kesiapan untuk saling mendukung dan menerima. Menyadari bahwa setiap mereka adalah manusia yang tidak sempurna. Menyadari bahwa suami dan istri adalah pribadi yang terus berproses dan bertumbuh. Kesadaran ini akan membuat suami mudah memaafkan istrinya, apalagi jika itu adalah kesalahan kecil atau kesalahan pertaama. Istri juga berlapang dada jika ada hal yang tak disukainya. Dan demikianlah cinta. Cinta karena Allah. Sungguh indah sabda Rasulullah, "Bukanlah cinta karena Allah, jika karena kesalahan pertama membuat mereka berpisah."
Ketiga, berbagi syukur dan sabar silih berganti.
Adakalanya istri bersabar dan suami bersyukur, adakalanya juga istri yang bersyukur dan suami yang bersabar. Sebab, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita sebelumnya tidak tahu persis istri dan suami kita itu kelebihannya apa dan kekurangannya apa. Dalam ta'aruf memang diungkapkan kelebihan dan kekurangan tersebut, namun sering kali bahasa verbal tidak bisa kita pahami lebih baik daripada setelah berinteraksi dengannya, bersama dalam rumah tangga. Percayalah, jika kita mencari istri atau suami yang sempurna dalam segala hal, kita takkan pernah menemukannya. [IK/Rpb/bsb]
♥ Assalamuallaikum wr wb ♥
Curhatan Hati Seorang
Manusia Kepada
Tuhanya
Dulu, aku pernah sangat
KAGUM pada manusia
cerdas, sangat kaya,
berhasil dalam karir
hidup & hebat dalam
dunianya...
Sekarang, aku memilih
untuk mengganti
kriteria kekagumanku,
aku kagum dengan
manusia yang hebat di
mata TUHAN. Sekalipun
kadang penampilannya
begitu biasa &
bersahaja!
Dulu, aku memilih
MARAH karena merasa
harga diriku dijatuhkan
ketika orang lain berlaku
kasar kepadaku,
menggunjingku dan
menyakitiku dengan
kalimat-kalimat sindiran.
Sekarang, aku memilih
untuk BERSYUKUR &
BERTERIMAKASIH,
karena ku yakin ada
KASIH yang datang dari
mereka ketika aku
mampu untuk
memaafkan & bersabar.
Dulu, aku memilih
MENGEJAR dunia &
menumpuknya
sebisaku... Ternyata aku sadari kebutuhanku
hanyalah makan &
minum untuk hari ini &
bagaimana cara
membuangnya dari
perutku...
Sekarang, aku memilih
untuk BERSYUKUR
dengan apa yang ada &
memikirkan bagaimana
aku bisa mengisi
waktuku hari ini, dengan penuh kasih &
bermanfaat untuk
sesama...
Dulu, aku berpikir bahwa aku bisa
MEMBAHAGIAKAN
orangtua, saudara &
teman-temanku kalau
aku berhasil dengan
duniaku.
Ternyata...
yang membuat
kebanyakan dari mereka bahagia adalah bukan itu melainkan sikap, tingkah
& sapaanku kepada
mereka…. Sekarang, aku
memilih untuk membuat mereka bahagia dengan
apa yang ada padaku...
Dulu, pusat pikiranku
adalah membuat
RENCANA-RENCANA
dahsyat untuk duniaku...
Ternyata aku
menjumpai teman &
saudara-saudaraku
begitu cepat
menghadap kepadaNYA.
Sekarang, yang menjadi
pusat pikiran dan
rencanaku adalah
bagaimana
mempersiapkan diri dan
terutama hatiku agar
aku selalu SIAP jika
suatu saat namaku
dipanggil olehNya...
Tak ada yang dapat
menjamin bahwa aku
dapat menikmati
teriknya matahari
besok.Tak ada yang
bisa memberikan
jaminan bhw aku masih
bisa menghirup nafas
esok hari...
Kalau hari ini
dan esok hari aku bisa
hidup, itu semata-mata
Anugerah Tuhan…
semoga tulisan kecil ini bisa bermanfaat.Aamiin
Rabu, 27 Maret 2013
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
" KEUTAMAAN PUASA SENIN DAN KAMIS "
Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ditanya tentang puasa pada hari Senin maka beliau bersabda :
"Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus sebagai Nabi, atau hari diturunkannya al-Qur'an kepadaku."..
Di dalam riwayat yang bersumber dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata :
"Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa menjaga puasa Senin dan Kamis..
(HR. Lima Imam ahli hadits, kecuali Abu Dawud)..
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Amal-amal itu diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku
senang jika amalku ditampakkan pada saat aku sedang berpuasa."..
(HR at-Tirmidzi)..
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Aamiin..
Besok Insya Allah hari KAMIS, mari kita amalkan!!
Selasa, 26 Maret 2013
Kisah sahabat (Abu Darda. Radhiyallahu Anhu)
Uwaimir bin Malik al-Khazraji yang lebih dikenal dengan nama Abu Darda
bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Setelah itu, dia menuju berhala
sembahannya di sebuah kamar yang paling istimewa di dalam rumahnya. Dia
membungkuk memberi hormat kepada patung tersebut, kemudian diminyakinya
dengan wangi-wangian termahal yang terdapat dalam tokonya yang besar,
sesudah itu patung tersebut diberinya pakaian baru dari sutera yang
megah, yang diperolehnya kemarin dari seorang pedagang yang datang dari
Yaman dan sengaja mengunjunginya.
Setelah matahari agak tinggi,
barulah Abu Darda masuk ke rumah dan bersiap hendak pergi ke tokonya.
Tiba-tiba jalan di Yastrib menjadi ramai, penuh sesak dengan para
pengikut Nabi Muhammad yang baru kembali dari peperangan Badar. Di muka
sekali terlihat sekumpulan tawanan terdiri dari orang-orang Quraisy. Abu
Darda mendekati keramaian dan bertemu dengan seorang pemuda suku
Khazraj. Abu Darda menanyakan kepadanya keberdaan Abdullah bin Rawahah.
Pemuda Khazraj tersebut menjawab dengan hati-hati pertanyaan Abu Darda,
karena dia tahu bagaimana hubungan Abu Darda dengan Abdullah bin
Rawahah. Mereka tadinya adalah dua orang teman akrab di masa jahily.
Setelah Islam datang, Abdullah bin Rawahah segera masuk Islam, sedangkan
Abu Darda tetap dalam kemusyrikan. Tetapi, hal itu tidak menyebabkan
hubungan persahabatan keduanya menjadi putus. Karena, Abdullah berjanji
akan mengunjungi Abu Darda sewaktu-waktu untuk mengajak dan menariknya
ke dalam Islam. Dia kasihan kepada Abu Darda, karena umurnya dihapiskan
dalam kemusyrikan.
Abu Darda tiba di toko pada waktunya. Ia
duduk bersila di atas kursi, sibuk jual beli dan mengatur para pelayan.
Sementara itu, Abdullah bin Rawahah datang ke rumah Abu Darda. Sampai di
sana dia melihat Ummu Darda di halaman rumahnya.
“Assalamu’alaiki, ya amatallah,” (Semoga Anda bahagia, hai hamba Allah) kata Abdullah memberi salam.
“Wa’alaikassalam, ya akha Abi Darda’”(Dan semoga Anda bahagia pula, hai sahabat Abu Darda), jawab Ummu Darda.
“Ke mana Abu Darda?” tanya Abdullah.
“Dia ke toko, tetapi tidak lama lagi dia akan pulang,” jawab Ummu Darda.
“Bolehkah saya masuk?” tanya Abdullah.
“Dengan segala senang hati, silakan!” jawab Ummu Darda.
Ummu Darda melapangkan jalan bagi Abdullah, kemudian dia masuk ke dalam
dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga serta mengasuh anak. Abdullah
bin Rawahah masuk ke kamar tempat Abu Darda meletakkan patung
sembahannya. Dikeluarkannya kapak yang sengaja dibawanya. Dihampirinya
patung itu, lalu dikapaknya hingga berkeping-keping. Katanya,
“Ketahuilah, setiap yang disembah selain Allah adalah batil!” Setelah
selesai menghancurkan patung tersebut, dia pergi meninggalkan rumah.
Ummu Darda masuk ke kamar tempat patung berada. Alangkah terperanjatnya
dia, ketika dilihatnya petung telah hancur berkeping-keping dan
berserakan di lantai. Ummu Darda meratap menampar-nampar kedua pipinya
seraya berkata, “Engkau celakan saya, hai Ibnu Rawahah.” Tidak berapa
lama kemudian Abu Darda pulang dari toko. Ia mendapati istrinya sedang
duduk dekat pintu kamar patung sambil menangis. Rasa cemas dan takut
kelihatan jelas di wajahnya.
“Mengapa engkau menangis?” tanya Abu Darda.
“Teman Anda, Abdullah bin Rawahah tadi datang kemari ketika Anda sedang
di toko. Dia telah menghancurkan patung sembahan Anda. Cobalah Anda
saksikan sendiri,” jawab Ummu Darda.
Abu Darda menengok ke
kamar patung, dilihatnya patung itu sudah berkeping-keping, maka
timbullah marahnya. Mulanya dia bermaksud hendak mencari Abdullah.
Tetapi, setelah kemarahannya berangsur padam, dia memikirkan kembali apa
yang sudah terjadi. Kemudian katanya, “Seandainya patung itu benar
Tuhan, tentu dia sanggup membela dirinya sendiri.” Maka, ditinggalkannya
patung yang menyesatkan itu, lalu dia pergi mencari Abdullah bin
Rawahah.
Bersama-sama dengan Abdullah, dia pergi kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. dan menyatakan masuk agama
Allah di hadapan beliau. Sejak detik pertama Abu Darda iman dengan Allah
dan Rasul-Nya, dia iman dengan sebenar-benar iman. Dia sangat menyesal
agak terlambat masuk Islam. Sementara itu, kawan-kawannya yang telah
lebih dahulu masuk Islam telah memperoleh pengertian yang mendalam
tentang agama Allah ini, hafal Alquran, senantiasa beribadat, dan takwa
yang selalu mereka tanamkan dalam dirinya di sisi Allah. Karena itu, dia
bertekad hendak mengejar ketinggalannya dengan sungguh-sunggu sekalipun
dia berpayah-payah siang dan malam, hingga tersusul orang-orang yang
telah berangkat lebih dahulu. Dia berpaling kepada ibadat dan memutuskan
hubungannya dengan dunia; mencurahkan perhatian kepada ilmu seperti
orang kehausan; mempelajari Alquran dengan tekun dan menghafal
ayat-ayat, serta menggali pengertiannya sampai dalam. Tatkala
dirasakannya perdagangannya terganggu dan merintanginya untuk beribadat
dan menghadiri majlis-majlis ilmu, maka ditinggalkannya perusahaanya
tanpa ragu-ragu dan tanpa menyesal.
Berkenaan dengan sikapnya yang
tegas itu, orang pernah bertanya kepadanya. Maka, dijawabnya, “Sebelum
masa Rasulullah, saya menjadi seorang pedagang. Maka, setelah masuk
Islam, saya ingin menggabungkan berdagang untuk beribadat. Demi Allah,
yang jiwa Abu Darda dalam kuasa-Nya, saya akan menggaji penjaga pintu
masjid supaya saya tidak luput salat berjamaah, kemudian saya berjual
beli dan berlaba setiap hari 300 dinar.” Kemudian, saya menengok kepada
si penanya dan berkata, “Saya tidak mengatakan, Allah Ta’ala
mengharamkan berniaga. Tetapi saya ingin menjadi pedagang, bila
perdagangan dan jual beli tidak menganggu saya untuk dzikrullah
(berzikir).”
Abu Darda tidak meninggalkan perdagangan sama
sekali. Dia hanya sekadar meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan
kemegahannya. Baginya sudah cukup sesuap nasi sekadar untuk menguatkan
badan, dan sehelai pakaian kasar untuk menutupi tubuh.
Pada
suatu malam yang sangat dingin, suatu jamaah bermalam di rumahnya. Abu
Darda menyuguhi mereka makanan hangat, tetapi tidak memberinya selimut.
Ketika hendak tidur, mereka mempertanyakan selimut. Seorang di antaranya
berkata, “Biarlah saya tanyakan kepada Abu Darda. Kata yang lain,
“Tidak perlu!” Tetapi, orang yang seorang itu menolak saran orang yang
tidak setuju. Dia terus pergi ke kamar Abu Darda. Sampai di muka pintu
dilihatnya Abu Darda berbaring, dan istrinya duduk di sampingnya. Mereka
berdua hanya memakai pakaian tipis yang tidak mungkin melindungi mereka
dari kedinginan. Orang itu bertanya kepada Abu Darda, “Saya melihat
Anda sama dengan kami, tengah malam sedingin ini tanpa selimut. Ke mana
saja kekayaan dan harta benda Anda?”
Jawab Abu Darda, “Kami
mempunyai rumah di kampung sana. Harta benda kami langsung kami kirimkan
ke sana setiap kami peroleh. Seandainya masih ada yang tinggal di sini
(berupa selimut), tentu sudah kami berikan kepada tuan-tuan. Di samping
itu, jalan ke rumah kami yang baru itu sulit dan mendaki. Karena itu,
membawa barang seringan mungkin lebih baik daripada membawa barang yang
berat-berat. Kami memang sengaja meringankan beban kami supaya mudah
dibawa. Kemudian Abu Darda bertanya kepada orang itu, “Pahamkah Anda?”
Jawab orang itu, “Ya, saya mengerti.”
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Umar mengangkat Abu
Darda menjadi pejabat tinggi di Syam. Tetapi, Abu Darda menolak
pengangkatan tersebut. Khalifah Umar marah kepadanya. Lalu kata Abu
Darda, “Bilamana Anda menghendaki saya pergi ke Syam, saya mau pergi
untuk mengajarkan Alquran dan sunah Rasulullah kepada mereka serta
menegakkan salat bersama-sama dengan mereka.” Khalifah Umar menyukai
rencana Abu Darda tersebut. Lalu, Abu Darda berangkat ke Damsyiq. Sampai
di sana didapatinya masyarakat telah mabuk kemewahan dan tenggelam
dalam kenikmatan dunia. Hal itu sangat menyedihkannya. Maka,
dipanggilnya orang banyak ke masjid, lalu dia berpidato di hadapan
mereka.
Katanya, “Wahai penduduk Damsyiq! Kalian adalah
saudaraku seagama; tetangga senegeri; dan pembela dalam melawan musuh
bersama. Wahai penduduk Damsyiq! Saya heran, apakah yang menyebabkan
kalian tidak menyenangi saya? Padahal, saya tidak mengharapkan balas
jasa dari kalian. Nasihatku berguna untuk kalian, sedangkan belanjaku
bukan dari kalian. Saya tidak suka melihat ulama-ulama pergi
meninggalkan kalian, sementara orang-orang bodoh tetap saja bodoh. Saya
hanya mengharapkan kalian supaya melaksanakan segala perintah Allah
Taala, dan menghentikan segala larangan-Nya. Saya tidak suka melihat
kalian mengumpulkan harta kekayaan banyak-banyak, tetapi tidak kalian
pergunakan untuk kebaikan. Kalian membangun gedung-gedung yang mewah,
tetapi tidak kalian tempati atau kalian mencita-citakan sesuatu yang tak
mungkin tercapai oleh kalian. Bangsa-bangsa sebelum kamu pernah
mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan bercita-cita
setinggi-tingginya. Tetapi hanya sebntar, harta yang mereka tumpuk habis
kikis, cita-cita mereka hancur berantakan, dan bangunan-bangunan mewah
yang mereka bangun rubuh menjadi kuburan.
Hai penduduk
Damsyiq! Inilah bangsa ‘Ad (kaum Nabi Hud As.)yang telah memenuhi negeri
(antara Aden dan Oman) dengan harta kekayaan dan anak-anak. Siapakah di
antara kalian yang berani membeli dariku peninggalan kaum ‘Ad itu
dengan harga dua dirham?”
Mendengar pidato Abu Darda tersebut orang
banyak menangis, sehingga isak tangis mereka terdengar dari luar masjid.
Sejak hari itu Abu Darda senantiasa mengunjungi majelis-majelis
masyarakat Damsyiq dan pergi ke pasar-pasar. Jika ada yang bertanya
kepadanya, dijawabnya; jika dia bertemu dengan orang bodoh, diajarinya;
dan jika dia melihat orang terlalai, diingatkannya. Direbutnya setiap
kesempatan yang baik sesuai dengan situasi dan kondisi serta kemampuan
yang ada padanya.
Pada suatu ketika dia melihat sekelompok
orang mengeroyok seorang laki-laki. Laki-laki itu babak belur dipukuli
dan dicaci-maki mereka. Abu Darda datang menghampiri, lalu bertanya,
“Apa yang telah terjadi?
Jawab mereka, “Orang ini jatuh ke dalam dosa besar.”
Kata Abu Darda, “Seandainya dia jatuh ke dalam sumur, tidakkah kalian keluarkan dia dari sumur itu?”
Jawab mereka, “Tentu!”
Kata Abu Darda, “Karena itu, janganlah kalian caci maki dia, dan jangan
pula kalian pukuli. Tetapi, berilah dia pengajaran dan sadarkan dia.
Bersyukurlah kalian kepada Allah yang senantiasa memaafkan kalian dari
dosanya.”
Tanya mereka, “Apakah Anda tidak membencinya?”
Jawab Abu Darda, “Sesungguhnya saya membenci perbuatannya. Apabila dia
telah menghentikan perbuatannya yang berdosa itu, dia adalah saudara
saya.” Orang itu menangis dan tobat dari kesalahannya.
Kali yang lain seorang pemuda mendatangi Abu Darda dan berkata kepadanya, “Wahai sahabat Rasulullah! Ajarilah saya!”
Jawab Abu Darda, “Hai anakku! Ingatlah kepada Allah di waktu kamu bahagia. Maka Allah akan mengingatmu di waktu kamu sengsara.
Hai anakku! Jadilah kamu pengajar atau menjadi pelajar atau menjadi
pendengar. Dan, janganlah sekali-kali menjadi yang keempat (yaitu orang
bodoh), karena yang keempat pasti celaka. Hai anakku! Jadikanlah masjid
menjadi tempat tinggalmu, karena aku pernah mendengar Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Setiap masjid adalah tempat
tinggal orang yang bertakwa. Allah Subhanahu wa ta’ala menjanjikan bagi
orang yang menjadikan masjid sebagai tempat tinggalnya, kesenangan,
kelapangan rahmat, dan lewat di jalan yang diridai Allah Taala.”
Abu Darda pernah pula melihat sekelompok pemuda duduk-duduk di pinggir
jalan. Mereka ngobrol sambil melihat orang-orang yang lalu lintas. Abu
Darda mengahmpiri mereka dan berkata kepadanya, “Hai anak-anakku! Tempat
yang paling baik bagi orang muslim adalah rumahnya. Di sana dia dapat
memelihara diri dan pandangannya. Jauhilah duduk-duduk di pinggir jalan
dan di pasar-pasar, karena hal itu menghabiskan waktu dengan percuma.
Ketika Abu Darda tinggal di Damsyiq, Gubernur Muawiyah bin Abu Sufyan
melamar anak gadis Abu Darda, yaitu Darda, untuk putranya, Yazid. Abu
Darda menolak lamaran Muawiyah tersebut. Dia tidak mau mengawinkan anak
gadisnya, Darda, dengan Yazid (putra Gubernur). Bahkan, Darda
dikawinkannya dengan pemuda muslim, anak orang kebanyakan. Abu Darda
menyukai agama dan akhlak pemuda itu. Orang banyak heran dengan sikap
Abu Darda, dan berbisik-bisik sesama mereka, “Anak gadis Abu Darda
dilamar oleh Yazid bin Muawiyah, tetapi lamarannya ditolak. Kemudian Abu
Darda mengawinkan putrinya dengan seorang pemuda muslim anak orang
kebanyakan.”
Seorang penanya bertanya kepada Abu Darda,”Mengapa Anda bertindak seperti itu.”
Jawab Abu Darda, “Saya bebas berbuat sesuatu untuk kemaslahatan Darda.”
Tanya, “Mengapa?”
Jawab Abu Darda, “Bagaimana pendapat Anda, apabila nanti Darda telah
berada di tengah-tengah inang pengasuh yang senantiasa siap sedia
melayaninya, sedangkan dia berada dalam istana yang gemerlapan
menyilaukan mata, akan kemana jadinya agama Darda ketika itu?”
Pada
suatu waktu ketika Abu Darda berada di negeri Syam, Amirul Mukminin Umar
bin Khattab datang memeriksa. Khalifah mengunjungi sahabat itu di
rumahnya malam hari. Ketika Khalifah membuka pintu rumah Abu Darda,
ternyata pintu itu tidak dikunci dan rumah gelap tanpa lampu. Ketika Abu
Darda mendengar suara Khalifah, Abu Darda berdiri mengucapkan selamat
datang dan menyilakan Khalifah Umar untuk duduk. Keduanya segera
terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan penting, padahal kegelapan
menyelubungi keduanya, sehingga masing-masing tidak melihat kawannya
berbicara. Khalifah Umar meraba-raba bantal alas duduk Abu Darda,
kiranya sebuah pelana kuda. Dirabanya pula kasur tempat tidur Abu Darda,
kiranya berisi pasir belaka. Dirabanya pula selimut, kiranya
pakaian-pakaian tipis yang tidak mencukupi untuk musim dingin.
Kata Khalifah Umar, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda.
Maukan Anda saya bantu? Maukah Anda saya kirimi sesuatu untuk
melapangkan kehidupan Anda?”
Jawab Abu Darda, “Ingatkah Anda hai Umar sebuah hadis yang disampaikan Rasulullah kepada kita?”
Tanya Umar, “Hadis apa gerangan?”
Jawab Abu Darda, “Bukankah Rasulullah telah bersabda, “Hendaklah puncak
salah seorang kamu tentang dunia seperti perbekalan seorang pengendara
(yaitu secukupnya dan seadanya).”
Jawab Khalifah Umar, “Ya, saya ingat!” Kata Abu Darda, “Nah, apa yang telah kita perbuat sepeninggal beliau, hai Umar?”
Khalifah Umar menangis, Abu Darda pun menangis pula. Akhirnya, mereka berdua bertangis-tangisan sampai waktu subuh.
Abu Darda menjadi guru selama tinggal di Damsyiq. Dia memberi
pengajaran kepada penduduk, memperingatkan mereka, mengajarkan kitab
(Alquran) dan hikmah kepada mereka sampai dia meninggal.
Tatkala Abu Darda hampir meninggal, para sahabatnya datang berkunjung.
Mereka bertanya, “Sakit apa yang Anda rasakan?”
Jawab Abu Darda, “Dosa-dosaku!”
Tanya, “Apa yang Anda inginkan?”
Jawab, “Ampunan Tuhanku.”
Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang hadir di sekitarnya,
“Ulangkanlah kepadaku kalimah, Laa ilaaha illallah, Muhammad
Rasulullah.”
Abu Darda senantiasa membaca kalimah tersebut
berulang-ulang hingga nafasnya yang terakhir. Setelah Abu Darda pergi
menemui Tuhannya, Auf bin Malik al-Asyja’iy bermimpi. Dia melihat dalam
mimpinya sebuah padang rumput yang luas menghijau. Maka, mengambanglah
bau harum semerbak dan muncul suatu bayangan berupa sebuah kubah besar
dari kulit. Sekitar kubah berbaring hewan ternak yang belum pernah
terlihat sebelumnya.
Dia bertanya, “Milik siapa ini?”
Jawab, “Milik Abdur Rahman bin Auf.”
Abdur Rahman muncul dari dalam kubah. Dia berkata kepada Auf bin Malik,
“Hai, Ibnu Malik! Inilah karunia Allah kepada kita berkat Alquran.
Seandainya engkau mengawasi jalan ini, engkau akan melihat suatu
pemandangan yang belum pernah engkau saksikan, dan mendengar sesuatu
yang belum pernah engkau dengar, dan tidak pernah terlintas dalam
pikiranmu.”
Tanya Auf bin Malik, “Untuk siapa semuanya, hai Abu Muhammad?
Jawab, “Disediakan Allah Taala untuk Abu Darda, karena dia telah menolak dunia dengan mudah dan lapang dada.”
Sumber: kitab Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor ‘Abdurrahman Ra’fat Basya.
BEDA ANTARA SUKA, CINTA DAN SAYANG
Dihadapan orang yang kau cintai,
musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
musim dingin tetap saja musim dingin hanya
suasananya lebih indah sedikit
Dihadapan orang yang kau cintai,
jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai,
kau hanya merasa senang dan gembira saja
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau cintai, matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang
kau sukai, engkau hanya tersenyum saja
Dihadapan orang yang kau cintai,
kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam
Dihadapan orang yang kau sukai,
kata kata hanya keluar dari pikiran saja
Jika orang yang kau cintai menangis,
engkaupun akan ikut menangis disisinya
Jika orang yang kau sukai menangis,
engkau hanya menghibur saja
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan
rasa suka dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,
cukup dengan menutup telinga.
Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari
orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi
tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam
jarak waktu yang cukup lama.
"Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta... ada
perasaan yang lebih mendalam.
Yaitu rasa sayang.... rasa yang tidak hilang
secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah.
Perasaan yang dapat membuat mu berkorban untuk orang yang kamu sayangi.
Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi.
Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin
melihat orang yang disayanginya bahagia..
walaupun harus kehilangan."
Minggu, 24 Maret 2013
Cinta Dalam Diam
Cintailah ia dalam diam, dari kejauhan, dengan kesederhanaan dan
keikhlasan… Ketika cinta kini hadir tidaklah untuk Yang Maha Mengetahui
saat secercah rasa tidak lagi tercipta untuk Yang Maha Pencipta
izinkanlah hati bertanya untuk siapa ia muncul dengan
tiba-tiba…mungkinkah dengan ridha-Nya atau hanya mengundang murka-Nya…
Jika benar cinta itu karena Allah maka biarkanlah ia mengalir mengikuti
aliran Allah karena hakikatnya ia berhulu dari Allah maka ia pun
berhilir hanya kepada Allah..
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat:49)
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu,
danorang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang
lelakidan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah
akanmemampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha
luas(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. ” (QS. An Nuur: 32)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmuisteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasatenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan
sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tandabagi kaum yang berfikir. ” (QS. Ar-Ruum:21)
Tapi jika memang kelemahan masih nyata dipelupuk matamaka bersabarlah… berdo’alah… berpuasalah…
” Wahai kaum pemuda,siapa saja diantara kamu yang sudah sanggup untuk
menikah,maka menikahlah,sesungguhnya menikah itu memelihara
mata,danmemelihara kemaluan,maka bila diantara kamu belum sanggup
untukmenikah,berpuasalah,karena ssungguhnya puasa tersebut
sebagaipenahannya ” (Hadist)
“Dan janganlah kamu mendekati
zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu
jalan yang buruk. ” (QS. Al Israa’ :32)
Cukup cintai ia dalam diam…
bukan karena membenci hadirnya…tapi menjaga kesuciannya bukan karena
menghindari dunia…tapi meraih surga-Nya bukan karena lemah untuk
menghadapinya…tapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus
dan menyelusup..
Cukup cintai ia dari kejauhan…
karena
hadirmu tiada kan mampu menjauhkannya dari cobaan karena hadirmu hanya
akan menggoyahkan iman dan ketenangankarena hadirmu mungkin saja ‘kan
membawa kenelangsaan hati-hati yang terjaga…
Cukup cintai ia dengan kesederhanaan…
memupuknya hanya akan menambah penderitaan menumbuhkan harapan hanya
akan mengundang kekecewaanmengharapkan balasan hanya akan membumbui
kebahagiaan para syaitan…
Maka cintailah ia dengan keikhlasan
karena tentu kisah fatimah dan ali bin abi thalib diingini oleh
hati…tapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al
Farisi…?
"…boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia
amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ”
(QS. AlBaqarah:216)
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji, danlaki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita
yang keji (pula), danwanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang
baik dan laki-lakiyang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik
(pula). Mereka (yangdituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh
mereka (yang menuduhitu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia
(surga)” (QS.An Nuur:26)
Cukup cintai ia dalam diam dari kejauhan dengan kesederhanaan dan keikhlasan…
karena tiada yang tahu rencana Allah…mungkin saja rasa ini ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan
Cinta Dalam Diam
karena hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikan…serahkankan rasa
yang tiada sanggup dijadikan halal itu pada Yang Memberi dan Memilikinya
biarkan ia yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada
waktunya…
“Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.” (Umar bin Khattab ra.)
Hukum Seputar Darah Wanita: Darah Nifas
Waktu persalinan adalah salah satu momen paling mendebarkan bagi
seorang wanita. Karena momen ini merupakan bagian dari jihad teragung
kaum wanita. Di mana seorang wanita yang meninggal saat melahirkan
bahkan termasuk golongan manusia yang mati syahid (HR. Abu Dawud dan
Ahmad). Setelah momen ini, seorang wanita akan memulai babak baru
kehidupannya menjadi seorang ibu yang mempunyai kewajiban mendidik buah
hatinya. Dan sebaik-baik pendidikan untuk anak adalah dengan pendidikan
agama.
Ternyata, momen penting ini pun tak lepas dari perhatian
syariat karena pada saat persalinan seorang wanita akan mengeluarkan
darah nifas. Sebagaimana haid dan istihadhah, darah nifas termasuk jenis
darah yang biasa terjadi pada wanita. Oleh karena itu, para muslimah
hendaknya mengetahui hukum-hukum seputar darah nifas.
Apakah Darah Nifas itu??
Nifas adalah darah yang keluar dari rahim karena melahirkan. Baik darah
itu keluar bersamaan ketika proses melahirkan, sesudah atau sebelum
melahirkan, yang disertai dengan dirasakannya tanda-tanda akan
melahirkan, seperti rasa sakit, dll. Rasa sakit yang dimaksud adalah
rasa sakit yang kemudian diikuti dengan kelahiran. Jika darah yang
keluar tidak disertai rasa sakit, atau disertai rasa sakit tapi tidak
diikuti dengan proses kelahiran bayi, maka itu bukan darah nifas.
Selain itu, darah yang keluar dari rahim baru disebut dengan nifas jika
wanita tersebut melahirkan bayi yang sudah berbentuk manusia. Jika
seorang wanita mengalami keguguran dan ketika dikeluarkan janinnya belum
berwujud manusia, maka darah yang keluar itu bukan darah nifas. Darah
tersebut dihukumi sebagai darah penyakit (istihadhah) yang tidak
menghalangi dari shalat, puasa dan ibadah lainnya.
Perlu ukhty
ketahui bahwa waktu tersingkat janin berwujud manusia adalah delapan
puluh hari dimulai dari hari pertama hamil. Dan sebagian pendapat
mengatakan sembilan puluh hari.
Sebagaimana hadits dari Ibnu
Mas’ud sradhiyallahu ‘anhu , bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam memberitahukan kepada kami, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam adalah orang yang benar dan yang mendapat berita yang benar,
“Sesungguhnya seseorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam
perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, kemudian menjadi
‘alaqah seperti itu pula, kemudian menjadi mudhghah seperti itu pula.
Kemudian seorang malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di
dalamnya, dan diperintahkan kepadanya untuk menulis empat hal, yaitu
menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Menurut Ibnu Taimiyah, “Manakala seorang
wanita mendapati darah yang disertai rasa sakit sebelum masa (minimal)
itu, maka tidak dianggap sebagai nifas. Namun jika sesudah masa minimal,
maka ia tidak shalat dan puasa. Kemudian apabila sesudah kelahiran
ternyata tidak sesuai dengan kenyataan (bayi belum berbentuk
manusia-pen) maka ia segera kembali mengerjakan kewajiban. Tetapi kalau
ternyata demikian (bayi sudah berbentuk manusia-pen), tetap berlaku
hukum menurut kenyataan sehingga tidak perlu kembali mengerjakan
kewajiban.” (kitab Syarhul Iqna’)
Secara ringkas dapat disimpulkan beberapa hal untuk mengenali darah nifas:
Nifas adalah darah yang keluar dari rahim disebabkan melahirkan, baik sebelum, bersamaan atau sesudah melahirkan
Disertai dengan tanda-tanda akan melahirkan (seperti rasa sakit, dll) yang diikuti dengan proses kelahiran
Bayi yang dilahirkan/ dikeluarkan sudah berbentuk manusia (terdapat
kepala, badan dan anggota tubuh lain seperti tangan dan kaki, meskipun
belum sempurna benar)
Lama Keluarnya Darah Nifas
Syaikh Muhammad
bin Shalih al Utsaimin dalam Risalah fid Dima’ Ath-Thabi’iyah lin Nisa
mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat tentang apakah nifas itu ada
batas minimal dan maksimalnya.
Adapun Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin
Badawi al Khalafi di dalam Al Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz
mengatakan bahwa nifas ada batas maksimalnya, yaitu empat puluh hari.
Pendapat beliau berdasarkan hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata, “Kaum wanita yang nifas tidak
shalat pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama empat
puluh hari.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi. Hadits hasan shahih). Waktu
empat puluh hari dihitung sejak keluarnya darah, baik darahnya itu
keluar bersamaan, sebelum atau sesudah melahirkan.
Pendapat
yang kuat, insyaa Allah, pada dasarnya tidak ada batasan minimal atau
maksimal lama waktu nifas. Waktu empat puluh hari adalah kebiasaan
sebagian besar kaum wanita. Akan tetapi apabila sebelum empat puluh hari
wanita tersebut telah suci, maka ia wajib mandi dan melakukan ibadah
wajibnya lagi.
Mengenai banyaknya darah, juga tidak ada batasan
sedikit atau banyaknya. Selama darah nifas masih keluar maka sang
wanita belum wajib mandi (bersuci).
Secara ringkas, ada beberapa kondisi wanita yang sedang nifas:
Darah nifas berhenti keluar sebelum 40 hari dan tidak keluar lagi
setelah itu. Maka sang wanita wajib mandi (bersuci) dan kemudian
melakukan ibadah wajibnya lagi, seperti shalat dan puasa, dll.
Darah
nifas berhenti keluar sebelum 40 hari, akan tetapi kemudian darah
keluar lagi sebelum hari ke-40. Maka, jika darah berhenti ia mandi
(bersuci) untuk shalat dan puasa. Jika darah keluar, ia harus
meninggalkan shalat dan puasa. Akan tetapi, bila berhentinya darah
kurang dari sehari, maka tidak dihukumi suci.
Darah nifas terus keluar dan baru berhenti setelah hari ke-40. Maka sang wanita harus mandi (bersuci).
Darah terus keluar hingga melebihi waktu 40 hari. Ada beberapa kondisi:
Darah nifas berhenti dilanjutkan keluarnya darah haid (berhentinya
darah nifas bertepatan waktu haid), maka sang wanita tetap meninggalkan
shalat dan puasa. Darah yang keluar setelah 40 hari dihukumi sebagai
darah haid. Sang wanita baru wajib mandi (bersuci) setelah darah haid
tidak keluar lagi.
Darah tetap keluar setelah 40 hari dan tidak
bertepatan dengan kebiasaan masa haid, ulama berbeda pendapat mengenai
hal ini. Menurut ulama yang berpendapat bahwa lama maksimal nifas adalah
40 hari, menilai darah yang keluar setelah 40 hari sebagai darah fasadh
(penyakit) yang statusnya adalah sebagaimana istihadhah. Sedangkan
menurut ulama yang berpendapat bahwa tidak ada batasan minimal dan
maksimal lama nifas, mereka menilai darah yang keluar setelah 40 hari
tetap sebagai darah nifas. Pendapat inilah yang lebih kuat, insya Allah.
Akan tetapi, jika ingin berhati-hati, setelah 40 hari dinilai suci.
Sehingga sang wanita bersuci untuk melaksanakan shalat dan puasa, meski
darah tetap keluar. Akan tetapi hal ini tidak berlaku pada 2 keadaan:
Ada tanda bahwa darah akan berhenti/ makin sedikit. Maka sang wanita
menunggu darah berhenti keluar, baru kemudian mandi (bersuci)
Ada
kebiasaan dari kelahiran sebelumnya, maka itu yang dipakai. Misal, sang
wanita telah mengalami beberapa kali nifas yang lamanya 50 hari. Maka
batasan ini yang dipakai.
Hal-hal yang Diharamkan bagi Wanita yang Nifas
Para ulama telah bersepakat bahwa wanita yang sedang nifas diharamkan
melakukan apa saja yang diharamkan bagi wanita yang haid. Antara lain,
Sholat.
Wanita yang haid dan nifas haram melakukan shalat fardhu maupun sunnah,
dan mereka tidak perlu menggantinya apabila suci. (Ibnu Hazm di dalam
kitabnya al-Muhalla)
Puasa.
Wanita yang sedang nifas tidak boleh
melakukan puasa wajib maupun sunnah. Akan tetapi ia wajib mengqadha
puasa wajib yang ia tinggalkan pada masa nifas. Berdasarkan hadits
Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Ketika kami mengalami haid, kami
diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk
mengqadha shalat.” (Muttafaq ‘alaih)
Thawaf.
Wanita haid dan
nifas diharamkan melakukan thawaf keliling ka’bah, baik yang wajib
maupun sunnah, dan tidah sah thawafnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Lakukanlah apa
yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di ka’bah
sampai kamu suci.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jima’.
(lihat sub judul “Hukum Suami yang Bercampur dengan Istri yang sedang Nifas”)
Tidak boleh diceraikan.
Diharamkan bagi suami menceraikan istrinya yang sedang haid atau nifas.
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Hai Nabi, apabila kamu
menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu
mereka dapat (menghadapi) iddahnya (dengan wajar).” (Qs. ath-Thalaq: 1)
Hukum-hukum Seputar Nifas
Tidak ada perbedaan hukum antara haid dan nifas, kecuali beberapa hal di bawah ini:
1. Iddah
Apabila wanita tidak sedang hamil, masa iddah dihitung dengan haid,
bukan dengan nifas. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Wanita-wanita yang
dicerai hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’…” (Qs.
al-Baqarah: 228)
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin,
yang dimaksud ‘quru‘ adalah haid, dan inilah pendapat yang lebih kuat,
insyaa Allah. Oleh karena itu, masa iddah dihitung berdasarkan haid,
bukan nifas. Sebab, jika suami menceraikan istrinya sebelum melahirkan,
masa iddahnya habis karena melahirkan, bukan karena nifas. Adapun jika
suami menceraikan istrinya setelah melahirkan, maka masa iddahnya adalah
sampai sang istri mendapat 3 kali haid.
2. Masa Ila’
Ila’
adalah sumpah seorang laki-laki untuk tidak melakukan jima’ terhadap
istrinya selamanya atau lebih dari empat bulan. Setelah masa empat
bulan, bila sang istri meminta untuk berhubungan, maka sang suami harus
memilih antara jima’ atau bercerai.
Masa haid termasuk hitungan
masa ila’, sedangkan masa nifas tidak. Jadi, apabila seorang suami
bersumpah untuk tidak berjima’ dengan istrinya, sedangkan istrinya
sedang dalam keadaan nifas, maka masa ila’ ditetapkan empat bulan
ditambah masa nifas. Setelah masa itu, bila sang istri meminta untuk
melakukan jima’, sang suami harus memilih apakah jima’ atau bercerai.
3. Balighnya seorang wanita dihitung dari saat haid pertama kali, bukan nifas.
Hukum Suami yang Bercampur dengan Istri yang sedang Nifas
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Menggauli wanita
nifas sama halnya dengan wanita haid, hukumnya haram menurut kesepakatan
ulama.” (Lihat Majmu’ Fatawa)
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,
“Mereka bertanya kepadamu tentang wanita haid, maka katakanlah, “Bahwa
haid adalah suatu kotoran, maka janganlah kalian mendekati mereka
sebelum mereka suci.” (Qs. al-Baqarah: 222)
Seorang suami boleh
sekedar bercumbu dengan istri yang sedang nifas asal tidak sampai
jima’. Akan tetapi bila sampai terjadi jima’, para ulama berselisih
pendapat apakah wajib membayar kaffarah (denda) ataukah tidak (Lihat
al-Mughni oleh Imam Ibnu Qudamah rahimahullah).
Pendapat yang
lebih kuat, insya Allah, wajib membayar kaffarah. Hal ini berdasarkan
hadits Ibnu Abbas sradhiyallahu ‘anhu . Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam , ketika berbicara tentang seorang suami yang mencampuri
istrinya di waktu haid, Rasulullah bersabda, “Hendaklah ia bershadaqah
satu dinar atau separuh dinar.” (Shahih Ibnu Majah no:523, ‘Aunul Ma’bud
1:445 no:261, Nasa’ai I:153, Ibnu Majah 1:210 no:640. Hadits ini
dishahihkan oleh Al-Albani)
Adapun apabila seorang wanita telah
suci dari nifas sebelum 40 hari, kebanyakan ulama berpendapat bahwa
suami tidak dilarang untuk menggaulinya. Dan inilah pendapat yang kuat.
Karena tidak ada dalil syar’i yang melarangnya.
Riwayat yang
ada hanyalah dari Imam Ahmad dari Utsman bin Abu Al-Ash bahwa istrinya
datang kepadanya sebelum empat puluh hari, lalu ia berkata, “Jangan
engkau dekati aku!” Akan tetapi, ucapan Utsman tersebut bukan berarti
seorang suami terlarang menggauli istrinya. Sikap Utsman tersebut
mungkin timbul karena kehati-hatiannya, yaitu khawatir istrinya belum
suci benar, atau takut dapat mengakibatkan pendarahan disebabkan
senggama atau hal lain. (Lihat al-Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitabil
‘Aziz)
Karena itu, apabila pada diri seorang suami atau istri
timbul keragu-raguan, maka hendaklah memastikan dahulu, apakah sang
istri benar-benar telah suci dari darah nifasnya. Karena secara medis,
jima’ aman dilakukan bila sang istri telah melewati masa nifas, kecuali
bila saat itu sang istri langsung mengalami haid, terjadi perdarahan,
atau sedang menjalani terapi tertentu. Apabila masih ragu, hendaklah
berkonsultasi dengan dokter. Apakah kondisi sang istri telah normal dan
benar-benar pulih secara medis sehingga bisa dicampuri oleh suaminya.
Karena dalam hal ini kondisi setiap wanita berbeda-beda. Tidak
selayaknya seorang muslim melakukan hal yang berbahaya dan membahayakan
orang lain.
Wallahu Ta’ala a’lam.
Kamis, 21 Maret 2013
MENGAPA HARUS MENANTI DIA YG TELAH BERLALU PERGI
Bercinta memang mudah,untuk dicintai juga memang mudah..
Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai,itulah yang sukar diperolehi..
Kadangkala,kita selalu saja asyik dengan melayani perasaan saban hari..
Seolah2 itu saja yang diminta tanpa memikirkan hal yang lebih penting dari soal
hati..
kita lemah dalam menghadapi hari mendatang dan berkejaran mencari cinta
yang seolah difikirkan sudah hilang..
Kita selalu terlupa bahwa cinta sesama manusia kadang2 boleh merusakkan jiwa
kita..
membuatkan kita tiada semangat akan diri sepatutnya kuat dan tabah dalam
meniti perjalanan hidup ini..Mana perginya satu azam yang kuat dulu..
mana perginya janji kita yang mau berjaya dalam hidup...
Kehidupan kita bukan semata-mata untuk bercinta,berkasih sayang dengan
orang yang kita suka dan mau..
kadang kita harus tabah menerima suratan,orang yang kita dambakan bukan
menjadi milik kita..
Dan selalu saja kita merungut dan mengeluh mengenang nasib diri krna apa
yang kita mau tidak diperolehi.
Sadarkah kita,bukan semua yang kita mau dan inginkan akan menjadi milik kita..
Krna kita punya usaha untuk memilih dan memiliki..
Namun,sejauhmana kita meratap untuk mejadi milik kita dan bukan hak
kita,sampai bila2 pun takkan dapat melainkan dengan izinNya
Dan jika telah ditakdirkan menjadi hak kita,sudah tentunya kita akan
perolehi..,
apa yang kita faham tentang takdir dan ketentuanNya..
Siapalah kita untuk terus mengeluh dan menidakkan kebenaran yang telah
ditentukanNya..
Kita Cuma hamba Allah yang yang mana wajib mempercayai dan menerima
rukun iman..
Kadang kita selalu dengan khayalan diri kita dan masih mengharap cinta itu milik
kita...
sedangkan suratan telah nyata dan masih lagi kita tidak dapat menerima
kenyataan itu...
Hakikatnya kita telah berpisah atau mungkin cinta itu telah pudar..
Tapi,krna kesombongan diri kita atau tidak dapat menerima kenyataan,dan kita
selalu saja menceriakan diri kita dengan pembohongan yang nyata...
menanti dan menunggu cinta yang tidak pasti...
Itulah kita..
selalu tertikam dengan bisikan halus menyedapkan hati kita...
membuatkan kita terus di dalam asyik yang berkepanjangan..
Sadarlah dan kembalilah ke alam nyata..
cinta itu bukan milik kita lagi...
cukup sudah merindu dan meratapi perginya rasa itu yang kita rasakan cinta..
sebenarnya itu bukan lagi cinta sejati...
tidak melepaskan apa yang bukan lagi milik kita...
sedangkan masa yg berlalu tidak akan menunggu kita..
sesungguhnya kita dalam rugi yang nyata,membazirkan perasaan dan masa
hanya kerana masih lagi tidak dapat menerima hakikat.
Janganlah DITANGISI perpisahan dan kegagalan BERCINTA..
krn hakikatnya JODOH itu bkn ditangan mnusia..
Ats kasih syg Allah juga kita bertemu dgnnya dan ats limpahan kasihNya jua kita
Rabu, 20 Maret 2013
Indahnya Cinta Karena Allah
Cinta itu adalah ketika timbul perasaan aneh disekujur tubuhmu baik ketika kau melihatnya, mendengarnya, ataupun ketika kau merasakan kehadirannya di dekatnya. Adakalanya kau selalu ingin dekat dengannya, namun yakinlah, bahwa jarak yang jauh terkadang justru mampu mendekatkan hati kalian. Dan juga sebaliknya, kedekatan tanpa ikatan pernikahan seringkali merenggangkan hati kalian.
Cinta itu tumbuh secara tak terduga. Terkadang kau berpikir bahwa kau LEBIH BAIK mencintai orang tersebut. Namun ketika HATImu menolaknya kau tak akan mampu berbuat apa-apa. Biarlah perlahan-lahan hatimu, bersama dengan masa yang akan menghapusnya dari pikiranmu. Namun ketika HATImu membenarkan kau justru akan dibuat kebingungan karenanya. Kau justru akan berpikir ulang sebelum kau benar-benar yakin bahwa dialah cintamu yang sebenarnya.
Cinta karena Allah adalah ketika kau mengerti, tak hanya kelebihan dari orang itu yang kau lihat, namun juga MEMAHAMI dan MENERIMA kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Sungguh pun kau baru boleh mengatakan bahwa "aku mencintainya" setelah kau benar-benar mengenalnya dgn sebenar-benarnya, yaitu baik dan buruknya.
Cinta karena Allah itu tidak akan pernah sebatas pada penampilan dan kecantikan. Adakalanya kau akan lebih mencintai sebongkah arang hitam daripada sebutir intan yang berkilauan. Karena sesungguhnya kau sadar bahwa kau membutuhkan sebuah kehangatan yang mampu mengusir rasa dingin dari jiwamu. Lebih daripada sekedar keindahan yang ternyata membuatmu beku kedinginan.
Cinta karena Allah itu TIDAK akan tumbuh dari kecantikan seseorang. Namun KECANTIKAN seseorang justru akan tampak ketika kau mencintainya. Adalah bagaimana kau bisa mencintainya karena akhlak dan agamanya, bukan pada rupa, harta, ataupun nasabnya. karena dengan inilah kau bisa menepis kefakiran, kehinaan, ketidak bahagiaaan, dan kemudian menggantinya dengan kemuliaan yang diridhai oleh Allah SWT.
Cinta karena Allah Bukanlah tentang bagaimana kalian saling memandang, namun bagaimana tentang kalian melihat ke arah yang sama, dan berjalan ke arah yang sama. Kalian sadar bahwa kalian tidak akan mampu menghadapi perjalanan tersebut sendirian melainkan kau butuh seseorang untuk berjalan disisimu, yang saling membantu, saling meringankan, dan saling mengarahkan dalam perjalanan menggapai Ridha-Nya
Cinta karena Allah akan membuatmu merasa tidak perlu memiliki meskipun dalam hatimu kau sangat ingin. Adalah bagaimana kau bisa ikhlas ketika dia ternyata lebih mencintai orang lain dan bahkan kau pun bisa berdoa agar mereka bisa berbahagia.
Cinta karena Allah tidak akan menggiringmu pada jurang kemaksiatan. Ketika kau melihat dia dan mencintainya, hal itu akan membuatmu semakin berbenah diri, kau menjadi mampu melihat kekurangan-kekurangan dirimu untuk kemudian memperbaikinya.
Cinta Karena Allah tidak akan membuatmu berpikir sempit, justru kau akan berpikir lebih jauh ke depan, lebih matang, lebih dewasa, dan ke arah yang lebih serius Kau tidak akan berpikir dan membayangkan apabila kalian sudah pacaran, namun kau sudah berpikir ke arah pernikahan. Karena kau sadar bahwa ia jauh lebih kokoh, suci, berarti dan bermakna di hadapan Allah dar
Cinta karena Allah terkadang tak tumbuh dengan sendirinya. Kita seperti layaknya diberi biji untuk ditanam. Lalu ia tergantung pada bagaimana kita merawatnya. Jika kita baik, maka baik pulalah perasaan itu, dan juga sebaliknya. Terkadang pula bisa jadi ia tumbuh dengan sendirinya. Ada saat dimana kau terkadang ingin membunuh saja perasaan tersebut namun entah mengapa kau tak berdaya. Karena sebenarnya bukanlah kita yang menumbuhkan perasaan cinta tersebut, namun Rabb yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang lah yang berkehendak atas segala perasaan itu.
Cinta karena Allah tidaklah selalu membutuhkan beragam kesamaan diantara kalian. Namun yang terpenting adalah kesamaan prinsip dan tujuan, yaitu menggapai ridha Allah SWT. dalam dirimu kau pun ingin agar kau merasa layak untuk mencintai dan dicintai olehnya.
Wallahu a'lam
Cinta itu adalah ketika timbul perasaan aneh disekujur tubuhmu baik ketika kau melihatnya, mendengarnya, ataupun ketika kau merasakan kehadirannya di dekatnya. Adakalanya kau selalu ingin dekat dengannya, namun yakinlah, bahwa jarak yang jauh terkadang justru mampu mendekatkan hati kalian. Dan juga sebaliknya, kedekatan tanpa ikatan pernikahan seringkali merenggangkan hati kalian.
Cinta itu tumbuh secara tak terduga. Terkadang kau berpikir bahwa kau LEBIH BAIK mencintai orang tersebut. Namun ketika HATImu menolaknya kau tak akan mampu berbuat apa-apa. Biarlah perlahan-lahan hatimu, bersama dengan masa yang akan menghapusnya dari pikiranmu. Namun ketika HATImu membenarkan kau justru akan dibuat kebingungan karenanya. Kau justru akan berpikir ulang sebelum kau benar-benar yakin bahwa dialah cintamu yang sebenarnya.
Cinta karena Allah adalah ketika kau mengerti, tak hanya kelebihan dari orang itu yang kau lihat, namun juga MEMAHAMI dan MENERIMA kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Sungguh pun kau baru boleh mengatakan bahwa "aku mencintainya" setelah kau benar-benar mengenalnya dgn sebenar-benarnya, yaitu baik dan buruknya.
Cinta karena Allah itu tidak akan pernah sebatas pada penampilan dan kecantikan. Adakalanya kau akan lebih mencintai sebongkah arang hitam daripada sebutir intan yang berkilauan. Karena sesungguhnya kau sadar bahwa kau membutuhkan sebuah kehangatan yang mampu mengusir rasa dingin dari jiwamu. Lebih daripada sekedar keindahan yang ternyata membuatmu beku kedinginan.
Cinta karena Allah itu TIDAK akan tumbuh dari kecantikan seseorang. Namun KECANTIKAN seseorang justru akan tampak ketika kau mencintainya. Adalah bagaimana kau bisa mencintainya karena akhlak dan agamanya, bukan pada rupa, harta, ataupun nasabnya. karena dengan inilah kau bisa menepis kefakiran, kehinaan, ketidak bahagiaaan, dan kemudian menggantinya dengan kemuliaan yang diridhai oleh Allah SWT.
Cinta karena Allah Bukanlah tentang bagaimana kalian saling memandang, namun bagaimana tentang kalian melihat ke arah yang sama, dan berjalan ke arah yang sama. Kalian sadar bahwa kalian tidak akan mampu menghadapi perjalanan tersebut sendirian melainkan kau butuh seseorang untuk berjalan disisimu, yang saling membantu, saling meringankan, dan saling mengarahkan dalam perjalanan menggapai Ridha-Nya
Cinta karena Allah akan membuatmu merasa tidak perlu memiliki meskipun dalam hatimu kau sangat ingin. Adalah bagaimana kau bisa ikhlas ketika dia ternyata lebih mencintai orang lain dan bahkan kau pun bisa berdoa agar mereka bisa berbahagia.
Cinta karena Allah tidak akan menggiringmu pada jurang kemaksiatan. Ketika kau melihat dia dan mencintainya, hal itu akan membuatmu semakin berbenah diri, kau menjadi mampu melihat kekurangan-kekurangan dirimu untuk kemudian memperbaikinya.
Cinta Karena Allah tidak akan membuatmu berpikir sempit, justru kau akan berpikir lebih jauh ke depan, lebih matang, lebih dewasa, dan ke arah yang lebih serius Kau tidak akan berpikir dan membayangkan apabila kalian sudah pacaran, namun kau sudah berpikir ke arah pernikahan. Karena kau sadar bahwa ia jauh lebih kokoh, suci, berarti dan bermakna di hadapan Allah dar
Cinta karena Allah terkadang tak tumbuh dengan sendirinya. Kita seperti layaknya diberi biji untuk ditanam. Lalu ia tergantung pada bagaimana kita merawatnya. Jika kita baik, maka baik pulalah perasaan itu, dan juga sebaliknya. Terkadang pula bisa jadi ia tumbuh dengan sendirinya. Ada saat dimana kau terkadang ingin membunuh saja perasaan tersebut namun entah mengapa kau tak berdaya. Karena sebenarnya bukanlah kita yang menumbuhkan perasaan cinta tersebut, namun Rabb yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang lah yang berkehendak atas segala perasaan itu.
Cinta karena Allah tidaklah selalu membutuhkan beragam kesamaan diantara kalian. Namun yang terpenting adalah kesamaan prinsip dan tujuan, yaitu menggapai ridha Allah SWT. dalam dirimu kau pun ingin agar kau merasa layak untuk mencintai dan dicintai olehnya.
Wallahu a'lam
EMPAT HAL SEBELUM TIDUR
Rasulullah berpesan kepada siti Aisyah ra.
“ Ya, Aisyah! Jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara yaitu :
1. Sebelum khatam al-Quran
2. Sebelum menjadikan para nabi bersyafaat untukmu di hari kiamat
3. Sebelum para muslimin meridhai engkau
4. Sebelum engkau melaksanakan haji dan umrah “
Bertanya siti Aisyah :
“Ya Rasulullah ! bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika? “
Rasul tersenyum dan bersabda :
1. “Jika engkau akan tidur , membacalah surat al –Ikhlas tiga kali
Seakan-akan engkau telah meng-khatamkan Al-Quran
” Bismillaahirrohmaan irrohiim,
‘Qulhuallaahu ahad’ Allaahushshamad’ lam yalid walam yuulad’ walam yakul lahuu kufuwan ahad’ ( 3x ) “
2. "Membacalah shalawat untukku dan untuk para nabi sebelum aku" maka kami semua akan memberimu syafaat di hari kiamat “
“ Bismillaahirrahmaan irrahiim, Allaahumma shallii ‘alaa Muhammad wa’alaa aalii Muhammad ( 3x ) “
3. “Beristighfarlah” untuk para mukminin maka mereka akan meridhai engkau
“ Astaghfirullaahal adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih ( 3x )
4. Dan perbanyaklah “bertasbih, bertahmid , bertahlil dan bertakbir”
maka seakan-akan engkau telah melaksanakan ibadah haji dan umrah
“ Bismillaahirrahmaan irrahiim, Subhanallaahi Walhamdulillaahi walaailaaha illallaahu allaahu akbar ( 3x )
( Tafsir Haqqi)
Wallahu a’lam bishawwab
Sabtu, 16 Maret 2013
Jumat, 15 Maret 2013
keutamaan sholat jumat
Keutamaan Hari Jumat Bagi Umat Islam
Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ
خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا
“Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, karena pada hari itulah Adam
diciptakan, pada hari itu pula dia dimasukkan ke dalam surga, dan pada
hari itu pula dia dikeluarkan darinya.” (HR. Muslim no. 854)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ
فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ
وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
“Barangsiapa yang berwudhu lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian
dia mendatangi shalat jumat, lalu dia mendengarkan (khutbah) dan tidak
berbicara, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari
itu sampai hari jumat depannya, ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang
memegang-megang batu kerikil, maka dia telah berbuat kesia-siaan.” (HR.
Muslim no. 857)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ
إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ
الْكَبَائِرَ
“Antara shalat lima waktu, antara shalat jumat
satu ke shalat jumat berikutnya, dan antara puasa ramadhan ke puasa
ramadhan berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antara keduanya,
apabila dia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 857)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam membicarakan perihal hari jumat. Beliau bersabda:
فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي
يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ
بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا
“Di dalamnya ada satu waktu dimana
tidaklah seorang hamba muslim mengerjakan shalat lalu dia berdoa tepat
pada saat tersebut, melainkan Allah akan mengabulkan doanya tersebut.”
Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan
sedikitnya saat tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 1415 dan Muslim no. 852)
Penjelasan ringkas:
Hari jumat merupakan hari agung yang Allah mengistimewakan umat Islam
dibandingkan semua umat sebelumnya dengan menganugerahkan kepada mereka
hari ini. Hari jumat ini merupakan hari terciptanya manusia pertama,
hari dia dimasukkan ke dalam surga, hari dia dikeluarkan darinya, dan
tidak akan tegak hari kiamat kecuali pada hari jumat. Dia merupakan hari
raya pekanan kaum muslimin, shalat berjamaah pada hari tersebut (shalat
jumat) -ditambah syarat lainnya- merupakan penghapus dosa selama
sepekan ke depan bahkan Allah menambahkan padanya 3 hari sebagai rahmat
dan keutamaan-Nya kepada para hamba. Di akhir hari tersebut ada waktu
mustajabah dimana Allah menjamin akan mengabulkan doa orang yang berdoa
saat itu. Dan para ulama menyatakan bahwa waktu tersebut adalah antara
shalat ashar dan maghrib di akhir hari jumat.
Sebagai tambahan,
penghapusan dosa yang tersebut dalam hadits Abu Hurairah yang kedua dan
yang ketiga, dipersyaratkan: Dia harus berwudhu dengan wudhu yang
sempurna, mendengarkan khutbah dengan seksama dengan tidak berbicara
apapun ketika imam berkhutbah, tidak mengerjakan satupun amalan sia-sia
seperti mempermainkan kerikil dan semacamnya, lalu ikut mengerjakan
shalat jumat.
Wallahu a’lam
Kamis, 14 Maret 2013
BUKAN MENCARI TAPI MENJADI
Sebagian lelaki berkata, betapa sulitnya menemukan Wanita Sholehah di
zaman sekarang. Dan sebagian wanita juga berkata, betapa susahnya
mencari Lelaki Sholeh saat ini.
Mungkin pernyataan diatas ada
benarnya juga walaupun tidak mutlak. Akan tetapi yang lebih penting,
alangkah baiknya kalau pernyataan tersebut kita tujukan untuk diri
sendiri terlebih dahulu sebelum diucapkan kepada orang lain.
"Sudah menjadi Lelaki Sholehkah diriku? Sudah menjadi Wanita Sholehahkah diriku?"
Kadang kita terlalu sibuk untuk menilai orang lain sehingga kita lupa
menilai diri sendiri. Kita terlalu sibuk MENCARI sosok yang menurut kita
Sholeh atau Sholehah. Kita terlalu sibuk MENCARI sosok yang baik.
Sementara kita sendiri lupa untuk berusaha MENJADI sosok yang Sholeh
atau Sholehah.
Muncul satu pertanyaan, sudah pantaskah kita
berharap untuk bisa mendapatkan sosok yang Sholeh atau Sholehah?
Jawabannya berpulang pada diri kita masing-masing. Jangan bermimpi
mendapatkan Wanita Sholehah kalau masih belum mampu menjadi Lelaki
Sholeh. Jangan bermimpi mendapatkan Lelaki Sholeh kalau belum mampu
menjadi Wanita Sholehah.
Sebuah solusi yang tepat..
Tak perlu bersusah payah untuk MENCARI yang Sholeh atau Sholehah. Tapi
MENJADI-LAH Sholeh atau Sholehah terlebih dahulu. Karena apa?
Karena Allah telah menyiapkan pasangan yang sesuai dengan jati diri
kita. Yang sesuai dengan kepribadian kita. Yang sesuai dengan kadar
keimanan dan ketakwaan kita. Ingat, lelaki baik untuk wanita yang baik.
begitu juga sebaliknya. Itulah ketetapan-Nya!
Tunggu apa lagi?
Marilah memulai dari diri sendiri dulu untuk menjadi baik. Tak perlu
menunggu orang lain menjadi baik. Dan tak perlu terlalu sibuk untuk
menilai orang lain yang pada akhirnya kita lupa untuk menilai diri
sendiri.
---Badai Pasti Berlalu---
Bismillaah,
Pada suatu hari, seperti biasa kami bekendaraan menuju ke suatu tempat.
Dan aku yg mengemudi. Setelah beberapa puluh kilometer, tiba² awan
hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Kulihat
beberapa kendaraan mulai menepi & berhenti.
“Bagaimana Ayah? Kita berhenti?”, aku bertanya.
“Teruslah mengemudi!”, kata Ayah.
Aku tetap menjalankan mobilku. Langit makin gelap, angin bertiup makin
kencang. Hujanpun turun. Beberapa pohon bertumbangan, bahkan ada yg
diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Kulihat kendaraan² besar
juga mulai menepi & berhenti.
“Ayah…?”
“Teruslah mengemudi!” kata Ayah sambil terus melihat ke depan.
Aku tetap mengemudi dengan bersusah payah. Hujan lebat menghalangi
pandanganku sampai hanya berjarak beberapa meter saja. Anginpun
mengguncang²kan mobil kecilku. Aku mulai takut. Tapi aku tetap mengemudi
walaupun sangat perlahan.
Setelah melewati beberapa kilometer
ke depan, kurasakan hujan mulai mereda & angin mulai berkurang.
Setelah beberapa kilometer lagi, sampailah kami pada daerah yg kering
& kami melihat matahari bersinar muncul dari balik awan.
“Silakan kalau mau berhenti & keluarlah”, kata Ayah tiba².
“Kenapa sekarang?”, tanyaku heran.
“Agar engkau bisa melihat dirimu seandainya engkau berhenti di tengah badai”.
Aku berhenti & keluar. Kulihat jauh di belakang sana badai masih
berlangsung. Aku membayangkan mereka yg terjebak di sana & berdoa,
semoga mereka selamat. Dan aku mengerti bahwa jangan pernah berhenti di
tengah badai karena akan terjebak dalam ketidakpastian & ketakutan
kapan badai akan berakhir serta apa yg akan terjadi selanjutnya.
Jika kita sedang menghadapi “badai” kehidupan, teruslah berjalan,
jangan berhenti, jangan putus asa karena kita akan tenggelam dalam
keadaan yang terus kacau, menakutkan & penuh ketidak-pastian.
Lakukan saja apa yang dapat kita lakukan, & yakinkan diri bahwa
badai pasti berlalu. Jadikanlah kebiasaan yang positif untuk tidak
menyerah hari ini
(Tulisan ini saya dapat dari teman yang amat
sangat bermanfaat bagi diri saya sendiri dan semoga bermanfaat pula buat
saudara-saudariku)
Saudara-saudariku yang baik,
Jika
menurut kalian, artikel ini bermanfaat, silahkan di share atau co-pas,
kami mengizinkan dengan senang hati ^_^ . Semoga bermanfaat. Semoga pula
Allah Ta'ala berikan pahala kepada yang membaca, yang menulis, yang
menyebarkan, yang mengajarkan dan yang mengamalkan… Aamiin, Aamiin,
Aamiin ya Alloh ya Rabbal’alamin …
"Barangsiapa yg memberi
petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg
melakukan kebaikan itu." (HR Muslim)
Aamiin Ya rabbal 'alamiin
Langganan:
Komentar (Atom)
