Rabu, 20 November 2013

Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.
Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan pidato ini dikutip dari tulisan di blog berikut: http://pohonbodhi.blogspot.com/2010/09/you-are-either-with-me-or-against-me.html
“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.
Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.
Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.
Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?
Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.
Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa. Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang. Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.
Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni ITB yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.
Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.
Baiklah, pada bagian akhir tulisan ini saya kutipkan teks asli (dalam Bahasa Inggris) Erica Goldson di atas agar kita memahami pidato lengkapnya. Teks asli pidatonya dapat ditemukan di dalam laman web ini: Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech .
Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech
by Erica Goldson
Here I stand
There is a story of a young, but earnest Zen student who approached his teacher, and asked the Master, “If I work very hard and diligently, how long will it take for me to find Zen? The Master thought about this, then replied, “Ten years.” The student then said, “But what if I work very, very hard and really apply myself to learn fast – How long then?” Replied the Master, “Well, twenty years.” “But, if I really, really work at it, how long then?” asked the student. “Thirty years,” replied the Master. “But, I do not understand,” said the disappointed student. “At each time that I say I will work harder, you say it will take me longer. Why do you say that?” Replied the Master, “When you have one eye on the goal, you only have one eye on the path.”
This is the dilemma I’ve faced within the American education system. We are so focused on a goal, whether it be passing a test, or graduating as first in the class. However, in this way, we do not really learn. We do whatever it takes to achieve our original objective.
Some of you may be thinking, “Well, if you pass a test, or become valedictorian, didn’t you learn something? Well, yes, you learned something, but not all that you could have. Perhaps, you only learned how to memorize names, places, and dates to later on forget in order to clear your mind for the next test. School is not all that it can be. Right now, it is a place for most people to determine that their goal is to get out as soon as possible.
I am now accomplishing that goal. I am graduating. I should look at this as a positive experience, especially being at the top of my class. However, in retrospect, I cannot say that I am any more intelligent than my peers. I can attest that I am only the best at doing what I am told and working the system. Yet, here I stand, and I am supposed to be proud that I have completed this period of indoctrination. I will leave in the fall to go on to the next phase expected of me, in order to receive a paper document that certifies that I am capable of work. But I contend that I am a human being, a thinker, an adventurer – not a worker. A worker is someone who is trapped within repetition – a slave of the system set up before him. But now, I have successfully shown that I was the best slave. I did what I was told to the extreme. While others sat in class and doodled to later become great artists, I sat in class to take notes and become a great test-taker. While others would come to class without their homework done because they were reading about an interest of theirs, I never missed an assignment. While others were creating music and writing lyrics, I decided to do extra credit, even though I never needed it. So, I wonder, why did I even want this position? Sure, I earned it, but what will come of it? When I leave educational institutionalism, will I be successful or forever lost? I have no clue about what I want to do with my life; I have no interests because I saw every subject of study as work, and I excelled at every subject just for the purpose of excelling, not learning. And quite frankly, now I’m scared.
John Taylor Gatto, a retired school teacher and activist critical of compulsory schooling, asserts, “We could encourage the best qualities of youthfulness – curiosity, adventure, resilience, the capacity for surprising insight simply by being more flexible about time, texts, and tests, by introducing kids into truly competent adults, and by giving each student what autonomy he or she needs in order to take a risk every now and then. But we don’t do that.” Between these cinderblock walls, we are all expected to be the same. We are trained to ace every standardized test, and those who deviate and see light through a different lens are worthless to the scheme of public education, and therefore viewed with contempt.
H. L. Mencken wrote in The American Mercury for April 1924 that the aim of public education is not “to fill the young of the species with knowledge and awaken their intelligence. … Nothing could be further from the truth. The aim … is simply to reduce as many individuals as possible to the same safe level, to breed and train a standardized citizenry, to put down dissent and originality. That is its aim in the United States.”
To illustrate this idea, doesn’t it perturb you to learn about the idea of “critical thinking?” Is there really such a thing as “uncritically thinking?” To think is to process information in order to form an opinion. But if we are not critical when processing this information, are we really thinking? Or are we mindlessly accepting other opinions as truth?
This was happening to me, and if it wasn’t for the rare occurrence of an avant-garde tenth grade English teacher, Donna Bryan, who allowed me to open my mind and ask questions before accepting textbook doctrine, I would have been doomed. I am now enlightened, but my mind still feels disabled. I must retrain myself and constantly remember how insane this ostensibly sane place really is.
And now here I am in a world guided by fear, a world suppressing the uniqueness that lies inside each of us, a world where we can either acquiesce to the inhuman nonsense of corporatism and materialism or insist on change. We are not enlivened by an educational system that clandestinely sets us up for jobs that could be automated, for work that need not be done, for enslavement without fervency for meaningful achievement. We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us.
We are more than robotic bookshelves, conditioned to blurt out facts we were taught in school. We are all very special, every human on this planet is so special, so aren’t we all deserving of something better, of using our minds for innovation, rather than memorization, for creativity, rather than futile activity, for rumination rather than stagnation? We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still.
The saddest part is that the majority of students don’t have the opportunity to reflect as I did. The majority of students are put through the same brainwashing techniques in order to create a complacent labor force working in the interests of large corporations and secretive government, and worst of all, they are completely unaware of it. I will never be able to turn back these 18 years. I can’t run away to another country with an education system meant to enlighten rather than condition. This part of my life is over, and I want to make sure that no other child will have his or her potential suppressed by powers meant to exploit and control. We are human beings. We are thinkers, dreamers, explorers, artists, writers, engineers. We are anything we want to be – but only if we have an educational system that supports us rather than holds us down. A tree can grow, but only if its roots are given a healthy foundation.
For those of you out there that must continue to sit in desks and yield to the authoritarian ideologies of instructors, do not be disheartened. You still have the opportunity to stand up, ask questions, be critical, and create your own perspective. Demand a setting that will provide you with intellectual capabilities that allow you to expand your mind instead of directing it. Demand that you be interested in class. Demand that the excuse, “You have to learn this for the test” is not good enough for you. Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.
For those of you that work within the system that I am condemning, I do not mean to insult; I intend to motivate. You have the power to change the incompetencies of this system. I know that you did not become a teacher or administrator to see your students bored. You cannot accept the authority of the governing bodies that tell you what to teach, how to teach it, and that you will be punished if you do not comply. Our potential is at stake.
For those of you that are now leaving this establishment, I say, do not forget what went on in these classrooms. Do not abandon those that come after you. We are the new future and we are not going to let tradition stand. We will break down the walls of corruption to let a garden of knowledge grow throughout America. Once educated properly, we will have the power to do anything, and best of all, we will only use that power for good, for we will be cultivated and wise. We will not accept anything at face value. We will ask questions, and we will demand truth.
So, here I stand. I am not standing here as valedictorian by myself. I was molded by my environment, by all of my peers who are sitting here watching me. I couldn’t have accomplished this without all of you. It was all of you who truly made me the person I am today. It was all of you who were my competition, yet my backbone. In that way, we are all valedictorians.
I am now supposed to say farewell to this institution, those who maintain it, and those who stand with me and behind me, but I hope this farewell is more of a “see you later” when we are all working together to rear a pedagogic movement. But first, let’s go get those pieces of paper that tell us that we’re smart enough to do so!
~~~~~~~~~~
Pidato Erica tersebut juga dimuat di blog America dan mendapat tanggapan luas oleh publik di sana. Silakan baca di sini: http://americaviaerica.blogspot.com/2010/07/coxsackie-athens-valedictorian-speech.html
Kalau ingin melihat video pidato Erica di Youtube, klik ini:
atau masuk pada pranala berikut: http://www.youtube.com/watch?v=9M4tdMsg3ts&feature=player_embedded#!
Entri ini ditulis dalam Pendidikan. Buat penanda ke permalink.

264 Respon untuk Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

  1. dot berkata:
    ya inilah yang disebut dengan indoktrinisasi “robot yang terlatih” untuk consuming capitalism, sayangnya indonesia pun sudah menganut sistim pendidikan amerika ini. dan saya sedikit kaget ketika wisudawan ini terjadi di amerika, karena saya begitu bodohnya,(karena saya belum pernah ke amerika) jadi saya berpikir, amerika mempunyai sistim pendidikan yang terbaik, ternyata wisudawan terbaik mereka pun “aggainst” them. dan saya pun terkejut dengan bung rinaldimunir yang berada di ITB pun juga mengungapkan hal yang sama. karena saya lulusan univ swasta (impian saya untuk kuliah di ITB atau di Univ besar di luar negeri). sistim pendidikan kita tidak menerapkan pengembangan ilmu sosial atau EQ, dan hanya mengejar IQ saja. dan itulah yang disebut keberhasilan dalam mencapai ” robot yang terlatih”. dan quote terakhir erica goldson “But first, let’s go get those pieces of paper that tell us that we’re smart enough to do so! ” itu hanya ” 1 dari seluruh kata-kata terbaiknya dari pidatonya”,
    dia menunjukkan sistim manusia nya didalam kungkungan sistim yang mengukungnya.
    and it happen to all of us.
    • Black Pheonix berkata:
      Seandai nya itu terjadi di jepang mungkin kamu berpikir sistem pendidikan di jepang nya yg masalah, bagai mana jika terjadi di cina, belanda, jerman, apa karna sistemnya juga ?
      Bukan pada sistemnya, tapi pola pikir pribadinya yang berpendapat bahwa nilai adalah segalanya. Dan sayang nya masyarakat indonesia masi memiliki pemahaman yang seperti ini juga. Bahwa nilai dan pendidikan proritas dan sebagai adu gensi antar sesamanya, setidaknya antar tetangganya..
      • Afa berkata:
        setuju atas komentar atas ane, pola pikir yang membentuk pribadi-pribadi yang berbeda
      • finadamayanthi berkata:
        Dan mind set seperti itu adalah ciri khas bangsa kita… Kalo gak punya ijazah, bukan siapa-siapa. Terlalu melihat value yangs eringkali nipu ketimbang pertimbangan skill. What a pity :(
      • Imam Jay berkata:
        Menurut Saya, Anak-anak sudah punya cita2 tuk berkreasi sendiri dengan softskillna….
        dimana mereka pasti suka atau hobi dalam mengerjakan sesuatu…
        tapi karena “larangan” orang tua, jadinya yah anak2 mau tak mau jd “penurut” dalam hal ini…. (karena bagaiamanpun juga, tak mematuhi perintah orangtua bisa berakibat karma)
        shg softskillna diabaikan duluan… mgk nanti pas d akhir2, anak2 tsb akan bisa menemukan softskillna….
      • Nororo Bororo berkata:
        anak lulusan sekolah rakyat (SD) aja mempunyai 1000 karyawan, masa kalian yang lulusan sarjana malah jadi karyawan …hhe
    • Kubistra berkata:
      Sistem pendidikan Amerika – harus diakui salah satu yang terbaik. Kita tertinggal jauh dari sistem pendidikan mereka. Tapi yang jadi perkara adalah – ini tetaplah sebuah ‘sistem’. Mereka sungguh-sungguh berhasil menciptakan ‘manusia sistem yang TERBAIK’. Walaupun begitu, orang-orang seperti Steve Jobs, William Gates, Stephen Spielberg, dll -orang-orang kreatif yang ‘break-free’ dari sistem, keluar menjadi PENCIPTA SISTEM. Pendidikan yang terbaik itu, menurut saya, bukan berasal dari sistem yang disusun oleh manusia. Itu yang kita sebut indoktrinasi – kita akan mengajarkan apa yang kita INGIN anak-anak didik kita melakukan apa yang kita lakukan dengan lebih baik. Sekedar memindahkan perintah, seperti megunduh query di komputer. Tapi apa yang mau dikata; sistem memanglah diciptakan untuk mengakomodir sebanyak mungkin orang. Saya tidak dapat bayangkan seberapa mahalnya sekolah yang murni mengakomodasi semua interest anak didiknya – ini mustahil untuk dilakukan dalam sebuah ‘sistem’. Saya ingat Andrew Carnegie pernah berkata sia-sia kita meratapi atau mengubah apa yang sudah ditetaskan oleh peradaban jaman – semisal sistem pendidikan ini. Saya rasa yang perlu ditekankan kepada pendidik, orangtua, hingga para murid adalah: jadilah diri sendiri, eksplorasi diri secara maksimal, dan jadi yang TERBAIK dalam apapun yang telah dipilih untuk dilakukan.
    • ardianabi berkata:
      FYI negara dengan sistem pendidikan terbaik bukan USA tapi Finland.
    • puspitt berkata:
      iya, nilai memang bukan segala-galanya…
      ilmu yg penting…
      Tapi, klo kita nilainya kurang, kadang kita jadi terhambat untuk merncapai apa yg kita butuhkan..
      Misalnya, untuk mendapat beasiswa, syaratnya, IPK tertentu…
      Padahal, kalau nilai bukan segalanya, seharuanya tidak seperti itu, tidak anak yang IPK nya tinggi saja yg boleh dapat beasiswa.
      Akibatnya, anak yg belajar (benar2 belajar ilmunya, tapi mungkin karena suatu sebab ipk nya tidak setinggi temannya yang nilai / IPK nya lebih tinggi,,padahal si anak yg ipk nya tinggi ini belum tentu ilmunya lebih dari pada si anak yang ipk nya gk terlalu tinggi)
      Akibatnya sistem nilai yang tidak berpihak, hanya memberikan beasiswa pada anak yg IPK nya tinggi tadi, dan si anak yg IPK nya kurang, terpaksa harus berhenti belajar karena tak memperoleh beasiswa tadi.
      Begitulah, kalau kadang kita ingin bilang, nilai itu tidak penting, tapi ternyata kenyataannya nilai itu masih sangat penting.
      • ria jbt berkata:
        Benar bangat, dan rata-rata pendidikan menilai dari tingginya IPK untuk memberikan beasiswa. sangat tidak setuju dengan hal ini. seharusnya, sebelum memberikan beasiswa kpd seseorang individu, ada baiknya disurvey dahulu keseharian anak dalam bidang akademik. karena, kalo hanya nilai IPK, bisa saja nilai tersebut diperoleh dengan mencontek.
    • aryaphena berkata:
      bisa saja dia berpidato akan hal tersebut, lantaran tujuannya sebagai sindiran halus terhadap institusi dan kenyataan yang ada di kampusnya…
      justru terkadang seseorang yang dapat berpidato seperti itu adalah orang yang hebat, mengapa? karena dia sendiri yang merasakan dan menyadari bahwa selama ini yang dilakukannya cuma mengejar nilai,
      namun jangan salah sangka, tentunya dia tidak sembarangan dong? tentunya dia sudah banting setir untuk mendapatkan solusinya dong?
      dari pidato tersebut, juga mengandung persuasif yang tersirat kepada kita yang sebagai mahasiswa, jangan menjadi kupu-kupu (kuliah-pulang)
  2. Iqbal Putra berkata:
    Sebenarnya kembali kepada orang itu sendiri, untuk apa dia berusaha mendapat nilai terbaik. Saya sendiri hanya melakukan hal2 yg bagi saya menarik. Adapun ketidakaktifan saya di Himpunan ato unit2 kemahasiswaan dulu murni disebabkan ketidaktertarikan pribadi dengan kegiatannya. Saya suka olahraga, tapi saya tidak tertarik untuk latihan karna memang tidak berniat menjadi olahragawan termahir. Jadi, kembali pada orang itu sendiri, apa tujuan dari rutinitas yang dilakukannya?
  3. ARief berkata:
    Saya mengenal seorang aktivis kampus dan mantan kahim salah satu himpunan di ITB, di mana dia lulus dengan nilai cum laude. Bukannya emang tujuan himpunan jurusan itu untuk membantu memperdalam bidang ilmu (jurusan) yang sedang dijalani ya? Itu lah yang didapatkan oleh orang yang benar-benar aktif di himpunan jurusannya (dan dengan niat yang benar pastinya).
    • finadamayanthi berkata:
      Bener sih, tapi yang diinginkan negeri kita adalah lulusan terbaiknya langsung terjun dan mengabdi ke masyarakat, serta membangun negeri ini… Memperdalam ilmu itu luar biasa, lebih keren lagi kalo diterapkan untuk membangun bangsa #kasihjempol
  4. ARief berkata:
    Saya mengenal seorang aktivis kampus dan mantan kahim salah satu himpunan di ITB, di mana dia lulus dengan nilai cum laude. Bukannya emang tujuan himpunan jurusan itu untuk membantu memperdalam bidang ilmu (jurusan) yang sedang dijalani ya? Itu lah yang didapatkan oleh orang yang benar-benar aktif di himpunan jurusannya (dan dengan niat yang benar pastinya).
  5. None berkata:
    Siapa dari anda yang bisa menjamin masa depan seseorang? Apakah anda bisa menjamin apabila seorang mahasiswa/i sudah aktif di Himpunan atau Unit Kegiatan Mahasiswa, maka dia akan bisa lebih baik? Mengapa anda langsung memandang bahwa semua Himpunan dan UKM itu sudah baik? Yakin kah anda bahwa UKM atau Himpunan itu sudah pasti bisa mengiring langkah anda menuju kesuksesan? Salah diri kita sendiri apabila kita aktif dimana-mana, dan kegiatan non akademic kita sangat lancar, namun dibidang akademic kita tidak begitu lancar(pas-pasan). Berarti kita belum mampu menyeimbangkan nya. Pidato itu sangat mengena kepada saya, dimana saya adalah orang yang di academic pas-pasan, namun non academic saya merasa begitu aktif. Tapi tidak seorang pun dari anda yang bisa menjamin saya kalau nanti saya pasti bahagia dalam hidup ini. Intinya/saran dari saya adalah syukuri lah segala apa yang kita bsia dapatkan dan kerjakan. Mari berusaha memberi hasil maksimal dari proses-proses yang diberikan kepada kita. CMIIW :)
  6. @endahya berkata:
    Reblogged this on CaraKata and commented:
    a lesson of life…
  7. lurusagil berkata:
    Reblogged this on Lurus Agil Basuki and commented:
    reblogged
  8. aditya berkata:
    hhhzhzhzhhzhhahahaha
  9. iraajummah berkata:
    Reblogged this on Dance With Live and commented:
    Tolak ukur kecerdasan seseorang selalu di lihat pada kemampuan akademisnya. inilah sistem pendidikan di negara kita, mungkin juga di negara2 lainn..
  10. mp berkata:
    kejujurannya adalah kelebihannya. caranya berpidato dan menungkapkan yg dipikirkannya adalah kelebihannya. ketekunannya juga adl kelebihannya. ngga mudah mencapai itu toh.. she’ll be great if she want. ketakutannya (kejujurannya) memberi banyak orang pemahaman bahwa hidup tak hanya sekadar sepasang tanda kutip ataupun tanda seru
  11. rosanna satya dewi berkata:
    Setuju banget..
  12. Aeros berkata:
    Reblogged this on fawwaz's blogs and commented:
    Wisuda #2
  13. mp berkata:
    like the ending statement so much. “gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita”. susahnya adalah ini sudah menjadi culture bangsa. bagaimana ngerubahnya ga boleh cengeng ke pemerintah, sebagai societies yg cerdas mesti bisa bantu walau hanya di sekitar. penumbuhan kesadaran adl yg utama
  14. Solochanger berkata:
    wow, menggugah naluri sekali pidatonya :)
  15. andrie berkata:
    Non Scholae Sed Vitae Discimus
  16. akubulankelima berkata:
    Reblogged this on Bismillah, Aku Bisa! and commented:
    dan saya adalah sebagian kecil dari mereka, mereka yang belajar hanya untuk mendapatkan nilai, untuk berbangga-bangga mendapatkan IPK tertinggi.
    Saya lupa bahwa esensi belajar adalah mendapatkan ilmu yang kemudian muara dari semuanya adalah mengejawantahkannya dalam aplikasi nyata.
    Tidak heran, saya yang sudah lulus s1 ini masih gamang. Bahkan dengan pelajaran pendidikan profesi ini, seharusnya ini adalah bentuk pengulangan (recall) saja. sedikit pengembangan dari pelajaran yang sudah didapatkan.
    Tapi bagiku?
    semuanya menjadi tampak baru. belum pernah saya pelajari sebelumnya (efek tutorial -> woy lu ngapain aja s1?)
    Semangat!!!!!!
    • Hana Nuraini berkata:
      waah apa yang anda rasakan saat ini saya rasakan juga loh, hehe.. setelah lulus S1 malah merasa gamang… rasanya malu kalo ingat ilmu yang saya pelajari itu banyak, nilai saya di kuliahan bagus, tetapi saya belum tentu mampu mengaplikasikannya dalam praktek… mungkin saya ini baru punya kompetensi akademik saja, belum memiliki kompetensi intelektual dan profesional…
  17. Iwan Yuliyanto berkata:
    Nice reflection… untuk pelajaran kehidupan.
    Semua berpulang kepada visi dan misi pribadi dalam hidup ini.
    Ijin share di kolom komentar ya, mas Rinaldi, terimakasih.
  18. renarain berkata:
    setuju banget bapak, setelah lulus kuliah kita seakan baru dilahirkan, ada sebagian yang bisa bekerja sesuai bidang ilmu yang telah dipelajarinya dan berhasil, tapi ada pula yang bekerja di bidang lain yang sama sekali beda dengan teori perkuliahan dan dia lebih berhasil, yang penting adalah tetap semangat dan terus belajar :)
    salam
  19. Iman Budi Santoso berkata:
    Saya senang sekali pada pembicaraan ini, karena ada beberapa aspek di dalamnya yang sesuai dengan pengalaman saya.
    Sekolah, pekerjaan, hobby, dan beberapa hal lain dalam kehidupan kita, hubungannya tidak sesederhana anggapan beberapa orang yang sudah menanggapi tulisan di blog ini. Banyak orang yang salah menentukan bidang pendidikan dan pekerjaannya karena alasan tertentu, dan mungkin perlu bantuan untuk menemukan hal-hal yang menjadi tujuan hidupnya. Just my 2 cents.
  20. renarain berkata:
    Reblogged this on Renarain's Blog and commented:
    setuju banget bapak, setelah lulus kuliah kita seakan baru dilahirkan, ada sebagian yang bisa bekerja sesuai bidang ilmu yang telah dipelajarinya dan berhasil, tapi ada pula yang bekerja di bidang lain yang sama sekali beda dengan teori perkuliahan dan dia lebih berhasil, yang penting adalah tetap semangat dan terus belajar :)
    salam
  21. mila eka kurniawati berkata:
    yaa begitulah memang rata2 semua pelajar dan mahasiswa yang ada di negara kita khususnya sekarang ini, saya adalah seorang ibu dengan dua orang anak yg duduk di sekolah dasar, di sisi lain hati nurani saya begitu sedihnya kala tiap hari harus menekan ” marah – marah ” istilah kedua buah hati saya kala melihat mereka tidak mau belajar dengan rajin dan mendapatkan nilai dibawah standart dan kadang jarang mengapresiasi kala mereka selalu sholat tepat waktu dan tak pernah bolong – bolong serta buang sampah pada tempatnya.
    Yang notabene sebenarnya saya tau dalam kehidupan kelaknya yang meraka butuhkan bukan hanya nilai terbaik tapi juga karakter building yang kuat, soft skill serta kehidupan sosial, tapi apakah mungkin dengan sistem yang ada di negara kita bisa menghargai selain Nilai Bagus, dimana anak yang pintar adalah anak yang di sekolahnya selalu juara kelas.
    dengan sistem yang ada sekarang ini pendidikan kita hanya akan menghasilkan “orang pintar tapi bukan orang baik” tapi memang kita tidak boleh terkungkung dan hanya menyalahkan sistem yang ada tanpa berbuat apa – apa. Semangaaaat ……..
  22. quthubm berkata:
    Reblogged this on Quthub Post.
  23. Harriman Saragih berkata:
    Reblogged this on harrimansaragih and commented:
    Jujur sekali dan memang agak miris sepertinya…
  24. muralobster berkata:
    Pidato wisudawan yang mengesankan.
    Mahasiswa ya? heemm
    Menurut Saya sih tidak ada masalah fokus di akademik, fokus di kegiatan kemahasiswaan, ataupun memenej antar keduanya. Selagi mahasiswa tersebut memiliki tujuan yang jelas terhadap hidup dan kehidupannya.
  25. okeyzz berkata:
    Reblogged this on I'm 'me' when you know it and commented:
    That’s exactly what I think when I graduate High School. What will I be? Beacuse I sure you I don’t know the hell what I wanted. I still am now T.T
  26. iwan berkata:
    bayangkan seandainya dia terobsesi dengan uang,harta,dan kekuasaan…..
  27. Arya Bisma berkata:
    dari ketakutan itu akan muncul keberanian untuk bangkit meninggalkan rasa takut dan memulai sejarah baru. tapi itu semua sangat bergantung pada mentalitas seseorang.
  28. Ping-balik: baca dan (benar-benar lah) renungi setiap langkah kita | Tempatku berbagi..
  29. JR Siregar berkata:
    That’s really often happen in our life recently. We hope all of school and institution of education in our country will respond it soon!
  30. fyram berkata:
    Reblogged this on Penulis Distorsi and commented:
    Sangat disarankan untuk setiap pelajar!
  31. firman berkata:
    menurut saya memang salah satu solusinya adalah kembali pada diri sendiri, sadari esensi kuliah ini apa,ilmu itu apa,aplikasinya bagaimana,filosofi tiap ilmu dalam hidup itu kaya gimana,tentukan mau fokus danberkontribusi di bidang ilmu apa dan manfaat apa yg akan diberikan pada masyarakat.
    namun saya rasa tidak sedikit mahasiswa di indonesia yang mengalami masalah seperti yg diungkapkan pada cerita di atas,nah jumlah yg tidak sedikit ini membuat saya berpikir apakah memang sistemnya yg membuat kebanyakan mahasiswa seperti itu atau memang kembali pada pribadi masing2,nah tentunya ini memang menjadi “PR” besar bagi kita semua untuk mengetahui sebab2 nya
  32. alhakiki berkata:
    Nice speech. Semua memang benar kembali ke pribadi masing-masing. Toh, ada juga yang nilainya dapat A, tetapi di kelas lanjutan kuliah itu, tak sedikit mahasiswa yang menganggap ilmu baru (Again: wooooy kemana aja semester lalu). Yups, nilai tak tentu berkolerasi dengan kemampuan. Begitu pula, orang yang aktif di himpunan atau unit belum tentu pula bisa memahami bagaimana mengerti orang lain dan bersosialisasi dengan baik. Banyak pula mahasiswa ITB yang aktif di organisasi hanya sebagai status (tampak keren menjabat ini itu). Ujung-ujungnya di kosan pun tak tahu siapa Pak RT/RW atau tetangga kosan sekali pun. Banyak pula mahasiswa yang hanya hidup di kosan-kampus-mall-kosan-kampus-mall-kosan-kampus-mall saja. Yups, kembali ke pribadi masing-masing, bahwa manusia itu unik. Ada pula mahasiswa yang dapat nilai C tetapi mengerti jauh lebih matang dan menjelaskan jauh lebih baik dari yang dapat nilai A.
    Kutipan sebuah ayat: “Tidak ada hal yang bisa mengubah nasib seseorang melainkan doa (ikhtiar=usaha).”
  33. Dewi Indriyani berkata:
    Setubuhhhh..saya pun baru merasakan sekarang.
    Saya cukup menyesal karena tidak mengetahui lebih awal tentang apa saya inginkan dalam hidup. Saat sekolah saya hanya berharap cepat lulus dan menyenangkan orang tua dengan nilai yang saya berikan. Toh pada akhirnya saat ini saya masih harus mencari dimana saya akan menjalani hidup nantinya.
    Saya gak mau ini terjadi pada adik adik saya. Semoga banyak orang yang bisa mendapatkan nilai positif dari tulisan ini.
    ‘ budak terpintar dan robot terlatih’ >>> yup that was me
  34. Dewi Indriyani berkata:
    Reblogged this on Feel.Taste.Style and commented:
    Budak terpintar dan Robot terlatih >>> That was me
  35. elam berkata:
    Reblogged this on Elam Sanurihim Ayatuna and commented:
    Graduation Speech by Erica Goldson
  36. sy lulus dari Pascasarjana Filsafat UGM dengan nilai sempurna (IP 4) tetapi bagi saya memang sy menghendaki hal itu dan bangga dengannya… tetapi saya senang dengan beberapa komentar lain di sini yang menyatakan semuanya kembali ke pribadi masing-masing. Saya selain kuliah, juga aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan, juga seminar2 ilmiah yg selain menjadi bahan belajar juga u/ makan siang gratis.
    Apa yg dipidatokan di atas merupakan ungkapan hati yang patut diberi jempol karena jujur… saran saya, jangan asal kuliah u/ mendapat nilai bagus, nilai itu penting tetapi hubungan2 kekerabatan yang berjalan bersamaan dengan kuliah itu juga penting. Jadi, kuliahlah dan perbanyaklah jaringan selama kuliah.
  37. ethiesepti berkata:
    Reblogged this on Dunia Hura-hura Septi and commented:
    Jujur saja, saya termasuk mahasiswa dengan IPK tinggi saat masih kuliah dulu. Meskipun saya bukan yang wisudawan terbaik. Tapi benar, saya menyadari hal tersebut. Bahwa nilai saya bagus karena saya rajin mengerjakan tugas-tugas perkuliahan, mengumpulkan tepat waktu. Saya memberikan kesimpulan pada tulisan ini, bahwa wisudawan terbaik, belum tentu menjadi yang terbaik ketika memasuki dunia sebenarnya, masyarakat.
  38. joko berkata:
    itb dari hongkong?
    sepertinya itu pidato orang bule
  39. Zulfikar Hakim berkata:
    Hmmm menarik Pak Rin.
    Saya sendiri juga tidak tahu saya termasuk yang mana
    Tapi saya ingat sekali, kemarin ini ingin banget ambil beberapa SKS yang saya kira akan sangat menarik dan cukup penting. Sayangnya waktunya nggak cukup, atau SKS yang diambil udah lebih.
    Sedih juga sih, kadang pengen ambil kuliah-kuliah itu lagi setelah lulus. Boleh nggak ya nyempil di kelas? :P
  40. Ping-balik: she speaks some of my thoughts | sayaka
  41. Yulieta berkata:
    Ada banyak anak-anak muda yg “gagal” sekolahnya tapi jadi orang hebat
  42. sayaka berkata:
    She speaks out much of my thought, months ago when i was graduated. i feel sorry for my self at that time. i was a kind of student at a level of quite ‘balance’. do many activities outside class, and i’m a kind of ‘so-so’ student in my class. but still, i don’t really know what i want to do after i graduated. and it was sad.
    Dear little brother and sister, you have to learn something because you want it, even though the condition tells you to do it as an obligation as a student, try to accept it, and want it then live in it, love it.. it’ll someday help your passion grow higher and richer. let’s just be wise to life :)
    And these words impress me now
    For those of you out there that must continue to sit in desks and yield to the authoritarian ideologies of instructors, do not be disheartened. You still have the opportunity to stand up, ask questions, be critical, and create your own perspective. Demand a setting that will provide you with intellectual capabilities that allow you to expand your mind instead of directing it. Demand that you be interested in class. Demand that the excuse, “You have to learn this for the test” is not good enough for you. Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.
  43. darmiati berkata:
    hidup harus homeostatis, soft skill n hardskill semua butuh pengembangan tergantung individu masing2 utk siap menjalani kehidupan yg akan dtng.
  44. L berkata:
    Mungkin dalam pikiran mereka yang selalu mendapatkan nilai bagus, mereka hanya yakin dengan satu pilihan, nilai itu yang akan mereka jadikan modal untuk mencari pekerjaan yang bagus. Akan tetapi bagi mereka yang sering mendapatkan nilai yang tidak memuaskan, akan mencari beribu-ribu alternatif lain untuk bisa mencapai kesuksesan, karena bagi mereka sangat kecil harapkan untuk bekerja kepada orang lain hanya bermodalkan nilai yang pas-pasan
  45. taupik berkata:
    apakah kuliah untuk cari kerja (saja)?, NO, kuliah utamanya adalah untuk mencari ILMU, kedewasaan cara berfikir (logis dan relevan) dan itu untuk kemajuan umat manusia, mempermudah manusia lainnya serta memperdalam nilai-nilai kemanusiaan.
    Dunia bisnis berfokus pada transaksi (jual beli, pertukaran sumberdaya) dan akademisi adalah untuk melengkapinya dengan nilai (kejujuran,kebersamaan,keadilan,taat pada peraturan,dsb)
    jadi jangan pernah menyesal kita pernah kuliah meski bidang pekerjaan tidak sesuai, tapi menyesalah apabila tidak mau belajar, tidak mau menambah ilmu (lagi).
  46. taupik berkata:
    wisudawati tsb hanya gamang saja, karena dia tidak mengetahui esensi dari kuliah/sekola itu apa? harusnya apabila ia ‘BERSYUKUR” pernah mendapatkan ilmu di bangku sekolah, maka apapun kenyataan di depan, itu tidak membuatnya menjadi skeptis..
    • finadamayanthi berkata:
      Dia ngomong gitu karena dia bersyukur. Kalo dia itu egois, pinternya apsti diambil sendiri, gak dibagi-bagi… Nah di momen pas kaya gitu dia malah menyalurkan aspirasi mahasiswa berkasta (IPK) rendah supaya nggak down meski nggak jadi lulusan terbaik (seperti yang dialami banyak wisudawan). Intinya dia juga turut menyadarkan semua orang di dunia bahwa sertifikat, IPK dan ijazah seharusnya bukan kiblat kesuksesan seseorang. Tujuan sekolah harusnya memang menjadi lembaga pengembangan diri dan lulusannya harus siap mental bersaing menghadapi dunia… Nyatanya, mind set kita tentang pendidikan emang gitu-gitu aja : Boring dan jarang bikin pemikiran kreatif kita berkembang.
  47. dimas a permadi berkata:
    jika mempunyai motivasi ideologis, pastinya dia tau kenapa dia berbuat yang terbaik dalam kuliahnya
  48. luar biasa postingannya…
    mari merenungi tentang ini semua sampai pada suatu titik. Sampai pada satu tahap kita tak mampu lagi merenungi ini semua. lalu… kita kembalikan padaNya…
  49. Dinan berkata:
    Setuju…
    Lulusan sebuah perguruan tinggi dituntut untuk memiliki academic knowledge, skill of thinking, management skill dan communication skill.
    banyak program pemerintah untuk mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang tinggi, manfaatkan masa kuliah untuk berprestasi dari segi akademis dan non akademis.
  50. rahmat berkata:
    LUAR BIASA
    itu sangat saya alami saat sekarang ini walaupun belum lulus pada universitas ini .
    dimna kebebasan mahasiswa itu dikekang oleh pihak kampus dalam melakukan kegiatan
    ngomong nya memberi kebebasan pada mahasiswa
    tapi tak ada yang terealisasi
    jadi apa yang mahasiswa lakukan hanya kemaun sendiri
    yang mana kampus hanya mementingkan kuantitas daripada kualitas lulusan nya .
  51. sp berkata:
    postingan yg musti dibaca oleh para mahasiswa,,,,, apa yg dirasakan oleh erica sepertinya juga saya rasakan,,,,,, saya merasa belajar yg saya lakukan hanya untuk ijazah karena seperti itulah negeri kita mendewakan ijazah
    • Aja berkata:
      Mohon maaf ya, tapi kalau benar demikian yang Anda katakan, mengapa Anda masuk kuliah? Apakah Anda hanya mengejar gelar saja? Justru jika Anda merasa kuliah tidak ada gunanya, tinggalkan kuliah itu, dan buat usaha Anda sendiri.
      Yang membuat seseorang mengerti esensi perkuliahan itu adalah orang itu sendiri. Dosen memberikan ilmu, lalu mahasiswa/i meresapi dan memaknainya. Jika Anda tipikal orang yang ingin mengejar esensi, Anda akan belajar dasar2nya, mencari bahan lebih jauh, dan memikirkan aplikasi dan pengembangannya. Jika Anda tipikal “karbitan”, maka tujuan Anda adalah nilai, dan hasilnya adalah nol besar, Anda tidak mengerti apa esensi yang diberikan.
  52. ikutan komen ahhhhh :p
    boleh yak,,,hehehehe,,,
    ===================
    pada ngomongin sistem pendidikan yak (o.O)
    well…kalo buat gw si jujur bukan masalah sistem or apa yang pertama kali gw liat or gw tangkap dari pidato yak Erica ( ngomongin masalah system kalo buat gw si useless ), lebih kebagaimana seharusnya seorang Mahasiswa/i bertindak sebagaimana seharusnya mereka walaupun mereka punya kekuatan untuk mengubah suatu sistem.
    “Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.”
    annndddddd,,,,damn,,,,,almost 3 years i dont realize it…
    thx mas bro/sob/ bapak yang punya blog,
    sedikit membuka sudut pandang gw sebagai mahasiswa dableg yang sekarang diujung ambang akhir semester -______-
  53. Iqbal Parabi berkata:
    Tulisan seperti ini patut dibaca oleh mahasiswa Indonesia, tidak hanya di ITB, di kampus-kampus lain pun seperti ini. Kebanyakan hanya mengejar nilai dan tidak sempat untuk mengembangkan diri. Terimakasih atas tulisan yang sangat bermanfaat ini.
  54. @otnielyehezkiel berkata:
    Pidato yang bagus, menyadarkan akan suatu fakta yang menyakitkan dan juga menggelikan, bahwa manusia cenderung terprogram mengikuti suatu pola kehidupan yang sama, kaku dan terus berulang. Salut buat kepekaannya dalam pemahaman makna, pencarian eksistensi diri dan tujuan hidup.
  55. Sayangnya leluhur kita dulu benar, yang penting seimbang: mengenal banyak ilmu sedikit-sedikit itu lebih baik daripada mempelajari satu ilmu terlalu dalam. Toh hidup ini bukan untuk dilihat dari satu sudut pandang, bukan untuk didalami secara keseluruhan melalui rasional. Karena tidak ada yang bisa memastikan bahwa ilmu-ilmu yang menggunakan logika dan rasional merepresentasi kehidupan ini secara benar dan menyeluruh. Tapi bukan berarti ilmu yang disampaikan oleh institusi pendidikan tidak ada manfaatnya. Pasti ada, tapi untuk memaksimalkan pencapaian (achievement) kita, seharusnya bukan hanya dengan memperdalam, tapi memperluas. Intinya, jangan menenggalamkan diri kita ke satu titik.
  56. ReRe berkata:
    Oh dear…..X_X
  57. finadamayanthi berkata:
    Kejujuran yang menakutkan, menggugah sekaligus mengangkat derajad mereka yang ber-IPK rendah tapi bahagia karena mereka masih punya hobi dan passion yang bisa dibanggakan… Kita memang terjebak dalam suatu sistem pendidikan yang sangat menakutkan. Kalo gak sekolah formal dianggep aneh, freak dan gak akan pernah diterima kerja. Sekalipun terpaska mengambil jalur pendidikan formal, rasanya pingin cepet-cepet lulus meski hasilnya nge-pas nilai minimum. Padahal manusia punya banyak jalan buat sukses. Ketika belajar dianggap sebagai sebuh pekerjaan akibat doktrin hebat dari sistem pendidikan yang menjebak, maka dunia ini kiamat. Selamanya kita gak bisa menikmati kenikmatan belajar… Nice post :D
  58. Abdul Aziz berkata:
    terima kasih Pak Dosen.. sungguh menginspirasi! nice post :)
  59. Abdul Aziz berkata:
    Reblogged this on Bumi ke Langit and commented:
    Jadilah mahasiswa sejatinya mahasiswa, bukan menjadi robot! Berkreasilah dengan apa yang kau senangi! Berkontribusi dengan hati yang tulus! & Tetaplah menjadi yang terbaik! Hidup mahasiswa! :)
  60. dhano berkata:
    orang tua jaman sekarang cenderung lbh mementingkan nilai drpd apapun, hal ini dpt saya lihat dari kualitas adik2 kelas saya disekolah.
    mreka datang sekolah pagi2, dan begitu pulang mreka lngsng pulang. mreka tdk mengikuti kegiatan yg ada lantaran dilarang karena menurut org tua mreka, ekstrakulikuler tdk brpengaruh pd nilai dan tdk diujikan.
    pdhl menurut sy, keaktifan murid dlm berkegiatan dan berorganisasi sngtlah pntg.
    dgn bermain brsama teman, anak2 pasti akan mendapat masalah yg harus dislesaikanya sendiri, scr tdk lngsng hal ini dpt mendewasakan anak trsbt.
    dlm berorganisasi, anak akan belajar mengatur sebuah tim yg trdiri dr org dgn bnyk pikiran yg brbda, shga dia harus menyatukan pndpt dgn kptsan yg adil dan dewasa
    dgn hal trsbt otomatis anak sudah mempunyai bekal dlm khidupan bermasyarakat. namun saya heran, kenapa orang tua jaman skrg tdk brpikir seperti itu?
    sy bersyukur mempunyai orang tua yg lbh mementingkan budi pekerti dan unggah ungguh (etika) dibanding nilai dlm pndidikan formal yg tdk brpengaruh dlm khidupan yg sbnrnya.
  61. Postingan yg bagus (y) , patut dibaca oleh smua org yg berpendidikan di Indonesia sehingga membuka cakrawala berpikir Mahasiswa(i), dimana kuliah hnya mendpatkan ijazah tnpa memikirkan hal lain yg tdk kalah penting, khususnya di Indonesia, yg masih terkungkung oleh sistemnya yg carut-marut.
    #thinkagain
  62. ReRe berkata:
    Pendidikan bukanlah sebuah sistem, namun pelaksanaannya membutuhkan sebuah sistem. Sangat banyak dan kompleks faktor-faktor dalam sistem ini, sehingga butuh kesadaran dan kerja keras bersama untuk membangun sistem pendidikan di Indonesia. Semoga kita tidak saling menunggu dan menyalahkan untuk mewujudkan sistem pendidikan yang lebih baik, karena tujuan sebenarnya pendidikan adalah untuk membentuk pola pikir serta toleransi. {Just a thouhgt}
  63. Sedikit beruntung karena dia menyadarinya setelah lulus dan mendapatkan nilai terbaik..
    Dia bisa memulai hobby dan lainnya setelah lulus.. hehehe
    Mungkin yg lebih menyedihkan adalah yang tidak tersadarkan.. dan terus menjadi robot..
  64. Erik Budi S. berkata:
    Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein bahwa sejatinya pendidikan itu mengarahkan manusia-manusia menjadi makhluk yang harmonis dengan lingkungan dan alam, BUKAN menjadi Anjing Herder yang patuh pada perintah apa pun dari atasanya..
    _Cipta_Rasa_Karsa_Karya_
  65. Nanda Satrio berkata:
    izin reblogged :) postingan yang bagus. Merupkan suatu amanah bagi kita semua untuk menyebar luaskan agar mereka yang masih “terjebak” bisa segera tersadarkan. Demi kebaikan diri sendiri maupun bangsa ini.
  66. Ijin repost di tumblr saya ya pak.. sumber nya saya cantumkan juga pasti nya.. beneran memukau banget speech nya :”)
  67. Dhani berkata:
    Apa sih tujuan kita kuliah? Dosenku bilang kalau “untuk cari ilmu = BULLS”. Ilmu bisa dicari di mana aja. Tapi kuliah adalah tempat terbaik agar seseorang bisa belajar “berpikir secara lois dan sistematis”.
  68. Aja berkata:
    Yang membuat seseorang mengerti esensi perkuliahan itu adalah orang itu sendiri. Dosen memberikan ilmu, lalu mahasiswa/i meresapi dan memaknainya. Jika Anda tipikal orang yang ingin mengejar esensi, Anda akan belajar dasar2nya, mencari bahan lebih jauh, dan memikirkan aplikasi dan pengembangannya. Jika Anda tipikal “karbitan”, maka tujuan Anda adalah nilai, dan hasilnya adalah nol besar, Anda tidak mengerti apa esensi yang diberikan.
    Jangan salahkan sistem di universitas, salahkan diri Anda sendiri. Anda adalah manusia dewasa, belajar atau berorganisasi adalah pilihan Anda. Jika Anda tidak mengerti esensi kuliah, itu adalah salah Anda karena tidak mau mencari. Jika Anda merasa ilmu kuliah tidak ada gunanya, itu adalah salah Anda karena tidak mau belajar aplikasi ilmu Anda.
    Mengapa Anda tidak keluar dari kampus saja kalau merasa tidak ada gunanya? Bukannya Anda (yang merasa sistem kuliah Indonesia salah) malah ikut dalam sistem yang Anda cela sendiri? Mari kita berhenti menyalahkan sistem. Mari kita mulai belajar bahwa segala kesalahan kita berasal dari kita sendiri, bukan dari orang lain atau mencari kambing hitam lain. Dengan demikian, saya yakin bahwa bangsa kita akan lebih baik, tahu bersyukur pada Tuhan, dan selalu berusaha lebih maju.
    Tulisan di blog ini sangat baik, mengajak mahasiswa “karbitan” untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Saya minta izin share ya, terima kasih.
  69. Elsa berkata:
    Saya hanya ingin sharing, dan menanggapi pemikiran kebanyakan orang di bahwa
    ” ga perlu pendidikan sampai tinggi banget dan dapet ip gede lah, toh banyak yg di DO atau bahkan ga kuliah sama sekali tapi dia berhasil, jauuuh lebih berhasil”
    Sebenernya saya gereget kalo ada orang bilang kaya gitu, harusnya pemikiriannya adalah:
    ” orang yg di DO aja bisa berhasil apalagi kita yang diberi kesempatan dan bertahan sampai pendidikan setinggi ini, ”
    iya ga sih? :)
    oia saya hanya mahasiswa biasa yang lumayan aktif non-akademis, akademis tidak terlalu mengecewakan , sedang menjalani S1 di ITB sekarang.
    Salut salut banget dengan kaka-kaka yg ngomen diatas memang kampus bukan ladang IP semata, tapi banyak hal yg bisa kita kerjakan “kalau” kita memaksimalkan waktu kita dikampus,
    Supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains,seni,dan teknologi;
    Supaya kampus ini menjadi tempat bertanya ,dan harus ada jawabnya;
    Supaya kehidupan di kampus ini membentuk watak dan kepribadian;
    Supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan,tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.
    -Plaza Widya Nusantara-
    • Yudhi Leao berkata:
      menurut saya bukan itu masalahnya, tapi tergantung siapa yang ngomong..
      kalau orang gak tau mau ngapain, belum jelas maunya apa, pemalas trus ngomong “ga perlu pendidikan sampai tinggi banget dan dapet ip gede lah, toh banyak yg di DO atau bahkan ga kuliah sama sekali tapi dia berhasil, jauuuh lebih berhasil”
      saya yakin orang itu malah tambah stress kalau kata2nya terwujud..
      untuk orang yang tau mau ngapain kata kata “ga perlu pendidikan sampai tinggi banget dan dapet ip gede lah, toh banyak yg di DO atau bahkan ga kuliah sama sekali tapi dia berhasil, jauuuh lebih berhasil” cocok untuk dirinya sendiri tapi tidak bijak untuk diomongkan ke orang lain yang tidak seprinsip dengannya.
      intinya menurut saya, setiap orang ada jalannya masing2 dan ketika di depan ada pertigaan atau perempatan jalan dipikirannya tinggal tentukan arah sesuai hasrat, minat dan keadaan. Kasus mb Elsa mungkin memang jalannya harus begitu karena termotivasi untuk dijalan itu. dan kata2 ” orang yg di DO aja bisa berhasil apalagi kita yang diberi kesempatan dan bertahan sampai pendidikan setinggi ini, ” cocok banget untuk orang seperti ini.
      kalau mau ubah sistem yang notabene sudah global, harus berani dan jalan sendiri dulu, karena dunia butuh bukti, sistem mana yang berkerja paling baik. kalau belum bisa paling gak ubah mindset, ubah sudut pandang walaupun masih dalam suatu sistem itu, dan pada waktunya ketika keberanian dan visi sudah jelas, monggo kalau mau mendobrak keluar..
  70. Reblogged this on あさぎえんぴつ 'Asagi Enpitsu' and commented:
    Pentingnya Tawazun [Keseimbangan] Akal dan Akhlak yang selaras.. ;)
  71. fadhline berkata:
    Reblogged this on line of my life and commented:
    sistem pendidikan vs sistem pemikiran
  72. infopsikologi berkata:
    Be here & now, Atau menghayati. Sehingga kita tahu, merasakan dan memaknai apa-apa yang kita lakukan, ya dalam hal berpikir, berkata-kata, maupun berperilaku. Termasuk belajar. Memang sebaiknya diawal diluruskan dulu tujuan dari belajar dan pembelajaran, dan fungsinya dalam kehidupan utuh manusia.
    Terima kasih, postingannya. Inspiratif.
  73. Yu Li, Kwan berkata:
    Reblogged this on YK and commented:
    Recommended!
  74. Ilmu Kimia berkata:
    Sayang sekali hampir terjadi di seluruh dunia termasuk negara kita. Pendidikan hanya untuk mengejar nilai dan lulus.
  75. Osuka berkata:
    Jangan salahkan sistem, sistem itu ya hanya sistem. Untuk berkembang menjadi insan yang lebih baik itu bermula dari niat dan strategi pribadi masing-masing. Cari keuntungan dan informasi sebanyak-banyaknya.
    Persetan ~lah sama sistem, yang penting ambil yang baik-baik aja dan perbanyak wawasan untuk maju ke depan.
  76. ibchoco berkata:
    Sebenarnya saya juga ngalamin kaya itu , berusaha untuk dapat nilai yang bagus . tapi setelah terlepas dari dunia pendidikan , balik lagi berpikir , hampir pelajaran yang saya dapat kan saat sekolah , tidak 100% digunakan dlm kehidupan ini , terlalu banyak teori . Dan tidak terlalu banyak keahlian yang didapat yang tidak bisa dipraktekkan dalam kehidupan . Seharusnya pendidikan disini jangan terlalu banyak berorientasi pada teori tapi pada pengembangan dan penerapan dalam kehidupan .Walaupun agak sedikit menyesali ,tapi saya Positif thinking dan kembali berpikir ” jangan sesali apa yang telah kita pelajari tapi kembangkan apa yang kita pelajari supaya bermanfaat untuk sekitar ” Mudah- mudahan pendidikan di Indonesia jadi lebih baik .
  77. mengasah softskill memang sulit (dan menantang) #PengalamanPribadi
  78. Imitatif berkata:
    simple sih, saya gak cum laude, dan saya tidak mau cum laude. saya bebas jadi diri saya, meski pun terpaksa lulus mengikuti sistem. takut? saya sudah terbiasa makan sistem, sudah pasti akan menjadi seperti ini: hidup > S1 > memburuh > dapet duit > kumaha engke weh lah selajutnya. Santai, dan rock n role weh, berhubung hoby saya tidur. oh rok en lol sekali.
    BTW ni cum laude amerika kasian amat, hobinya belajar? sucks lah, mending molor… melawan sistem? saya bukan anarchist atau revolusioner…. mengejar nilai atau sesuatu tidak terlalu memaksa bagi saya yang malas ini. cukup seadanya dan mepet sudah cukup, secukup hidup didesa dengan segala kekurangngannya, yang penting bisa makan dan bernafas lebih lama di indonesia.
    Pendidikan kadang menghasilkan orang tak terdidik seperti saya, Hidup bersenang senang serupa film into the wild …. http://www.imdb.com/title/tt0758758/
  79. Budhie Santosh berkata:
    sudah waktunya Dikti/Pemerintah mngubah kurukulum pendidikan, dengan menambah, memperbanyak waktu praktek, praktikum sudah bisa dimulai sejak pendidikan menengah, sekaligus untuk memberi kesempatan siswa yg memang lebih gemar melakukan pekerjaan, dari pada membaca, maka mereka kemudian dipersilahkan untuk mengisi kesempatan kerja, disetiap jenjang, sudah bukan waktunya lagi orang tuan mngharuskan anakanya harus kuliah, harus S1.S2 dsb, jenjang tersebut dapat dikerjakan sambil mereka bekerja, karena saat ini sudah banyak sekolah/Perguuruan Tinggi yg dapat menerima siswa yg sudah bekerja, sehingga yg masuk perguruan tinggi juga diberikan kesempatan praktek kerja minila 12 bukan penuh, saya yakin hal ini dapat mengubah, cara pandang mahasiswa yg baru lulus, fres graduate. Saat ini baru Fakultas Kedokteran yg menerapkan hal tsb, oleh karenanya praktek kerja sangat diperlukan, disisi lain Instansi pemerintah, swasta, maupun BUMN harus dipaksa mau menerima siswa praktek, demi generasi muda yang akan datang, wassalam
  80. Indonesiaku.. (udah bingung mau ngomong apa).. Berdoa saja, mudah-mudahan ke depan orang tua bisa semakin sadar bahwa nilai bukan yang utama, dan tempat pendidikan juga mampu menyadarkan pentingnya berkreasi dan bukan hanya otak kiri saja yng dikembangkan, karena biasanya dalam keadaan kepepet/survival, otak kanan akan membantu, atau barangkali ada yang mau memulai untuk membuat suatu komunitas untuk hal tersebut?
  81. nana berkata:
    menjadi penting untuk tau apa yang benar-benar kita inginkan….
    sehingga kita bisa memiliki passion dalam melakukan setiap usaha.
    banyak orang hebat bukanlah orang yang pandai di sekolahnya, tapi orang yang benar-benar tau apa yang dia inginkan.
    pengalaman saya sekolah hanya untuk menyenangkan orang tua, meskipun saya tidak tertarik dengan jurusan tersebut membuat saya hanya berkutat demi mencapai nilai terbaik, tapi setelah lulus saya rasa saya tidak mendapatkan apapun…..
  82. Dandossi Matram berkata:
    Menurut saya, yang takut adalah mereka yang tidak tahu mau menjadi apa. Kalau sudah tahu, buat saya seharusnya tidak ada yang menakutkan.
    Ketika lulus SMA, maka kita sudah harus menentukan, kita ini mau menjadi apa? Seperti kita ketahui, ada 2 jenis manusia, pertama ingin menjadi akademisi dan kedua menjadi praktisi.
    Bagi yg ingin menjadi akademisi (mengembangkan ilmu) maka dia memang harus fokus dalam pendidikannya, mengejar IPK tertinggi. Tidak masalah bagi dirinya tidak punya hobby atau semacamnya.
    Bagi yang ingin menjadi praktisi, maka sebaiknya dia mengambil ilmu terapan (kejuruan/program diploma sbg perguruan tinggi ilmu terapan). Kalaupun masuk ke universitas yg mrpkn perguruan tinggi untuk pengembangan ilmu, maka dia tidak akan terlalu mengejar IPK/nilai akademis, tetapi juga diimbangi dgn kegiatan2 ekstrakurikuler atau hobby2 lainnya.
  83. qutuqupret berkata:
    cina berkembang karena jiwa wiraswasta berkembang baik kenapa dokrin menjadi pekerja di negara kita tetap cetar membahana apa lagi PLAT MERAH saya salah satu korban dokrin itu
  84. Andri berkata:
    Membaca tulisan ini jadi teringat dengan Pak Rhenald Kasali. Apa yang dirasakan Erica sama seperti yang diperjuangkan Pak Rhenald Kasali.
  85. john_e berkata:
    Sebuah sistem tetaplah sistem, pasti merujuk atas apa yang tertulis di atas kertas. Dalam kasus ini berarti menunjukkan lingkungan yang luar biasa, karena bisa memunculkan pemikiran seorang yang secara di atas kertas paling top untuk berfikir sebaliknya. Ato memang si mahasiswa ini yang luar biasa dapat melihat sisi yang lain dari kesuksesannya dengan pemikirannya sendiri???
  86. Alex berkata:
    Satu hal yang dilupakan oleh orang pada masa ini adalah untuk belajar untuk mendapat ilmu, bukan untuk mengejar nilai. Ada satu hal yang saya tidak setuju dengan penulis yaitu apakah orang yang selalu mengejar nilai dan tidak mengikuti kegiatan kemahasiswaan adalah orang yang “buta” yang hanya mengejar nilai. Jawabannya tidak, karena sesuai pengalaman saya, orang-orang tersebut tidak tertarik mengikuti kegiatan bukan karena mereka tidak mau mengasah soft skill tersebut tapi lebih karena mereka merasa tidak cocok atau lebih memilih menghabiskan waktu untuk melakukan aktivitas yang menurut mereka lebih menarik
    Sayangnya, zaman sekarang hampir mustahil mendapatkan kerja tanpa didampingi nilai yang baik…
    Salut dengan ketua pidato kelulusan tersebut
  87. Sebuah pidato yang bagus sekali. Ah sayangnya, meski penulisnya menyadari ‘robotic’ ini, dia tetap melaksanakan semacam itu saja.
  88. andrianandito berkata:
    Kuliah itu berarti harus seimbang tetapi jika tidak bisa seimbang tinggal dipilih yang mana yang harus didahulukan dan percaya aja bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia, semoga pidato tersebut memberikan inspirasi bagi mahasiswa/mahasiswa atau pelajar2 lainnya bahwa kuliah tidak hanya mengejar nilai tinggi. Salut buat kejujuran yang sudah dikatakan oleh Erica Goldson :)
  89. aaijal berkata:
    Reblogged this on syahrizal | the BLOG and commented:
    being best is great, but being great is the best
  90. ded berkata:
    Benar-benar menakutkan, karena keluar dari kejujuran seorang anak yang gamang terhadap dunia nyata.
    Terima kasih tlah berbagai, mudah2an menjadi renungan untuk kita bersama :)
  91. Reblogged here http://j.mp/Xrrz51
    thank a lot for this information.. its a wake up call..
  92. farubahmad berkata:
    sahabat Mahasiswa yang baik hatinya, izinkan saya menuliskan pendapatku disini.
    menjadi siswa atau mahasiswa, pandai dalam bidang akademik itu harus, pintar itu harus. tapi itu saja tidak cukup. pendidikan non akademik juga perlu. untuk mengembangkan diri setelah kita lulus dan terjun ke masyarakat. jika kita membandingkan pendidikan dinegara kita dengan Amerika atau bahkan negara-negara lain, sekilas kita memang jauh tertinggal. tapi ada satu yang tidak bisa terkalahkan pendidikan dinegara kita. pendidikan bersopan santun, tata krama, hingga negara kita ini dikenal ramah.
    memang tidak ada yang bisa menjamin kesuksesan kita dimasa depan. tapi jika kita mau sedikit berfikir, kita tentu tahu apa yang kita sesali hari ini adalah hasil perbuatan kita dimasa lalu. ku pikir itu sudah bisa kita jadikan tolok ukur mengenai masa depan kita. masa depan dan kesuksesan ditentukan atas apa yang kita kerjakan hari ini. semua orang bisa sukses, baik itu yang pintar atau pun yang kurang pintar. tengok saja, berapa banyak sarjana yang bekerja diperusahaan milik pribadi yang pemiliknya ternyata hanya lulusan sekolah dasar saja.
    yang pintar bisa sukses, yang aktif di kegiatan kemahasiswaan juga bisa sukses, yang terpenting adalah kemauan untuk mencoba dan hidup secara berani.
    kita hanya ditugaskan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi alam seluas-luasnya.
    terima kasih atas izin sharenya
    disini saya tidak bermaksud menggurui, karena saya sadar, saya bukan seorang sarjana seperti saudara-saudara semua. mohon maaf bila ada kekurangan dan kesalahan.
  93. yumenonami berkata:
    Reblogged this on ゆめ の なみ and commented:
    Academic and non-academic things, both are important as long as we could make it balance. I mean, good in academic and non-academic is a must.
    The one thing we should remember, “Learning isn’t about getting the highest score, but learning means knowing the new things, it makes our ability’s improved.”
    However, it was a Great Speech! :O
  94. tulisan yang mampu menyadarkan para guru agar mendidik lebih baik lagi
  95. adhi berkata:
    Passion jauh lebih penting daripada nilai. Sayangnya sistem akademia belum bisa membedakan antara orang yang passionate dengan orang yang hanya mengejar nilai. Kalau menginterview fresh grad sih mudah saja. Tanyakan buku apa yang dia baca terakhir, relevan nggak dengan study dan passionnya ?
  96. Distro Herbal berkata:
    Terharu, seakan Saya dulu merasakan hal serupa.. T_T
  97. nopan berkata:
    kata2 yg sangat bijak dan jujur. harusnya ini bisa menjadi contoh bagi para pembuat kebijakan maupun para civitas di bidang pendidikan
  98. aftinanurulhusna berkata:
    “Education is what remains after one has forgotten what one has learned in school.” — Albert Einstein.
    Mereka, yang luar biasa menyesal karena “kurang” sempurna menjalani masa lalu, tidak akan pernah lupa peringatan besar yang diajarkan oleh hidup yang berakhir tidak ideal. Bagi saya, mereka justru adalah manusia yang terdidik; terdidik oleh sekolah yang bernama kehidupan.
    Tidak ada sekolah yang bisa mengajarkan cara hidup terbaik yang pasti menyukseskan orang. Sekolah hanya memberikan bekal minimal agar orang tidak hidup tidak layak karena kebodohan. Namun selebihnya, jalan untuk mampu bertahan hidup itu kita rumuskan sendiri, apa sukses itu kita definisikan sendiri sesuai dengan keadaan diri kita, bukan menurut pemerintah atau sekolah dengan segala standard kompetensinya. Kita memang hidup salah satunya demi tujuan yang lebih besar menyangkut masyarakat dan masa depan negara, tetapi kita tetap punya kontrol atas diri untuk hidup secara adil, bermakna dan tidak mengorbankan diri sendiri.
    Jangan jadi seperti si wisudawan terbaik yang menjalani masa lalunya dengan orientasi hidup yang salah. Tapi, juga jadilah seperti si wisudawan terbaik yang berhasil mengevaluasi dan sadar betapa salahnya ia. Dia sudah tercerahkan sekarang dan dia benar tentang satu hal: “We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us. … We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still.”
  99. royan berkata:
    Mungkin film inspiratif yang bisa mewakili ini adalah 3 idiots (india). Banyak pesan dan nilai pendidikan yang bisa diambil dari film tersebut. Dua diantaranya adalah kejarlah keunggulan bukan nilai maka kesuksesan akan menghampiri dan belajar bisa dimana saja.
  100. kharis berkata:
    pendidikan penting tpi pengalaman hidup lebih penting…
  101. feb8 berkata:
    saya gak aktif organisasi , nilai akademik pas2an. Apa bisa sukses?
  102. gagapandiita18 berkata:
    Sempat hampir menjadi orang seperti itu, untung segera sadar bahwa mengejar nilai seperti itu adalah hal yang menakutkan. Karena pada dasarnya ketika kita dilapangan pekerjaan semua nya harus dapat seseimbang mungkin, tentang pentingnya kecakapan, kreasi, hobi, kemampuan adalah hal2 yang saling berkaitan kepentingannya.
    Saya tidak mau jadi budak atas pemikiran mengerikan semacam itu lagi.
  103. Rhino F berkata:
    nice banget, gan
  104. Krisna berkata:
    Reblogged this on Krisna's Blog.
  105. Hamrin berkata:
    Menyimak Pidata Wisudawan terbaik dari Erica bahwa ia ketakutan untuk menghadapi kehidupan selanjutnya setelah meraih predikat cumlaude. Memang hidup harus seimbang, antara hardskill dan softskill, bahkan sebuah penelitian menunjukkan bahwa hardskilll hanya berkontribusi 20%, selebihnya 80% ditentukan oleh softskill. Oleh karena itu, perguruan tinggi sudah saatnya mendesain sistem ini, misalnya : memperbanyak kajian tentang jiwa kewiraausahaan, sehingga begitu selesai kuliah sudah memiliki modal kuat untuk bersaing dengan pihak lain. Selain itu diperkuat pula bagaimana punya berkomunikasi dengan orang lain, nah, ini bisa didapat di BEM atau Senat Mahasiswa, dibawah bimbingan dosen ahli komunikasi melalukan kajian-kajian diskusi, sehingga ketika terjun ke masyarakat, lulusan perguruan tingggi sudah siap mengimplementasikannya. Sebenarnya sudah sering dipaparkan oleh pihak Kemdikbud tentang Pendidikan/Pembelajar Abad 21, tinggal bagaimana stakeholder pendidikan dibawahnya mengawal, mendorong konsep tersebut dalam tataran implementasinya. Ini yang menjadi permasalahannya.
  106. Bayu P Ridjadi berkata:
    suatu kejujuran yang baik. memiliki makna yang benar benar terjadi dikalangan mahasiswa sekarang. Semuaitu terjadi karena faktor tertentu. mengejar nilai tertinggi bukan berarti meraih mimpi tertinggi, karena pada nyatanya kehidupan tidak bisa menyendiri.
    Terima kasih artikel ini sangat menarik :)
  107. yuli wahyuni berkata:
    dan mungkin saya adalah salah satu budak terbaik dalam sistem indoktrinasi pendidikan saat ini. bedanya saya tidak akan menyesali pilihan saya yg lebih condong ke bidang akademis, karena disini saya mendapatkan bekal untuk tidak terjebak lagi menjadi budak sesungguhnya ketika terjun ke masyarakat.
  108. elfarizi berkata:
    Dulu saya juga diberi kesempatan untuk pidato kelulusan. Saya menyusun naskah pidatonya. Cuma, sayangnya, naskah itu harus “disunting” terlebih dahulu oleh panitia wisuda. Setelah melihat isi pidato saya yang sebagian poinnya menunjukkan “perasan jujur” dan “saran yang membangun”, panitia wisuda itu meminta saya menghilangkan bagian-bagian itu. Maka seperti apa yang dibilang mas, wajar saja kalau kebanyakan pidato wisudawan sebatas “kenangan memorabilia”. Entah alasan kongkretnya apa, besoknya pidato wisudawan pun tiba-tiba diganti posisinya ke orang lain hehehe :D
  109. d3mx12 berkata:
    di dalam hidup ini tidak ada yang tidak mungkin, kecuali makan kepala sendiri
  110. sarwan muhammad berkata:
    selain mencium siku sendiri, apalagi yang tidak mungkin?
  111. mmamir38 berkata:
    Memang.
    Mustinya kita harus tau bagaimana mengisi hidup kita sebaik-baiknya dengan ilmu yang kita kuasai.
  112. fahmi aligo berkata:
    yaah entah ini ungkapan rasionalisasi baik dari sodara wawan ataupun saya terkait upaya meninggalkan tugas dan bangku kuliah yg jelas ini menambah “kemalasan ku” mengrjakan tugas..wkwkwkwkw
  113. Kuntari berkata:
    menarik .. yang diimpikan siswa/mahasiswa adalah keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan emosional. siswa/nmahasiswa tidak hanya menjadi robot megerjakan ini itu yang diperintahkan kurikulum, tetapi bisa membebaskan diri dari keterbatasan indoktrinasi tersebut.
    Bisa mengeksplor intelektual dan emosionalnya secara seimbang, sehingga memperoleh bekal yang lengkap untuk melanjutkan kehidupannya di lingkungan yang lebih kompleks dan mampu mengadaptasi lingkungan masyarakat yang sangat rumit….. anyway, pidato Erica sungguh menginspirasi. Thanks.
  114. illmii berkata:
    yg bukan wisudawan terbaik, ingin menjadi terrbaik…. yg terbaik juga ingin seperti yg biasa
  115. kiluazolndix berkata:
    Reblogged this on ramaOn's Blog and commented:
    Impressive banget
  116. Doni berkata:
    Mungkin
    Itu juga yang dirasakan Bill gates, steve jobs dan mark zuckerberg sehingga meninggalkan kampus pada waktu-nya…karena “takut”… dan menjadi pengusaha brillian yang mempekerjakan orang-orang pintar… atau mungkin juga mempekerjakan lulusan-lulusan terbaik….
    Mungkin Mereka tidak lulus kuliah, namun mereka lulus dalam dunia pekerjaan…
  117. yuli berkata:
    hdp adalah pilihan.dan menurutku,pilihan yg terbaik adalah pilihan kita sendiri.pilihan akan minat dan tempat kita bekerja.bekerja sesuai dg keinginan kita alangkah bahagianya..kebanyakan dr kita bekerja krn pilihan itu yg ada,dan berujung stres krn setiap harinya selalu berulang berulang dan berulang..tp kalo ga kerja ga makan.dilema,
  118. Fadli berkata:
    Setidaknya Erica sudah lulus dengan nilai yang bagus. Dan masih ada harapan.
  119. Ping-balik: Sambutan Wisudawan Terbaik DI Amerika | yanuararea
  120. rusmanfebrio berkata:
    Reblogged this on Dedicated For Everyone and commented:
    I’m speechless about this ..
  121. Alif berkata:
    izin share
  122. rizkia berkata:
    izin share juga~
  123. pharmacy002 berkata:
    Sebenarnya suatu sistem ada tujuannya. Saya adalah mahasiswa kesehatan, dan berbeda dengan mahasiswa ilmu sosial, kami bertanggung jawab langsung dengan nyawa manusia. Seandainya sistem pendidikan kesehatan mengizinkan mahasiswa untuk berimprovisasi dan lalai dalam praktek, sudah tentu akan banyak nyawa melayang di kemudian hari. Selain itu, profesional kesehatan sudah disumpah sebelum terjun ke masyarakat, untuk melayani masyarakat, dan bertanggung jawab kepada Allah SWT. Beberapa dari kita memang harus terprogram seperti robot, demi menunjang kehidupan manusia lainnya. Tolong jangan cepat-cepat menilai sistem pendidikan hanya menciptakan robot, karena robot itulah yang akan menyelamatkan nyawa kalian nantinya. Saya tidak menyesali pilihan saya sebagai seorang calon apoteker. This is my calling. This is my pride.
  124. Indra berkata:
    jarang ada orang yg sadar dengan hal ini, biasanya mah sebodo aja. yg sebodo ini (yg semasa jd mahasiswa statusnya kupu-kupu aka kuliah-pulang, kuliah-pulang) hanya bisa pintar untuk diri sendiri dan akan mewariskan indoktrinasi pada orang lain. semoga menjadi hikmah bagi kita dan generasi setalah kita.
  125. Wijaya berkata:
    thank pak, ini kayak menyentil kita bahwa kuliah bukan hanya mengejar IPK aja namun untuk meningkatkan kualitas diri.. juga saya mau ijin reblog iini di website sya
    kujays.blogspot.com
  126. cepy berkata:
    makasiiiihhh banyak, Pak!! amat menggugah batin saya yang masih bingung menentukan alur hidup sebagai mahasiswa… :(
    *menjura*
  127. isaac berkata:
    Nilai di kampus memng tidak menjamin keberhasilan di masa yg akan datng, jika hanya mencari nilai pasti dapat yg baik kalau tetap ikut kelas dan mengikuti aturan yang ada hanya itu saja sdah mendapet nilai….tetp stelalh lulus pasti kita memulai awal yang baru dan tidak akan melihat pada nilai yang kita dapet, kita akan berlomba di luar antra nilai terbaik dan terjelek dan akan menetukan adalah inisiatif pada pribadi seseorang untk kreatif hidup dan bertindak………
  128. Ping-balik: Untung Saya Masih Punya Hobi | Linimasa Made
  129. araaminoe berkata:
    ck ck ck.. postingan yang keren dan komen-komen yang seru sekaligus penuh intelektual penggambaran masing-masing blogger.
    Well, apapun bentuk pendidikannya seharusnya bertujuan untuk mendidik bukan menjerumuskan entah dengan cara apa, guru yang benar-benar mengajar adalah pengalaman, dan kesiapan diri untuk menerimanya. :D
  130. sandimath10 berkata:
    luar biasa,. terimaksih postingannya. bermanfaat.
  131. Ping-balik: RENUNGAN MENJELANG KELULUSAN (dibalik UN, Wisuda dan kelulusan) | Riyan Arthur's Blog
  132. eko berkata:
    It seems that the next generation of human has well awaken. This era is for the bold truth rather than italic shit. We are the generation who have the guts to challange the system. The system that is conduct and kept erected by those who afraid that once it collapse, they will see no sun. We are important for this era since previous has already lost their sense on how the truth is purposely ignored. Raise up fellow friends. Stand up. Tommorow is ours to rule.
  133. Idzni berkata:
    Reblogged this on One For Me.
  134. bambang haryanto berkata:
    Pakar pendidikan dari Universitas Paramadina Jakarta, Utomo Dananjaya, menegaskan bahwa masalah mendasar dari sistem pendidikan kita adalah kegagalan dalam memupuk kreativitas anak didik.
    “Sistem pendidikan kita bertitik berat kepada menghafal teks. Ia menghempang lalu lintas gagasan para siswa dan ini mematikan kreativitasnya. Menghafal merupakan metode belajar yang usang dan harus diganti dengan pendekatan yang menumbuhsuburkan kreativitas anak didik.”
    Sistem pendidikan Indonesia. lanjut Utomo, bertumpu pada metode pengajaran satu arah dan tak ada interaksi. Ini memupuk sikap murid-murid menjadi patuh, mengulang-ulang apa yang diajarkan gurunya dan tidak diijinkan untuk berpikir di luar kotak.
    “Bagaimana mungkin pelajar mampu menghasilkan ide-ide yang asli, ketika duduk di bangku perguruan tinggi, sementara yang ia kerjakan di kelas adalah untuk menghafal semata ?”
    Kartun ilustrasi : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=496053080417507&set=a.481095868579895.104226.109903625699123&type=1&theater
    Tautan lanjut : http://www.thejakartaglobe.com/home/indonesian-education-system-fails-students/582229
  135. Hety berkata:
    tulisan yang menarik sebagai bahan perenungan kita bersama atas potret pendidikan kita di Indonesia.
    So what will we do for the next step? lets light the candle than curse the darkness (mengutip kata-kata Pak Anies). Apa yg bisa kita lakukan? Mari kita lakukan, mulai dari lingkungan terkecil kita :D
  136. Selamet Hariadi berkata:
    Menyeimbangkan kebutuhan pengembangan dirimerupakan hal penting, fokus kuliah perlu ditambah pengembangan pengetahuan di bidang lainnya.
    Salam Senyum…
    Selamet Hariadi
  137. Ping-balik: Kapitalisme dan Pendidikan | Adam Maulana's blog
  138. Laksito berkata:
    Mamak Dosen yg baik,
    mohon izin mmbagikan ini, ya ….
    Terima kasih, Mamak Dosen ….
  139. alitful berkata:
    Reblogged this on Alitful and commented:
    Nilai itu penting, tapi bukan yang utama
  140. Rommy berkata:
    Great articel…
    Ijin reblogged to rominyam.com
  141. Jie berkata:
    makasih…
    artikel yang memberikan artii..
    -_*
  142. Jupri Anwar Simamora berkata:
    semua yang dituturkannya ada benarnya
    dia mengatakan itu karena memang tidak ada tujuan dalm hidupnya
    tidak semua mahasiswa yang mendapat ipk cumlaude pergaulannya sedikit
    semua itu tergantung orangnya atau yang bersangkutan
    kalo semua mahasiswa jadi pemikir siapa yang akan jadi pekerja
    dalam dunia itu hal yang lumrah
    Beda orang beda pendapat
    Hanya satu saran
    jangan pernah tidak punya tujuan dalam menimba ilmu
    walaupun tujuanmu hanya “kecil” di bandingkan yang lain
    dalm hidup itu semua ada tujuan
    ada kelemahan ada kelebihan
    So Bangkit dan teriakkan
    I have a choice in my life
  143. st. roiz berkata:
    miris…namun knyataannya..msh bxk yg blum trsadar akan hal itu..semoga ini menginspirasi kawan ^^
  144. Ping-balik: Pendidikan | Nacksomat
  145. megawati meoong berkata:
    pidato yang bagus… bagi saya sendiri, nilai ujian bukanlah patokan untuk menilai seseorang apakah dia pintar atau tidak.. percuma saja jika dia pintar, selalu mendapatkan nilai terbaik diantara teman2 lainnya, tapi kalo dia tidak bisa berkomunikasi dengan baik dihadapan orang banyak,, tidak bisa menyalurkan ilmunya kepada yg lain, percuma saja.. apalgi jika dia tidak memiliki keahlian selain berkutat pada buku2.. satu kata buat orang seperti itu “KASIHAN”, karena saya menilai bahwa orang-orang seperti itu sangat kesepian, kosong, membosankan.. seimbangkanlah kemampuan otak kiri dan otak kanan kita…
  146. Fatwa berkata:
    pendidikan memang seharusnya membebaskan jiwa bukan membentuk kelas pekerja
  147. Liza fathia berkata:
    wah, membaca tulisan ini saya tiba-tiba jadi bangga pada diri sendiri. sebab ketika kuliah saya bukanlah mahasiswa. saya memang bukan mahasiswa terbaik, IPK saya tidak cum laude dan tidak Jelek. saya rasa dengan usaha saya yang hanya belajar dengan sistem kebut semalam, nilai yang saya peroleh jauh dari cukup. Maklum, ketika kuliah saya harus bekerja untuk memenuhi biaya kuliah saya. dan saya juga aktif si organisasi mahasiswa. dan, ketika bekerja, pengalaman saya pernah bekerja dan aktif di organisasi sangat membantu. IPK saya sama sekali tidak banyak berperan.
  148. Imron Rosyadi berkata:
    for some people, their passion are scientific, algebra, mathematic, and another theoritical things.
    for some people, art, music, sport, adventure, business, managing are their passion
    Knowing our passion and do it is the happiness key in life.
    :D
  149. EricDesign berkata:
    Yang penting belajar, belajar dan terus belajar…
    Berharga atau tidak berharganya sebuah pelajaran, tugas kita sendirilah untuk menyaringnya.
  150. handoko berkata:
    izin share ya..bener banget, sistem pendidikan indonesia masih belum bisa dikatakan maksimal dalam memberikan kesempatan siswa dan guru untuk berkembang..apalagi saat ini mau dibuat sistem baru..
    memang sih, kita gk bisa salahin sistem yg ada..tapi bagaiman kita dapat memanfaatkan semua sistem yang ada di negara ini sehingga kita bisa jadi pribadi yang berguna.
  151. Ping-balik: Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan” | i-Plus Learning Centre
  152. deanisa berkata:
    Postingan yg bagus sekali, selain untuk renungan tapi juga sebagai bahan pembelajaran. untuk saya khususnya mahasiswa tahun pertama yang sedang beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan. bagaimana postingan ini memberikan nasehat kepada saya sebelum saya benar-benar kelewat jauh dalam ekspetasi akan nilai tersebut. karena pada dasarnya, pribadilah yg menentukan. lagi pula akan lebih menyenangkan jika bekerja sesuai dengan bidang yg kita sukai. jadi tidak akan terasa seperti ‘budak’ sistem. :)
  153. arie berkata:
    menurut saya malah kuliah itu hanya sebagai pantes2 san hidup saja…. kepandaian dan kecerdasan sesungguhnya kita akan dapatkn ketika kita bangun dari tidur kita… jangan smpai kita baru bangun ketika telah malaikat maut menghampiri kita…
  154. joetomo berkata:
    Ini fakta, contohnya seperti lulusan teknik (karena saya dari teknik), mata kuliah yg ada dipelajari agar bsa lulus, agar bsa menjadi robot2 terdidik yang memenuhi kebutuhan pabrik. Akibatnya banyak lulusan yang layaknya robot, mampu mencari rumus2 yg harus digunakan untuk menyelesaikan masalah. Namun tidak memiliki kapabilitas untuk menyelesaikan masalah yang belum ditulis di database-nya. Sad day for education
  155. Erlangga berkata:
    Wah sangat menginspirasi untuk menjadi kutipan
  156. maharsy berkata:
    pada intinya, belajar dinitakan untuk menuntut ilmu, bukan mencari nilai :D
  157. betul banget, setuju setuju setuju :) lillahi ta’ala
  158. adreamer27 berkata:
    benar bnget pidato itu.. selama ini sistem pendidkan indonesia, tidak lain hanyalah membentuk seorang penurut bukan seorang yang punya jiwa kreativitas yang tinggi.. kita harus merubah sistem tersebut.. :)
  159. Dia bisa menjadi dosen , doktor ataupun peneliti semacamnya. Mudah saja asal ada kemauan
  160. ijin repost y gan hehe :V
  161. Mungkin ada untungnya yah saya yang IPK-nya bisa dekat ke 3 karena dikatrol ama kuliah2 MKDU……… Saya rasa biarpun saya lumayan aktif di kegiatan2, tapi tetap saja saya bersyukur dengan 4 thn yang saya lalui di system pendidikan di ITB telah membuat saya seperti yang sekarang ini. Buat saya, akademik dan non akademik adalah bagai dua sayap yang mengangkat kita. Kan gak mungkin terbang hanya dengan satu sayap?
  162. Ping-balik: Nilai Adalah Segalanya | Adhitya Reza
  163. Santi Djiwandono berkata:
    ini ‘pukulan’ sangat telak bagi pendidikan di US dan di hampir seluruh negara maju dan berkembang, bisa dibayangkan Amerika saja masih ‘tertampar’ seperti ini oleh salah satu anak didiknya, gimana dengan kita ya? Jauuuuhhhhh…….meskipun bukan berarti tidak bisa cepat. Cepat belajar, berubah, adaptasi, sehingga mutu generasi setelah kita-kita yg sekarang hidup ini, akan jauuh lebih berkarakter, karena proses pendidikannya juga dibuat penting, bukan hanya hasil akhir, dan bahwa sistem pendidikannya terintegrasi antar semua jenjang, semua penyelenggara, semua orang tua dan semua pengambil kebijakannya. Mantab!
  164. waw . sangat menyentuh . tapi, emangbener sih balik” lagi ke individu’a masing” . nggak dikit juga yang jadi aktivis campus tetap jadi juara kelas . :) contohnya teman saya ..
  165. dadot berkata:
    Saya lebih suka berpendapat bahwa pidatonya adalah semacam protes kepada almamaternya yang menurutnya hanya menekankan keunggulan di atas kertas alias nilai2 bisu semata. Kenyataannya, orang2 seperti yang dibahas Nn. Goldson ini sangat banyak bertebaran dan situasinya semakin parah khususnya di Indonesia ketika di masa liberalisasi pendidikan ini kampus2 unggulan berlomba2 jual mahal — memang arti harafiah ya — dan keluarga calon mahasiswa/i membalasnya dengan bantingan bundelan uang demi hanya selembar kertas berstempel logo kampus unggulan tsb belaka dan buta terhadap keterampilan hidup lainnya karena percaya kertas berlogo tsb ‘sakti’ dalam memperoleh pekerjaan idaman mereka.
  166. Muhammad Rifqi Fathin berkata:
    Menurut saya soft skill dan hard skill harus balance dan terkadang soft skill menjadi hal yang lebih penting ketimbang hard skill/IQ semata karena inilah potret kehidupan sekarang yang tidak jauh dari kata komunikasi antar sesama. Harapan saya selama kuliah di ITB nanti tidak banyak sebenarnya, saya hanya ingin menyamaratakan antara EQ dan IQ saya supaya bisa bertahan di masyarakat.
  167. ilmibumi berkata:
    Reblogged this on Hello, I'm …. and commented:
    Ini dia! Alasan sesungguhnya dari pelajar yang selama ini dikenal malas dan tukang main, beberapa dari mereka (pelajar tukang ‘main’ dan jarang ‘belajar’) sudah menyadari SISTEM yang hanya mencetak ‘budak-budak’, salah orientasi, dan sistem yang hampir tidak mengajarkan apa-apa, mereka lebih memilih mengembangkan soft skills mereka sebagai bekal hidup, memperluas jaringan, membuka pikiran pada masalah sebenarnya yang ada di lingkungan, dan bukan sibuk pada buku ‘kaku’ hanya untuk meraih nilai tinggi atau sekadar untuk lulus. Mereka orang-orang kritis yang tidak banyak ditemui, kontras, tidak bisa ‘terbawa’ arus, agen perubahan, sesungguhnya mereka itu REVOLUSIONER.
  168. Ping-balik: Congrats for Your Graduation. What Have You Learnt? « Mirrored World
  169. Ping-balik: Bertahan di ITB? Bisa kok! | Catatan Sang Penyendiri
  170. buce berkata:
    Orang. Sukses. Dalam pendidikan itu apabila dia bisa mencari kehidupan tanpa ijasah yang dia milikim.
  171. Perkenalkan nama saya Kanita mahasiswa Sosiologi Antropologi. Saya sangat terharu ketika membaca td, kerja keras Erica Goldson untuk menjadi wisudawan terbaik pasti sangat tinggi, dia rela berkorban untuk belajar, belajar dan belajar sungguh-sungguh tuk mendapatkan nilai terbaik, tertinggi n wisudawan terbaik. tetapi menurut saya, dalam menjadi mahasiswa kita tentunya harus berinteraksi dengan orang lain, harus seimbang antara akademik dan kegiatan organisasi, sebab jika kita sudah lulus nantinya akan mencari pekerjaan, nah biasanya jika kita dari semester awal sudah punya kawan/relasi yg banyak maka akan mudah dalam mencari kerja. semangat ya buat temen2 semua, keduanya antara nilai tinggi dan kegiatan organisasi sangatlah penting. SEKIAN dan TERIMA KASIH :)
  172. aralicka berkata:
    Bapak, saya ijin re-blog ya. Sangat bermanfaat dan menampar sekali bagi saya
  173. aralicka berkata:
    Reblogged this on Myblog and commented:
    Renungan untuk Mahasiswa dan Pelajar
  174. Marhamah berkata:
    emang ngeri donk dengarkannya. Tapi itu adalah luahan yang benar pada dirinya dan diriku. Semua orang juga mengalami hal yang sama. Harus kemana hidupku ini.
    Setelah tamat sekolah harus ke alam pekerjaan, kemudian ke alam perkahwinan, kemudian ke alam anak-anak, lepas itu mati. Apa ertinya semua itu.
    Saya tertanya ramai kawan-kawan yang kuat pergi ngaji katanya. Rupanya esensi dari ngaji (untuk yang sudah berusia) itu banyak sekali menjawab persoalan hidup kita. Kita lupa yang kita akan kembali pada Yang Maha Pemurah apabila jasad ini sudah tidak lagi berupaya.
    Jadi Allah adalah tujuan hidup dan Islam adalah pedomannya
  175. Ping-balik: Maju Sepuluh Langkah » Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”
  176. Ana berkata:
    ngeri juga ya. Tapi karena memang semuanya mendukung dalam hal ini. Dimulai dari didikan usia dini, nilai kecil dimarahin mamah papa, sampai akhirnya di perkuliahan pun dunia masih sama, semuanya mengejar nilai, karena dianggap sebagai komponen untuk “menilai” sesuatu. Rata-rata jg yang buka lowongan pekerjaan pake embel2 “IPK minimal . . ..” ya? Jadi mau bagaimana lagi.
  177. Joko Susilo berkata:
    apa pun gelar lulusannya, IPK nya baik, dll,.. bekerja dengan baik itu lebih penting,
  178. trissakti berkata:
    Pilihan. Semuanya pilihan tiap individu. Artikelnya bagus. Dan yang pidato emang “edan” :)
  179. Risa berkata:
    membuka mata kita semua. ijin reblog yaa
  180. Oom Brengos berkata:
    kuliah dan sekolah yang saya jalani selama ini, pelajaran dan gelar yang saya dapatkan selama ini tidak membantu saya dalam menjalani hidup saya serta menafkah i keluarga saya. Namun perjalanan dalam periode indoktrinasi tersebut memberikan saya pengalaman, kawan, pemikiran dan nilai kehidupan yang sangat berharga bagi saya dalam menjalani hidup dan menafkahi keluarga saya. Tidak ada kesia-siaan dalam perjalanan kehidupan manusia kecuali bagi orang yang tidak mampu mengambil hikmah sepanjang perjalanannya yang sebenarnya indah dan berwarna……
  181. mrcannibalz berkata:
    Reblogged this on thirstofknowledge and commented:
    Renungan …
  182. Reblogged this on Aria T. Kharisma and commented:
    Me face the mirror. A good article to describe who we are today after receiving a piece of paper in the graduation ceremony.
  183. natachaniago berkata:
    menjadi cambukan untuk mahasiswa sekarang.inspiratif.
  184. puniari berkata:
    Since the beginning of a process and understanding is not necessarily there should be a good result, so please repeat and try again.#unique
  185. Arif santoso berkata:
    pidato tanpa solusi menurutku ,,,
  186. Elzan Herbalife berkata:
    bener sekali, pada kenyataannya justru lebih byk org sukses mandiri dengan usahanya adalah dulunya bukan pelajar2 yang pintar, bahkan lebih byk yg nilai akademisnya relatif rendah.
    dan yang sukses di akademis jadinyapun terjebak sebagai pekerja2 kantoran yang sepertinya terlihat mapan padahal mereka adalah budak2 dari pemilik perusahaan tersebut.
  187. Darin Dindi Fadhilah berkata:
    Reblogged this on skyseat and commented:
    Add yhttp://rinaldimunir.wordpress.com/2013/04/07/pidato-wisudawan-terbaik-memukau-tetapi-sekaligus-menakutkan/#reblogour thoughts here… (optional)
  188. Rhamdani Azahra berkata:
    Nice info!!tipikal mahasiswa masa kini cuma ada dua, mahasiswa kupu2(kuliah-pulang) dan mahasiswa nonggem (nongkrong kalo ga dugem)..hihihi
  189. ioroyand berkata:
    subhanallah mengerikan ,,,,dalem bgt
  190. Syalfinaf Manaf berkata:
    Inilah potret pendidikan yang selalu mengejar otput bukan proses sehingga bertemulah budaya instant dalam berpikir dan bertindak dengan gelombang hedonisme dan konsumerisme karena hanya menggunakan otak kiri saja. Kato urang kampuang ambo awak bisa “maraso pandai” tapi nan labiah baik juga “pandai maraso” sahingga nan diasah adalah otak kanan kita; Kemamapuan tersebut aklan kita dapatkan dalam kegiatan yang membangun “soft skill dan team work”. Insyaallah disadari tentang pembanguna karakter sebagai fondasi pendidikan yang selama ini mulai terabaikan
    Mari kita bangun negeri ini dengan semangat
  191. ulfiarahmi berkata:
    di dunia nyata orang tidak membutuhkan yang individu yang kreatif, tapi individu yang manut-penurut. Yang kreatif silahkan bikin usaha kreatif sendiri, sedangkan yang manut bisa diterima banyak orang dengan asumsi bisa dibentuk. TrueStory ^_^
  192. Swastika R berkata:
    ijin share boleh? terimakasih.
  193. adetawalapi berkata:
    saya sendiri gamang, masih belum yakin mau jadi apa. padahal waktu kecil, dengan lantang saya menyebutkan “semua” cita-cita saya. hahaha ._.
  194. anggitadenill berkata:
    Mbak Erika itu jujur sekali ya. Oiya yang ku rasakan saat kuliah itu bukan gelar loh, tapi membentuk pola pikir. Pola pikir yang dapat melihat sesuatu dari berbagai sisi dan kalo bisa menemukan solusi. Yang membedakan jenjang keilmuan kan bukan ilmunya, tapi pola dan cara berpikirnya. Cara berpikir itu yang dibentuk dikuliah dan di lingkungan si mahasiswanya. Jadi ya kuliah ya penting juga sih.
    Buat Mbak Erika jempol banget ama kejujurannya. Pernah juga ngerasain hal yang sama dalam beberapa semester (untung ga lama), dan akhirnya sadar kalo “SUKSES ITU RELATIF”. Misalnya : Bagi si A bisa makan Indomi merupakan kesuksesan dalam hidupnya, dan si B bisa naik sepeda adalah sesuatu pencapaian besar dalam hidupnya. Jadi sukses ga bisa digeneralisasi. Akhirnya mulai menggali lagi diri sendiri yang sudah terkubur bertahun-tahun lamanya karena ‘sibuknya’ pendidikan alias mencari lagi apa yang ingin dilakukan jika sudah besar (pemikiran saat kanak-kanak) atau mengasah lagi skill hobby and i found it again, colour of my life.
  195. Nororo Bororo berkata:
    anak lulusan sekolah rakyat (SD) aja mempunyai 1000 karyawan, masa kalian yang lulusan sarjana malah jadi karyawan …hhe
  196. iteki08 berkata:
    kalau menurut saya, bukan indoktrinasi atau bukan, tapi ini lah yang disebut kedewasaan, dimana ketika masuk ke dunia kampus seringkali kita tidak tahu apa yang kita mau (kenapa anda pilih jurusan tersebut,kenapa anda masuk kampus tersebut dan apa tujuan anda masuk ke kampus dan jurusan tersebut), kalau maunya jadi karyawan ya kerjakan hal2 yang mendukung sebagai karyawan, kalau mau jadi pengusaha ya kerjakan hal2 yang mendukung anda untuk menjadi pengusaha atau yang lainnya yang anda inginkan
  197. Nurizka F berkata:
    Reblogged this on Ambiance Ambievert and commented:
    Mungkin inilah, yang selama ini kami para siswa gelisahkan. “Untuk apa belajar?” Karena kadang.. kami belajar hanya untuk nilai, bukan untuk mengambil sari ilmu dari setiap mata pelajaran.
    Mungkin evaluasi diri lagi.
    Apakah sekarang saya sedang benar-benar belajar. ataukah hanya sekedar “nurut” dan “manut” pada sistem ini? Melaksanakan perintah dengan sempurna layaknya robot?
  198. maftuh14 berkata:
    Reblogged this on CORAT-CORET SHARING and commented:
    Fokus,,Jangan ragu jadi pragmatis!
  199. Taufik Hidayat berkata:
    mahasiswa bermasalah jadi ada motivasi nih gara2 artikel ini
    ajib pak dosen
  200. Dara Agnesia berkata:
    yang dia sampaikan adalah fakta yang terlupakan oleh para mahasiswa,,tapi saya yang dulu berfikiran seperti itu sekarang mulai membenah,,beberapa kalimat (yang menyatakan bahwa untuk mendapatkan nilai terbaik adalah tanda keberhasilan dalam menyelesaikan periode indoktrinasi dengan sempurna) sampai-sampai tidak tahu arah dan tujuan kemana dan akhirnya terjerumus ke dalam bidang yang secara tidak sengaja dipilih. tapi yang dibutuhkan saya saat itu bukanlah tetap terjerumus lagi ke dalam doktrinasi yang sama,melainkan,,saya mulai mengetahui arah tujuan saya. apa yang saya ambil secara tidak sengaja,itulah yang terbaik,,dan saya berharap saya mampu menjadi yang terbaik di bidang saya,,tentu saja dengan tidak mengelakkan manfaatnya untuk kehidupan.
  201. darmachiro berkata:
    Ini bagus baget buat nyentil sedikit tentang paradigma pendidikan kita. Bicara soal nilai itu penting sebagai standar kompetensi diri. Tapi Bicara soal ketahan untuk hidup mandiri juga penting, jika nilai didapat dengan belajar teori, maka ketahanan hidup didapat dari aktualisasi diri waktu di sasana pendidikan. Kalau keduanya dapat, maka kita akan keluar tidak lagi gamang tentang arah hidup kita. Nilai kita ada, life skill juga ada. Jika dipahami lebih dalam Pendidikan adalah membahasakan ilmu kehidupan, kalau ada sarjana nganggur itu artinya secara nilai dia lulus tapi gagal dalam menjalani hidup yg berkualitas.
  202. setitikembun berkata:
    Reblogged this on lembayungsurga and commented:
    ketakutan seorang wisudawati setelah lulus
  203. achoels berkata:
    Reblogged this on Achoels and commented:
    Layak menjadi lulusan terbaik.
    Jd ingat waktu jaman sma, pernah membuat pidato di depan kelas.
    The great aim of education is not knowledge but action…
    Ilmu Pengetahuan tanpa mampu mengimplementasikan dalam kehidupan adalah absurd.
    Cm sayang, kurang responsif dr temen-temen sekelas atau saya yang kurang jelas pidatonya Hehehee…
  204. Reblogged this on Deo, Patriae, Amicis! and commented:
    Bagus untuk dibaca dan direfleksikan. Silakan!
  205. ipanase berkata:
    cadasss
    terdoktrin kertas
  206. benar-benar menggetarkan hati~
  207. gamis berkata:
    Salah kaprah sistem pendidikan hanya akan membuat orang semakin bodoh,,,,

Tidak ada komentar: