Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”
Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan
dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato
sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai
IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan
tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama
menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah,
pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman
civitas academica.
Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan pidato ini dikutip dari tulisan di blog berikut: http://pohonbodhi.blogspot.com/2010/09/you-are-either-with-me-or-against-me.html
“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.
Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.
Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.
Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?
Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”
Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.
Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa. Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang. Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.
Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni ITB yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.
Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.
Baiklah, pada bagian akhir tulisan ini saya kutipkan teks asli (dalam Bahasa Inggris) Erica Goldson di atas agar kita memahami pidato lengkapnya. Teks asli pidatonya dapat ditemukan di dalam laman web ini: Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech .
Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech
by Erica Goldson
Here I stand
There is a story of a young, but earnest Zen student who approached his teacher, and asked the Master, “If I work very hard and diligently, how long will it take for me to find Zen? The Master thought about this, then replied, “Ten years.” The student then said, “But what if I work very, very hard and really apply myself to learn fast – How long then?” Replied the Master, “Well, twenty years.” “But, if I really, really work at it, how long then?” asked the student. “Thirty years,” replied the Master. “But, I do not understand,” said the disappointed student. “At each time that I say I will work harder, you say it will take me longer. Why do you say that?” Replied the Master, “When you have one eye on the goal, you only have one eye on the path.”
This is the dilemma I’ve faced within the American education system. We are so focused on a goal, whether it be passing a test, or graduating as first in the class. However, in this way, we do not really learn. We do whatever it takes to achieve our original objective.
Some of you may be thinking, “Well, if you pass a test, or become valedictorian, didn’t you learn something? Well, yes, you learned something, but not all that you could have. Perhaps, you only learned how to memorize names, places, and dates to later on forget in order to clear your mind for the next test. School is not all that it can be. Right now, it is a place for most people to determine that their goal is to get out as soon as possible.
I am now accomplishing that goal. I am graduating. I should look at this as a positive experience, especially being at the top of my class. However, in retrospect, I cannot say that I am any more intelligent than my peers. I can attest that I am only the best at doing what I am told and working the system. Yet, here I stand, and I am supposed to be proud that I have completed this period of indoctrination. I will leave in the fall to go on to the next phase expected of me, in order to receive a paper document that certifies that I am capable of work. But I contend that I am a human being, a thinker, an adventurer – not a worker. A worker is someone who is trapped within repetition – a slave of the system set up before him. But now, I have successfully shown that I was the best slave. I did what I was told to the extreme. While others sat in class and doodled to later become great artists, I sat in class to take notes and become a great test-taker. While others would come to class without their homework done because they were reading about an interest of theirs, I never missed an assignment. While others were creating music and writing lyrics, I decided to do extra credit, even though I never needed it. So, I wonder, why did I even want this position? Sure, I earned it, but what will come of it? When I leave educational institutionalism, will I be successful or forever lost? I have no clue about what I want to do with my life; I have no interests because I saw every subject of study as work, and I excelled at every subject just for the purpose of excelling, not learning. And quite frankly, now I’m scared.
John Taylor Gatto, a retired school teacher and activist critical of compulsory schooling, asserts, “We could encourage the best qualities of youthfulness – curiosity, adventure, resilience, the capacity for surprising insight simply by being more flexible about time, texts, and tests, by introducing kids into truly competent adults, and by giving each student what autonomy he or she needs in order to take a risk every now and then. But we don’t do that.” Between these cinderblock walls, we are all expected to be the same. We are trained to ace every standardized test, and those who deviate and see light through a different lens are worthless to the scheme of public education, and therefore viewed with contempt.
H. L. Mencken wrote in The American Mercury for April 1924 that the aim of public education is not “to fill the young of the species with knowledge and awaken their intelligence. … Nothing could be further from the truth. The aim … is simply to reduce as many individuals as possible to the same safe level, to breed and train a standardized citizenry, to put down dissent and originality. That is its aim in the United States.”
To illustrate this idea, doesn’t it perturb you to learn about the idea of “critical thinking?” Is there really such a thing as “uncritically thinking?” To think is to process information in order to form an opinion. But if we are not critical when processing this information, are we really thinking? Or are we mindlessly accepting other opinions as truth?
This was happening to me, and if it wasn’t for the rare occurrence of an avant-garde tenth grade English teacher, Donna Bryan, who allowed me to open my mind and ask questions before accepting textbook doctrine, I would have been doomed. I am now enlightened, but my mind still feels disabled. I must retrain myself and constantly remember how insane this ostensibly sane place really is.
And now here I am in a world guided by fear, a world suppressing the uniqueness that lies inside each of us, a world where we can either acquiesce to the inhuman nonsense of corporatism and materialism or insist on change. We are not enlivened by an educational system that clandestinely sets us up for jobs that could be automated, for work that need not be done, for enslavement without fervency for meaningful achievement. We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us.
We are more than robotic bookshelves, conditioned to blurt out facts we were taught in school. We are all very special, every human on this planet is so special, so aren’t we all deserving of something better, of using our minds for innovation, rather than memorization, for creativity, rather than futile activity, for rumination rather than stagnation? We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still.
The saddest part is that the majority of students don’t have the opportunity to reflect as I did. The majority of students are put through the same brainwashing techniques in order to create a complacent labor force working in the interests of large corporations and secretive government, and worst of all, they are completely unaware of it. I will never be able to turn back these 18 years. I can’t run away to another country with an education system meant to enlighten rather than condition. This part of my life is over, and I want to make sure that no other child will have his or her potential suppressed by powers meant to exploit and control. We are human beings. We are thinkers, dreamers, explorers, artists, writers, engineers. We are anything we want to be – but only if we have an educational system that supports us rather than holds us down. A tree can grow, but only if its roots are given a healthy foundation.
For those of you out there that must continue to sit in desks and yield to the authoritarian ideologies of instructors, do not be disheartened. You still have the opportunity to stand up, ask questions, be critical, and create your own perspective. Demand a setting that will provide you with intellectual capabilities that allow you to expand your mind instead of directing it. Demand that you be interested in class. Demand that the excuse, “You have to learn this for the test” is not good enough for you. Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.
For those of you that work within the system that I am condemning, I do not mean to insult; I intend to motivate. You have the power to change the incompetencies of this system. I know that you did not become a teacher or administrator to see your students bored. You cannot accept the authority of the governing bodies that tell you what to teach, how to teach it, and that you will be punished if you do not comply. Our potential is at stake.
For those of you that are now leaving this establishment, I say, do not forget what went on in these classrooms. Do not abandon those that come after you. We are the new future and we are not going to let tradition stand. We will break down the walls of corruption to let a garden of knowledge grow throughout America. Once educated properly, we will have the power to do anything, and best of all, we will only use that power for good, for we will be cultivated and wise. We will not accept anything at face value. We will ask questions, and we will demand truth.
So, here I stand. I am not standing here as valedictorian by myself. I was molded by my environment, by all of my peers who are sitting here watching me. I couldn’t have accomplished this without all of you. It was all of you who truly made me the person I am today. It was all of you who were my competition, yet my backbone. In that way, we are all valedictorians.
I am now supposed to say farewell to this institution, those who maintain it, and those who stand with me and behind me, but I hope this farewell is more of a “see you later” when we are all working together to rear a pedagogic movement. But first, let’s go get those pieces of paper that tell us that we’re smart enough to do so!
~~~~~~~~~~
Pidato Erica tersebut juga dimuat di blog America dan mendapat tanggapan luas oleh publik di sana. Silakan baca di sini: http://americaviaerica.blogspot.com/2010/07/coxsackie-athens-valedictorian-speech.html
Kalau ingin melihat video pidato Erica di Youtube, klik ini:
atau masuk pada pranala berikut: http://www.youtube.com/watch?v=9M4tdMsg3ts&feature=player_embedded#!
Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan pidato ini dikutip dari tulisan di blog berikut: http://pohonbodhi.blogspot.com/2010/09/you-are-either-with-me-or-against-me.html
“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.
Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.
Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.
Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?
Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”
Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.
Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa. Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang. Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.
Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni ITB yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.
Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.
Baiklah, pada bagian akhir tulisan ini saya kutipkan teks asli (dalam Bahasa Inggris) Erica Goldson di atas agar kita memahami pidato lengkapnya. Teks asli pidatonya dapat ditemukan di dalam laman web ini: Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech .
Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech
by Erica Goldson
Here I stand
There is a story of a young, but earnest Zen student who approached his teacher, and asked the Master, “If I work very hard and diligently, how long will it take for me to find Zen? The Master thought about this, then replied, “Ten years.” The student then said, “But what if I work very, very hard and really apply myself to learn fast – How long then?” Replied the Master, “Well, twenty years.” “But, if I really, really work at it, how long then?” asked the student. “Thirty years,” replied the Master. “But, I do not understand,” said the disappointed student. “At each time that I say I will work harder, you say it will take me longer. Why do you say that?” Replied the Master, “When you have one eye on the goal, you only have one eye on the path.”
This is the dilemma I’ve faced within the American education system. We are so focused on a goal, whether it be passing a test, or graduating as first in the class. However, in this way, we do not really learn. We do whatever it takes to achieve our original objective.
Some of you may be thinking, “Well, if you pass a test, or become valedictorian, didn’t you learn something? Well, yes, you learned something, but not all that you could have. Perhaps, you only learned how to memorize names, places, and dates to later on forget in order to clear your mind for the next test. School is not all that it can be. Right now, it is a place for most people to determine that their goal is to get out as soon as possible.
I am now accomplishing that goal. I am graduating. I should look at this as a positive experience, especially being at the top of my class. However, in retrospect, I cannot say that I am any more intelligent than my peers. I can attest that I am only the best at doing what I am told and working the system. Yet, here I stand, and I am supposed to be proud that I have completed this period of indoctrination. I will leave in the fall to go on to the next phase expected of me, in order to receive a paper document that certifies that I am capable of work. But I contend that I am a human being, a thinker, an adventurer – not a worker. A worker is someone who is trapped within repetition – a slave of the system set up before him. But now, I have successfully shown that I was the best slave. I did what I was told to the extreme. While others sat in class and doodled to later become great artists, I sat in class to take notes and become a great test-taker. While others would come to class without their homework done because they were reading about an interest of theirs, I never missed an assignment. While others were creating music and writing lyrics, I decided to do extra credit, even though I never needed it. So, I wonder, why did I even want this position? Sure, I earned it, but what will come of it? When I leave educational institutionalism, will I be successful or forever lost? I have no clue about what I want to do with my life; I have no interests because I saw every subject of study as work, and I excelled at every subject just for the purpose of excelling, not learning. And quite frankly, now I’m scared.
John Taylor Gatto, a retired school teacher and activist critical of compulsory schooling, asserts, “We could encourage the best qualities of youthfulness – curiosity, adventure, resilience, the capacity for surprising insight simply by being more flexible about time, texts, and tests, by introducing kids into truly competent adults, and by giving each student what autonomy he or she needs in order to take a risk every now and then. But we don’t do that.” Between these cinderblock walls, we are all expected to be the same. We are trained to ace every standardized test, and those who deviate and see light through a different lens are worthless to the scheme of public education, and therefore viewed with contempt.
H. L. Mencken wrote in The American Mercury for April 1924 that the aim of public education is not “to fill the young of the species with knowledge and awaken their intelligence. … Nothing could be further from the truth. The aim … is simply to reduce as many individuals as possible to the same safe level, to breed and train a standardized citizenry, to put down dissent and originality. That is its aim in the United States.”
To illustrate this idea, doesn’t it perturb you to learn about the idea of “critical thinking?” Is there really such a thing as “uncritically thinking?” To think is to process information in order to form an opinion. But if we are not critical when processing this information, are we really thinking? Or are we mindlessly accepting other opinions as truth?
This was happening to me, and if it wasn’t for the rare occurrence of an avant-garde tenth grade English teacher, Donna Bryan, who allowed me to open my mind and ask questions before accepting textbook doctrine, I would have been doomed. I am now enlightened, but my mind still feels disabled. I must retrain myself and constantly remember how insane this ostensibly sane place really is.
And now here I am in a world guided by fear, a world suppressing the uniqueness that lies inside each of us, a world where we can either acquiesce to the inhuman nonsense of corporatism and materialism or insist on change. We are not enlivened by an educational system that clandestinely sets us up for jobs that could be automated, for work that need not be done, for enslavement without fervency for meaningful achievement. We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us.
We are more than robotic bookshelves, conditioned to blurt out facts we were taught in school. We are all very special, every human on this planet is so special, so aren’t we all deserving of something better, of using our minds for innovation, rather than memorization, for creativity, rather than futile activity, for rumination rather than stagnation? We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still.
The saddest part is that the majority of students don’t have the opportunity to reflect as I did. The majority of students are put through the same brainwashing techniques in order to create a complacent labor force working in the interests of large corporations and secretive government, and worst of all, they are completely unaware of it. I will never be able to turn back these 18 years. I can’t run away to another country with an education system meant to enlighten rather than condition. This part of my life is over, and I want to make sure that no other child will have his or her potential suppressed by powers meant to exploit and control. We are human beings. We are thinkers, dreamers, explorers, artists, writers, engineers. We are anything we want to be – but only if we have an educational system that supports us rather than holds us down. A tree can grow, but only if its roots are given a healthy foundation.
For those of you out there that must continue to sit in desks and yield to the authoritarian ideologies of instructors, do not be disheartened. You still have the opportunity to stand up, ask questions, be critical, and create your own perspective. Demand a setting that will provide you with intellectual capabilities that allow you to expand your mind instead of directing it. Demand that you be interested in class. Demand that the excuse, “You have to learn this for the test” is not good enough for you. Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.
For those of you that work within the system that I am condemning, I do not mean to insult; I intend to motivate. You have the power to change the incompetencies of this system. I know that you did not become a teacher or administrator to see your students bored. You cannot accept the authority of the governing bodies that tell you what to teach, how to teach it, and that you will be punished if you do not comply. Our potential is at stake.
For those of you that are now leaving this establishment, I say, do not forget what went on in these classrooms. Do not abandon those that come after you. We are the new future and we are not going to let tradition stand. We will break down the walls of corruption to let a garden of knowledge grow throughout America. Once educated properly, we will have the power to do anything, and best of all, we will only use that power for good, for we will be cultivated and wise. We will not accept anything at face value. We will ask questions, and we will demand truth.
So, here I stand. I am not standing here as valedictorian by myself. I was molded by my environment, by all of my peers who are sitting here watching me. I couldn’t have accomplished this without all of you. It was all of you who truly made me the person I am today. It was all of you who were my competition, yet my backbone. In that way, we are all valedictorians.
I am now supposed to say farewell to this institution, those who maintain it, and those who stand with me and behind me, but I hope this farewell is more of a “see you later” when we are all working together to rear a pedagogic movement. But first, let’s go get those pieces of paper that tell us that we’re smart enough to do so!
~~~~~~~~~~
Pidato Erica tersebut juga dimuat di blog America dan mendapat tanggapan luas oleh publik di sana. Silakan baca di sini: http://americaviaerica.blogspot.com/2010/07/coxsackie-athens-valedictorian-speech.html
Kalau ingin melihat video pidato Erica di Youtube, klik ini:
atau masuk pada pranala berikut: http://www.youtube.com/watch?v=9M4tdMsg3ts&feature=player_embedded#!
Entri ini ditulis dalam Pendidikan. Buat penanda ke permalink.
dia menunjukkan sistim manusia nya didalam kungkungan sistim yang mengukungnya.
and it happen to all of us.
Bukan pada sistemnya, tapi pola pikir pribadinya yang berpendapat bahwa nilai adalah segalanya. Dan sayang nya masyarakat indonesia masi memiliki pemahaman yang seperti ini juga. Bahwa nilai dan pendidikan proritas dan sebagai adu gensi antar sesamanya, setidaknya antar tetangganya..
dimana mereka pasti suka atau hobi dalam mengerjakan sesuatu…
tapi karena “larangan” orang tua, jadinya yah anak2 mau tak mau jd “penurut” dalam hal ini…. (karena bagaiamanpun juga, tak mematuhi perintah orangtua bisa berakibat karma)
shg softskillna diabaikan duluan… mgk nanti pas d akhir2, anak2 tsb akan bisa menemukan softskillna….
ilustrasi gambar tersebut sangat tepat menggambarkan situasi pendidikan kita.
ilmu yg penting…
Tapi, klo kita nilainya kurang, kadang kita jadi terhambat untuk merncapai apa yg kita butuhkan..
Misalnya, untuk mendapat beasiswa, syaratnya, IPK tertentu…
Padahal, kalau nilai bukan segalanya, seharuanya tidak seperti itu, tidak anak yang IPK nya tinggi saja yg boleh dapat beasiswa.
Akibatnya, anak yg belajar (benar2 belajar ilmunya, tapi mungkin karena suatu sebab ipk nya tidak setinggi temannya yang nilai / IPK nya lebih tinggi,,padahal si anak yg ipk nya tinggi ini belum tentu ilmunya lebih dari pada si anak yang ipk nya gk terlalu tinggi)
Akibatnya sistem nilai yang tidak berpihak, hanya memberikan beasiswa pada anak yg IPK nya tinggi tadi, dan si anak yg IPK nya kurang, terpaksa harus berhenti belajar karena tak memperoleh beasiswa tadi.
Begitulah, kalau kadang kita ingin bilang, nilai itu tidak penting, tapi ternyata kenyataannya nilai itu masih sangat penting.
Live Streaming Detective Conan
http://daichitv.blogspot.com/2013/04/watch-live-detective-conan-movies.html
justru terkadang seseorang yang dapat berpidato seperti itu adalah orang yang hebat, mengapa? karena dia sendiri yang merasakan dan menyadari bahwa selama ini yang dilakukannya cuma mengejar nilai,
namun jangan salah sangka, tentunya dia tidak sembarangan dong? tentunya dia sudah banting setir untuk mendapatkan solusinya dong?
dari pidato tersebut, juga mengandung persuasif yang tersirat kepada kita yang sebagai mahasiswa, jangan menjadi kupu-kupu (kuliah-pulang)
a lesson of life…
reblogged
Tolak ukur kecerdasan seseorang selalu di lihat pada kemampuan akademisnya. inilah sistem pendidikan di negara kita, mungkin juga di negara2 lainn..
Wisuda #2
dan saya adalah sebagian kecil dari mereka, mereka yang belajar hanya untuk mendapatkan nilai, untuk berbangga-bangga mendapatkan IPK tertinggi.
Saya lupa bahwa esensi belajar adalah mendapatkan ilmu yang kemudian muara dari semuanya adalah mengejawantahkannya dalam aplikasi nyata.
Tidak heran, saya yang sudah lulus s1 ini masih gamang. Bahkan dengan pelajaran pendidikan profesi ini, seharusnya ini adalah bentuk pengulangan (recall) saja. sedikit pengembangan dari pelajaran yang sudah didapatkan.
Tapi bagiku?
semuanya menjadi tampak baru. belum pernah saya pelajari sebelumnya (efek tutorial -> woy lu ngapain aja s1?)
Semangat!!!!!!
Semua berpulang kepada visi dan misi pribadi dalam hidup ini.
Ijin share di kolom komentar ya, mas Rinaldi, terimakasih.
salam
Sekolah, pekerjaan, hobby, dan beberapa hal lain dalam kehidupan kita, hubungannya tidak sesederhana anggapan beberapa orang yang sudah menanggapi tulisan di blog ini. Banyak orang yang salah menentukan bidang pendidikan dan pekerjaannya karena alasan tertentu, dan mungkin perlu bantuan untuk menemukan hal-hal yang menjadi tujuan hidupnya. Just my 2 cents.
setuju banget bapak, setelah lulus kuliah kita seakan baru dilahirkan, ada sebagian yang bisa bekerja sesuai bidang ilmu yang telah dipelajarinya dan berhasil, tapi ada pula yang bekerja di bidang lain yang sama sekali beda dengan teori perkuliahan dan dia lebih berhasil, yang penting adalah tetap semangat dan terus belajar
salam
Yang notabene sebenarnya saya tau dalam kehidupan kelaknya yang meraka butuhkan bukan hanya nilai terbaik tapi juga karakter building yang kuat, soft skill serta kehidupan sosial, tapi apakah mungkin dengan sistem yang ada di negara kita bisa menghargai selain Nilai Bagus, dimana anak yang pintar adalah anak yang di sekolahnya selalu juara kelas.
dengan sistem yang ada sekarang ini pendidikan kita hanya akan menghasilkan “orang pintar tapi bukan orang baik” tapi memang kita tidak boleh terkungkung dan hanya menyalahkan sistem yang ada tanpa berbuat apa – apa. Semangaaaat ……..
Jujur sekali dan memang agak miris sepertinya…
Mahasiswa ya? heemm
Menurut Saya sih tidak ada masalah fokus di akademik, fokus di kegiatan kemahasiswaan, ataupun memenej antar keduanya. Selagi mahasiswa tersebut memiliki tujuan yang jelas terhadap hidup dan kehidupannya.
That’s exactly what I think when I graduate High School. What will I be? Beacuse I sure you I don’t know the hell what I wanted. I still am now T.T
Sangat disarankan untuk setiap pelajar!
namun saya rasa tidak sedikit mahasiswa di indonesia yang mengalami masalah seperti yg diungkapkan pada cerita di atas,nah jumlah yg tidak sedikit ini membuat saya berpikir apakah memang sistemnya yg membuat kebanyakan mahasiswa seperti itu atau memang kembali pada pribadi masing2,nah tentunya ini memang menjadi “PR” besar bagi kita semua untuk mengetahui sebab2 nya
Kutipan sebuah ayat: “Tidak ada hal yang bisa mengubah nasib seseorang melainkan doa (ikhtiar=usaha).”
Saya cukup menyesal karena tidak mengetahui lebih awal tentang apa saya inginkan dalam hidup. Saat sekolah saya hanya berharap cepat lulus dan menyenangkan orang tua dengan nilai yang saya berikan. Toh pada akhirnya saat ini saya masih harus mencari dimana saya akan menjalani hidup nantinya.
Saya gak mau ini terjadi pada adik adik saya. Semoga banyak orang yang bisa mendapatkan nilai positif dari tulisan ini.
‘ budak terpintar dan robot terlatih’ >>> yup that was me
Budak terpintar dan Robot terlatih >>> That was me
Graduation Speech by Erica Goldson
Apa yg dipidatokan di atas merupakan ungkapan hati yang patut diberi jempol karena jujur… saran saya, jangan asal kuliah u/ mendapat nilai bagus, nilai itu penting tetapi hubungan2 kekerabatan yang berjalan bersamaan dengan kuliah itu juga penting. Jadi, kuliahlah dan perbanyaklah jaringan selama kuliah.
Jujur saja, saya termasuk mahasiswa dengan IPK tinggi saat masih kuliah dulu. Meskipun saya bukan yang wisudawan terbaik. Tapi benar, saya menyadari hal tersebut. Bahwa nilai saya bagus karena saya rajin mengerjakan tugas-tugas perkuliahan, mengumpulkan tepat waktu. Saya memberikan kesimpulan pada tulisan ini, bahwa wisudawan terbaik, belum tentu menjadi yang terbaik ketika memasuki dunia sebenarnya, masyarakat.
sepertinya itu pidato orang bule
bisa baca ga?
Penulisnya org ITB
Tapi kutipan pidatonya dari luar..
Saya sendiri juga tidak tahu saya termasuk yang mana
Tapi saya ingat sekali, kemarin ini ingin banget ambil beberapa SKS yang saya kira akan sangat menarik dan cukup penting. Sayangnya waktunya nggak cukup, atau SKS yang diambil udah lebih.
Sedih juga sih, kadang pengen ambil kuliah-kuliah itu lagi setelah lulus. Boleh nggak ya nyempil di kelas?
Dear little brother and sister, you have to learn something because you want it, even though the condition tells you to do it as an obligation as a student, try to accept it, and want it then live in it, love it.. it’ll someday help your passion grow higher and richer. let’s just be wise to life
And these words impress me now
For those of you out there that must continue to sit in desks and yield to the authoritarian ideologies of instructors, do not be disheartened. You still have the opportunity to stand up, ask questions, be critical, and create your own perspective. Demand a setting that will provide you with intellectual capabilities that allow you to expand your mind instead of directing it. Demand that you be interested in class. Demand that the excuse, “You have to learn this for the test” is not good enough for you. Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.
Dunia bisnis berfokus pada transaksi (jual beli, pertukaran sumberdaya) dan akademisi adalah untuk melengkapinya dengan nilai (kejujuran,kebersamaan,keadilan,taat pada peraturan,dsb)
jadi jangan pernah menyesal kita pernah kuliah meski bidang pekerjaan tidak sesuai, tapi menyesalah apabila tidak mau belajar, tidak mau menambah ilmu (lagi).
mari merenungi tentang ini semua sampai pada suatu titik. Sampai pada satu tahap kita tak mampu lagi merenungi ini semua. lalu… kita kembalikan padaNya…
Lulusan sebuah perguruan tinggi dituntut untuk memiliki academic knowledge, skill of thinking, management skill dan communication skill.
banyak program pemerintah untuk mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang tinggi, manfaatkan masa kuliah untuk berprestasi dari segi akademis dan non akademis.
itu sangat saya alami saat sekarang ini walaupun belum lulus pada universitas ini .
dimna kebebasan mahasiswa itu dikekang oleh pihak kampus dalam melakukan kegiatan
ngomong nya memberi kebebasan pada mahasiswa
tapi tak ada yang terealisasi
jadi apa yang mahasiswa lakukan hanya kemaun sendiri
yang mana kampus hanya mementingkan kuantitas daripada kualitas lulusan nya .
Yang membuat seseorang mengerti esensi perkuliahan itu adalah orang itu sendiri. Dosen memberikan ilmu, lalu mahasiswa/i meresapi dan memaknainya. Jika Anda tipikal orang yang ingin mengejar esensi, Anda akan belajar dasar2nya, mencari bahan lebih jauh, dan memikirkan aplikasi dan pengembangannya. Jika Anda tipikal “karbitan”, maka tujuan Anda adalah nilai, dan hasilnya adalah nol besar, Anda tidak mengerti apa esensi yang diberikan.
boleh yak,,,hehehehe,,,
===================
pada ngomongin sistem pendidikan yak (o.O)
well…kalo buat gw si jujur bukan masalah sistem or apa yang pertama kali gw liat or gw tangkap dari pidato yak Erica ( ngomongin masalah system kalo buat gw si useless ), lebih kebagaimana seharusnya seorang Mahasiswa/i bertindak sebagaimana seharusnya mereka walaupun mereka punya kekuatan untuk mengubah suatu sistem.
“Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.”
annndddddd,,,,damn,,,,,almost 3 years i dont realize it…
thx mas bro/sob/ bapak yang punya blog,
sedikit membuka sudut pandang gw sebagai mahasiswa dableg yang sekarang diujung ambang akhir semester -______-
Jadilah mahasiswa sejatinya mahasiswa, bukan menjadi robot! Berkreasilah dengan apa yang kau senangi! Berkontribusi dengan hati yang tulus! & Tetaplah menjadi yang terbaik! Hidup mahasiswa!
mreka datang sekolah pagi2, dan begitu pulang mreka lngsng pulang. mreka tdk mengikuti kegiatan yg ada lantaran dilarang karena menurut org tua mreka, ekstrakulikuler tdk brpengaruh pd nilai dan tdk diujikan.
pdhl menurut sy, keaktifan murid dlm berkegiatan dan berorganisasi sngtlah pntg.
dgn bermain brsama teman, anak2 pasti akan mendapat masalah yg harus dislesaikanya sendiri, scr tdk lngsng hal ini dpt mendewasakan anak trsbt.
dlm berorganisasi, anak akan belajar mengatur sebuah tim yg trdiri dr org dgn bnyk pikiran yg brbda, shga dia harus menyatukan pndpt dgn kptsan yg adil dan dewasa
dgn hal trsbt otomatis anak sudah mempunyai bekal dlm khidupan bermasyarakat. namun saya heran, kenapa orang tua jaman skrg tdk brpikir seperti itu?
sy bersyukur mempunyai orang tua yg lbh mementingkan budi pekerti dan unggah ungguh (etika) dibanding nilai dlm pndidikan formal yg tdk brpengaruh dlm khidupan yg sbnrnya.
#thinkagain
Dia bisa memulai hobby dan lainnya setelah lulus.. hehehe
Mungkin yg lebih menyedihkan adalah yang tidak tersadarkan.. dan terus menjadi robot..
_Cipta_Rasa_Karsa_Karya_
Jangan salahkan sistem di universitas, salahkan diri Anda sendiri. Anda adalah manusia dewasa, belajar atau berorganisasi adalah pilihan Anda. Jika Anda tidak mengerti esensi kuliah, itu adalah salah Anda karena tidak mau mencari. Jika Anda merasa ilmu kuliah tidak ada gunanya, itu adalah salah Anda karena tidak mau belajar aplikasi ilmu Anda.
Mengapa Anda tidak keluar dari kampus saja kalau merasa tidak ada gunanya? Bukannya Anda (yang merasa sistem kuliah Indonesia salah) malah ikut dalam sistem yang Anda cela sendiri? Mari kita berhenti menyalahkan sistem. Mari kita mulai belajar bahwa segala kesalahan kita berasal dari kita sendiri, bukan dari orang lain atau mencari kambing hitam lain. Dengan demikian, saya yakin bahwa bangsa kita akan lebih baik, tahu bersyukur pada Tuhan, dan selalu berusaha lebih maju.
Tulisan di blog ini sangat baik, mengajak mahasiswa “karbitan” untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Saya minta izin share ya, terima kasih.
” ga perlu pendidikan sampai tinggi banget dan dapet ip gede lah, toh banyak yg di DO atau bahkan ga kuliah sama sekali tapi dia berhasil, jauuuh lebih berhasil”
Sebenernya saya gereget kalo ada orang bilang kaya gitu, harusnya pemikiriannya adalah:
” orang yg di DO aja bisa berhasil apalagi kita yang diberi kesempatan dan bertahan sampai pendidikan setinggi ini, ”
iya ga sih?
oia saya hanya mahasiswa biasa yang lumayan aktif non-akademis, akademis tidak terlalu mengecewakan , sedang menjalani S1 di ITB sekarang.
Salut salut banget dengan kaka-kaka yg ngomen diatas memang kampus bukan ladang IP semata, tapi banyak hal yg bisa kita kerjakan “kalau” kita memaksimalkan waktu kita dikampus,
Supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains,seni,dan teknologi;
Supaya kampus ini menjadi tempat bertanya ,dan harus ada jawabnya;
Supaya kehidupan di kampus ini membentuk watak dan kepribadian;
Supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan,tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.
-Plaza Widya Nusantara-
kalau orang gak tau mau ngapain, belum jelas maunya apa, pemalas trus ngomong “ga perlu pendidikan sampai tinggi banget dan dapet ip gede lah, toh banyak yg di DO atau bahkan ga kuliah sama sekali tapi dia berhasil, jauuuh lebih berhasil”
saya yakin orang itu malah tambah stress kalau kata2nya terwujud..
untuk orang yang tau mau ngapain kata kata “ga perlu pendidikan sampai tinggi banget dan dapet ip gede lah, toh banyak yg di DO atau bahkan ga kuliah sama sekali tapi dia berhasil, jauuuh lebih berhasil” cocok untuk dirinya sendiri tapi tidak bijak untuk diomongkan ke orang lain yang tidak seprinsip dengannya.
intinya menurut saya, setiap orang ada jalannya masing2 dan ketika di depan ada pertigaan atau perempatan jalan dipikirannya tinggal tentukan arah sesuai hasrat, minat dan keadaan. Kasus mb Elsa mungkin memang jalannya harus begitu karena termotivasi untuk dijalan itu. dan kata2 ” orang yg di DO aja bisa berhasil apalagi kita yang diberi kesempatan dan bertahan sampai pendidikan setinggi ini, ” cocok banget untuk orang seperti ini.
kalau mau ubah sistem yang notabene sudah global, harus berani dan jalan sendiri dulu, karena dunia butuh bukti, sistem mana yang berkerja paling baik. kalau belum bisa paling gak ubah mindset, ubah sudut pandang walaupun masih dalam suatu sistem itu, dan pada waktunya ketika keberanian dan visi sudah jelas, monggo kalau mau mendobrak keluar..
Pentingnya Tawazun [Keseimbangan] Akal dan Akhlak yang selaras..
sistem pendidikan vs sistem pemikiran
Terima kasih, postingannya. Inspiratif.
Recommended!
Persetan ~lah sama sistem, yang penting ambil yang baik-baik aja dan perbanyak wawasan untuk maju ke depan.
BTW ni cum laude amerika kasian amat, hobinya belajar? sucks lah, mending molor… melawan sistem? saya bukan anarchist atau revolusioner…. mengejar nilai atau sesuatu tidak terlalu memaksa bagi saya yang malas ini. cukup seadanya dan mepet sudah cukup, secukup hidup didesa dengan segala kekurangngannya, yang penting bisa makan dan bernafas lebih lama di indonesia.
Pendidikan kadang menghasilkan orang tak terdidik seperti saya, Hidup bersenang senang serupa film into the wild …. http://www.imdb.com/title/tt0758758/
sehingga kita bisa memiliki passion dalam melakukan setiap usaha.
banyak orang hebat bukanlah orang yang pandai di sekolahnya, tapi orang yang benar-benar tau apa yang dia inginkan.
pengalaman saya sekolah hanya untuk menyenangkan orang tua, meskipun saya tidak tertarik dengan jurusan tersebut membuat saya hanya berkutat demi mencapai nilai terbaik, tapi setelah lulus saya rasa saya tidak mendapatkan apapun…..
Ketika lulus SMA, maka kita sudah harus menentukan, kita ini mau menjadi apa? Seperti kita ketahui, ada 2 jenis manusia, pertama ingin menjadi akademisi dan kedua menjadi praktisi.
Bagi yg ingin menjadi akademisi (mengembangkan ilmu) maka dia memang harus fokus dalam pendidikannya, mengejar IPK tertinggi. Tidak masalah bagi dirinya tidak punya hobby atau semacamnya.
Bagi yang ingin menjadi praktisi, maka sebaiknya dia mengambil ilmu terapan (kejuruan/program diploma sbg perguruan tinggi ilmu terapan). Kalaupun masuk ke universitas yg mrpkn perguruan tinggi untuk pengembangan ilmu, maka dia tidak akan terlalu mengejar IPK/nilai akademis, tetapi juga diimbangi dgn kegiatan2 ekstrakurikuler atau hobby2 lainnya.
Sayangnya, zaman sekarang hampir mustahil mendapatkan kerja tanpa didampingi nilai yang baik…
Salut dengan ketua pidato kelulusan tersebut
being best is great, but being great is the best
Terima kasih tlah berbagai, mudah2an menjadi renungan untuk kita bersama
thank a lot for this information.. its a wake up call..
menjadi siswa atau mahasiswa, pandai dalam bidang akademik itu harus, pintar itu harus. tapi itu saja tidak cukup. pendidikan non akademik juga perlu. untuk mengembangkan diri setelah kita lulus dan terjun ke masyarakat. jika kita membandingkan pendidikan dinegara kita dengan Amerika atau bahkan negara-negara lain, sekilas kita memang jauh tertinggal. tapi ada satu yang tidak bisa terkalahkan pendidikan dinegara kita. pendidikan bersopan santun, tata krama, hingga negara kita ini dikenal ramah.
memang tidak ada yang bisa menjamin kesuksesan kita dimasa depan. tapi jika kita mau sedikit berfikir, kita tentu tahu apa yang kita sesali hari ini adalah hasil perbuatan kita dimasa lalu. ku pikir itu sudah bisa kita jadikan tolok ukur mengenai masa depan kita. masa depan dan kesuksesan ditentukan atas apa yang kita kerjakan hari ini. semua orang bisa sukses, baik itu yang pintar atau pun yang kurang pintar. tengok saja, berapa banyak sarjana yang bekerja diperusahaan milik pribadi yang pemiliknya ternyata hanya lulusan sekolah dasar saja.
yang pintar bisa sukses, yang aktif di kegiatan kemahasiswaan juga bisa sukses, yang terpenting adalah kemauan untuk mencoba dan hidup secara berani.
kita hanya ditugaskan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi alam seluas-luasnya.
terima kasih atas izin sharenya
disini saya tidak bermaksud menggurui, karena saya sadar, saya bukan seorang sarjana seperti saudara-saudara semua. mohon maaf bila ada kekurangan dan kesalahan.
Academic and non-academic things, both are important as long as we could make it balance. I mean, good in academic and non-academic is a must.
The one thing we should remember, “Learning isn’t about getting the highest score, but learning means knowing the new things, it makes our ability’s improved.”
However, it was a Great Speech! :O
Mereka, yang luar biasa menyesal karena “kurang” sempurna menjalani masa lalu, tidak akan pernah lupa peringatan besar yang diajarkan oleh hidup yang berakhir tidak ideal. Bagi saya, mereka justru adalah manusia yang terdidik; terdidik oleh sekolah yang bernama kehidupan.
Tidak ada sekolah yang bisa mengajarkan cara hidup terbaik yang pasti menyukseskan orang. Sekolah hanya memberikan bekal minimal agar orang tidak hidup tidak layak karena kebodohan. Namun selebihnya, jalan untuk mampu bertahan hidup itu kita rumuskan sendiri, apa sukses itu kita definisikan sendiri sesuai dengan keadaan diri kita, bukan menurut pemerintah atau sekolah dengan segala standard kompetensinya. Kita memang hidup salah satunya demi tujuan yang lebih besar menyangkut masyarakat dan masa depan negara, tetapi kita tetap punya kontrol atas diri untuk hidup secara adil, bermakna dan tidak mengorbankan diri sendiri.
Jangan jadi seperti si wisudawan terbaik yang menjalani masa lalunya dengan orientasi hidup yang salah. Tapi, juga jadilah seperti si wisudawan terbaik yang berhasil mengevaluasi dan sadar betapa salahnya ia. Dia sudah tercerahkan sekarang dan dia benar tentang satu hal: “We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us. … We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still.”
Saya tidak mau jadi budak atas pemikiran mengerikan semacam itu lagi.
Terima kasih artikel ini sangat menarik
Mustinya kita harus tau bagaimana mengisi hidup kita sebaik-baiknya dengan ilmu yang kita kuasai.
Bisa mengeksplor intelektual dan emosionalnya secara seimbang, sehingga memperoleh bekal yang lengkap untuk melanjutkan kehidupannya di lingkungan yang lebih kompleks dan mampu mengadaptasi lingkungan masyarakat yang sangat rumit….. anyway, pidato Erica sungguh menginspirasi. Thanks.
Impressive banget
Itu juga yang dirasakan Bill gates, steve jobs dan mark zuckerberg sehingga meninggalkan kampus pada waktu-nya…karena “takut”… dan menjadi pengusaha brillian yang mempekerjakan orang-orang pintar… atau mungkin juga mempekerjakan lulusan-lulusan terbaik….
Mungkin Mereka tidak lulus kuliah, namun mereka lulus dalam dunia pekerjaan…
I’m speechless about this ..
kujays.blogspot.com
*menjura*
Well, apapun bentuk pendidikannya seharusnya bertujuan untuk mendidik bukan menjerumuskan entah dengan cara apa, guru yang benar-benar mengajar adalah pengalaman, dan kesiapan diri untuk menerimanya.
“Sistem pendidikan kita bertitik berat kepada menghafal teks. Ia menghempang lalu lintas gagasan para siswa dan ini mematikan kreativitasnya. Menghafal merupakan metode belajar yang usang dan harus diganti dengan pendekatan yang menumbuhsuburkan kreativitas anak didik.”
Sistem pendidikan Indonesia. lanjut Utomo, bertumpu pada metode pengajaran satu arah dan tak ada interaksi. Ini memupuk sikap murid-murid menjadi patuh, mengulang-ulang apa yang diajarkan gurunya dan tidak diijinkan untuk berpikir di luar kotak.
“Bagaimana mungkin pelajar mampu menghasilkan ide-ide yang asli, ketika duduk di bangku perguruan tinggi, sementara yang ia kerjakan di kelas adalah untuk menghafal semata ?”
Kartun ilustrasi : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=496053080417507&set=a.481095868579895.104226.109903625699123&type=1&theater
Tautan lanjut : http://www.thejakartaglobe.com/home/indonesian-education-system-fails-students/582229
So what will we do for the next step? lets light the candle than curse the darkness (mengutip kata-kata Pak Anies). Apa yg bisa kita lakukan? Mari kita lakukan, mulai dari lingkungan terkecil kita
Salam Senyum…
Selamet Hariadi
mohon izin mmbagikan ini, ya ….
Terima kasih, Mamak Dosen ….
Nilai itu penting, tapi bukan yang utama
Ijin reblogged to rominyam.com
artikel yang memberikan artii..
-_*
dia mengatakan itu karena memang tidak ada tujuan dalm hidupnya
tidak semua mahasiswa yang mendapat ipk cumlaude pergaulannya sedikit
semua itu tergantung orangnya atau yang bersangkutan
kalo semua mahasiswa jadi pemikir siapa yang akan jadi pekerja
dalam dunia itu hal yang lumrah
Beda orang beda pendapat
Hanya satu saran
jangan pernah tidak punya tujuan dalam menimba ilmu
walaupun tujuanmu hanya “kecil” di bandingkan yang lain
dalm hidup itu semua ada tujuan
ada kelemahan ada kelebihan
So Bangkit dan teriakkan
I have a choice in my life
for some people, art, music, sport, adventure, business, managing are their passion
Knowing our passion and do it is the happiness key in life.
Berharga atau tidak berharganya sebuah pelajaran, tugas kita sendirilah untuk menyaringnya.
memang sih, kita gk bisa salahin sistem yg ada..tapi bagaiman kita dapat memanfaatkan semua sistem yang ada di negara ini sehingga kita bisa jadi pribadi yang berguna.
Ini dia! Alasan sesungguhnya dari pelajar yang selama ini dikenal malas dan tukang main, beberapa dari mereka (pelajar tukang ‘main’ dan jarang ‘belajar’) sudah menyadari SISTEM yang hanya mencetak ‘budak-budak’, salah orientasi, dan sistem yang hampir tidak mengajarkan apa-apa, mereka lebih memilih mengembangkan soft skills mereka sebagai bekal hidup, memperluas jaringan, membuka pikiran pada masalah sebenarnya yang ada di lingkungan, dan bukan sibuk pada buku ‘kaku’ hanya untuk meraih nilai tinggi atau sekadar untuk lulus. Mereka orang-orang kritis yang tidak banyak ditemui, kontras, tidak bisa ‘terbawa’ arus, agen perubahan, sesungguhnya mereka itu REVOLUSIONER.
Renungan untuk Mahasiswa dan Pelajar
Setelah tamat sekolah harus ke alam pekerjaan, kemudian ke alam perkahwinan, kemudian ke alam anak-anak, lepas itu mati. Apa ertinya semua itu.
Saya tertanya ramai kawan-kawan yang kuat pergi ngaji katanya. Rupanya esensi dari ngaji (untuk yang sudah berusia) itu banyak sekali menjawab persoalan hidup kita. Kita lupa yang kita akan kembali pada Yang Maha Pemurah apabila jasad ini sudah tidak lagi berupaya.
Jadi Allah adalah tujuan hidup dan Islam adalah pedomannya
Renungan …
Me face the mirror. A good article to describe who we are today after receiving a piece of paper in the graduation ceremony.
dan yang sukses di akademis jadinyapun terjebak sebagai pekerja2 kantoran yang sepertinya terlihat mapan padahal mereka adalah budak2 dari pemilik perusahaan tersebut.
Add yhttp://rinaldimunir.wordpress.com/2013/04/07/pidato-wisudawan-terbaik-memukau-tetapi-sekaligus-menakutkan/#reblogour thoughts here… (optional)
Mari kita bangun negeri ini dengan semangat
Buat Mbak Erika jempol banget ama kejujurannya. Pernah juga ngerasain hal yang sama dalam beberapa semester (untung ga lama), dan akhirnya sadar kalo “SUKSES ITU RELATIF”. Misalnya : Bagi si A bisa makan Indomi merupakan kesuksesan dalam hidupnya, dan si B bisa naik sepeda adalah sesuatu pencapaian besar dalam hidupnya. Jadi sukses ga bisa digeneralisasi. Akhirnya mulai menggali lagi diri sendiri yang sudah terkubur bertahun-tahun lamanya karena ‘sibuknya’ pendidikan alias mencari lagi apa yang ingin dilakukan jika sudah besar (pemikiran saat kanak-kanak) atau mengasah lagi skill hobby and i found it again, colour of my life.
Mungkin inilah, yang selama ini kami para siswa gelisahkan. “Untuk apa belajar?” Karena kadang.. kami belajar hanya untuk nilai, bukan untuk mengambil sari ilmu dari setiap mata pelajaran.
Mungkin evaluasi diri lagi.
Apakah sekarang saya sedang benar-benar belajar. ataukah hanya sekedar “nurut” dan “manut” pada sistem ini? Melaksanakan perintah dengan sempurna layaknya robot?
Fokus,,Jangan ragu jadi pragmatis!
ajib pak dosen
ketakutan seorang wisudawati setelah lulus
Layak menjadi lulusan terbaik.
Jd ingat waktu jaman sma, pernah membuat pidato di depan kelas.
The great aim of education is not knowledge but action…
Ilmu Pengetahuan tanpa mampu mengimplementasikan dalam kehidupan adalah absurd.
Cm sayang, kurang responsif dr temen-temen sekelas atau saya yang kurang jelas pidatonya Hehehee…
Bagus untuk dibaca dan direfleksikan. Silakan!
terdoktrin kertas