~ APA TUJUAN DARI HIDUPMU ?? ~
~ APA TUJUAN DARI HIDUPMU ?? ~
Assalamua'laikum wa rahmatullaahi wa barakatuh..
BismiLlaahirRahmaanirRahiim
Hidup di dunia adalah kehidupan yang mesti berakhir. Tak bisa tidak,
manusia pastilah bertemu dengan ajalnya. Hakikat usia kita di dunia ini
hanyalah seumur jagung yang kemudian mati menguning. Allah Ta'ala
mengingatkan kita akan hal ini dalam sebuah ayat-Nya:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan,
sia-sia, perhiasan, dan bermegah-megah antara kalian, serta saling
memperbanyak harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya
mengagumkan para petani kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu
lihat warnanya kuning lalu menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada
azab yang pedih dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan
kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Q.S.
Al-Hadid:20].
Karena sempitnya waktu kita di atas muka bumi
ini, sepatutnya kita mengetahui apa sebenarnya target kita di dunia agar
kita fokus dalam mencapainya.
* Tujuan Utama: Bahagia
Tentunya setiap dari kita pasti ingin hidupnya bahagia, dan inilah
tujuan kita yang sesungguhnya. Sejatinya, apapun yang kita lakukan di
dunia ini, baik dengan cara yang dihalalkan ataupun dilarang oleh
syariat semuanya bermuara pada tujuan yang satu: mencapai kebahagiaan.
Hanya saja, cara untuk mencapai kebahagiaan ini berbeda pada
masing-masing individu. Sebagian besar lebih menitikberatkan pada
pemenuhan sarana materi. Sebagian lain berusaha mencari kebahagiaan semu
dengan obat-obatan terlarang. Dan hanya sedikit yang mendapatkan
hidayah untuk mencapai kebahagiaan yang sempurna dan hakiki: kebahagiaan
di atas koridor syariat, kebahagiaan dunia akhirat.
**BAHAGIA BUKAN HANYA KARENA MATERI **
hidup bahagia tidak harus dengan tercukupinya materi. Hidup bahagia
tidak melulu berarti kebebasan finansial. Memang, materi merupakan salah
satu unsur dari kebahagiaan, namun bukan seluruhnya. Materi hanyalah
sebuah perantara untuk mencapai kebahagiaan. Dari sini, kita pun
menyadari betapa banyak orang yang belum berbahagia meski hartanya
melimpah, rumahnya megah, dan mobilnya mewah.
Justru, materi
yang sebenarnya merupakan perantara kebahagiaan bisa menjadi sebab
terhalangnya kebahagiaan jika kita tidak pandai-pandai mengaturnya.
Betapa banyak orang yang justru menjadi pemburu harta dengan
mengabaikan kebahagiaannya. Betapa banyak orang yang justru tidak bisa
tidur nyenyak lantaran banyaknya harta yang ada di tangannya. Lagipula,
seorang yang telah memiliki harta tidak akan puas berhenti pada satu
tingkatan kekayaan. Ia akan mencari dan terus mencari harta kekayaan
meski telah melimpah ruah. Tidakkah kita menyimak sebuah ucapan dari
Rasul yang mulia `:
“Andai anak Adam memiliki dua lembah harta,
niscaya dia akan mencari yang ketiganya. Tidak ada yang bisa memenuhi
perutnya kecuali tanah (yakni dikubur di dalam tanah).” [H.R. Al-Bukhari
dan Muslim dari Ibnu Abbas ].
Dan demikianlah, setiap
seseorang memiliki harta, pasti dia menginginkan yang lebih darinya.
Hanya kematianlah yang bisa menghentikan ambisi untuk menambah hartanya.
Maka dari itu, Rasulullah ` mendefinisikan kekayaan sebenarnya dalam
sebuah hadits (artinya), “Bukanlah kekayaan sejati itu disebabkan karena
banyak hartanya, tapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.”
[H.R. Al-Bukhari dan Muslim].
Kekayaan jiwa yang dimaksud oleh
Rasulullah ` adalah rasa cukup terhadap pemberian Allah , tidak
meminta-minta, dan meyakini bahwa kadar yang Allah tetapkan adalah
jumlah yang terbaik baginya. Inilah makna qana’ah.
Nah, dengan
penjelasan ini, teranglah bagi kita kenapa Rasulullah ` bersabda dalam
sebuah hadits yang artinya, “Sungguh telah beruntung orang yang masuk
Islam dan diberi rezeki yang cukup, lalu Allah memberinya rasa qana’ah.”
[H.R. Muslim dari shahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash ].
**REZEKI SUDAH DITENTUKAN**
seberapa pun kita sibuk dan bersungguh-sungguh dalam mencari rezeki,
sesungguhnya Allah telah menentukan kadarnya. Allah telah menuliskannya
di dalam Lauhul Mahfuzh semenjak limapuluh ribu tahun sebelum
diciptakannya bumi dan langit. Rasulullah ` pernah bersabda yang
artinya, “Allah telah menuliskan takdir-takdir makhluk lima puluh ribu
tahun sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi.” [H.R. Muslim dari
shahabat Ibnu Umar ].
Tugas kita hanyalah menjemput rezeki
tersebut dengan melakukan usaha yang halal. Jika Allah menakdirkan
rezeki kita sedikit, hal itu tidak akan berubah meskipun kita bekerja
keras memeras keringat membanting tulang.
Sebaliknya, jika
Allah menakdirkan rezeki kita adalah rezeki yang berlimpah, tidak akan
berubah menjadi sedikit meskipun kita berusaha dengan seadanya. Hanya
saja, berusaha dengan cara yang halal adalah keharusan. Menempuh sebab
datangnya rezeki kemudian menyandarkan hasilnya kepada Allah adalah
tawakal yang wajib dilaksanakan.
Maka dari itu, Rasulullah `
mewasiatkan kepada kita untuk mencari rezeki dengan cara yang baik dalam
sabda beliau yang artinya, “Sesungguhnya Ruhul Qudus (Malaikat Jibril)
mengilhamkan kepada qalbuku bahwasanya tidak ada satu jiwa pun yang
meninggal dunia hingga dia telah lengkap menerima seluruh rezekinya,
maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik.
Janganlah karena merasa rezekinya lambat lalu membuatnya mencari dengan
bermaksiat kepada Allah. Sebab, yang ada di sisi Allah tidak dapat
dicapai kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.” [H.R. Abu Nu’aim dari
shahabat Abu Umamah z, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih
Jami’].
**Kebahagiaan Hakiki Nan Abadi**
Apa yang
kita bahas di atas adalah kebahagiaan di dunia yang fana dan sebentar.
Sejatinya, ada kebahagiaan abadi yang wajib untuk kita cari. Ya,
kebahagiaan itu adalah kebahagiaan ukhrawi, kebahagiaan kita di akhirat
kelak.
Kebahagiaan itu tidak akan terputus oleh maut ataupun
sakit. Kebahagiaan yang belum pernah terbersit di dalam benak, belum
pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlihat oleh mata.
Itulah tujuan sejati kita yang seharusnya menjadi prioritas kita.
Allahu a’lam bish shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar