Kamis, 28 Februari 2013

“Ashbahna wa Ashbahal Mulku Lillahi wal hamdu lillahi Laa Syarika Lahu Laa Ilaha Illa Huwa wa Ilaihin nusyur.”

Artinya: “Kami berpagi hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada Tuhan melainkan Dia, dan pada-Nya tempat kembali”

Rabu, 27 Februari 2013

.. KISAH NYATA MENYENTUH, .. PENGORBANAN SEORANG ISTRI ..

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Maaf sebelumnya Sahabat semua kisah kali ini panjaang sekali .. tapi bagus dan sangat menyentuh .. insya Allah ...

Cerita ini adalah kisah nyata … dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya .. Bacalah semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua ...

Cinta itu butuh kesabaran …
Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita ???

************
Hari itu,,, aku dengan nya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..
Aku menjadi perempuan yg paling bahagia …..
Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah …..
Ia menjadi pria yang sangat romantisan pada waktu itu ...
Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula ...

Ketika kami pacaran dia sudah sukses dalam karir nya ..
Kami berbulan madu di tanah suci,, itu janjinya ketika kami berpacaran ..

Setelah menikah aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci ….
Aku sangat bahagia dengan nya,,diya sangat memanjakan aku …. Sangat terlihat rasa cinta dan sayangnya pada ku.
Banyak orang yang bilang,kami pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Aku bahagia menikah dengannya.

5 Tahun sudah kami menikah, sangat tak terasa waktu berjalan, walaupun kami hanya berdua saja. Karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Karena dia anak lelaki satu – satunya dalam keluarga nya,,jadi aku harus berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya … Alhamdulillah suamiku mendukung ku …. Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan NYA.

Tapi keluarga nya mulai resah, Dari awal kami menikah ibu & adiknya tidak menyukaiku, aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, tapi aku menutupi dari suami ku….. didepan suami ku,,mereka sangat baik pada ku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina – hina oleh mereka …

Pernah suatu ketika, 1 tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur .. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda ..

Ia dirawat dirumah sakit, pada saat dia belum sadarkan diri, aku selalu menemaninya siang & malam, kubacakan ayat – ayat suci Al – Qur’an, aku sibuk bolak – balik rumah sakit dan tempat aku melakukan aktivitas sosialku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat didalam kamarnya ada ibu, adik – adiknya dan teman – teman suamiku, dan satu lagi aku melilhat seorang wanita yg sangat akrab dengan ibunya. Mereka tertawa menghibur suamiku.
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di depannya.

Kubuka pintu yg tertutup rapat itu, sambil mengatakan “Assalammu’alaikum” mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku, suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup. Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya yg erat.

Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum” , ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih tapi penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya. Ibu nya lalu berbicara sama aku …

“Fis, kenalakan ini Desi teman Fikri”

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi, dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Dan akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan, aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka – luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba – tiba adik ipar ku yg bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamikupun mengijinkannya. Aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata ” lebih baik kau pulang saja ” Ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”

Aku pun tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat, karena psikologisnya masih labil.

Aku berdebat dengannya mengapa aku tidak boleh pamitan pada suamiku, tapi tiba – tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia mengatakan hal yg sama, ia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak pamitan pada nya,
toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah suamiku tetap saja membenarkannya, akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dlm kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

************

Hari itu, aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain. Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarang rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami, sambil melihat ikan – ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.
Aku bertanya ” Ada apa kamu memanggil ku ?”

Ia berkata ” Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”
Aku menjawab ” Iya sayang aku tahu, aku sudah mengemasi barang – barang kamu di travel bag dan kamu sudah pegang tiket bukan ?”

“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku kan pulang dengan mama ku ” Jawab nya tegas

“Mengapa baru bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana ?” tanya ku balik kepada nya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahu rencana kepulanggannya itu, padahal aku bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.

” Mama minta aku yang menemani nya saat pulang nanti ” jawab nya tegas.

” Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan ?” lanjut nya lagi sambil memeluk ku dan mencium keningku.

Hatiku sedih, dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya. Bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya. Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarga nya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu pada ku karena suamiku sangat sayang pada ku, aku memutuskan agar ia saja yg pergi, dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.

Karena ini acara sakral bagi keluarganya. Jadi seluruh keluarga nya harus komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya harus datang atau tidak, tidak hadir justru membuat mereka sangat senang, aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluannya yang akan dibawa ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku lalu aku peluk erat dirinya, hati ini bergumam seakan terjadi sesuatu,,tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah di tinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama - sama kemana pun ia pergi.

Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak punya teman, hanya pembantu saja teman ngobrolku.

Hati ini sedih akan di tinggal pergi oleh nya.

Sampai keesokan hari nya, aku menangis..menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti
akan selalu menelpon ku.

************
Berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi aku tak terlalu kesepian di tinggal pergi ke Sabang.

Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami buruk, saat ia di sana aku pun jatuh sakit … rahimku sakit sekali seperti dililit oleh tali, tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai – sampai aku mengalami pendarahan, aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki - lakiku yang kebetulan menemaniku disana.

Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3…. Aku menangis, apa yang bisa aku banggakan lagi, mertuaku akan semakin menghinaku, suami ku yang malang, yang berharap akan punya keturunan dari rahimku … Aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan aku hanya memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku menunggu ia pulang, kapan ia pulang, aku tak tahu .. Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah – marah jika menelponku, bagaimana aku akan cerita kondisiku jika ia selalu marah - marah terhadapku.

Lebih baik aku tutupi dulu, dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang. Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita pada nya. Setiap hari aku menanti suami ku pulang, hari demi hari aku hitung ….

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto - foto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang masuk.

Ku buka di inbox ponselku, ternayta dari suamiku yang sms, ia menulis “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulang nya satu hari lagi, aku aku kabarin lagi”.

Hanya itu saja yang diinfokannya, aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba,,aku menantinya di rumah. Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan aku akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir – akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubuka kan pintu untuknya ia pun mengucap salam, sebelum masuk aku pegang tangannya ke depan teras, ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan ku cuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami, setelah itu aku pun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksi nya …

Masya Allah ia tidak mencium keningku, ia langsung naik keatas, ia langsung mandi dan tidur,tanpa bertanya kabarku..

Aku hanya berpikiran, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.

Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangun kannya, aku helus mukanya, aku cium kening nya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.

************
Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku liat dia dari balkon kamar kami dia bersiap – siap untuk pergi, aku memanggil nya tapi ia tak mendengar, lalu aku langsung ambil jilbabku, aku lari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku, aku mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi, ada apa dengan suamiku … mengapa ia sangat aneh terhadapku ?

Aku tidak bisa diam begitu saja firasatku ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku, kebetulan Dian yang angkat telpon nya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab “Loe pikir aja sendiri!!!” telpon pun langsung terputus.

Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia pulang dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan ku.

Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami, kami berbicara seperlunya saja, aku selalu di introgasinya, aku dari mana dan mengapa pulang terlambat, ia bertanya dengan nada yg keras, suamiku telah berubah.

Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah di tuduh nya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu yang aku pegang, aku hanya berdo’a agar suamiku sadar akan prilakunya.

*******

2 Tahun berlalu, suamiku tak berubah juga, aku menangis tiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja kenal, kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna, walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiapi segala yang ia perlukan.

Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan ia tak pernah bertanya obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.

Bersyukurlah, aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru gaji jadi aku tak perlu repot – repot meminta uang pada nya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

Sungguh suami yang dulu aku puja, aku banggakan sekarang telah menjadi orang asing, setiap aku tanya ia selalu meyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba – tiba saja malam itu, setelah makan malam selesai, suamiku memanggilku.

“ya ada apa Yah !” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”

“Lusa kita siap – siap ke Sabang ya !” Jawabnya tegas

“Ada apa ?” Mengapa ?” sahutku penuh dengan keheranan

Astaghfirullah ... suami ku yang dulu lembut menjadi kasar, diya mebentakku,,tak ada lagi diskusi anatara kami.

Dia mengatakan ” Kau ikut saja jangan banyak tanya !!! ”

Aku pun lalu mengemasi barang – barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis,sedih karena suamiku yang tak ku kenal lagi.

5 tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buat ku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami sekarang menjadi dingin, sangat dingin dari batu es.

Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak tapi aku tak bisa, suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang – barang, dia bilang perbuatan itu menunjukkan ketidakhormatan kedapanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini sendiri.

************

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur, karena terus berpikir. Keluarga besar nya telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik – adiknya, aku tidak tahu ada acara apa ini .. Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dlm lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua itu telah ada sebelum suamiku lahir.

Tiba – tiba Tante Lia, tante yang sangat baik pada ku memanggil ku untuk segera berkumpul diruang tangah, aku pun ke ruang keluarga yang berada di tengah rumah besar itu, rumah zaman peninggalan belanda diaman langit - langit nya lebih dari 4 meter.

Aku duduk disamping suamiku, suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya pada nya, tiba – tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya membuka pembicaraan.

“Baiklah,karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha ! ” Nenek nya bicara sangat tegas.. Dengan sorot mata yang tajam. ” Ada apa ya Nek ?” sahutku dengan penuh tanya.. Nenek pun menjawab ” Kau telah gabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda – tanda kehamilan yang sempurna, sebab selama ini kau selalu keguguran!!’

Aku menangis, untuk inikah aku diundang ke mari, untuk dihina atau dipisahkan dengan suamiku.

“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu, sebelum kau menikah dengannya, tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur, dan akhirnya menikahlah ia dengaa kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.

Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya. “Dan aku dengar dari ibu mertua mu kau pun sudah berkenalan dengannya” Neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

Sedangkan suamikku hanya diam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian.

Nenek nya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari pembicaraannya ialah dengan wajah yang sangat menantang ia berkata ” kau maunya gimana ? kau di madu atau diceraikan ?”

Masya Allah…… kuat kan hati ini, aku ingin jatuh pingsan, hati ini seakan remuk mendengar nya, hancur hati ku, mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau kayu tersebut, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

“Fish, jawab !! ” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab

Aku langsung memegang tangan suamiku, dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas……. ” Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat
berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.”

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cinta ku di bagi, pada saat itu juga suami ku memandangku dengan tetesan air mata, tapi mata ku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka. Aku lalu bertanya kepada suami ku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti Yah ? ” Suamiku menjawab ” Dia Desi ! ”

Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara ” Kapan pernikahan nya berlangsung ? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek ?”

Ayah mertuaku menjawab “Pernikahannya 2 minggu lagi.”

” Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruh nya mengurus KK kami ke kelurahan besok” setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi, air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar, aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi,,sakit. ..diiringi akutnya penyakitku. Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini ?

Aku berjalan menuju ke meja rias, ku buka jilbabku, aku bercermin sudah tidak cantikkah aku ini, ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok, ku lihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis, kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

Tiba – tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suami ku datang, ia berdiri dibelakangku, ,tak kuhapus air mata ini aku langsung memandangnya dari cermin meja rias itu.

Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan “terimah kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku, jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti ! iya kan ?”

Suami ku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya knp rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo, dalam hati ku mengapa ia sangat cuek ? ia sudah tak memanjakan ku lagi.. Lalu dia bilang bilang “sudah malam, kita istirahat yuk ” !

“Aku sholat isya dulu baru aku tidur” jawab ku tenang.

Dalam sholat, dalam tidur aku menangis, ku hitung waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku. Aku tak tahu kalo Desi orang Sabang juga. Sudahlah ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku, dimana rasa sayang dan cintanya itu.

************
Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.

Di laptop aku menulis saat – saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang tidur pulas, apa salahku sampai ia berlaku kejam kepada ku. Aku save di my document yang bertitle “Aku mencintaimu Suamiku ”

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar, aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, mungkin aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat
lama,, lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.

“Apakah kamu sudah siap ?”
Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk ke dalam rumah ini, cucilah kaki nya sebagaimana kamu mencuci kaki ku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun - ubunya sebagaimana yang kamu lakukan pada ku dulu lalu setelah itu…..” tak sanggup aku ingin meneruskan pembicaraan ini, aku ingin menangis meledak

Tiba – tiba suamiku menjawab “lalu apa Bunda ?”

Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk, aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar – binar…

“bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan ?” pinta ku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata ” Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda ?” sambil ia menghelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena diya sangat tinggi, aku hanya sedada nya saja.

Dia tersenyum, sambil berkata ” Kita liat saja nanti ya !” dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama” lalu ia mencium keningku, aku langsung memeluk nya erat dan berkata ” Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja?

Mengapa ayah berubah? Aku kangen sama ayah? Aku kangen belaian kasih sayang ayah? Aku kangen dengan manjanya ayah ? Aku kesepian ayah ?

Dan satu hal lagi yang harus ayah tau bahwa aku tidak pernah berzinah ! Dulu waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari.”

Bukan berarti aku pernah berzina ayah. Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata ” Aku minta maaf ayah telah membuatmu susah”

Saat itu juga, diangkatnya badanku,ia hanya menangis.

Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba – tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan ku, dan ia bertanya ” bunda baik – baik saja kan” tanya nya dengan penuh khawatir.

“aku pun menjawab, bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik Yah” aku tak bisa bicara sekarang. Karena dia akan menikah. Aku tak mau buat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

************

Setelah tiba dimasjid, ijab qabul pun dimulai. Aku duduk disebrang suamiku.

Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan “Ayah Jangan” tapi aku ingat akan kondisi ku.

Jantung ini berdebar kencang, ketika mendengar ijab qabul tersebut. Begitu ijab qabul selesai, aku menarik napas panjang, Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini, ya,,aku kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di pelaminan. Orang – orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku sangat aneh, wajahku yang selalu tersenyum tapi hatiku menangis.

Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja, tak mencuci kaki nya. Aku sangat heran dengan prilaku nya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini ?

Sementara itu Desi di sambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku yang di musuhinya.

Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa !! Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tau apa yang mereka lakukan didalam.

1/3 malam, pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah, ku dekati lalu ku lihat…. Masya Allah, suamiku tak tidur dengannya, ia tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus mukanya yang lelah, tiba – tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

“kamu datang ke sini, aku pun tau ” ia langsung berkata seperti itu, aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail, ia mengatakan “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik – adikku”

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah, apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini.

Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus ?”

Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.

Aku pun berkata “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi ?”

” Aku kangen sama kamu Bunda ” Aku tak mau menyakitimu lagi, kamu sudah terluka oleh sikapku yang egois” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.

Lalu suamiku berkata, ” Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda… Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalo bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti harta ayah, dan satu lagi ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya klo bunda gak mau berbuat seperti itu, dan seperti itu di beri tanda kutip (“seperti itu” ), ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung, dan ayah berpikir klo bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluar ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda ”

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan didirinya, hanya karena omongan keluarganya, yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.

Aku hanya menjawab “Aku sudah ceritakan itu kan Yah, aku tidak pernah berzinah, dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa kamu, banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.

Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian di kamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluaraganya juga. Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.

************
Keesokan harinya….. …..

Katika aku ingin bangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali .. aku pendarahan .. suamiku kaget …

Suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku. Aku pun dilarikan ke rumah sakit …. Jauh sekali aku mendengar suara zikir suamiku …. Aku merasakan tanganku basah … Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan ” Bunda,,Ayah minta maaf ,,,,!!”

Berapa kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hati ku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku.

Aku berkata dengan suara yang lirih ” Yah….Bunda ingin pulang, bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya Yah ….”

“Ayah jangan berubah lagi ya !!! Janji ya Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah ”

Tiba – tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakit nya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi, aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku, kulihat wajahnya yang tampan, linangan air matanya.

Sebelum mata ini tertutup ku lafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.

*********
Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku ..
Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka, ..
Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah ...

Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafas ku.

Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma, dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami.

Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya bukti nya Ma. Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma ? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi dengan ku, menantumu kau bersikap sebaliknya.”

*********
Setelah ku buka laptop, ku baca curhatan istriku ...

Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku .. Aku dihina oleh mereka ayah ...

Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu ? Pernah suatu ketika, aku bertemu Dian di jalan, aku menegornya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidak sukaannya. Sangat terlihat Ayah.

Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah ...?

Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah. Aku diusir dari rumah sakit. Aku tak boleh merawat suamiku
.
Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku ..

Aku sangat marah….
Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan ibunya. ..

Aku tak mau sakit hati lagi ...
Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku ...
Engkau Maha Adil ...
Berilah keadilan ini padaku Ya Allah ..
Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku ...
Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja - manja lagi padamu ...

Aku kuat ayah dalam kesakitan ini ...
Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku ...

Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah ...
Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu ...
Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui ...
Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku
Aku harus sadar diri ...

Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu ...
Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku ? ..
Ayah aku masih tak rela ...
Tapi aku harus ikhlas menerimanya ...
Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya ...
Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku ..

Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir ..
Sebelum ajal ini menjemputku ...

Ayah … aku kangen ayah ..!

**********
Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu Bun ..
Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi ke Pulau Kayu ini ...

Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwarna pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.

Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur ...
Bunda akan selalu hidup dihati ayah ....
Bunda … Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah …

Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.

Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, dalam kesendirianmu …

Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.

Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda .. Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui ...

Aku menyesal telah asik dalam keegoanku ..
Bunda maafkan aku .. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat ditidurmu yang panjang ....

Maafkan aku , tak bisa bersikap adil dan membahagiakan mu, aku selalu mengiyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja ...

Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana ? Apakah Bunda tetap menanti ayah disana ? Tetap setia dialam sana ?

Tunggulah Ayah disana Bunda ……
Bisakan ? Seperti Bunda menunggu ayah di sini …… Aku mohon ….. Ayah Sayang Bunda ….
Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ; “ Jika seseorang masuk kedalam rumahnya lalu ia menyebut asma Allah Ta’ala (bismillah) saat ia masuk dan saat ia makan, maka setan berkata kepada teman-temannya, “ tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam.”

Dan jika ia masuk, tanpa menyebut asma Allah Ta’ala saat hendak masuk rumahnya berkatalah syaithan: “ kalian mendapatkan tempat bermalam, dan apa bila dia tidak menyebut nama Allah ketika hendak makan, maka setan berkata : “ kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.” (HR.Bukhari)

Sekiranya itu belum kita kerjakan , boleh juga kita ulangi, keluar rumah kemudian masuk dengan salam dan menyebut asma Allah, supaya tidak ada tempat bagi setan didalam rumah kita,,,Afwan
... DAN UMAR PUN MENANGIS ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis? Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain.

Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.

Mengapa "singa padang pasir" ini sampai menangis? Umar pernah meminta izin menemui rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku.

Rasul yang mulia bertanya, "mengapa engkau menangis ya Umar?" Umar menjawab, "bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas berbantalkan sutera".

Nabi berkata, "mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya."

Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara; tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.

Ketika anda pergi ke Belanda, biasanya pesawat akan transit di Singapura. Atau anda pulang dari Saudi Arabia, biasanya pesawat mampir sejenak di Abu Dhabi. Anggap saja tempat transit itu, yaitu Singapura dan Abu Dhabi merupakan dunia ini. Apakah ketika transit anda akan habiskan segala perbekalan anda ? Apakah anda akan selamanya tinggal di tempat transit itu ?

Ketika anda sibuk shopping ternyata pesawat telah memanggil anda untuk segera meneruskan perjalanan anda.

Ketika sedang terlena dan sibuk dengan dunia ini, tiba-tiba Allah memanggil anda pulang kembali ke sisi-Nya. Perbekalan anda sudah habis, tangan anda penuh dengan bungkusan dosa anda, lalu apa yang akan anda bawa nanti di padang Mahsyar.

Sisakan kesenangan anda di dunia ini untuk bekal anda di akherat.

Dalam tujuh hari seminggu, mengapa tak anda tahan segala nafsu, rasa lapar dan rasa haus paling tidak dua hari dalam seminggu. Lakukan ibadah puasa senin-kamis. Dalam dua puluh empat jam sehari, mengapa tak anda sisakan waktu barang satu-dua jam untuk sholat dan membaca al-Qur'an. 8 jam waktu tidur .. mengapa tdk kita curi 15 menit saja untuk sholat tahajud.

"Celupkan tanganmu ke dalam lautan," saran Nabi ketika ada sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akherat, "air yang ada di jarimu itulah dunia, sedangkan sisanya adalah akherat" .

... Bersiaplah, untuk menyelam di "lautan akherat". Siapa tahu Allah sebentar lagi akan memanggil kita, Bila saat panggilan itu tiba, jangankan untuk beribadah, menangis pun kita tak akan punya waktu lagi ...

Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...
::DAHSYATNYA PAHALA DZIKIR SETELAH SHOLAT::

Sahabat Ta'Aruf yang dimuliakan Allah SWT.
Kadang setelah menunaikan Sholat Wajib, walaupun tidak sedang sibuk, kita sering suka terburu-buru untuk segera meninggalkan sajadah. Kita seakan-akan merasa sudah terlalu lama waktu yang kita gunakan untuk mendirikan Sholat.

Padahal jika kita mau sedikit bersabar dan ikhlas untuk menyempatkan diri beberapa saat saja untuk Berdzikir, niscaya Allah akan memberikan pengampunan yang tiada tara kepada kita. Allah juga akan memberikan kelapangan kepada kita.

Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :

"Barangsiapa membaca dzikir ini tiap selesai Sholat Fardlu (wajib), maka dosa-dosanya diampuni (oleh Allah SWT) meskipun sebanyak buih di lautan."
- SUBHANALLAH...... 33x
- ALHAMDULILLAH... 33x
- ALLAHU AKBAR..... 33x
Dan disempurnakan dengan bacaan : LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAH. LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI'IN QADIIR (Tiada Tuhan [yang berhak disembah] selain Allah. Dzat yang Maha Esa. Tiada satupun yang menyekutukan-Nya. Mawar Milik-Nya segala Kerajaan. Dan bagi-Nya segala Pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)." (H.R. Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW Bersabda :

"Barang siapa yang mengucapkan bacaan Dzikir HASBIYALLAHU LAA ILAAHA ILLAA HUWA 'ALAIHI TAWAKKALTU WAHUWA RABBUL 'ARSYIL 'ADHIIM (Artinya : Hanya Allah yang mencukupkan [kebutuhanku], tiada Tuhan [yang berhak disembah] kecuali Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakkal. Dialah yang menguasai 'Arsy yang Agung)

sebanyak 7x pada waktu Shubuh dan Sore hari, maka Allah SWT akan mencukupkan kebutuhannya di Dunia dan di Akhirat." (H.R. Abu Daud, Ibnu Sunni)

SubhanAllah..
Sebuah amalan yang tidak memakan banyak waktu. Tidak sulit untuk diucapkan. Akan tetapi begitu besar pahala yang bakal kita dapatkan.

Masihkah kita akan tetap mengabaikannya? Sungguh sangat disayangkan kalau amalan ini kita abaikan begitu saja. Yuk mulai sekarang kita berusaha untuk membiasakannya. Agar waktu yang kita punya tidak banyak terbuang dengan percuma.

Semoga bermanfaat dan menjadi tambahan ilmu bagi kita semua.

Selamat menunaikan Sholat Shubuh. Tetaplah istiqamah untuk selalu menjalankannya. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat kelak.

Amin Allahumma Amin..

Selasa, 26 Februari 2013

”Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat subuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim)
_____________________

Senin, 25 Februari 2013


  • ‎... LANGKAH SEORANG PENGANTIN ...

    Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Wajah yang tersapu make-up dengan dominasi warna peach itu tersenyum. Kepala tertutup kain kerudung warna putih menambah kecantikan wajah yang bahagia itu, senada dengan kebaya panjang bertabur kemilau zwarovski berwarna sama. Cermin seakan bertambah memantulkan semua yang tergambar di hati si pemilik wajah. Pemilik wajah itu aku.

    Hari ini akulah ratu. Aku si pemenang hati seorang ksatria muda yang gagah berani. Setelah satu tahun, berjuang bersama saling menjajaki. Satu tahun menghadapi kebersamaan dalam suka dan duka mencari ujung cinta kami. Satu tahun saling mengenalkan keluarga dan belajar saling memahami. Akhirnya lelaki dengan senyum memikat itu telah meminangku menjadi istri, ratu di hatinya. Permintaan yang sempat menjadi pergolakan di batinku.

    “Bun, Rayhan melamar Nunik,” kataku pada Bunda, setelah lelah berpikir.

    Bola mata Bunda langsung membesar. Ia langsung berhenti menyiapkan makan malam dan duduk di sampingku, menatapku penuh harap. “Terus Nunik terima?”

    Kugelengkan kepalaku. “Belum, bunda. Nunik minta waktu menjawabnya. Menurut Bunda bagaimana?”

    Bundaku tersenyum. Senyum yang selalu berhasil membuatku tenang. “Nunik putriku sayang, Bunda gak bisa ikut campur soal perasaan Nunik. Bunda tahu Nunik dan Rayhan sudah lama saling berkenalan dan berhubungan dekat kalau kalian tidak mau itu disebut sebagai pacaran.

    Dulu Nunik menerima persahabatan itu pasti ada pertimbangan sendiri. Tapi sayang, kalau Nunik bertanya apakah Bunda setuju. Bunda sangat setuju karena Rayhan anak yang baik dan ibadahnya juga bagus.

    Dan kalau Nunik masih ingat, dulu Ayah pernah memberi kita tausiyah kan? Kalau ada orang yang kita ridhoi agama dan akhlaqnya (untuk meminang), maka terimalah pinangannya. Jika tidak maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi. Mudah-mudahan Nunik mengerti maksud Bunda ya, nak.”

    Bunda mengingatkan, Ayah menyetujui, sementara Ibu Rayhan memelukku meminta agar aku mau menerima pinangan putranya. Ibu Rayhanlah pertimbangan terakhirku untuk menerima Rayhan.

    Aku tak ingin menyia-nyiakan anugerah Allah yang berlipat ganda untukku. Seorang suami dan seorang ibu lain selain ibu kandungku.

    Dan akupun menjawab dengan anggukan malu-malu di hadapan kedua keluarga besar kami, saat Rayhan benar-benar datang bersama keluarga besarnya melamarku secara resmi. Gaung zikir berkumandang saat itu, ditingkahi keharuan luar biasa. Rayhan sendiri tak yakin aku menerimanya, karena itulah dia tak bisa menyembunyikan kegembiraan.

    Sebulan kemudian, disinilah aku. Duduk menatap cermin, menatap wajahku yang sedang merona bahagia. Sapuan perona pipi semakin memperjelas hatiku yang sedang berdenting penuh cinta.

    “Kakak cantik sekali,” suara bisikan adikku Namira membuatku menoleh. Mata Namira berkaca-kaca.

    Aku juga ingin menangis. Tapi Namira buru-buru memintaku menahan haru agar tak merusak riasan wajah hasil karyanya. Ya Tuhan, siapakah yang mampu menahannya?

    Namira, adik perempuanku satu-satunya. Dialah sahabat sejatiku. Kami tidur satu tempat tidur sejak kecil, berbagi cerita, berbagi tawa. Sesekali kami berdebat, tak jarang malahan bertengkar. Tapi selalu saja, kami berbaikan dengan cepat. Namira menjadi tempatku mengadu, tempatku mencurahkan isi hatiku saat sedang kesal atau sedih.

    Semalam, kami berpelukan sambil menangis. Namira memohon agar aku mau sekali-sekali tetap datang saat ia membutuhkanku. Ia bersedia tetap menjadi adik sekaligus sahabat yang akan selalu memelukku saat aku sedang susah. Namira benar-benar membuatku merasa berat meninggalkan rumah ini, meskipun bukan terpisah karena kematian.

    “Nangis gak ngajak-ngajak,” suara adikku yang lain, Nirwan terdengar di ambang pintu. Ia tersenyum sedih melihat aku menggenggam tangan Namira dengan mata berkaca-kaca. Ia melangkah masuk, menatapku lalu kembali berbisik sama seperti Namira. “Kakak cantik sekali.”

    Dan kali ini airmataku pun jatuh. Nirwan itu memang adikku, tapi dialah penjagaku. Meski masih muda, Nirwan selalu melindungiku. Sejak kecil, ia selalu dengan berani menantang orang-orang yang berani menyakitiku.

    Ketika besar, dia selalu bersedia mengantarku ke manapun aku pergi. Bahkan dari Rayhan aku tahu, adikku pernah mendatanginya, meminta agar tidak mempermainkan kakaknya, karena kalau tidak maka Rayhan harus bersiap menghadapinya.

    Teringat itu, aku benar-benar jadi cengeng. “Maafin kakak ya kalau selama ini sering marahin kalian. Kalau kakak gak ada di sini, tolong jaga Ayah dan Bunda.”

    “Kakak ini ngomong apa sih? Kakak kan cuma menikah. Kakak hanya berpindah tempat tinggal, hanya beda propinsi saja. Kita masih bisa saling ketemuan. Jangan ngomong begitu ah!” sela Nirwan.

    Aku tak bisa bicara. Aku hanya bisa mengangguk. Nirwan benar, aku hanya pindah tempat tinggal karena semua yang aku miliki masih ada. Tanggung jawabku masih ada untuk keluargaku, sebagai seorang anak dan sebagai seorang kakak. Saat ini, aku sedang mengambil tanggung jawab lain sebagai seorang istri.

    Bunda masuk. “Aduh, kalian ini. Pasti buat kak Nunik sedih ya. Tuh kan, makeupnya jadi berantakan!” Bunda langsung mengambil tisu, menyapu wajahku lagi dibantu Namira. Tak lama, Ayahpun datang. Bertanya kesiapan kami. Semua pun menganggukkan kepala.

    Dibantu Bunda dan Namira, aku mulai berdiri. Kami mengatur posisi. Ayah dan Bunda di samping kiri dan kananku sementara adik-adikku berada di belakangku. Ayah berbisik padaku. “Kamu sangat cantik, putriku. Tak ada yang sesempurna dirimu hari ini.”

    Aku berusaha keras menahan tangis, tangan Ayah dan Bunda menggenggam erat kedua tanganku di masing-masing sisi. Aku merasa lengkap, merasa memiliki segalanya. Restu orangtua dan dukungan saudara saudariku adalah kekuatanku, memulai langkah baru.

    Langkahku pelan, namun pasti memandang ke depan mencari sosok Rayhan. Dia di sana, berdiri di dekat meja ijab kabul, tersenyum padaku. Senyum yang memberiku kepercayaan. Kepercayaan terhadap dirinya agar mampu memimpinku.

    Saat duduk, Ayah meminta waktu untuk sedikit berbicara pada Rayhan. Di tengah orang banyak, Ayah mulai berkata tanpa teks pada calon suamiku.

    “Rayhan, anakku. Saya sebagai Ayah Nunik memintamu agar menjadi pemimpin yang baik untuk istrimu. Lanjutkan tugas saya mendidik putri saya agar selalu berada di jalan yang benar. Kasihilah dia seakan-akan dia adalah bagian dari dirimu sendiri… ” Ayah terdiam. Bibirnya tampak bergetar sebentar. Matanya menatapku, berkaca-kaca.

    Lalu ia kembali melanjutkan dengan suara lebih pelan. “Izinkanlah silahturahmi antara kami dengan Nunik agar tetap terjaga dan… saya mohon, bahagiakanlah putri saya.” Dan aku melihat airmata mengalir di pipi Ayah.

    Rayhan nampak tak bisa menahan haru. Ia bangkit dari kursinya, tidak seperti protokoler acara yang dibuat oleh Wedding Organizer kami sebelumnya. Ia langsung mengatakan sesuatu pada Ayah, entah apa karena aku hanya melihat Ayah juga langsung memeluknya dengan mengangguk-angguk. Tapi aku tahu pasti, Ayah dan Rayhan saling mengucapkan janji yang hanya mereka berdua yang tahu.

    Dan aku berdoa, berbekal ridho seluruh keluarga, aku melangkah bersama Rayhan. Melangkah dalam bahtera pernikahan, berharap kebahagiaan dunia dan akhirat.

    ~ o ~
PARFUM

"Masa gak boleh pake parfum??"

Boleh, tapi untuk suami dan di dalam rumah saja^^

" tapi kan, niat kita bukan biar dicium wanginya sama lelaki, tapi biar bau badan kita gak mengganggu kenyamanan orang lain"

Kalau Rasulullah udah bilang gak boleh, berarti kita kudu cai alternatif lain, bisa dengan deodorant, pengobatan dari dalam, dan menjaga kebersihan badan dan pakaian.^^

" aahh.. Ribet banget, yang segala sesuatu itu tergantung niatnya"

Niat yang baik itu, tidak boleh dibarengi dengan perbuatan yang menyalahi syariat.^^

" kan pake parfum sunnah"

Itu buat laki-laki, kalau perempuan hanya boleh dipakai di rumah untuk suaminya^^

" pedagang parfum gak laku donk"

Tentu saja laku, laki-laki boleh pakai, perempuan pun boleh dengan pengecualian hanya untuk di dalam rumah.

“Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisa’ : 59]

Allah berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” [Al Ahzab : 36].

Wallahu Ta'ala A'lam
Ustad, apa yang harus saya lakukan ketika secara tidak sengaja menelan ASI istri ketika berhubungan intim. Apakah itu diperbolehkan dalam islam ataukah diharamkan?Apa yang harus saya lakukan karena sudah terjadi ?
Kekhawatiran anda beralasan mengingat ada sebagian pandangan ulama yang menyatakan siapa yang meminum ASI akan dianggap sebagai saudara sesusu yang menjadi mahram (haram dinikahi) baikk terhadap pemilik ASI ataukan sudara sesusu. Hanya saja pandangan tersebut tidak cukup kuat mengingat mayoritas ulama hanya menghukumi kepada saudara sepersusuan untuk usia bayi dalam proses menyusui, yaitu hingga usia 2 tahun. Berikut adalah hadist yang perlu dicermati :

"Sesungguhnya Susuan itu hanyalah yang mengenyangkan dari rasa lapar." (HR.Bukhari Muslim)
Artinya susu yang diminum bersifat mengenyangkannya dan yang bersangkutan tidak memiliki makanan selainnya. Tentulah, orang yang sudah dewasa tidaklah termasuk didalamnya, terlebih lagi hadist ini menggunakan kata-kata hanyalah (al fiqhul islami wa adilatuhu).


Dengan kata lain, jika ada bayi yang sudah melewati 2 tahun terus menyusu kepada seorang ibu susuann misalnya, maka bayi tersebut tidak dikatakan sebagai saudara sepersusuan yang kelak menjadi mahram pada ibu tersebut atau anak kandung dari ibu tersebut.

Hal tersebut juga berlaku jika yang menelan ASI dari ibu tersebut adalah suaminya sendiri. dalam konteks keintiman dan keharmonisan, hal tersebut malah menambah kehangatan yang pada gilirannya boleh jadi akan menambah pundi-pundi kebaikan hubungan suami-istri. wallahu a'lam


Tidak ada yang dapat menolak
taqdir (ketentuan) Allah ta’aala
selain do’a .” (HR Tirmidzi 2065)

♣ Kita seringkali mendengar kata-kata ini:

♣ Aku bukanlah yang Terbaik, Tapi aku akan
Belajar menjadi yang Terbaik untukmu..

♣ Setiap insan ingin menjadi yg terbaik buat
Pasangannya..

♣ Tapi pernahkah kita terfikir, untuk
mengungkapkan kata-kata ini:

♣ Yaa Allah,aku bukanlah hamba-MU yg Terbaik,
namun aku akan Berusaha untuk belajar menjadi
insan yg lebih baik disisi-Mu..

♣ Yaa Allah,Ridhailah aku untuk menuju jalan-MU
Yaa Allah..

♣ Seharusnya kita juga mencoba untuk menjadi
yg terbaik kepada Allah..

♣ karena Jika kita ingin menjadi yg Terbaik,
Jadilah yg terbaik dahulu pada pandangan Allah..

♣ InsyaAllah,Allah akan tunjukkan Keikhlasan dan
Kebaikanmu itu pada Pandangan manusia..
"ARTI SUAMI DAN ISTERI"

S → Selalu menyayangi isterinya..
U → Ucapannya selalu sopan dan benar..
A → Amal ibadahnya tak pernah ketinggalan..
M → Mampu menjadi imam yang baik..
I → Iman dan Islam selalu tertanam di hati..

I → Indah perilaku dan akhlaknya..
S → Selalu setia kepada suaminya..
T → Tekun amal ibadahnya.
E → Enggan membantah suaminya..
R → Raut wajahnya menenteramkan suami..
I → InsyaAllah menjadi isteri sholehah..
... KEIMANAN MEREKA MEMBUATKU KAGUM ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Alkisah, suatu ketika Baginda Rasulullah saw bermain tebak-tebakan dengan para sahabat.

Bertanya Rasulullah, “Tahukah kalian, mereka-mereka yang keimanannya membuatku kagum?”.

“Aku tahu ya Rasulullah”, seru salah seorang sahabat. “Mereka yang engkau maksud itu tentulah para malaikat“.

“Mengapa engkau berpikir demikian?”, tanya Rasulullah kembali.

“Karena para malaikat selalu mematuhi semua perintah Allah. Mereka tidak sekalipun pernah melanggar aturan Allah”, jawab sahabat.

“Tapi para malaikat memang ditakdirkan untuk selalu mematuhi perintah Allah. Mereka tidak diberi kelengkapan hawa nafsu seperti layaknya kita. Dan tempat mereka dekat dengan Allah. Wajar jika mereka selalu beriman. Keimanan para malaikat tersebut, sama sekali tidak membuatku kagum”, bantah Rasulullah.

Para sahabat termangu-mangu dengan jawaban Rasulullah tersebut. Mereka terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa kiranya yang dikehendaki oleh Rasulullah.

Tiba-tiba, salah seorang sahabat berseru, “Aku tahu ya Rasulullah, yang Rasulullah maksudkan tentu para nabi dan rasul utusan Allah. Mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka selalu mematuhi apapun yang Allah perintahkan, apapun resikonya”.

Rasulullah tersenyum, “Betul mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Allah swt. Mereka menerima wahyu dan mendapatkan mukzizat. Wajar jika karena semua itu, mereka beriman kepada Allah”.

“Keimanan mereka sama sekali tidak membuat aku kagum”, bantah Rasulullah sekali lagi.

Kembali para sahabat ternganga dengan bantahan Rasulullah tadi. Mereka saling berpandangan lalu kembali tenggelam memikirkan jawaban pertanyaan Rasulullah.

“Ah…, sekarang saya tahu ya Rasulullah”, kata salah seorang sahabat dengan muka berseri-seri.

“Mereka yang Rasulullah maksudkan itu tentulah kami, para sahabatmu. Kami manusia biasa, kami juga tidak menerima wahyu, dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat apapun.
Meskipun demikian, kami berjanji untuk selalu mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya”, jelas sahabat tersebut dengan senyum mengembang diwajahnya.

Kembali Rasulullah tersenyum mendengar jawaban salah seorang sahabat tadi, “Betul kalian memang tidak menerima wahyu dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat, namun kalian kan melihat dengan mata kepala sendiri, mukzizat yang aku terima. Kalian juga mendengar dengan telinga kalian sendiri ketika wahyu Allah aku bacakan. Wajar jika karena itu, kalian beriman kepada Allah. Keimanan kalian, sama sekali tidak membuatku kagum”.

Kali ini para sahabat betul-betul terhenyak dengan bantahan Rasulullah barusan. Dengan perasaan putus asa karena sudah kehabisan akal, akhirnya mereka menyerah, “Kiranya hanya Allah dan rasul-Nya saja yang tahu jawaban pertanyaan Rasulullah tadi”, kata salah seorang sahabat.

“Sesungguhnya, mereka yang keimanannya membuatku kagum adalah mereka-mereka yang tidak sekalipun pernah berjumpa denganku.

Mereka sama sekali tidak pernah melihat diriku dengan mata kepala mereka sendiri.

Mereka juga tidak sekalipun pernah mendengar suaraku. Dan yang lebih hebat lagi, mereka berabad-abad jaraknya dariku. Tapi kecintaan mereka kepadaku, tak sekalipun perlu aku ragukan”, jawab Rasulullah.

“Mereka itulah, yang keimanannya sungguh-sungguh membuat aku kagum”, sambung Rasulullah menegaskan.

Mereka yang dimaksud oleh Rasulullah dalam kisah diatas, tak lain dan tak bukan, adalah kita semua. Tentu dengan syarat, jika kita bersungguh-sungguh mencintai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan setulus hati kita.

Semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan untuk dapat selalu mencintai Rasulullah Shalalllahu Alaihi Wasallam, dengan sebenar-benarnya cinta.. Aamiin
Di persilahkan bagi sahabat yang mau tag/share........"
♥ Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ♥ 

 " JANIN YANG TERLINDUNGI "

 ❥ Gambar yang disertakan menunjukkan bayi yang baru saja lahir berserta kantung air ketubang yang masih dalam keadaan baik..

❥ Gambar ini berbicara supaya kita semua berfikir bagaimana ALLAH Subhanahu Wata'ala menjadikan lendiran-lendiran ini sebagai wakil (pelindung) dari seorang janin tatkala ia berada di dalam kandungan ibunya, di saat dia tidak punya siapa-siapa melainkan ALLAH Subhanahu Wata'ala..

 ❥ Seorang ulama pernah menyebut: Tawakkal seorang bayi sangat tinggi melangit, dibandingkan tawakkal kita kepada ALLAH Subhanahu Wata'ala..

❥ Bayi tidak mampu berbuat apa-apa dan menyerahkan takdir sepenuhnya untuk diperlakukan apapun, untuk dibuang, digugurkan, dibunuh dan sebagainya..

❥ Tapi ALLAH Subhanahu Wata'ala Maha Pelindung, sekiranya berkehendak sebaliknya, maka dikirimlah malaikat penjaganya.

❥ Gambar yang cukup mengkagumkan dan membuatkan kita terfikir akan keajaiban ciptaan dan kuasa ALLAH Subhanahu Wata'ala..


 ❥ Itulah kekuasaan ALLAH Subhanahu Wata'ala..

❥ SubhanALLAH,Semoga Bermanfaat Sebagai Tafakur Kita Akan Kebesaran ALLAH Subhanahu Wata'ala..

❥ Aamiin Ya Rabbal'alamiin..

✽¸.•♥•.¸✽¸•♥•.¸✽¸•♥•.¸✽¸.•♥•.¸✽ 

 Dipersilahkan bagi sahabat yang ingin TAG / SHARE,Bantulah sahabat lain yang membutuhkan bantuan Tag,Semoga menjadi amal Shaleh bersama,Insya ALLAH..

 ✽¸.•♥•.¸✽¸•♥•.¸✽¸•♥•.¸✽¸.•♥•.¸✽
♥ Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ♥

" JANIN YANG TERLINDUNGI "

❥ Gambar yang disertakan menunjukkan bayi yang baru saja lahir berserta kantung air ketubang yang masih dalam keadaan baik..

❥ Gambar ini berbicara supaya kita semua berfikir bagaimana ALLAH Subhanahu Wata'ala menjadikan lendiran-lendiran ini sebagai wakil (pelindung) dari seorang janin tatkala ia berada di dalam kandungan ibunya, di saat dia tidak punya siapa-siapa melainkan ALLAH Subhanahu Wata'ala..

❥ Seorang ulama pernah menyebut: Tawakkal seorang bayi sangat tinggi melangit, dibandingkan tawakkal kita kepada ALLAH Subhanahu Wata'ala..

❥ Bayi tidak mampu berbuat apa-apa dan menyerahkan takdir sepenuhnya untuk diperlakukan apapun, untuk dibuang, digugurkan, dibunuh dan sebagainya..

❥ Tapi ALLAH Subhanahu Wata'ala Maha Pelindung, sekiranya berkehendak sebaliknya, maka dikirimlah malaikat penjaganya.

❥ Gambar yang cukup mengkagumkan dan membuatkan kita terfikir akan keajaiban ciptaan dan kuasa ALLAH Subhanahu Wata'ala..


❥ Itulah kekuasaan ALLAH Subhanahu Wata'ala..

❥ SubhanALLAH,Semoga Bermanfaat Sebagai Tafakur Kita Akan Kebesaran ALLAH Subhanahu Wata'ala..

❥ Aamiin Ya Rabbal'alamiin..

Minggu, 24 Februari 2013

Jangan menilai orang dari rupanya. Karena Rasulullah melihat si pendek tak menawan ;Julaybib r.a dikejar kejar oleh para bidadari surga.

Berilah kesempatan seseorang untuk berubah. Karena seseorang yang hampir membunuh Rasulpun kini terbaring disebelah makam beliau ;Umar bin Khattab.

Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang pernah berperang melawan agama Allahpun akhirnya menjadi pedang-nya Allah ;Khalid bin Walid.

Jangan memandang orang dari status dan hartanya. Karena sepatu emas fir'aun berada di neraka, sedangkan sandal jepit ;Bilal bin Rabah terdengar di surga.
Jangan menilai orang dari rupanya. Karena Rasulullah melihat si pendek tak menawan ;Julaybib r.a dikejar kejar oleh para bidadari surga.

Berilah kesempatan seseorang untuk berubah. Karena seseorang yang hampir membunuh Rasulpun kini terbaring disebelah makam beliau ;Umar bin Khattab.

Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang pernah berperang melawan agama Allahpun akhirnya menjadi pedang-nya Allah ;Khalid bin Walid.

Jangan memandang orang dari status dan hartanya. Karena sepatu emas fir'aun berada di neraka, sedangkan sandal jepit ;Bilal bin Rabah terdengar di surga.

Sabtu, 23 Februari 2013

♥Pesanan Rasulullah S.A.W Sebelum Tidur♥

♥Bismillaahirrahmaanirrahiim♥

SEBELUM TIDUR, Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Saidatina Aisyah : “Ya Aisyah, jangan engkau tidur, sebelum melakukan 4 perkara iaitu:

1. Khatam Al Qur’an

2. Membuatkan para nabi memberi syafaat kepadamu di hari akhirat

3. Membuatkan para muslim meredhai kamu

4. Melaksanakan ibadat haji dan umrah.

“Bertanya Aisyah : “Ya Rasulullah, bagaimanakah aku dapat melaksanakan 4 perkara dalam satu masa?” Rasulullah tersenyum sambil bersabda : “Jika engkau tidur bacalah Surah Al -Ikhlas 3 kali, (maka ia seolah-olah kau mengkhatamkan Al Qur’an). Dan Bacalah solawat untukKu dan para nabi sebelumku, (maka kami semua akan memberi syafaat kpdmu di hari kiamat). Dan Beristighfarlah untuk para muslimin (maka mereka semua akan meredhai kamu). Dan perbanyakkanlah bertasbih, bertahmid, bertahlil, dan bertakbir (maka ia seolah-olah kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umrah)

Subhanallah..Semoga kita bisa mengamalkan Sahabat...
Aamiin...
Assalamu'alaikum..

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

" LIMA JEMBATAN KEHIDUPAN "

Jembatan TERMAHAL adalah PENGORBANAN..

Jembatan TERPANJANG adalah PENGHARAPAN..

Jembatan TERPENDEK adalah PUTUS ASA..

Jembatan TERINDAH adalah KASIH SAYANG..

Jembatan TERKUAT adalah IMAN..
... MENCINTAI DAN BERPISAH KARENA ALLAH ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Hari itu di pemakaman, siang begitu terik dan menyengat. Para pelayat yang kebanyakan berbaju hitam memadati lokasi pemakaman.

Diantara begitu banyak orang, perempuan cantik itu berdiri mengenakan pakaian dan kerudung berwarna putih, ekspresi tenang terlihat di raut wajah yang tersaput kesedihan.

Pada saat penguburan berlangsung, sebelum jenazah dimasukkan ke liang lahat, perempuan itu mendekati jenazah yang terbungkus kain kafan kemudian membisikkan kata-kata tak terdengar dengan perasaan dan suasana yang sulit kulukiskan.

Aku melihat keharuan diantara para pelayat menyaksikan adegan itu. Perempuan itu adalah istri dari laki-laki yang pada hari itu dikubur, kakak iparku, Zainab.

Setelah acara penguburan selesai satu persatu pelayat mengucapkan kalimat duka cita kepada perempuan tersebut yang menyambut ucapan itu dengan senyuman manis dan kesedihan yang telah hilang dari wajahnya, seolah-olah pada saat yang seharusnya menyedihkan itu dia merasa bahagia.

Kudekati kakak iparku. “Kak, yang sabar ya, insya Allah abang diterima dengan baik di sisi-Nya,” ujarku perlahan. Dia menatapku dengan senyuman tanpa kata-kata. Rasa penasaran menyeruak dalam hatiku melihat ekspresinya. Tapi perasaan itu tidak kuungkapkan.

Beberapa hari setelah pemakaman itu, aku datang ke rumah kak Zainab. Kudapati ia sedang mengurus kembang mawar putih seperti apa yang sering dilakukannya.

Kusapa dia dengan wajar, “Assalaamu’alaikum, sedang sibuk, kak?” tanyaku

“Wa’alaikusallam… Oh adik, ayo duduk dulu,” jawabnya seraya membereskan perlengkapan tanaman.

“Saya mengganggu kak?” tanyaku lagi,

“Kenapa harus mengganggu dik, ini kakak sedang merawat bunga agar dzikir nanti malam tidak terganggu hal sepele sperti ini,” jawabnya.

Sesaat setelah jawaban terakhir suasana hening terjadi di antara kami.

Dengan hati-hati kuajukan perasaan yang selama beberapa hari mengganjal dihatiku. “Kak, apakah kakak tidak merasa sedih dengan kepergian abang?” tanyaku.

Dia menatapku dan berkata, “Kenapa adik bertanya seperti itu?”

Aku tidak segera menjawab karena takut dia tersinggung, dan, “Karena kakak justru terlihat bahagia menurut adik, kakak tersenyum pada saat pemakaman dan bahkan tidak mencucurkan airmata pada saat kepergian abang,” ujarku.

Dia menatapku lagi dan menghela nafas panjang. “Apakah kesedihan selalu berwujud air mata?” Sebuah pertanyaan yang tidak sanggup kujawab.

Kemudian dia meneruskan kembali perkataanya. “Kami telah bersama sekian lama, sebagai seorang perempuan aku sangat kehilangan laki-laki yang kucintai, tapi aku juga seorang istri yang memiliki kewajiban terhadap seorang suami. Dan keegoisanku sebagai seorang perempuan harus hilang ketika berhadapan dengan tugasku sebagai seorang istri,” katanya tenang.

“Maksud kakak?” aku tambah penasaran.

“Sebuah kesedihan tidak harus berwujud air mata, kadang kesedihan juga berwujud senyum dan tawa. Kakak sedih sebagai seorang perempuan tapi bahagia sebagai seorang istri. Abang adalah seorang laki-laki yang baik, yang tidak hanya selalu memberikan pujian dan rayuan tapi juga teguran. Dia selalu mendidik kakak sepanjang hidupnya.

Abang mengajarkan kakak banyak hal. Dulu abang selalu mengatakan sayang pada kakak setiap hari bahkan dalam keadaan kami tengah bertengkar. Kadang ketika kami tidak saling menyapa karena marah, abang menyelipkan kata sayang pada kakak dipakaian yang kakak gunakan.

Ketika kakak bertanya kenapa? abang menjawab, karena abang tidak ingin kakak tidak mengetahui bahwa abang menyayangi kakak dalam kondisi apapun, abang ingin kakak tau bahwa ia menyayangi kakak. Jawaban itu masih kakak ingat sampai sekarang. Perempuan mana yang tidak sedih kehilangan laki-laki yang begitu menyayanginya? Tapi …”

Dia menghentikan kata-katanya.

“Tapi apa kak?” kejarku.

” Tapi sebagai seorang istri, kakak tidak boleh menangis,” katanya tersenyum.

“Kenapa?” tanyaku tidak sabar. Perlahan kulihat matanya menerawang.

“Sebagai seorang istri, kakak tidak ingin abang pergi dengan melihat kakak sedih, sepanjang hidupnya dia bukan hanya laki-laki tapi juga seorang suami dan guru bagi kakak. Dia tidak melarang kakak bersedih, tapi dia selalu melarang kakak meratap, kata abang, Allah tidak suka melihat hamba yang cengeng, dunia ini hanya sementara dan untuk apa ditangisi.”

Perempuan itu melanjutkan, “pada satu malam setelah kami sholat malam berjamaah, abang menangis, tangis yang tidak pernah kakak lupakan, abang berkata pada kakak bahwa jika suatu saat di antara kami meninggal lebih dahulu, masing-masing tidak boleh menangis, karena siapa pun yang pergi akan merasa tidak tenang dan sedih, sebagai seorang istri, kakak wajib menuruti kata-kata abang.”

“Pemakaman bukanlah akhir dari kehidupan tapi adalah awal dari perjalanan, kematian adalah pintu gerbang dari keabadian. Saat di dunia ini kakak mencintai abang dan kita selalu ingin berada bersama dengan orang yang kita cintai, abang adalah orang baik. Dalam perjalanan waktu abang lah yang pertama kali dicintai Allah dan diminta untuk menemui-Nya, abang selalu mengatakan bahwa baginya Allah SWT adalah sang Kekasih

dan abang selalu mengajarkan kakak untuk mencintai-Nya. Saat seorang Kekasih memanggil apakah kita harus bersedih? Abang bahagia dengan kepergiannya. Dalam syahadatnya abang tersenyum dan sungguh egois jika kakak sedih melihat abang bahagia,” sambungnya.

Tanpa memberikan kesempatan untuk aku berkata, serangkaian kata terus mengalir dari perempuan itu, “Kakak bahagia melihat abang bahagia dan kakak ingin pada saat terakhir kakak melihat abang, kakak ingin abang tau bahwa baik abang di dunia maupun di akhirat kakak mencintainya dan berterima kasih pada abang karena abang telah meninggalkan sebuah harta yang sangat berharga untuk kakak yaitu cinta pada Allah SWT.

Dulu abang pernah mengatakan pada kakak jika kita tidak bisa bersama di dunia ini kakak tidak perlu bersedih karena sebagai suami istri, kakak dan abang akan bertemu dan bersama di akhirat nanti bahkan di surga selama kami masih berada dalam jalan Allah.

Dan abang telah memulai perjalanannya dengan baik, doakanlah kakak ya dik semoga kakak bisa memulai perjalanan itu dengan baik pula. Kakak sayang abang dan kakak ingin bertemu abang lagi.”

Kali ini kulihat kakak tersenyum dan dalam keheningan taman aku tak mampu berkata-kata lagi.

~ o ~

Kamis, 21 Februari 2013


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

PAHALA UNTUK ISTRI YANG SHALEHAH...

Sekali suami minum air yg dsediakan oleh istrinya adalah lebih baik dr brpuasa slama 1th

mkanan yg dsdiakan oleh istri kpd suaminya lbh baik dr istri itu mengerjakan haji & umrah

Mandi junub si istri dsebbkan jimak olh suaminya lbh baik bginya drpd mengorbankan 1000 kambing sbg sdkah kpd fakir miskin

Apabila istri hamil ia dicatatkan sbg seorang syahid & khidmat kpd suaminya sbg jihad

Pemeliharaan yg baik trhadap anak2 adalah mnjadi benteng neraka, pandangan yg baik & harmonis trhdap suami adalah mnjd tasbih (dzikir)

tdk akan ptus ganjaran dr Allah kpd seorang istri yg siang malamny mnggmbirakan suaminy

Apabila mninggal dunia & suaminy ridha,niscaya ia dmasukan kdlm syurga (HR. Tarmizi)

Seorang wanita apabila mngrjakn shalat fardhu, brpuasa d bulan ramadhan,mnjga khormatan drinya & taat kpd suaminy, maka berhaklah ia masuk syurga dari pintu manapun yg ia sukai

Masya Allah ^_^
__________________
  • ‎... AIR MATA MALAM PERTAMA ...

    Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Hatiku bercampur baur antara kegembiraan, kesedihan dan kehibaan. Terlalu sukar untuk kugambarkan perasaan hatiku tatkala ini. Sanak saudara duduk mengelilingiku sambil memerhatikan gerak geri seorang lelaki yang berhadapan dengan bapaku serta tuan imam.

    Hari ini adalah hari yang cukup bermakna bagi diriku. Aku akan diijab kabulkan dengan seorang lelaki yang tidak pernak kukenali pilihan keluarga. Aku pasrah.

    Semoga dengan pilihan keluarga ini beserta dengan rahmat Tuhan. Bakal suamiku itu kelihatan tenang mengadap bapaku, bakal bapa mentuanya. Mereka berkata sesuatu yang aku tidak dapat mendengar butir bicaranya. Kemudian beberapa orang mengangguk-angguk. Serentak dengan itu, para hadirin mengangkat tangan mengaminkan doa yang dibacakan lelaki itu.

    “Ana dah jadi isteri! ” Bisik sepupuku sewaktu aku menadah tangan. Tidak semena-mena beberapa titis air mata gugur keribaanku. Terselit juga hiba walaupun aku amat gembira. Hiba oleh kerana aku sudah menjadi tanggungjawab suamiku. Keluarga sudah melepaskan tanggungjawab mereka kepada suamiku tatkala ijab kabul.

    “Ya Allah! Bahagiakanlah hidup kami. Kurniakanlah kami zuriat-zuriat yang menjadi cahaya mata dan penyeri hidup kami nanti.”Doaku perlahan.

    Aku bertafakur sejenak. Memikirkan statusku sekarang. Aku sudah bergelar isteri. Sudah tentu banyak tanggungjawab yang perlu aku tunaikan pada suamiku dan pada keluarga yang aku dan suamiku bina nanti.

    “Mampukah aku memikul tanggungjawab ini nanti”Tiba-tiba sahaja soalan itu berdetik di hati.

    Kadang-kadang aku rasakan seolah-olah aku tidak dapat melaksanakan tanggungjawab seorang isteri terhadap suami.

    “Assalamualaikum!” Sapa suatu suara yang mematikan tafakur tadi. Baru aku perasan, seorang lelaki berdiri betul-betul di hadapanku. Aku masih tidak mampu untuk mendongak, melihat wajahnya itu. Aku berteleku melihat kakinya.

    Sanak saudara yang tadi bersama-samaku, kini membukakan ruang buat lelaki itu mendekatiku. Aku tambah gementar bila dibiarkan sendirian begini. Tanpa kusangka, dia duduk menghadapku.

    “Sayang”..Serunya perlahan. Suaranya itu seolah membelai dan memujuk jiwaku supaya melihat wajahnya.

    Aku memaksa diriku untuk mengangkat muka, melihat wajahnya. Perlahan-lahan dia mencapai tangan kiriku, lalu disarungkan sebentuk cincin emas bertatahkan zamrud ke jari manisku.

    “Abang”.. Seruku perlahan sambil bersalam dan mencium tangan lelaki itu yang telah sah menjadi suamiku.

    “Ana serahkan diri Ana dan seluruh kehidupan Ana ke pangkuan abang. Ana harap, abang akan terima Ana seadanya ini seikhlas hati abang..”Bisikku perlahan. ” Kita akan sama-sama melayari hidup ini dan akan kita bina keluarga yang bahagia.” Janjinya padaku.

    Itulah kali pertama aku menemui suamiku itu. Aku tidak pernah melihatnya selain daripada sekeping foto yang telah diberikan emak kepadaku.

    Kenduri perkahwinan kami diadakan secara sederhana sahaja. Namun meriah dengan kehadiran sanak saudara terdekat dan sahabat handai yang rapat. Senang sikit, tak payah berpenat lelah. Sibuk juga aku dan suamiku melayani para tetamu yang hadir ke majlis itu.

    Ramai juga teman-teman suamiku yang datang. Mereka mengucapkan tahniah buat kami berdua. Tak sangka, suamiku punyai ramai kawan. Katanya, kawan-kawan sejak dari universiti lagi.

    Pada pandanganku, suamiku itu memang seorang yang segak. Berbaju melayu putih sepasang serta bersampin. Aku juga memakai baju pengantin putih. Kami dah berpakat begitu.

    Aku selalu berdoa pada Tuhan agar Dia kurniakan padaku seorang suami yang dapat membimbing dan menunjukkan aku jalan ketuhanan. Mengasihi aku sebagai seorang isteri. Tidak kuminta harta mahupun pangkat, cukuplah sekadar aku bahagia bersamanya dan dia juga bahagia denganku. Aku juga sering berdoa agar dikurniakan zuriat yang dapat membahagiakan kami.

    “Ana, ada perkara penting yang mak dan ayah nak bincangkan dengan Ana”.Ayah memulakan mukadimah bicaranya di suatu petang sewaktu kami minum petang di halaman rumah. Mak hanya diam memerhatikan aku, membiarkan ayah yang memulkan bicaranya.

    “Apa dia ayah, mak? Macam penting je” Soalku tanpa menaruh sebarang syak wasangka.

    “Sebenarnya, kami telah menerima satu pinangan bagi pihak Ana.”

    “Apa!!!”Pengkhabaran begitu membuatkan aku benar-benar terkejut. Aku masih belum berfikir untuk mendirikan rumah tangga dalam usia begini. Aku mahu mengejar cita-citaku terlebih dahulu. Aku tidak mahu terikat dengan sebarang tanggungjawab sebagai seorang isteri.

    “Kenapa ayah dan mak tak bincang dengan Ana dulu?” Soalku agak kecewa dengan keputusan mak dan ayah yang membelakangi aku. Sepatutnya mereka berbincang denganku terlebih dulu sebelum membuat sebarang keputusan yang bakal mencorakkan masa depanku.

    “Kami tahu apa jawapan yang akan Ana berikan sekiranya kami membincangkan perkara ini dengan Ana. Pastinya Ana akan mengatakan bahawa Ana masih belum bersedia. Sampai bilakah Ana akan berterusan begitu?”Ayah mengemukakan alasannya bertindak demikian.

    “Sebagai orang tua, kami amat berharap agar anak kesayangan kami akan mendapat seorang suami yang boleh melindungi dan membimbing Ana. “Ujar mak setelah sekian lama membisu.

    “Apakah Ana fikir mak dan ayah akan duduk senang melihat anak gadisnya berterusan hidup sendirian tanpa penjagaan dari seorang suami? Kami bukan nak lepaskan tanggungjawab kami sebagai orang tua, tapi itulah tanggungjawab orang tua mencarikan seorang suami yang baik untuk anak gadisnya.”Terang ayah lagi.

    “Ana..” Seru ayah setelah dia melihat aku mendiamkan diri, menahan rasa.

    “Percayalah, kami membuat keputusan ini adalah untuk kebaikan Ana sebab kami terlalu sayangkan Ana.”;

    “Ini cincinnya, pakailah.” Mak meletakkan satu kotak kecil berbaldu di hadapanku. Perasaanku berbaur. Macam-macam yang datang. Berbelah bagi. Apa yang patut aku lakukan sekarang.

    Sekiranya aku menerima dan bersetuju dengan keputusan mak dan ayah itu, bermakna aku telah membiarkan cita-citaku semakin kabur dan berbalam di hadapan. Namun kiranya aku menolak, bermakna aku telah melukakan hati kedua-dua orang tuaku itu. Orang tua yang telah banyak berjasa dalam hidupku. Tanpa mereka berdua, aku takkan hadir dan mustahil untuk melihat dunia ini.

    “Ahhhhgggg…”Keluhku sendirian. Aku dalam dilemma. Yang manakah patut aku utamakan? Perasaan sendiri atau perasaan dan harapan mak dan ayah. Aku selalu tewas bila melibatkan perasaan mak dan ayah. Aku terlalu takut untuk melukakan hati mereka. Aku takut hidupku nanti tidak diberkati Tuhan.

    Azan maghrib yang berkumandang mengejutkan aku dari lamunan. Dah masuk waktu maghrib rupanya. Masih banyak lagi barang-barang yang belum dikemaskan. Penat juga nak kemaskan semua ni.

    “Nanti kite kemas lepas ni. Mari solat maghrib dulu.” Ujar ayah padaku.

    Adik-adik sibuk bentangkan tikar dan sejadah di ruang solat. Begitulah selalunya apabila kami berkumpul. Solat berjemaah adalah saru agenda yang tidak boleh dilupakan.

    Semua orang telah siap sedia menunggu sewaktu aku keluar dari berwudhuk di bilik air. Aku cepat-cepat mengenakan telekung dan memasuki saf bersama emak, kakak dan adik.

    Selesai je iqamah, ayah memberikan penghormatan kepada suamiku untuk menjadi imam. Dia kelihatan serba salah dengan permintaan ayah itu. Dia merenung ke arahku. Aku hanya mengangguk sebagai isyarat supaya dia memenuhi permintaan ayah itu. Maka dengan tenang, dia mengangkat takbir. Menjadi imam solat maghrib kami pada malam itu.

    Betapa hatiku tenang sekali menjadi makmumnya. Dengan bacaan yang jelas dan merdu itu membuatkan aku berasa kagum dengan suamiku itu. Mungkin tepat pilihan ayah dan mak buatku. Bacaannya lancar lagi fasih. Bagaikan seorang arab yang menjadi imam.

    “Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami terlupa atau tersilap. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau bebankan kami dengan bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Jangan Engkau pikulkan kepada kami apa-apa yang tidak terdaya kami memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami serta ampunkanlah dosa kami dan berilah rahmat kepada kami.”

    “Wahai Tuhan kami! Kurniakanlah kami daripada isteri dan suami serta zuriat keturunan yang boleh menjadi cahaya mata buat kami dan jadikanlah kami daripada golongan orang-orang yang muttaqin.”
    Dia membaca doa dengan khusyuk memohon kepada Tuhan setelah selesai solat. Kami bersalaman. aku mendekati suamiku sambil menghulurkan tangan.

    “Bang, maafkan Ana!” Bisikku perlahan sewaktu mencium tangannya. Dia kemudiannya mengucupi dahiku sebagai tanda kasih yang tulus.

    “Sayang tak ada apa-apa salah dengan abang.”Ujarnya sambil tersenyum merenung wajahku.

    Selepas berwirid dan berzikir, dia bangun menuju ke halaman rumah.

    “Abang nak ke mana tu?”Soalku.

    “Nak kemaskan barang-barang kat bawah tu. Ada sikit lagi.”Jawabnya.

    “Dah la tu. Rehat jelah. Esok kita boleh sambung lagi.”Aku kesian melihatnya, keletihan.

    “Betul kata Ana tu Zul. Sambung esok sajalah.” Sampuk ayah yang tiba-tiba mendengar perbualan kami. Emak pun mengangguk menyetujui sarananku itu.

    “Takpelah ayah, Ana. Sikit aje tu. Kejap je saya buatnya.” Dia masih berkeras sambil berlalu turun ke halaman rumah untuk mengemas beberapa peralatan yang masih lagi berada di bawah khemah.

    Aku menukar pakaian, kemudian keluar membantu suamiku mengemas barang-barang di halaman rumah. Dia kelihatan asyik tanpa menyedari kehadiranku. Semua barang-barang telah dikemasnya. Aku mencapai kain pengelap dan mula mengelap meja.

    “Bila Ana turun?” Soalnya apabila menyedari aku sedang mengelap meja.

    ” Baru aje. Asyik sangat abang buat kerja sampai tak sedar Ana datang.”

    “Maafkan abang sayang.” Dia menghampiriku.

    “Sayang tak marahkan?” Soalnya lagi sambil memeluk pinggangku erat.

    Aku merenungnya, kemudian mengeleng-ngeleng sebagai tanda aku tak ambil hati pun pasal tu. Dia tersenyum sambil menghadiahkan satu ciuman di pipiku.

    “Ish..abang ni! Nanti dilihat orang, malu kita.” Rungkutku tersipu-sipu. Nanti malu juga kalau dilihat oleh ahli keluargaku.

    “Apa nak malu, kan sayang ni isteri abang.”Jawabnya tersenyum.

    “Tau la, tapi tengok la keadaan dan tempat. Kalau kita berdua saja, lebih dari cium pun Ana bagi.”

    “Betul ni?”Soal suamiku cepat-cepat.

    “Ish..;gatal la abang ni!” Dia cuba mengelak dari menjadi mangsa cubitan tanganku.

    Aku terasa bahagia disayangi begini. Inilah pertama kali dalam hidupku merasai betapa nikmatnya cinta dan kasih sayang seorang kekasih hati yang aku sayangi. Aku tidak pernah terlibat dengan cinta walaupun semasa aku di universiti dulu. Dan pada tika ini, aku akan menikmatinya selepas perkahwinan. Cinta seorang suami terhadap seorang isteri.

    Walaupun begitu,masih ada sedikit rasa takut di hatiku. Aku takut aku tidak mampu untuk menunaikan tanggungjawab sebagai seorang isteri. Aku takut aku tidak mampu untuk menjadi seorang isteri yang solehah dan mulia dalam hidup suamiku.

    “Apa yang Ana menungkan ni?”Soalan itu mengejutkan aku dari lamunan. Aku berehat sekejap di atas kerusi batu dalam taman di halaman rumah setelah selesai mengemas barang-barang.

    “Abang ni, terkejut Ana tau!” Aku buat-buat merajuk. Saja nak menduga bagaimana suamiku memujuk.

    “Alaa..sayang ni..macam tu pun nak marah.” Usiknya sambil mencubit pipiku.

    “Nampak gayanya terpaksalah abang tidur bawah katil dengan nyamuk-nyamuk malam ni sebab isteri abang dah merajuk. Kesian kat abang yea!” Aku mula tersenyum dengan kata-kata suamiku itu. Pandai juga suamiku buat lawak nak memujuk aku.

    “Sayang…” Seru suamiku sambil merangkul tubuhku.

    “Sayang nak honeymoon kemana?” Tak terfikir pulak akau pasal honeymoon tu. Aku pun tak ada apa-apa plan atau cadangan pasal tu.

    “Ana ikut aje ke mana abang nak bawa.”

    “Kalau abang bawa ke bulan atau bintang, sayang nak ikut ke?” Guraunya.

    “Banyak ke duit abang nak bayar tambang roket dan nak beli set bajunya nanti?” Soalanku itu membuatkan suamiku pecah ketawa.

    “Nanti sayang nak berapa orang anak?” Soalnya lagi setelah ketawanya reda.

    “Abang nak berapa?” Soalku kembali tanpa menjawab soalannya.

    “Abang nak sebanyak mungkin. Larat ke sayang nanti?”

    “Ish…abang ni. Abang ingat Ana ni kilang anak ke?” Sekali lagi suamiku ketawa. Nampaknya dia adalah orang yang mudah ketawa.

    “Takdelah macam tu. Tapi abang suka kalau kita ada anak yang ramai. Sama banyak lelaki dan perempuan.”

    “Insya Allah, kalau ada rezeki nanti Ana sanggup.” Penjelesanku itu membuatkan suamiku tersenyum gembira.

    “Ni yang buat abang tambah sayang ni.” Satu lagi kucupan mesra singgah di pipiku.

    Aku terasa bahagia diperlakukan begitu. Aku punyai suami yang baik dan penyayang. Aku rasa dilindungi.

    “Zul, Ana! Jom kita makan dulu!” Suara mak memanggil.

    “Mari bang! Ana pun dah lapar ni.” Ajakku sambil memimpin tangannya. Kami bangun beriringan masuk ke dalam rumah untuk menghadapi hidangan makan malam.

    Rasa lapar la juga kerana sejak tadi lagi asyik layan tetamu dan buat kerja aje sampai lupa untuk makan. Seronok sangat dengan kahadiran kawan-kawan rapat serta gembira dianugerahi seorang suami yang baik.

    Sudah beberapa hari aku asyik memikirkan pasal pertunanganku. Terlalu sukar untuk aku menerimanya. Tambah lagi dengan lelaki yang tidak pernah kukenali. Perkahwinan bukanlah sesuatu yang boleh diambil mudah. Kehidupan yang memerlukan persefahaman sepanjang hidup. Tanpa persefahaman dan tolak ansur, mustahil dua jiwa dan dua hati boleh bersatu dalam menjalani hidup sebagai suami isteri.

    Tidak sedikit cerita yang aku dengar tentang rumah tangga yang hanya mampu betahan buat seketika atau separuh jalan sahaja. Kemudian pecah berkecai umpama kapal dipukul badai. Berselerak dan bertaburan. Apataha lagi kalau dah dikurniakan anak. Anak-anak akan jadi mangsa keadaan.

    “Mampukah aku menerima suamiku nanti sepenuh hatiku? Mampukah aku menyediakan seluruh ruang isi hatiku ini buat suamiku itu? Bahagiakah aku bila bersamanya nanti?” Bertalu-talu persoalan demi persoalan menerjah benak fikiranku. Aku rasa amat tertekan dengan keadaan ini. Bukan aku tak fakir pasal rumah tangga, tapi aku masih belum bersedia untuk melaluinya.

    “Ya Allah, bantulah aku dalam membuat keputusan. Tunjukkanlah aku jalan penyelesaian. Janganlah Engkau biarkan aku sendirian dalam menentukan masa depan hidupku.”

    “Ya Allah, aku benar-benar tersepit antara kehendak orang tuaku dan persaan hatiku sendiri. Kiranya ia baik buatku, maka berilah aku redha dalam menerimanya wahai Tuhan.

    Indahnya kuperhatikan suasana kamarku. Aku sendiri yang menghiasinya. Kamar malam pertamaku bersama seorang lelaki yang bergelar suami. Kamar yang akan menjadi saksi bisu bila mana aku menyerahkan khidmatku pada seorang suami. Kegusaran dan sedikit gentar mula bertandang dalam sanubari. Aku rasa takut sendirian untuk melalui keindahan malam pertama ini. Bagaimanakah akan melayani suamiku nanti?

    Ketukan pada pintu bilik membuatkan hatiku bertambah gusar. Dari tadi lagi aku hanya duduk di birai katil.

    “Masuklah, pintu tak berkunci.” Aku bersuara perlahan. Aku pasti, itu adalah suamiku.

    Dia masuk, kemudian menutup pintu bilik kami dengan perlahan. Dia kemudiannya menghampiri dan duduk di sisiku.

    ” Kenapa asyik termenung aje ni? Sayang tak gembirakah bersama abang?” Aku tak menyangka soalan itu yang diajukan oleh suamiku tatkala ketakutan di malam pertama begitu membanjiri jiwaku.

    Aku hanya mampu mengeleng-ngeleng. Aku sendiri tak tahu apa jawapan yang terlebih baik untuk soalan suamiku itu.

    “Habis tu apa yang sayang menungkan ni?”

    Ana takut bang!” Itulah aku rasa jawapan yang tepat bagi menjawab soalannya.

    Dia memelukku erat sambil membelai rambutku.

    ” Apa yang nak ditakutkan? Abangkan ada. Abang akan bantu dan tolong sayang. Kita sama-sama bina keluarga kita.” Pujuk suamiku.

    ” Ana takut Ana tak mampu untuk menjalankan tugas sebagai isteri abang. Ana banyak kelemahan bang. Ana takut nanti Ana akan mengecewakan abang. Ana takut..” Aku tidak sempat untuk meneruskan kata-kataku kerana suamiku telah meletakkan telunjuknya di bibirku tanda tidak membenarkan aku menghabiskan bicaraku. Terkebil-kebil mataku memandangnya.

    ” Sayang, abang terima sayang sebagai isteri abang seadanya. Abang terima segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada sayang. Usahlah sayang risaukan pasal itu. Ok sayang! ” Bisiknya.

    Aku memeluknya syahdu di atas penerimaannya terhadapku.

    ” Sayang, abang nak mandi kejap. Badan ni dah rasa macam melekit.” Aku bangun membuka almari pakaian dan mencapai sehelai tuala serta kain pelikat. Kuhulurkan kepadanya dengan penuh kasih sayang.

    Dia tersenyum kepadaku dan mencium pipiku sebelum berlalu ke bilik air. Kemudian aku terdengar siraman air terjun ke lantai.

    Malam berarak perlahan. Langit kelihatan gelap pekat tanpa bulan dan bintang. Mungkin sekejap lagi hujan akan mencurah, membasahi bumi yang sudah beberapa hari merindui titis air untuk membajai ketandusannya.

    “Ayah, mak! Ana dah buat keputusan.” Beritahuku sewaktu kami sedang berehat di beranda rumah pada suatu hari.

    Ayah yang sedang membaca akhbar dan emak yang sedang menyulam tiba-tiba memandangku serentak, kemudian berpaling sesama sendiri.

    ” Keputusan tentang apa?” Soal ayah inginkan kepastian. Mungkin mereka tertanya-tanya keputusan apakah yang telah kubuat.

    ” Pasal peminangan tu.” Ujarku.

    Ayah dan emak kembali merenungku. Mereka memberikan perhatian kepada apa yang bakal aku beritahu. Keputusan yang telah kubuat setelah berfikir baik dan buruknya. Keputusan yang bakal menentukan masa depan arah perjalanan hidupku.

    ” Kiranya ini takdir Tuhan, maka Ana redha dengan jodoh yang ayah dan emak pilih.” Terasa pilu sekali hatiku sewaktu meluahkannya. Ada sedikit titis jernih jatuh ke riba. Aku mengesatnya dengan hujung jari.

    Emak bangun dan memelukku. Aku tidak tahu apakah ertinya pelukan emak itu. Pelukan gembira oleh kerana aku menerima pilihan mereka atau pelukan untuk menenangkan jiwaku yang sedang berkecamuk dan sedih ini? Hanya emak yang tahu hakikatnya.

    ” Syukurlah, moga Ana bahagia nanti.” Ucap ayah padaku.

    Aku terpaksa berkorban demi untuk melihat senyuman di bibir ayah dan emak walaupun hatiku sendiri terpaksa menangis. Tapi adalah terlebih baik bagiku memakan hatiku sendiri daripada memakan hati orang tua ku.

    “Nanti mak kenalkan dia pada Ana.” Ujar emak sambil tersenyum kerana keputusanku memihak kepada mereka.

    ” Tak payahlah mak. Kenalkan pada Ana di hari perkahwinan tu aje.” Aku rasa lebih baik demikian kerana selepas ijab Kabul aku sudah tidak punyai pilihan lain selain daripada menerima walaupun dengan terpaksa lelaki pilihan ayah dan emak ku itu sebagai suamiku. Aku tidak mahu pertemuan sebelum ijab kabul nanti akan menyebabkan aku berbelah bagi dengan keputusan yang telah aku buat.

    ” Kenapa pula macam tu? Kan lebih baik kalau Ana berkenalan dahulu dengannya.” Ayah mempersoalkan keputusanku itu.

    ” Ana telah memenuhi kehendak ayah dan mak dengan menerima pilihan ayah dan mak. Tak bolehkah ayah dan mak memenuhi permintaan dan kehendak Ana pula?” Aku berlalu meninggalkan mereka dalam keadaan tercengang dengan permintaan ku itu.

    Aku siapkan kamar tidur seadanya. Aku letakkan pakaian persalinan buat suamiku di atas katil. Aku menunggunya keluar dari bilik air. Aku sendiri telah bersiap-siap menukar pakaian malam menanti suamiku itu dengan penuh debaran. Kedengaran pintu bilik air dibuka. Dia keluar sambil tersenyum ke arahku.

    ” Sayang, boleh tak ambilkan abang segelas air. Dahagalah.” Pintanya sambil mengelap-ngelap badannya dengan tuala di tangan.

    ” Baik bang. Bang, ni baju abang.” Ujarku sambil bangun untuk ke dapur.

    Sewaktu aku keluar, lampu di ruang tamu semuanya telah dipadamkan. Kulihat jam dah dekat pukul 1 pagi.

    ” Patutlah.” Bisik hatiku. Aku meneruskan langkahku ke dapur dalam smar-samar cahaya bilik yang masih lagi terpasang.

    Kupenuhkan labu sayung dengan air masak dan ku capai sebiji gelas. Aku membawa kedua-duanya menuju ke bilik.

    Suasana malam agak sunyi. Tiada bunyi cengkerik atau cacing tanah. Cuma kat luar sana kadang-kadang langit kelihatan cerah diterangi cahaya kilat memancar. Malam yang pekat bakal mencurahkan hujan.

    Sewaktu aku melangkah masuk ke bilik, kelihatan suamiku sedang khusyuk berdoa atas sejadah. Mulutnya terkumat kamit tanpa kutahu butir bicaranya.

    Kutuangkan air kedalam gelas dan kuletakkan atas meja menanti suamiku selesai berdoa. Kemudian dia bangun menghampiriku. Aku menghulurkan gelas air kepadanya.

    “Bang….”Seruku.

    “Ada apa sayang?” Soalnya apabila melihat aku tersipu-sipu kearahnya.

    “Malam ni abang nak…..nak…..”Agak segan untuk kuteruskan pertanyaan itu. Suamiku masih lagi menanti persoalan yang kutanya… ” Nak apa sayang?” Soalnya lagi sambil tersenyum.

    “Ah..abang ni…”Aku malu sendirian apabila melihat suamiku seolah-olah dapat membaca fikiranku.

    “Ya, abang nak sayang layan abang malam ni. Boleh tak?” Bisiknya ketelingaku.

    Aku hanya mampu mengangguk-angguk tanda bersedia untuk melayani segala kehendak dan kemahuannya. Aku cuba untuk mempersiapkan diri sebagai seorang isteri yang mampu menyediakan dan memenuhi segala keperluan dan kemahuan suamiku itu.

    “Assalamualaikum, wahai pintu rahmat!” Bisik suamiku.

    ” Waalaikumussalam wahai tuan pemilik yang mulia.” Jawabku.

    Malam yang gelap kehitaman itu kulaluinya bertemankan seorang lelaki yang telah kuserahkan kepadanya seluruh jiwa dan ragaku ke dalam tangannya. Dia berhak segala-galanya keatasku. Sebagai seorang isteri, aku mesti sentiasa patuh kepada segala arahan dan suruhannya selagi mana ia tidak bercanggah dengan ketetapan Tuhan dan Rasul.

    Pertama kali kulalui dalam hidupku, malam bersama seorang lelaki yang telah dihalalkan aku keatasnya. Aku umpama ladang dan suamiku itu adalah peladang. Ia berhak mendatangiku mengikut sekehendak hatinya.

    Aku telah membaca beberapa buah buku tentang alam perkahwinan, rumahtangga dan tanggungjawab seorang isteri apabila aku menerima pilihan emak dan abah terhadapku. Aku cuba untuk mempraktikkannya selagi aku termampu untuk melakukannya. Aku cuba menjadi yang terbaik bagi suamiku. Aku ingin suamiku bahagia bersamaku. Aku ingin menjadi permaisuri yang bertahta di hati dan jiwanya sepanjang usia hayatnya.

    Rasulullah bersabda:

    “Sebaik-baik isteri itu ialah yang dapat menenangkan kamu apabila kamu melihatnya dan taat kepada kamu apabila kamu perintah dan memelihara dirinya dan menjaga hartamu apabila kamu tiada.”

    Rasulullah bersabda:

    “Setiap wanita itu adalah pengurus sebuah rumahtangga suaminya dan akan ditanyakan hal urusan itu.”

    Rasulullah bersabda:

    “Isteri yang mulia ini merupakan sesuatu yang terbaik di antara segala yang bermanfaat di dunia.”

    Rasulullah bersabda:

    “Sesungguhnya wanita yang baik itu adalah wanita yang beranak, besar cintanya, pemegang rahsia, berjiwa kesatria terhadap keluarganya, patuh terhadap suaminya, pesolek bagi suaminya, menjaga diri terhadap lelaki lain, taat kepada ucapan suaminya dan perintahnya, dan apabila bersendirian dengan suaminya, dia pasrahkan dirinya kepada kehendak suaminya itu.”

    Sesungguhnya perkahwinan ataupun rumahtangga itu bukanlah sesuatu yang boleh dipandang remeh atau yang boleh dipermain-mainkan. Ia adalah suatu ikatan yang menghalalkan yang haram sebelumnya.

    Ia memerlukan persefahaman, tolak ansur, saling mempercayai, tolong menolong, kasih mengasihi seikhlas hati dan sebagainya. Tanpa itu semua, mana bisa dua jiwa yang berlainan sifat dan sikap mampu mengharungi sebuah kehidupan yang penuh dengan dugaan ini bersama-sama. Ia amat mustahil sekali.

    Maka seharusnya kita perlu mempersiapkan diri sebelum memasuki gerbang perkahwinan dengan pelbagai ilmu. Ilmu kekeluargaan, ilmu keibu bapaan, psikologi kanak-kanak dan sebagainya. Jangan cuba untuk menghampirinya selagi mana kita belum benar-benar bersedia untuk menghadapinya. Jangan kita fikirkan tentang nafsu semata-mata.

    Fikirkan sama tentang tanggungjawab yang bakal kita pikul nanti. Tanggungjawab sebagai seorang suami ataupun isteri, tanggungjawab sebagai seorang bapa ataupun ibu. Mampukah kita semua memenuhi atau menunaikan tanggungjawab dan tuntutan itu. Kita pastinya akan dipersoalkan tentang pertanggungjawaban itu. Sama ada di dunia mahaupun di hadapan Tuhan nanti. Kerana tanggungjawab itu adalah amanah yang perlu ditunaikan oleh setiap orang.

    Bunyi batuk yang berlarutan menyebabkan aku tersedar dari tidur istimewaku malam ini. Sewaktu aku membuka mata, aku lihat suamiku sedang bersimpuh diatas sejadah. Dia mengurut-urut dadanya menahan batuk. Aku bingkas bangun, turun dari katil dan menghampirinya.

    “Abang tak apa-apa?” Soalku risau dengan keadaannya. Aku mula risau, takut-takut suamiku itu mempunyai penyakit-penyakit tertentu yang tidak aku ketahui.

    “Abang ok je. Mungkin sejuk sikit kot.”Jelasnya. Mungkin juga. Hawa dinihari itu sejuk sebab hujan masih lagi bergerimis selepas mencurah lebat semalam.

    “Pergilah mandi, ayah dan semua orang sedang menunggu kita untuk berjemaah di luar tu.” Arah suamiku sambil tersenyum merenungku dengan pijama itu. Aku malu sendirian bila mata suamiku menyorot memerhati seluruh tubuhku itu.

    “Nakallah abang ni.” Aku bangun mencapai tuala dan terus ke bilik air untuk mandi. Aku masih lagi terdengar batuk-batuk dari luar.

    Ayah mahu suamiku mengimami solat subuh itu, tapi suamiku menolak dengan alasan dia batuk-batuk dan tak berapa sihat. Namun ayah masih berkeras, maka terpaksalah dia menjadi imam.

    Kesian aku melihatnya. Bacaannya tidak selancar semalam. Banyak tersangkut dan terpaksa berhenti atau mengulanginya kerana asyik batuk-batuk sahaja. Aku mula risau lagi dengan keadaan begitu.

    Selepas beriwirid pendek, dia membacakan doa dengan perlahan tapi masih boleh didengari oleh semua ahli keluargaku. Aku lihat muka suamiku agak kepucatan.

    “Kenapa ni bang?” Soalku sewaktu bersalaman dengannya.

    ” Entahlah, abang rasa kurang sihat sikit pagi ni..”

    “Zul sakit ke?” Tanya ayah.

    “Takdelah, cuma kurang sihat sikit. Mungkin sebab cuaca kot.”Jawabnya.

    “Elok makan ubat, nanti takut melarat pulak.” Sampuk mak.

    “Nanti Ana ambilkan ubat.” Aku bangun ke dapur untuk mengambil ubat dalam rak ubat.

    Ubat-ubatan asas sentiasa tersimpan dalm rak ubat di rumahku. Ini bagi memudahkan bagi tujuan rawatan segera kalau ada apa-apa berlaku. Aku ambil sebotol ubat batuk dan segelas air.

    Suamiku sudah masuk ke bilik. Batuknya agak berkurangan sedikit dari tadi. Mungkin betul juga ia ada kaitan dengan keadaan cuaca yang sejuk. Dia menghirup sirap batuk yang kusuapkan.

    “Terima kasih.” Ucapnya perlahan. Aku angguk.

    “Abang berehatlah.” Ujarku sambil membaringkan badannya ke atas tilam.

    “Abang minta maaf kerana menyusahkan sayang.”

    ” Kenapa pula abang cakap macam tu. Sikit pun Ana tak rasa susah.”

    “Abang tahu sayang susah hati tengok abang begini. Sepatutnya hari pertama begini, abang kena membahagiakan sayang. Tapi abang minta maaf sebab keadaan abang tak mengizinkan.”

    “Dahla tu bang. Ana isteri abang. Ana sentiasa bersedia berkhidmat untuk abang tanpa sedikit pun rasa susah.”Pujukku walaupun sebenarnya hatiku memang runsing dengan keadaannya.

    “Walau apapun yang berlaku, abang tetap sayang dan cintakan saying. Sayanglah satu-satunya buah hati abang.” Sambung suamiku tanpa menghiraukan nasihatku supaya dia berehat saja.

    Entah kenapa tiba-tiba sahaja hatiku dilanda kesedihan. Entah darimana ia berputik.

    “Abang minta maaf atas segalanya. Sayang maafkan abang yea”

    “Abang nak tidur dulu. Mengantuk rasanya.” Ujarnya perlahan.

    “Abang tidurlah.” Aku menarik selimut untuk menyelimutinya. Aku menciumi dahinya. Sekejap sahaja dia terlena selepas mulutnya terkumat kamit membacakan sesuatu.

    Aku memerhatikan suamiku buat seketika. Tidurnya kelihatan tenang dengan susunan nafas yang teratur. Aku suka melihat wajahnya yang memberikan ketenangan buatku. Wajahnya yang agak bersih dihiasi dengan kumis dan jambang yang nipis dan terjaga. Aku berdoa dan berharap agar kurniaan Tuhan ini akan berkekalan bersamaku hingga ke akhir hayat.

    Namun segala-galanya telah ditentukan Tuhan. Hidup, mati, rezeki, baik dan buruk seseorang hamba itu telah ditentukan Tuhan semenjak ia berada dalam kandungan ibunya lagi. Maka aku sebagai seorang hamba yang lemah terpaksa menerima segala kehendaknya dengan redha dan tenang.

    Siapa tahu, rupa-rupanya itulah hari pertama dan terakhir aku bersama suamiku yang baru aku kenali itu. Aku hanya mengenalinya seketika sahaja, namun dia telah meninggalkan aku buat selama-lamanya. Aku belum sempat untuk menjalankan tugasan sebagai isteri dengan sepenuhnya. Apalagi yang dapat aku lakukan.

    Patutlah dia asyik memohon maaf dariku.

    Sewaktu aku ingin mengejutkannya untuk bersarapan, berkali-kali aku cuba memanggil namanya. Namun dia masih tak menjawab. Aku menggoncang tubuhnya, tetapi tetap tak ada respon. Aku sentuh tangannya, sejuk.

    Aku memeriksa nadi dan denyutan jantungnya. Senyap! Air mataku terus je mengalir tanpa dapat ditahan lagi. Menangisi kepergian seorang suami. Aku tersedu-sedu sewaktu semua ahli keluarga masuk kebilik untuk melihat apa yang berlaku setelah terlalu lama aku cuba mengejutkan suamiku itu. Tapi rupanya hanyalah jasad yang terbujur kaku.

    ” Sudahlah Ana, bersyukurlah kerana masih ada lagi pusaka tinggalannya buat Ana.” Pujuk emak.

    Aku hanya mampu tersenyum dengan pujukan emak itu sambil memandang wajah seorang bayi lelaki yang sedang nyenyak tidur disebelahku. Itulah takdir Tuhan, malam pertama yang telah membuahkan hasil.

    Walaupun hanya pertama, tapi itulah panglima yang menang dalam pertarungan bagi menduduki rahimku ini. Hari ini, zuriat suamiku itu telah menjenguk dunia ini. Satu-satunya pusaka yang tidak ada nilai buatku selain sebuah rumah yang telah diwasiatkan oleh suamiku buatku.

    Ya Allah, tempatkanlah rohnya bersama golongan yang soleh. Ya Allah, rahmatilah anakku ini. Jadikanlah dia umpama bapanya yang sentiasa taat kepadamu. Jadikanlah ia berjasa kepada perjuangan dalam menegakkan agamamu. Jadikanlah ia sebagai permata yang membahagiakan aku dan seluruh keluargaku. Aamiin.

    Wallahu’alam bishshawab, ..
    Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah ....

    Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

    Salam Terkasih ..
    Dari Sahabat Untuk Sahabat ...

    ... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

    ~ o ~

    Semoga bermanfaat dan Penuh Kebarokahan dari Allah ...
    Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

    #BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#
    --------------- --------------- --------------- ---
    .... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahum ma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa'atuubu Ilaik ...