... LANGKAH SEORANG PENGANTIN ...
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Wajah yang tersapu make-up dengan
dominasi warna peach itu tersenyum. Kepala tertutup kain kerudung warna
putih menambah kecantikan wajah yang bahagia itu, senada dengan kebaya
panjang bertabur kemilau zwarovski berwarna sama. Cermin seakan
bertambah memantulkan semua yang tergambar di hati si pemilik wajah.
Pemilik wajah itu aku.
Hari ini akulah ratu. Aku si pemenang
hati seorang ksatria muda yang gagah berani. Setelah satu tahun,
berjuang bersama saling menjajaki. Satu tahun menghadapi kebersamaan
dalam suka dan duka mencari ujung cinta kami. Satu tahun saling
mengenalkan keluarga dan belajar saling memahami. Akhirnya lelaki dengan
senyum memikat itu telah meminangku menjadi istri, ratu di hatinya.
Permintaan yang sempat menjadi pergolakan di batinku.
“Bun, Rayhan melamar Nunik,” kataku pada Bunda, setelah lelah berpikir.
Bola mata Bunda langsung membesar. Ia langsung berhenti menyiapkan
makan malam dan duduk di sampingku, menatapku penuh harap. “Terus Nunik
terima?”
Kugelengkan kepalaku. “Belum, bunda. Nunik minta waktu menjawabnya. Menurut Bunda bagaimana?”
Bundaku tersenyum. Senyum yang selalu berhasil membuatku tenang. “Nunik
putriku sayang, Bunda gak bisa ikut campur soal perasaan Nunik. Bunda
tahu Nunik dan Rayhan sudah lama saling berkenalan dan berhubungan dekat
kalau kalian tidak mau itu disebut sebagai pacaran.
Dulu Nunik
menerima persahabatan itu pasti ada pertimbangan sendiri. Tapi sayang,
kalau Nunik bertanya apakah Bunda setuju. Bunda sangat setuju karena
Rayhan anak yang baik dan ibadahnya juga bagus.
Dan kalau Nunik
masih ingat, dulu Ayah pernah memberi kita tausiyah kan? Kalau ada
orang yang kita ridhoi agama dan akhlaqnya (untuk meminang), maka
terimalah pinangannya. Jika tidak maka akan terjadi fitnah dan kerusakan
di muka bumi. Mudah-mudahan Nunik mengerti maksud Bunda ya, nak.”
Bunda mengingatkan, Ayah menyetujui, sementara Ibu Rayhan memelukku
meminta agar aku mau menerima pinangan putranya. Ibu Rayhanlah
pertimbangan terakhirku untuk menerima Rayhan.
Aku tak ingin
menyia-nyiakan anugerah Allah yang berlipat ganda untukku. Seorang suami
dan seorang ibu lain selain ibu kandungku.
Dan akupun menjawab
dengan anggukan malu-malu di hadapan kedua keluarga besar kami, saat
Rayhan benar-benar datang bersama keluarga besarnya melamarku secara
resmi. Gaung zikir berkumandang saat itu, ditingkahi keharuan luar
biasa. Rayhan sendiri tak yakin aku menerimanya, karena itulah dia tak
bisa menyembunyikan kegembiraan.
Sebulan kemudian, disinilah
aku. Duduk menatap cermin, menatap wajahku yang sedang merona bahagia.
Sapuan perona pipi semakin memperjelas hatiku yang sedang berdenting
penuh cinta.
“Kakak cantik sekali,” suara bisikan adikku Namira membuatku menoleh. Mata Namira berkaca-kaca.
Aku juga ingin menangis. Tapi Namira buru-buru memintaku menahan haru
agar tak merusak riasan wajah hasil karyanya. Ya Tuhan, siapakah yang
mampu menahannya?
Namira, adik perempuanku satu-satunya. Dialah
sahabat sejatiku. Kami tidur satu tempat tidur sejak kecil, berbagi
cerita, berbagi tawa. Sesekali kami berdebat, tak jarang malahan
bertengkar. Tapi selalu saja, kami berbaikan dengan cepat. Namira
menjadi tempatku mengadu, tempatku mencurahkan isi hatiku saat sedang
kesal atau sedih.
Semalam, kami berpelukan sambil menangis.
Namira memohon agar aku mau sekali-sekali tetap datang saat ia
membutuhkanku. Ia bersedia tetap menjadi adik sekaligus sahabat yang
akan selalu memelukku saat aku sedang susah. Namira benar-benar
membuatku merasa berat meninggalkan rumah ini, meskipun bukan terpisah
karena kematian.
“Nangis gak ngajak-ngajak,” suara adikku yang
lain, Nirwan terdengar di ambang pintu. Ia tersenyum sedih melihat aku
menggenggam tangan Namira dengan mata berkaca-kaca. Ia melangkah masuk,
menatapku lalu kembali berbisik sama seperti Namira. “Kakak cantik
sekali.”
Dan kali ini airmataku pun jatuh. Nirwan itu memang
adikku, tapi dialah penjagaku. Meski masih muda, Nirwan selalu
melindungiku. Sejak kecil, ia selalu dengan berani menantang orang-orang
yang berani menyakitiku.
Ketika besar, dia selalu bersedia
mengantarku ke manapun aku pergi. Bahkan dari Rayhan aku tahu, adikku
pernah mendatanginya, meminta agar tidak mempermainkan kakaknya, karena
kalau tidak maka Rayhan harus bersiap menghadapinya.
Teringat
itu, aku benar-benar jadi cengeng. “Maafin kakak ya kalau selama ini
sering marahin kalian. Kalau kakak gak ada di sini, tolong jaga Ayah dan
Bunda.”
“Kakak ini ngomong apa sih? Kakak kan cuma menikah.
Kakak hanya berpindah tempat tinggal, hanya beda propinsi saja. Kita
masih bisa saling ketemuan. Jangan ngomong begitu ah!” sela Nirwan.
Aku tak bisa bicara. Aku hanya bisa mengangguk. Nirwan benar, aku hanya
pindah tempat tinggal karena semua yang aku miliki masih ada. Tanggung
jawabku masih ada untuk keluargaku, sebagai seorang anak dan sebagai
seorang kakak. Saat ini, aku sedang mengambil tanggung jawab lain
sebagai seorang istri.
Bunda masuk. “Aduh, kalian ini. Pasti
buat kak Nunik sedih ya. Tuh kan, makeupnya jadi berantakan!” Bunda
langsung mengambil tisu, menyapu wajahku lagi dibantu Namira. Tak lama,
Ayahpun datang. Bertanya kesiapan kami. Semua pun menganggukkan kepala.
Dibantu Bunda dan Namira, aku mulai berdiri. Kami mengatur posisi. Ayah
dan Bunda di samping kiri dan kananku sementara adik-adikku berada di
belakangku. Ayah berbisik padaku. “Kamu sangat cantik, putriku. Tak ada
yang sesempurna dirimu hari ini.”
Aku berusaha keras menahan
tangis, tangan Ayah dan Bunda menggenggam erat kedua tanganku di
masing-masing sisi. Aku merasa lengkap, merasa memiliki segalanya. Restu
orangtua dan dukungan saudara saudariku adalah kekuatanku, memulai
langkah baru.
Langkahku pelan, namun pasti memandang ke depan
mencari sosok Rayhan. Dia di sana, berdiri di dekat meja ijab kabul,
tersenyum padaku. Senyum yang memberiku kepercayaan. Kepercayaan
terhadap dirinya agar mampu memimpinku.
Saat duduk, Ayah
meminta waktu untuk sedikit berbicara pada Rayhan. Di tengah orang
banyak, Ayah mulai berkata tanpa teks pada calon suamiku.
“Rayhan, anakku. Saya sebagai Ayah Nunik memintamu agar menjadi pemimpin
yang baik untuk istrimu. Lanjutkan tugas saya mendidik putri saya agar
selalu berada di jalan yang benar. Kasihilah dia seakan-akan dia adalah
bagian dari dirimu sendiri… ” Ayah terdiam. Bibirnya tampak bergetar
sebentar. Matanya menatapku, berkaca-kaca.
Lalu ia kembali
melanjutkan dengan suara lebih pelan. “Izinkanlah silahturahmi antara
kami dengan Nunik agar tetap terjaga dan… saya mohon, bahagiakanlah
putri saya.” Dan aku melihat airmata mengalir di pipi Ayah.
Rayhan nampak tak bisa menahan haru. Ia bangkit dari kursinya, tidak
seperti protokoler acara yang dibuat oleh Wedding Organizer kami
sebelumnya. Ia langsung mengatakan sesuatu pada Ayah, entah apa karena
aku hanya melihat Ayah juga langsung memeluknya dengan
mengangguk-angguk. Tapi aku tahu pasti, Ayah dan Rayhan saling
mengucapkan janji yang hanya mereka berdua yang tahu.
Dan aku
berdoa, berbekal ridho seluruh keluarga, aku melangkah bersama Rayhan.
Melangkah dalam bahtera pernikahan, berharap kebahagiaan dunia dan
akhirat.
~ o ~
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Wajah yang tersapu make-up dengan dominasi warna peach itu tersenyum. Kepala tertutup kain kerudung warna putih menambah kecantikan wajah yang bahagia itu, senada dengan kebaya panjang bertabur kemilau zwarovski berwarna sama. Cermin seakan bertambah memantulkan semua yang tergambar di hati si pemilik wajah. Pemilik wajah itu aku.
Hari ini akulah ratu. Aku si pemenang hati seorang ksatria muda yang gagah berani. Setelah satu tahun, berjuang bersama saling menjajaki. Satu tahun menghadapi kebersamaan dalam suka dan duka mencari ujung cinta kami. Satu tahun saling mengenalkan keluarga dan belajar saling memahami. Akhirnya lelaki dengan senyum memikat itu telah meminangku menjadi istri, ratu di hatinya. Permintaan yang sempat menjadi pergolakan di batinku.
“Bun, Rayhan melamar Nunik,” kataku pada Bunda, setelah lelah berpikir.
Bola mata Bunda langsung membesar. Ia langsung berhenti menyiapkan makan malam dan duduk di sampingku, menatapku penuh harap. “Terus Nunik terima?”
Kugelengkan kepalaku. “Belum, bunda. Nunik minta waktu menjawabnya. Menurut Bunda bagaimana?”
Bundaku tersenyum. Senyum yang selalu berhasil membuatku tenang. “Nunik putriku sayang, Bunda gak bisa ikut campur soal perasaan Nunik. Bunda tahu Nunik dan Rayhan sudah lama saling berkenalan dan berhubungan dekat kalau kalian tidak mau itu disebut sebagai pacaran.
Dulu Nunik menerima persahabatan itu pasti ada pertimbangan sendiri. Tapi sayang, kalau Nunik bertanya apakah Bunda setuju. Bunda sangat setuju karena Rayhan anak yang baik dan ibadahnya juga bagus.
Dan kalau Nunik masih ingat, dulu Ayah pernah memberi kita tausiyah kan? Kalau ada orang yang kita ridhoi agama dan akhlaqnya (untuk meminang), maka terimalah pinangannya. Jika tidak maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi. Mudah-mudahan Nunik mengerti maksud Bunda ya, nak.”
Bunda mengingatkan, Ayah menyetujui, sementara Ibu Rayhan memelukku meminta agar aku mau menerima pinangan putranya. Ibu Rayhanlah pertimbangan terakhirku untuk menerima Rayhan.
Aku tak ingin menyia-nyiakan anugerah Allah yang berlipat ganda untukku. Seorang suami dan seorang ibu lain selain ibu kandungku.
Dan akupun menjawab dengan anggukan malu-malu di hadapan kedua keluarga besar kami, saat Rayhan benar-benar datang bersama keluarga besarnya melamarku secara resmi. Gaung zikir berkumandang saat itu, ditingkahi keharuan luar biasa. Rayhan sendiri tak yakin aku menerimanya, karena itulah dia tak bisa menyembunyikan kegembiraan.
Sebulan kemudian, disinilah aku. Duduk menatap cermin, menatap wajahku yang sedang merona bahagia. Sapuan perona pipi semakin memperjelas hatiku yang sedang berdenting penuh cinta.
“Kakak cantik sekali,” suara bisikan adikku Namira membuatku menoleh. Mata Namira berkaca-kaca.
Aku juga ingin menangis. Tapi Namira buru-buru memintaku menahan haru agar tak merusak riasan wajah hasil karyanya. Ya Tuhan, siapakah yang mampu menahannya?
Namira, adik perempuanku satu-satunya. Dialah sahabat sejatiku. Kami tidur satu tempat tidur sejak kecil, berbagi cerita, berbagi tawa. Sesekali kami berdebat, tak jarang malahan bertengkar. Tapi selalu saja, kami berbaikan dengan cepat. Namira menjadi tempatku mengadu, tempatku mencurahkan isi hatiku saat sedang kesal atau sedih.
Semalam, kami berpelukan sambil menangis. Namira memohon agar aku mau sekali-sekali tetap datang saat ia membutuhkanku. Ia bersedia tetap menjadi adik sekaligus sahabat yang akan selalu memelukku saat aku sedang susah. Namira benar-benar membuatku merasa berat meninggalkan rumah ini, meskipun bukan terpisah karena kematian.
“Nangis gak ngajak-ngajak,” suara adikku yang lain, Nirwan terdengar di ambang pintu. Ia tersenyum sedih melihat aku menggenggam tangan Namira dengan mata berkaca-kaca. Ia melangkah masuk, menatapku lalu kembali berbisik sama seperti Namira. “Kakak cantik sekali.”
Dan kali ini airmataku pun jatuh. Nirwan itu memang adikku, tapi dialah penjagaku. Meski masih muda, Nirwan selalu melindungiku. Sejak kecil, ia selalu dengan berani menantang orang-orang yang berani menyakitiku.
Ketika besar, dia selalu bersedia mengantarku ke manapun aku pergi. Bahkan dari Rayhan aku tahu, adikku pernah mendatanginya, meminta agar tidak mempermainkan kakaknya, karena kalau tidak maka Rayhan harus bersiap menghadapinya.
Teringat itu, aku benar-benar jadi cengeng. “Maafin kakak ya kalau selama ini sering marahin kalian. Kalau kakak gak ada di sini, tolong jaga Ayah dan Bunda.”
“Kakak ini ngomong apa sih? Kakak kan cuma menikah. Kakak hanya berpindah tempat tinggal, hanya beda propinsi saja. Kita masih bisa saling ketemuan. Jangan ngomong begitu ah!” sela Nirwan.
Aku tak bisa bicara. Aku hanya bisa mengangguk. Nirwan benar, aku hanya pindah tempat tinggal karena semua yang aku miliki masih ada. Tanggung jawabku masih ada untuk keluargaku, sebagai seorang anak dan sebagai seorang kakak. Saat ini, aku sedang mengambil tanggung jawab lain sebagai seorang istri.
Bunda masuk. “Aduh, kalian ini. Pasti buat kak Nunik sedih ya. Tuh kan, makeupnya jadi berantakan!” Bunda langsung mengambil tisu, menyapu wajahku lagi dibantu Namira. Tak lama, Ayahpun datang. Bertanya kesiapan kami. Semua pun menganggukkan kepala.
Dibantu Bunda dan Namira, aku mulai berdiri. Kami mengatur posisi. Ayah dan Bunda di samping kiri dan kananku sementara adik-adikku berada di belakangku. Ayah berbisik padaku. “Kamu sangat cantik, putriku. Tak ada yang sesempurna dirimu hari ini.”
Aku berusaha keras menahan tangis, tangan Ayah dan Bunda menggenggam erat kedua tanganku di masing-masing sisi. Aku merasa lengkap, merasa memiliki segalanya. Restu orangtua dan dukungan saudara saudariku adalah kekuatanku, memulai langkah baru.
Langkahku pelan, namun pasti memandang ke depan mencari sosok Rayhan. Dia di sana, berdiri di dekat meja ijab kabul, tersenyum padaku. Senyum yang memberiku kepercayaan. Kepercayaan terhadap dirinya agar mampu memimpinku.
Saat duduk, Ayah meminta waktu untuk sedikit berbicara pada Rayhan. Di tengah orang banyak, Ayah mulai berkata tanpa teks pada calon suamiku.
“Rayhan, anakku. Saya sebagai Ayah Nunik memintamu agar menjadi pemimpin yang baik untuk istrimu. Lanjutkan tugas saya mendidik putri saya agar selalu berada di jalan yang benar. Kasihilah dia seakan-akan dia adalah bagian dari dirimu sendiri… ” Ayah terdiam. Bibirnya tampak bergetar sebentar. Matanya menatapku, berkaca-kaca.
Lalu ia kembali melanjutkan dengan suara lebih pelan. “Izinkanlah silahturahmi antara kami dengan Nunik agar tetap terjaga dan… saya mohon, bahagiakanlah putri saya.” Dan aku melihat airmata mengalir di pipi Ayah.
Rayhan nampak tak bisa menahan haru. Ia bangkit dari kursinya, tidak seperti protokoler acara yang dibuat oleh Wedding Organizer kami sebelumnya. Ia langsung mengatakan sesuatu pada Ayah, entah apa karena aku hanya melihat Ayah juga langsung memeluknya dengan mengangguk-angguk. Tapi aku tahu pasti, Ayah dan Rayhan saling mengucapkan janji yang hanya mereka berdua yang tahu.
Dan aku berdoa, berbekal ridho seluruh keluarga, aku melangkah bersama Rayhan. Melangkah dalam bahtera pernikahan, berharap kebahagiaan dunia dan akhirat.
~ o ~

