Senin, 04 Maret 2013

Anjuran Menikah Pada Bulan Syawal

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menciptakan makhluk-Nya secara berpasang-pasangan, di antaranya manusia. Lalu menjadikan nikah sebagai sarana resmi dan syar'i untuk menjalin hubungan keduanya.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, yang telah menikah, menganjurkannya, dan terus menyemangati umatnya untuk memperbanyak keturunan. semoga juga shalawat dan salam dicurahkan kepada keluarga dan para sahabatnya.

Ibnul Mandzur berkata, "Syawal adalah salah satu nama bulan yang sudah ma'ruf, yakni nama bulan setelah bulan Ramadhan, dan merupakan awal dari bulan-bulan haji." Ada juga yang berpendapat, jika dikatakan Tasywiil Labnil Ibil (syawwalnya susu onta), berarti susu onta yang tinggal sedikit atau berkurang. Begitu juga onta yang berada dalam keadaan panas dan kehausan. Dari sini bangsa Arab berkeyakinan, bakal sial apabila melangsungkan akad pernikahan pada bulan ini. Mereka berkata, “Wanita yang hendak dikawini itu akan menolak lelaki yang ingin mengawininya seperti onta betina yang menolak onta jantan jika sudah dibuahi/bunting dan mengangkat ekornya.”

Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam membatalkan anggapan sial mereka tersebut dengan menikahi istri tercintanya, 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha pada bulan ini. Diriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha berkata,

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي

“Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menikahiku pada bulan Syawwal dan berkumpul denganku pada bulan Syawwal, maka siapa di antara isteri-isteri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim no. 2551, Al-Tirmidzi no. 1013, Al-Nasai no. 3184, Ahmad no. 23137 –dinukil dari Maktabah Syamilah-)

Maka yang menyebabkan orang Arab pada zaman jahiliyah dulu menganggap sial menikah pada bulan syawwal adalah keyakinan mereka bahwa wanita akan menolak suaminya seperti penolakan onta betina yang mengangkat ekornya setelah dibuahi/bunting. Yang pada intinya, mereka menganggap ada kesialan pada bulan ini untuk digunakan menikah dan melarangnya. Padahal sesungguhnya, keyakinan atau anggapan ini adalah anggapan yang tak berdasar dan tidak dibenarkan oleh syariat maupun akal akal sehat.

Anggapan sial menikah pada bulan Syawal merupakan perkara batil. Karena secara umum, merasa sial termasuk thiyarah yang telah dilarang oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melalui sabdanya,

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ

"Tidak ada penyakit menular dan tidak ada ramalan nasib sial." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Dan dalam hadits yang lain sangat tegas menjelaskan larangan thiyarah(ramalan merasa sial), ia termasuk syirik. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

“Ramalan nasib adalah syirik, ramalan nasib adalah syitik (sebanyak tiga kali).” (HR. Abu Dawud no. 3411, Ibnu Majah no. 3528, Ahmad no. 3978, dan al-Hakim no. 42. Al-Hakim mengatakan, hadits yang shahih sanadnya, para perawinya terpercaya namun keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya. Hadits ini disepakati al-Dzahabi dalam talkhisnya)

Imam Ibnu Katsir berkata, "Berkumpulnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha pada bulan Syawal menjadi bantahan akan keraguan sebagian orang yang membenci untuk menikah/berkumpul (dengan pasangannya) di antara dua hari raya, takut/khawatir keduanya akan bercerai. Dan ini tidak ada kaitannya." (al-Bidayah wa al-Nihayah: 3/253)

Tujuan 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha menyampaikan hadits di atas, -beliau dinikahi dan digauli oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada bulan Syawal-, sebagai bantahan tradisi bangsa jahiliyah dan keyakinan orang awam pada saat ini yang tidak suka menikah, menikahkan, dan berkumpul pada bulan syawal. Ini merupakan keyakinan batil yang tak berdasar. Bahkan, termasuk warisan jahiliyah. Dimana mereka meramal kesialan menikah pada bulan tersebut karena nama Syawwaal berasal dari kata al-Isyalah wa al-raf'u (mengangkat : onta betina yang mengangkat ekornya karena tidak mau dikawin). (Lihat Syarh Muslim atas hadits di atas, no. 2551)

Dalam hadits di atas juga terdapat satu anjuran untuk menikah, menikahkan anak wanitanya, dan melakukan malam pertama pada bulan syawal. Alasanya, disamping ada usaha ittiba' pada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menikah dan menggauli istri tercintanya pada bulan tersebut, juga sebagai bantahan dan penolakan akan keyakinan batil jahiliyah yang sudah pernah berjalan bertahun-tahun. Imam Nawawi rahimahullah dalam menjelaskan hadits Aisyah di atas berkata, "pada hadits hadits itu terdapat anjuran menikahkan, menikah (wanita) dan berkumpul/menggauli pada bulan Syawwal dan shahabat-shahabat kami juga menyebutkan sunnahnya hal itu dan mereka berdalil dengan hadits ini."

Urwah –salah seorang perawi hadits 'Aisyah di atas-, mengatakan,

وَكَانَتْ عَائِشَة تَسْتَحِبّ أَنْ تُدْخِل نِسَاءَهَا فِي شَوَّال

"Adalah Aisyah menyukai jika suami mulai menggauli istrinya (melakukan malam pertama) di bulan Syawal." (HR. Muslim)

. . . Membenci untuk menikah, menikahkan, dan malam pertama di bulan syawal karena takut dan khawatir sial/celaka berdasarkan mitos dan keyakinan tertentu termasuk syirik. . .

Kesimpulan

Larangan merasa sial dan akan bernasib buruk saat menikah di bulan Syawal karena mitos yang berkembang. Larangan ini juga berlaku pada bulan selainnya. Takut dan merasa akan sial jika menikah pada bulan tertentu seperti bulan Shafar, Muharram, dan lainnya dengan dasar keyakinan yang tersebar di masyarakat, disebut dengan thiyarah/tathayyur. Sedangkan tathayyur adalah termasuk syirik, dosa besar kepada Allah Ta'ala.

Larangan membenci melangsungkan pernikahan karena keyakinan batil semacam di atas, juga berlaku pada tahun tertetu, seperti takut celaka dua saudara menikah kalau tahun yang sama. Atau takut menikah pada hari-hari tertentu berdasarkan ramalan weton, tanggal lahir, dan semisalnya. Semua ini juga termasuk tathayyur yang wajib diingkari karena termasuk perbuatan syirik. Sementara syariat, tidak pernah melarang niat baik ini, menikah pada waktu-waktu tertentu selain saat ihram haji atau umrah.

Sementara dianjurkannya menikah pada bulan Syawal oleh sebagian ulama didasarkan pada pernikahan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan melam pertama beliau bersama 'Aisyah. Di sana ada nilai ittiba' yang diharapkan keberkahannya. Juga sebagai pendobrak atas keyakinan jahiliyah yang berkembang pada masa tersebut.

Pada masyarakat kita, bulan yang dianggap sial untuk menikah adalah bulan Muharram (Oleh orang Jawa dikenal dengan: suro). Maka jika melangsungkan pernikahan pada bulan tersebut dengan niatan untuk mendobrak khurafat, mitos dan keyakinan batil ini; Insya Allah termasuk suatu kebaikan. Wallahu Ta'ala A'lam.
MENUTUP AURAT

♥ Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke Neraka.

♥ Selangkah seorang isteri keluar rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga suaminya itu hampir ke Neraka.

Pernah dengar kajian salah seorang ustadz? Beliau mengatakan bahwa ketika di akhirat nanti seorang anak bisa membantu orang tuanya masuk ke surga dengan amalan-amalan anaknya, tetapi orang tua tidak bisa menolong anaknya masuk syurga dengan amalan-amalan orang tuanya.

Untuk itu menjadi soleh dan solehah bukan pilihan. Tapi harga mati!

Sabtu, 02 Maret 2013

... NOSTALGIA CINTA SEORANG SUAMI SHALEH ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Teringat ketika dulu saat pertama kali aku melihatmu, berlalu di hadapanku. Aku hanya melihat gamis ungu tua dipadankan dengan rok dan jilbab dengan warna senada. Tak sempat ku lihat wajahmu, hingga rasa penasaranku berlalu karena aku tak mungkin bisa mengenalmu.

Teringat ketika seorang saudara menawarkan wanita shalihah padaku. Yang ku tahu bahwa pilihannya insyaAllah bagus untukku. Saudara yang ku kenal ke shalihannya, tak kan mungkin menjerumuskanku. Rumus husnuzhan yang ku yakini saat itu. Bukanlah sebuah kepasrahan, namun keyakinan.

Teringat ketika dulu aku menadhormu, suasana menegangkan yang ku rasakan. Bertandang ke rumah keluargamu dengan hati penuh rasa, detak jantungku semakin cepat saat aku melihat gaun yang kau kenakan, warna yang sama yang berlalu di hadapanku. Gamis ungu tua dipadankan dengan rok dan jilbab dengan warna senada. Ya Allah...itu dia desahku. Saat ku lihat wajahmu yang tertunduk begitu dalam, ku yakin bahwa tidak hanya aku yang deg-degan, detak jantungku mulai kembali normal.

Teringat ketika dulu aku mengkhitbahmu. Hari itu hatiku berbunga senang, namun jantungku masih deg-degan, tetap berdetak tak normal. Berlalu dengan hasil yang membanggakan, I am the winner karena berhasil memenangkan hatimu, kau menerima pinanganku sayang.

Teringat ketika dulu aku mengikatmu dengan kalimat ijab kabul dan jabat tangan ayahmu dalam genggaman. Do’a makbul terucapkan “ baarokallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jam’a bainakuma fii khair”. Qalbuku berdesir kalimat ALHAMDULILLAH... Allah bukit tursina kini ada di pundakku, mudahkan hamba mengemban amanah untuk kehidupan dunia – akhirat semoga sampai ke syurgaNya, amiin.

Rabb, pilihanMu tak pernah salah, ialah istriku kini wanita shalihah. Melahirkan jundi-jundi permata kehidupan. Letihmu yang terhias sabar.

Teringat ketika dulu pergi dan pulangku disambutnya dengan senyuman. Mulai dari menyiapkan sarapan sampai menjelang tidurpun ada saja pekerjaan yang kau lakukan. Seakan tak ada bagimu waktu luang, tapi istriku memang pintar, ia tak pernah lupa dengan penampilan terbaik untukku suaminya. Istriku sabar dalam mengurusi anak-anak kami, anak menangis kau tenangkan dalam gendongan, kau usap airmatanya dengan lembut dan senyuman.

Bahtera kita memang tak selalu berjalan lancar, ada riak kecil sampai gelombang menghantam, namun kau bantu aku menyeimbangkan bahtera kita agar tak tenggelam. Saat aku harus menyelesaikan pekerjaan yang begitu banyak, kau pun tak lupa menyiapkan bekal. Kopi atau teh hangat kau sediakan serta camilan ringan agar perutku tak lapar. Sementara aku terjaga dengan setumpuk kerjaan, namun kulihat kau di sana terurai tangis bermunajad dalam kekhusukan.

“ Abi...., sarapan dan vitamin di meja sudah ku siapkan, jangan lupa periksa tas kerja kalau-kalau ada yang lupa ummi siapkan”, kalimat ini yang selalu terlontar setiap pagi, saat kau sibuk membenahi rumah dan mengurusi anak-anak kita. Setiap siang kau selalu sempat mengirimkan SMS kasih sayang padaku, semua berbeda setiap harinya. Aku selalu tersenyum membacanya, entah dari mana kau dapatkan kalimat-kalimat sayang itu istriku.

Teringat ketika dulu saat aku sakit dan harus istirahat dari aktivitas harian, sepekan aku terbaring di rumah untuk memulihkan kembali kesehatan setelah dua pekan perawatan di rumah sakit karena gejala ginjal. Kau tak mengeluh dan tetap sabar, menyiapkan makanan khusus untukku, tak membiarkan anak-anak mengganggu waktu istirahatku.

Teringat ketika dulu saat kau jatuh sakit dan harus menjalani perawatan. Dua pekan kau terbaring lemah di rumah sakit, dokter memvonismu terkena kanker tulang belakang. Ketika ku dengar berita itu, seketika aku jatuh lemas tak berdaya. “ Abi.., aku istirahat di rumah saja”. Kalimat itu terucap, karena dia membaca kesedihanku karena melihatnya dalam perawatan. Aku semakin sedih mendengar ucapannya, ia tak mau berlama-lama di rumah sakit hanya berteman infus dan obat-obatan. Aku tak sanggup menolak permintaannya, karena kerasku akan membuatnya terluka.

Rumah membuat senyumnya terkembang, melihat anak-anak kami yang masih kecil bermain riang, bisa memeluk dan tidur dengan mereka membuatnya bahagia. Walaupun kau hanya terbaring dan tak bisa melakukan apa-apa. Hari itu adalah jum’at kedua kau bersama kami.

Setelah sholat subuh dan seperti biasa aku duduk di sampingnya untuk tilawah. Setelah selesai kau bekata padaku “ Abi, kenapa ya mataku begitu ingin terpejam, padahal kan sudah tidur semalaman”. Aku hanya terdiam mendengar ucapannya. Kembali ia berucap “ Abi..., ummi tidur dulu ya, jangan lupa anak-anak di perhatikan, yang sabar ya. Abi juga jaga kesehatan “

Sesaat dengan senyum matanyapun terpejam sambil menggenggam tanganku. Ku pandang wajahmu saat tidur, ada damai tersirat disana. Ketika genggaman eratmu terlepas dari tanganku, kuperiksa detak jantungmu. Ya Allah....kekasihku kembali ke pangkuanMu. Air mataku tak terbendung, mengalir dengan derasnya.

Istriku, tak terasa sudah begitu lama kau meninggalkanku. Kini aku hanya bisa mengenangmu, setiap tahun ku lakukan di tempat yang sama. Di sampingmu dan memandang pusaramu. Kau memang shalihah, walau kini tak ada lagi tempatku bermanja, namun aku selalu bahagia bahwa kau pernah ada, mengisi sejarah kehidupan yang takkan ku lupakan. Hiduplah di sisiNya, yang kupinta dariNya...

Kelak ku ingin -wanita shalihah- ini mendampingiku dalam kekalnya syurga.
... 9 MANFAAT SHALAT DI AWAL WAKTU ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Janganlah sampai kita umat Islam meninggalkan yang namanya shalat wajib 5 waktu, karena begitu besar faedah dan manfaat yang bisa kita dapatkan tanpa kita sadari.

Bagaimanapun keadaannya, selama masih bernafas, seorang muslim wajib hukumnya untuk menjalankan sahalat 5 waktu ini.
Apalagi kalau menjalankannya di awal waktu serta berjamaah.

Barang siapa yang mengerjakan sholat fardhu di awal waktu maka: ...

1. Ia akan di cintai Allah ...
2. Badannya akan sehat ...
3. Keberadaannya di jaga malaikat ...
4. Rumahnya di berkahi Allah ..
5 Wajahnya akan menampakan jati dirinya yg shalih ...
6. Hatinya akan lembut ...
7. Ia akan melewati shirothol mustaqim seperti kilat ...
8. Ia akan selamat dari siksa neraka ...
9. Ia akan di tempatkan Allah di surga ....

(riwayat: Ustman bin Affan)

Saat terindah bagi seorang pecinta adalah ketika ia bertemu, bercengkrama, dan berdialog dengan orang yang dicintainya.
Ketika itu, segala beban hidup dan kenistapaan akan hilang seketika.

Bagi orang beriman, bertemu Allah lewat shalat adalah saat yang paling dinantikan, karena pada waktu itulah ia bisa mencurahkan semua isi hati dan bermi'raj menuju Allah.
Seorang istri sedang mencoba baju yang baru dibelikan oleh suaminya..

Istri : "Abi...aku cantik kan..?"

Suami : "Tidak...!"

Istri : "Lho kok gitu jawabnya? Apa abi tidak mau hidup bersamaku selamanya?"

Suami : "Tidak...!"

... Istri : "Kalau begitu, biarkan ummi pergi saja dari kehidupan abi... Ummi yakin, abi pasti akan menyesal dan menangis setiap hari." [ngambek]

Suami : "Nangis..? Oh tidak...!"

Mendengar jawaban itu, si istri merasa sedih, kecewa, kesal, marah dan ingin rasanya ia memukul suaminya yang dirasa tak berperasaan itu.. Namun, seketika saja sang suami menggenggam kedua tangannya lalau memegang kedua pipinya yang memerah..

Suami : "Ummi.. Ummi tidak cantik, tapi sungguh sangat sangat cantik. Abi tidak sekedar ingin hidup bersama ummi, tapi abi membutuhkan ummi selamanya.. Abi juga tidak hanya akan menangis jika ummi pergi meninggalkan abi, tapi abi bisa mati jika ummi pergi meninggalkan abi. Ummi,,,, pliiiiss tetaplah bersama abi..!"

Istri : "Ah....abi mesti gitu deh...paling bisa kalau bikin deg deg serr." [peluk suami]

Jumat, 01 Maret 2013

... Ahli Ibadah Masuk Neraka ...

ismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Walaupun sudah beribadah selama ratusan tahun, ternyata Allah memutuskan laki-laki ahli ibadah itu harus masuk neraka. Walau sedih, laki-laki tersebut tetap ikhlas dan justru karena keikhlasannya menerima neraka, ia justru mendapat surga.

Kisahnya.
Suatu saat, Nabi Musa as sedang berjalan-jalan melihat keadaan umatnya. Tak lama kemudian, beliau memutuskan untuk singgah ke sebuah tempat yang biasa digunakan untuk shalat bagi masyarakat setempat. Di tempat itu, Nabi Musa as melihat seseorang sedang beribadah dengan khusyuknya.

Nabi Musa as penasaran, siapakah laki-laki yang sudah menarik perhatiannya itu. Nabi Musa pun akhirnya menanyakan perihal tersebut kepada warga setempat. Menurut beberapa warga, orang tersebut adalah orang yang ahli ibadah.

Nabi Musa a.s. kagum melihat orang tua renta yang masih tetap khusyuk beribadah. Dengan segera, Nabi Musa as mendekatinya dan menyapa,
"Wahai hamba AAllah, apa yang hendak engkau pinta dari Allah sehingga engkau begitu khusyuk dalam beribadah," sapa nabi Musa a.s.

"Wahai Nabiyullah, umurku lebih dari 500 tahun dan aku telah 350 tahun beribadah kepada Allah tanpa melakukan dosa sedikitpun," kata ahli ibadah yang sudah tua itu.

"Subhanallah, apa yang kamu harapkan dari ibadahmu yang sedemikian lama itu?" tanya Nabi Musa a.s lagi.
"Aku hanya ingin tahu, di surga manakah Allah SWT akan meletakkan aku kelak di akhirat?" kata ahli ibadah itu.
"Apakah sudah engkau temukan jawabannya?" tanya Nabi Musa a.s.
"Belum Nabi, tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah SWT," pinta ahli ibadah itu.

Ikhlas.
Karena kagum dengan ibadah yang dilakukan orang tersebut, Nabi Musa as akhirnya mengabulkan permintaan ahli ibadah itu. Nabi Musa as kemudian bermunajat memohon kepada Allah SWT agar memberitahukan kepadanya dimana umatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan meletakkannya di dasar neraku-Ku yang paling dalam."

Meski dengan berat hati, Nabi Musa as tetap mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah Allah Firmankan kepadanya. Saat ahli ibadah itu mendengarkan perkataan Nabi Musa, ahli ibadah itu terkejut. Ia kaget atas apa yang dikatakan oleh Nabi Musa as. Dengan perasaan sedih, ia pun beranjak dari hadapan Nabi Musa as.

Pada malamnya, ahli ibadah itu terus menerus berfikir mengenai keadaan dirinya. Walaupun sedih, tapi ia ikhlas atas takdirnya. Ia tidak ingin menuntut apa-apa atas ibadahnya yang sudah 300 tahun itu. Namun, tiba-tiba terlintas di pikiran mengenai saudara-saudaranya, teman-temannya dan orang lain yang mana mereka baru beribadah selama 100 tahun, 200 tahun dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya. Ahli ibadah itu berfikir, dimana kelak mereka akan di tempatkan. Ia merasa iba pada mereka, mungkin saja tempat mereka juga di neraka.

Masuk Surga.
Keesokan harinya, ia menjumpai Nabi Musa a.s kembali. Ia kemudian berkata,
"Wahai Nabi Musa as, aku rela kalau Allah SWT memasukkan akau ke dalam neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam neraka, maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya sehingga seluruh pintu neraka tertutup oleh tubuhku dan tidak akan ada seorangpun yang akan masuk ke dalamnya karena tubuhku menutupi pintu neraka," pintanya.

Nabi Musa as. lalu menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Musa as, maka Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, sampaikanlah kepada umatmu itu bahwa sekarang Aku akan menempatkannya di surga-Ku yang paling tinggi."

Karena keikhlasan ahli ibadah itu, akhirnya ia mendapatkan surga. Nabi Musa as pun memberitahukan kabar ini kepada ahli ibadah yang sudah tua itu. Begitu mendengar berita yang menyenangkan itu, si ahli ibadah langsung bersyukur kepada Allah SWT. Ia semakin meningkatkan kualitas ibadahnya dengan ikhlas di sisa hidupnya.
... Ahli Ibadah Masuk Neraka ...

ismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Walaupun sudah beribadah selama ratusan tahun, ternyata Allah memutuskan laki-laki ahli ibadah itu harus masuk neraka. Walau sedih, laki-laki tersebut tetap ikhlas dan justru karena keikhlasannya menerima neraka, ia justru mendapat surga.

Kisahnya.
Suatu saat, Nabi Musa as sedang berjalan-jalan melihat keadaan umatnya. Tak lama kemudian, beliau memutuskan untuk singgah ke sebuah tempat yang biasa digunakan untuk shalat bagi masyarakat setempat. Di tempat itu, Nabi Musa as melihat seseorang sedang beribadah dengan khusyuknya.

Nabi Musa as penasaran, siapakah laki-laki yang sudah menarik perhatiannya itu. Nabi Musa pun akhirnya menanyakan perihal tersebut kepada warga setempat. Menurut beberapa warga, orang tersebut adalah orang yang ahli ibadah.

Nabi Musa a.s. kagum melihat orang tua renta yang masih tetap khusyuk beribadah. Dengan segera, Nabi Musa as mendekatinya dan menyapa,
"Wahai hamba AAllah, apa yang hendak engkau pinta dari Allah sehingga engkau begitu khusyuk dalam beribadah," sapa nabi Musa a.s.

"Wahai Nabiyullah, umurku lebih dari 500 tahun dan aku telah 350 tahun beribadah kepada Allah tanpa melakukan dosa sedikitpun," kata ahli ibadah yang sudah tua itu.

"Subhanallah, apa yang kamu harapkan dari ibadahmu yang sedemikian lama itu?" tanya Nabi Musa a.s lagi.
"Aku hanya ingin tahu, di surga manakah Allah SWT akan meletakkan aku kelak di akhirat?" kata ahli ibadah itu.
"Apakah sudah engkau temukan jawabannya?" tanya Nabi Musa a.s.
"Belum Nabi, tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah SWT," pinta ahli ibadah itu.

Ikhlas.
Karena kagum dengan ibadah yang dilakukan orang tersebut, Nabi Musa as akhirnya mengabulkan permintaan ahli ibadah itu. Nabi Musa as kemudian bermunajat memohon kepada Allah SWT agar memberitahukan kepadanya dimana umatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan meletakkannya di dasar neraku-Ku yang paling dalam."

Meski dengan berat hati, Nabi Musa as tetap mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah Allah Firmankan kepadanya. Saat ahli ibadah itu mendengarkan perkataan Nabi Musa, ahli ibadah itu terkejut. Ia kaget atas apa yang dikatakan oleh Nabi Musa as. Dengan perasaan sedih, ia pun beranjak dari hadapan Nabi Musa as.

Pada malamnya, ahli ibadah itu terus menerus berfikir mengenai keadaan dirinya. Walaupun sedih, tapi ia ikhlas atas takdirnya. Ia tidak ingin menuntut apa-apa atas ibadahnya yang sudah 300 tahun itu. Namun, tiba-tiba terlintas di pikiran mengenai saudara-saudaranya, teman-temannya dan orang lain yang mana mereka baru beribadah selama 100 tahun, 200 tahun dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya. Ahli ibadah itu berfikir, dimana kelak mereka akan di tempatkan. Ia merasa iba pada mereka, mungkin saja tempat mereka juga di neraka.

Masuk Surga.
Keesokan harinya, ia menjumpai Nabi Musa a.s kembali. Ia kemudian berkata,
"Wahai Nabi Musa as, aku rela kalau Allah SWT memasukkan akau ke dalam neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam neraka, maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya sehingga seluruh pintu neraka tertutup oleh tubuhku dan tidak akan ada seorangpun yang akan masuk ke dalamnya karena tubuhku menutupi pintu neraka," pintanya.

Nabi Musa as. lalu menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Musa as, maka Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, sampaikanlah kepada umatmu itu bahwa sekarang Aku akan menempatkannya di surga-Ku yang paling tinggi."

Karena keikhlasan ahli ibadah itu, akhirnya ia mendapatkan surga. Nabi Musa as pun memberitahukan kabar ini kepada ahli ibadah yang sudah tua itu. Begitu mendengar berita yang menyenangkan itu, si ahli ibadah langsung bersyukur kepada Allah SWT. Ia semakin meningkatkan kualitas ibadahnya dengan ikhlas di sisa hidupnya.