Pahlawan Lingkungan Bandung : Pak Sariban
Kostum kuningnya biasa menghiasi jalanan kota Bandung. Bersenjatakan sapu dan onthel penuh atribut kebersihan, pria ini terlihat seperti seorang pahlawan baru bagi jalanan kota kembang. H. Sariban, demikian nama lengkap pria yang ditemui di acara Braga Festival 2011 kemarin (25/09). Beliau telah menjadi relawan kebersihan selama hampir 30 tahun di kota Paris van Java ini.
Sapu telah menjadi kawan baiknya. Sepeda tua bak seekor kuda putih pun membantu Pak Sariban menghampiri musuh Bandung sebenarnya, yang bernama sampah. Pria yang lahir sejak 64 tahun lalu ini tak mengeluh meskipun panas terik matahari mendera dirinya. Rute perjalanan cinta lingkungan pun ia lakukan setiap hari. Sebelum pukul 8 di pagi hari, Pak Sariban sudah bersiap-siap untuk menyusuri area Cikondang, Sadang Serang, Pahlawan, Jalan Suci bahkan hingga ke Jalan Dago (Ir. H. Djuanda), terutama bila Car Free Day tiba.
“Saya sudah tinggal di sini sejak tahun 1963, dulu Bandung masih bersih dan asri sekali,” ungkap pria yang berasal dari Magetan, Jawa Timur ini. Garis-garis halus yang nampak dari kulit kecoklatannya menandai betapa banyak asam manis yang telah ia lalui bersama kota Bandung. “Bandung dulu dingin banget, nggak kaya sekarang, panas gini.”
Tanpa berniat dibayar sepeser pun, Pak Sariban mengakui bahwa ia melakukan semua ini karena sangat mencintai kebersihan dan lingkungan. “Bapak sih seneng aja sapu-sapu gini dari kecil. Kebersihan kan sebagian dari iman, nah Bapak ingin mewujudkannya tanpa cuma bicara saja,” kata pria berkacamata ini dengan logat Jawa yang cukup kental.
Saat ditanya tentang pendapatnya mengenai kota Bandung, Pak Sariban langsung menjawab dengan lantang, “Bandung sudah tidak sama seperti yang dulu saya ketahui”. Menurutnya, Bandung yang tersohor sebagai kota kembang sejak jaman beliau masih duduk di Sekolah Rakyat dahulu, kini sudah berubah. Bunga-bunga berganti menjadi bangunan menjulang, tanah penuh pepohonan berubah menjadi aspal dimana-mana. “Wayahna saja, Bandung sekarang jadi panas seperti ini,” ungkap lelaki bertopi ala petani ini sembari menyunggingkan senyum.
So, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki keadaan Bandung yang sudah demikian berubah seperti ini? Pertanyaan tersebut juga terlintas dalam pikiran seorang Pak Sariban. Sebagai sesosok warga yang lebih berpengalaman, beliau menghimbau para generasi muda Bandung agar lebih memperhatikan lingkungan hidup. “Generasi muda sekarang masih gengsi sepertinya, masih banyak juga yang belum mencintai lingkungan sepenuhnya. Buktinya, banyak sekali yang membuang sampah sembarangan, bukan?” tutur pria yang juga sering diundang dalam acara-acara lingkungan ini.
Pengetahuan tentang cinta lingkungan harus ditanam sejak dini – sejak masih berusia balita - hal itu lah yang ingin disampaikan oleh Pak Sariban. Bila generasi muda masa kini masih belum memiliki pola pikir cinta terhadap lingkungan, apakah mungkin kita membiarkan sampah terus membusuk dan membunuh bumi serta kota yang kita cintai? “Tak usah menyalahkan pemerintah terlebih dahulu, tetapi belajar lah untuk memelihara lingkungan sebisa kita, walau nggak mungkin sembuh seutuhnya,” demikian sedikit pesan dari Pak Sariban yang akan melanjutkan petualangan “bersih-bersih” ke spot lainnya di kota Bandung.
***
Sebuah pertemuan singkat bersama Pak Sariban, seorang relawan Lingkungan Hidup, menjadi salah satu pemanis dalam rangkaian Braga Festival 2011 kali ini - salah satu perayaan hari ulang tahun Bandung ke-201. Di antara padatnya manusia yang ingin menghampiri pesta rakyat dan memungkinkan terjadinya sampah besar-besaran setelah acara usai, terdapat paling tidak satu insan manusia yang sangat sadar akan kebersihan. Beliau tak akan membiarkan sampah-sampah menguasai kota Bandung, dan akan menyebarkan semangat positif dengan caranya sendiri. Beliau lah Pak Sariban, pahlawan lingkungan hidup kota Bandung. (CS)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar