Sabtu, 11 Januari 2014

Saat Penjaga Arasy Lupa Dengan Bacaan Tasbih dan Tahmidnya

Saat Penjaga Arasy Lupa Dengan Bacaan Tasbih dan Tahmidnya

Suatu hari Rasulullah Muhammad SAW sedang tawaf di Kakbah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”

Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu berhenti di satu sudut Kakbah dan menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.

Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”

“Belum,” jawab orang itu.

“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badui itu.

Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW.

Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah SAW.

Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badui itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, lalu berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar.”

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”

Orang Arab badui berkata lagi, “Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”

Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”

Betapa sukanya orang Arab badui itu, apabila mendengar berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu.

Kamis, 09 Januari 2014

Pasangan terbaik itu sepasang Sepatu :

Pasangan terbaik itu sepasang Sepatu :

1. Bentuknya tak persis sama namun serasi.

2. Saat berjalan tak pernah kompak tapi tujuannya sama.

3. Tak pernah ganti posisi, namun saling melengkapi.

4. Selalu sederajat tak ada yang lebih rendah atau tinggi.

5. Bila yang satu hilang yang lain tak memiliki arti.

SEPATU: SEjalan samPAi TUa

Selasa, 07 Januari 2014

Tanda Meninggal Husnul Khotimah

Tanda Meninggal Husnul Khotimah

Meninggal dunia dalam keadaan Khusnul Khatimah atau
akhir yang baik merupakan dambaan setiap insan.

Setidaknya ada 4 buah hadits dan 1 ayat Al Qur'an yang
dijadikan rujukan untuk menentukan tanda mati yang
baik ini. Menurut Al Imam Al Abani ra dalam kitabnya,
Ahkamul Jana'iz Wa Bida'uha, setidaknya tanda- tanda
meninggal khusnul khatimah antara lain sebagai
berikut :

1. Mengucapkan syahadat ketika hendak meninggal.
Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang akhir ucapannya
adalah kalimat Laa ilaaha Illallah ia akan masuk surga.
(HR. Al Hakim).

2.Dahi berkeringat.
Rasulullah SAW bersabda, "Meninggalnya seorang
mukmin dengan keringat di dahi." (HR. Ahmad).

3. Meninggal pada malam atau siang hari Jum'at.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada seorang muslim
pun
yang meninggal pada hari jum'at, kecuali Allah akan
menjaganya dari fitnah kubur." (HR. Ahmad, At
Tirmidzi).

4. Meninggal syahid di medan perang.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali 'Imran : 169.
janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur
di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[1] disisi
Tuhannya dengan mendapat rezki. 170. mereka dalam
Keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati
terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang
yang belum menyusul mereka[2], bahwa tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati. 171. mereka bergirang hati dengan nikmat
dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah
tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.
Penjelasan ayat:
[1] Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam
kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-
kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana Keadaan hidup itu.
[2] Maksudnya ialah teman-temannya yang masih hidup
dan tetap berjihad di jalan Allah s.w.t.

5. Meninggal dalam keadaan beramal saleh. Rasulullah
SAW bersabda, "Siapa yang mengucapkan Laa
Ilaaha Illallah karena mengaharapkan wajah Allah, yang
ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia
masuk surga.
Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah SWT, yang ia menutup hidupnya dengan amal
tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena
mengharapkan wajah Allah SWT, yang ia menutup
hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk
surga." (HR. Ahmad).

Senin, 06 Januari 2014

Iklan negatif? Laporkan Kisah Nyata Keajaiban Sedekah, Diganti 1000 Kali Lipat


Kisah nyata ini terjadi di Jawa Tengah. Hari itu, seorang lelaki tengah mengengkol vespanya. Tapi tak kunjung bunyi. “Jangan-jangan bensinnya habis,” pikirnya. Ia pun kemudian memiringkan vespanya. Alhamdulillah... vespa itu bisa distarter.

“Bensin hampir habis. Langsung ke pengajian atau beli bensin dulu ya? Kalau beli bensin kudu muter ke belakang, padahal pengajiannya di depan sana,” demikian kira-kira kata hati lelaki itu. Ke mana arah vespanya? Ia arahkan ke pengajian. “Habis ngaji baru beli bensin.”

Ma naqashat maalu ‘abdin min shadaqah, bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. Tidak akan berkurang harta karena sedekah, bahkan ia akan bertambah, bahkan ia bertambah, bahkan ia bertambah,” kata Sang Kyai di pengajian itu, yang ternyata membahas sedekah.

Setelah menerangkan tentang keutamaan sedekah, Sang Kyai mengajak hadirin untuk bersedekah. Lelaki yang membawa vespa itu ingin bersedekah juga, tetapi uangnya tinggal seribu rupiah. Uan g segitu, di zaman itu, hanya cukup untuk membeli bensin setengah liter.

Syetan mulai membisikkan ketakutan kepada lelaki itu, “Itu uang buat beli bensin. Kalo kamu pakai sedekah, kamu tidak bisa beli bensin. Motormu mogok, kamu mendorong. Malu. Capek.”

Sempat ragu sesaat, namun lelaki itu kemudian menyempurnakan niatnya. “Uang ini sudah terlanjur tercabut, masa dimasukkan lagi? Kalaupun harus mendorong motor, tidak masalah!”

Pengajian selesai. Lelaki itu pun pulang. Di tengah jalan, sekitar 200 meter dari tempat pengajian vespanya berhenti. Bensin benar-benar habis.

“Nah, benar kan. Kalo kamu tadi tidak sedekah, kamu bisa beli bensin dan tidak perlu mendorong motor,” syetan kembali menggoda, kali ini supaya pelaku sedekah menyesali perbuatannya.

Tapi subhanallah, orang ini hebat. “Mungkin emang sudah waktunya ndorong.” Meski demikian, matanya berkaca-kaca, “Enggak enak jadi orang susah, baru sedekah seribu saja sudah dorong motor.”

Baru sepuluh langkah ia mendorong motor, tiba-tiba sebuah mobil kijang berhenti setelah mendahuluinya. Kijang itu kemudian mundur.

“Kenapa, Mas, motornya didorong?” tanya pengemudi Kijang, yang ternyata teman lamanya.
“Bensinnya habis,” jawab lelaki itu.
“Yo wis, minggir saja. Vespanya diparkir. Ayo ikut aku, kita beli bensin.”

Sesampainya di pom bensin, temannya membeli air minum botol. Setelah airnya diminum, botolnya diisi bensin. Satu liter. Subhanallah, sedekah lelaki itu kini dikembalikan Allah dua kali lipat.

“Kamu beruntung ya” kata sang teman kepada lelaki itu, begitu keduanya kembali naik Kijang.
“Untung apaan?”
“Kita menikah di tahun yang sama, tapi sampeyan sudah punya 3 anak, saya belum”
“Saya pikir situ yang untung. Situ punya Kijang, saya Cuma punya vespa”
“Hmm.. mau, anak ditukar Kijang?”
Mereka kan ngobrol banyak, tentang kesusahan masing-masing. Rupanya, sang teman lama itu simpati dengan kondisi si pemilik vespa.

Begitu sampai... “Mas, saya enggak turun ya,” kata pemiliki Kijang. Lalu ia menerogoh kantongnya mengeluarkan sebuah amplop.

“Mas, titip ya, bilang ke istrimu, doakan kami supaya punya anak seperti sampeyan. Jangan dilihat di sini isinya, saya juga belum tahu isinya berapa,” bonus dari perusahaan itu memang belum dibukanya.

Sesampainya di rumah. Betapa terkejutnya lelaki pemilik Vespa itu. Amplop pemberian temannya itu isinya satu juta rupiah. Seribu kali lipat dari sedekah yang baru saja dikeluarkannya.

Sungguh benar firman Allah, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 261).

Sabtu, 28 Desember 2013

Pemuda Parlente yang Dirindukan Surga

Dalam perjalanan kehidupan gemilang Nabi Muhammad bin Abdullah, kita tidak bisa lepas dari sesosok manusia pilihan Allah yang satu ini. Seorang pemuda parlente yang cerdas, kaya dan juga necis. Ia merupakan dambaan bagi setiap pembesar Quraisy kala itu. Pada setiap pertemuan bangsawan Quraisy di Darun Nadwah, kehadirannya selalu dinanti. Dan ketika ia datang, maka dipersilahkannya duduk di sana untuk berbincang bersama. Para pembesar Quraisy berharap, pemuda ini kelak akan menjadi penerus mereka.
Pemuda yang satu ini merupakan keturunan orang berpunya. Rambutnya selalu tersisir rapi, pakaiannyapun berasal dari kain yang halus. Ditambah lagi dengan kecerdasan dan ketampanannya. Pemuda ini , nyaris menjadi idaman setiap perawan di jazirah arab kala itu.
Ketika petinggi Quraisy sibuk membicarakan perihal dakwah Rasulullah, ia dengan seksama mengikuti tiap detailnya. Hingga kemudian watak kepemudaannya muncul : Penasaran. Ya, ia kemudian penasaran untuk mengetahui lebih jauh tentang Muhammad Rasululah dan ajaran yang dibawanya. Allah membimbingnya menuju cahaya. Maka dengan ini, kesempurnaan fisiknya terimbangi dengan tersinari hatinya oleh cahaya Ilahi.
Atas izin dari Allah, ia mengetahui bahwa Nabi dan para sahabatnya biasa melakukan liqo’-pertemuan- di rumah Arqam bin Abil Arqam. Jauh dan terpencilnya rumah tersebut sama sekali tidak menyurutkan langkah sang pemuda untuk menuju ke sana. Hingga kemudian, tepatnya ketika fajar hendak menyapa, sampaialah ia di dalam majelis surga itu. Disana , Rasulullah membacakan Al Qur’an dan menyampaikan risalah dakwah yang beliau emban. Diriwayatkan, sang pemuda yang haus akan kebenaran ini ‘hampir melayang’ lantaran sangat tenang ketika mendengar bacaan Al Qur’an dari Nabi yang menyejukkan jiwa. Maka, Nabipun mengulurkan tangannya sehingga tangan mereka saling bercengkerama dalam keromantisan imani.
Waktu terus berjalan, ia tetap mendatangi majlis Nabi itu dengan mengendap-endap. Bukan lantaran takut diketahui oleh keluarga dan pembesar Quraisy, melainkan lebih pada ‘strategi dakwah’ yang diinstruksikan oleh Nabi.
Tersebutlah dalam sebuah riwayat, seorang Quraisy bernama Usman bin Thalhah yang mendapati sang pemuda berkali-kali mendatangi rumah Arqam. Ia juga mendapati ketika sang pemuda melakukan ibadah (shalat) sebagaimana ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah. Maka, ia mengadu. Mengadu yang maknannya khawatir. Apa yang dilihatnya itu diadukan kepada Ibu sang pemuda dan pembesar-pembesar Quraisy.
Maka, dipangillah sang pemuda untuk menghadap di tengah-tengah pembesar Quraisy. Di sana ada ibunda tercintanya, Khunas binti Malik. Di sana, ia diadili.
Pantang mundur sebelum babak belur. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Mungkin, kalimat itu yang tepat untuk melukiskan sikap sang Pemudah Parlente itu. Ia mengakui semua tuduhan tersebut, bahwa ia mendatangi rumah Arqam, mengikuti majlis Nabi dan melakukan sholat sebagai konsekuensi dari apa yang diikutinya.
Ibu kandung yang seharusnya melindunginya, justru berbalik menyerangnya lantaran malu kepada pembesar Quraisy lainnya, ia langsung naik pitam mendengar pengakuan tulus anak tercintanya. Ketika sang anak menyampaikan ajaran yang diikutinya, Bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah Selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Utusan Allah, serta merta sang ibu menghampiri anaknya dan hendak menampar habis-habisan wajah tampan anaknya. Dengan ke-Maha Kasih Sayangan Allah, sang Ibu mengurungkan niatnya. Wajah teduh sang anak sunguh melunakkan hati sang ibu, sedurhaka apapaun dia kepada anaknya. Sebagai konsekuensi dari keimanannya, sang ibu memberi ‘hadiah’ kepada anak kesayangannya itu : dikurung tanpa diberi makan. Hadiah yang sungguh ‘biadab.’

Hijrah ke Habasyah
Pengurungan yang dialami oleh Pemuda itu berlanjut hingga diberlakukannya perintah Rasulullah untuk hijrah ke Habasyah yang pertama, sekitar tahun kelima setelah kenabian, tepatnya pada bulan Rajab. Rombongan hijrah ini terdiri dari dua belas kaum lelaki dan empat kaum wanita.
Setelah mendengar kabar perintah Nabi tersebut, ia mencari cara untuk mengelabui ibu dan penjaga selnya sehingga bisa keluar. Dengan kecerdasannya, tipu muslihatnya berhasil. Ia keluar dari tahanan ibunya dan kemudian bergabung bersama kafilah dakwah menuju Habsyi. Disana, pemuda ini tinggal bersama kaum muhajirin lainnya. Mereka hidup secara aman, tanpa tekanan sebagaimana dialami mereka ketika berada di Makkah.. Hingga kemudian pulang menuju mekkah, sesuai titah Rasulullah.

Pertemuan Terakhir dengan Ibunda
Kisah ini merupakan sebuah sekuel sejarah peradaban tentang watak keras seorang anak dan ibu. Dimana keduanya bagai langit dan bumi. Tidak bisa disatukan dan cenderung saling menguatkan pendapatnya masing-masing.
Sepulangnya dari Habasyah, sang pemuda tetap tidak bergeming dengan kudeta dari ibu tercintanya. Dengan tidak mengurangi rasa hormatnya, ia terus berbakti. Berdakwah, menasehati dan juga mendoakan agar ibunya bergabung dalam kafilah dakwah Nabi. Namun, lagi-lagi kita disadarkan oleh Allah. Bahwa hidayah mutlak milikNya. Kita tidak akan bisa membagikannya secara gratis kepada siappaun yang kita ingini. Meskipun, yang kita ingin beri hidayah adalah ibu. Orang yang paling berharga kehadirannya, bagi siapapun.
Tibalah masa perpisahan itu. Sang anak terperanjat ketika ibunya melontarkan sebuah kalimat usiran. Kalimat yang maknanya ‘perceraaian’ antara anak dan ibu kandungnya. Kata sang ibu geram, “ Pergilah sesuka hatimu! Sesungguhnya aku bukanlah Ibumu lagi!” dengan tidak mengurangi rasa hormat sedikitpun sebagai anak, sang pemuda menjawab dengan santun, tegas dan berwibawa, “ Wahai Ibunda! Nanda telah menaruh kasihan kepada Bunda dan sudah menasehati Bunda. Karena itu, saksikanlah bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.” Sebuah jawaban telak yang maknanya, ‘ Lho Jual, Gua Beli.’ Dengan geram, sang ibu menjawab, “Demi Bintang! Sekali-kali aku tidak akan masuk ke dalam agamamu. Otakku bisa jadi rusak dan buah pikiranku tidak lagi diindahakn oleh orang lain.”
Dan perpisahan itu adalah niscaya. Sebagaimana perpisahan Nuh dengan Istri dan Anaknya, antara Luth dengan Istrinya, Aisyah dengan Fir’aun juga perpisahan antara Muhammad dengan Abu Thalib. Karena keimanan tidaklah mungkin bersatu dengan kekafiran. Kebenaran, selamanya akan berbalikan badan dengan keburukan. Cahaya, selamanya akan menajdi lawan kegelapan. Maka pemuda itu, resmi ‘bercerai’ dengan ibu kandung yang sangat diingininya mendapat hidayah. Semoga kita terlindung dari hal demikian.

Syahidnya Sang Pemuda
Waktu terus berjalan. Sang pemuda dengan setia mendampingi Nabi, hingga beliau termasuk dalam kafilah dakwah yang hijrah ke Madinah dan membentuk sebuah Pemerintahan Islam di sana. Kegigihannya dalam menegakkan kalimat Allah sudah tidak bisa diragukan lagi. Dan akhir hidupnya, semakin menegaskan bahwa beliau adalah salah satu Ahli Surga, Ia termasuk dalam barisan pemuda-pemuda yang dirindukan surga.
Medan Uhudpun bertalu-talu. Mengundang gairah para sahabat yang merindu syahid. Tak terkecuali, semua yang tidak berhalangan turut serta di dalam barisan syuhada’ itu. Mereka keluar dari kota Madinah dan menyongsong musuh di gunung Uhud. Di sinilah, kisah indah itu bermula, sang pemuda syahid. Ia menemui Allah dengan senyum kemenangan dambaan setiap insan yang beriman.
Tatkala pasukan muslim kocar kacir lantaran ulah beberapa sahabat yang ‘gila harta’, dimana pasukan musuh memburu habis-habisan rombongan yang diduga akan menyelamatkan Nabi, maka sang pemuda menaikkan tinggi-tinngi panji yang dibawanya. Ia berteriak untuk memancing perhatian musuh. Agar musuh berbalik mengejar dirinya dan mengacuhkan rombongan Nabi. Di sini, sikap kesatriaannya terlihat sangat jelas. Ia tak takut mati, sedikitpun. Ia bahkan terlihat seperti singa yang gagah. Singa yang nampaknya sudah bisa mencium surga sementara ia masih berada di dunia. Ia yang sendiri, nampak seperti dibantu oleh ribuan malaikat. Ia berhasil mengalahkan banyak pasukan musuh yang menyergapnya. Sampai kemudian datanglah seorang musuh bernama Ibnu Qumaiah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha sekuat mampu mempertahankan panji, sembari berniat agar Nabi berhasil lari lebih jauh lagi dari kejaran musuh. Ia sama sekali tidak megkhawatirkan nyawanya. Yang ada dalam benaknya hanyalah surga dan keselamatan Nabi.
Ibnu Qumaiah berhasil memotong tangan kanan sang pemuda. Ia tidak bergeming. Panji yang dipegannya kemudian dialihkan menuju tangan kirinya. Ia mendekapnya, sementara telapak tangan kirinya masih memegang pedang dan mengayunkannya. Sang durjana tetap saja bernafsu untuk membunuh sang pemuda, sabetan pedang keduanya berhasil memotong tangan kiri sang pemuda. Maka panji yang ada kemudian ia dekap. Sekuat dekapannya, dengan sepenuh jiwa. Akhirnya, dengan sebilah tombak, sang pemuda tersenyum. Tombak itu ditancapkan oleh Ibnu Qumaiah sehingga putus di dalam tubuh sang pemuda.. Tombak itu telah menjadi perantara pertemuannya dengan kekasih sejatinya, Allah Subhanahu Wa Ta’alaa. Wajahnya menelungkup ke tanah dengan basuhan darah sucinya. Ia syahid di medan uhud. Diriwayatkan, setiap kali tangannya terpotong oleh tebasan pedang musuh, ia selalu berkata, “ Muhammad hanyalah utusan Allah. Dan telah berlalu Nabi-Nabi  yang serupa dengannya.”
Uhudpun berakhir. Rasul bersedih karena sebagian besar sahabatnya syahid. Termasuk sang paman Hamzah bin Abdul Muthalib yang syahid lantaran bidikan tombak seorang budak sewaan Hindun. Beliau mengelilingi medan Uhud dengan wajah sedih. Sedih karena beliau ditinggal oleh para pembela agama yang diembannya. Ketika menjumpai jasad Sang Pemuda yang tertelungkup, beliau membacakan firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 23, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).”
Allahu Akbar walillahil hamd! Pemuda itu telah menunaikan janjinya. Ia telah menjual dirinya untuk Agama Allah. Ia telah menebus nyawanya dengan kesyahidan yang mengharukan. Ia telah membuat kita berdecak kagum dengan keberaniannya. Ia selayaknya, menjadikan kita menangis sejadi-jadinya, jika ternyata kita tidak mengenal siapa Pemuda mulia itu. Sahabat yang berjiwa muda, berparas gagah dan dirindu surga. Sang Pemuda Parlente  itu adalah Mush’ab bin Umair Radhiyallahu ‘Anhu. Semoga Allah menerima semua kemuliaan beliau. Aamiin..
Akhirnya, sahabat Khabbab bin Al Arrat meriwayatkan, “Tak sehelai kainpun untuk menutupi jasadnya selain burdah. Andai ditaruh di atas kepala, terbukalah kedua kakinya. Andai ditaruh dikakinya, terbukalah kepalanya. Maka Nabi bersabda, ‘ Tutupkan burdah itu di kepalanya dan tutupi kakinya dengan rumput Idzkir.”
Mush’ab yang tampan telah memberikan contoh. Bahwa iman bukan setengah-setengah. Ia harus diperjuangkan, meskipun harus berpisah dengan keluarga yang dicintai, harta yang dibanggakan, pun nyawa yang tinggal satu-satunya. Dari Mush’ab kita juga belajar, bahwa bakti kepada orang tua harus terus dilakukan, meskipun orang tua kafir. Semoga kita bisa meneladani Mush’ab, sekuat kemampuan kita. Mush’ab, aku rindu padamu.

Kisah Nyata Keajaiban 6 Amalan: Hutang Lunas, Istri Kembali



“Lik, kalau besuk kamu nggak bisa melunasi utangmu, lebih baik kamu mengosongi rumah ini. Atau, aku yang akan mengosongi rumahmu ini” ancam rentenir, Ahad pagi itu. Dunia makin terasa sempit bagi Malik. Sudah tiga tahun ini ia bergelut dengan masalahnya, namun tak juga ia sanggup mengatasi masalah-masalah yang membelitnya, termasuk hutang tersebut. Malik sudah berusaha mencari pinjaman, tapi hasilnya nihil. Kurang dari 24 jam lagi rumah satu-satunya itu akan disita.

Setelah si rentenir pergi, datanglah tamu kedua yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Sudah 2 tahun suami istri itu pisah ranjang.

“Kalau Abang belum juga menandatangani surat cerai saya, insya Allah besuk siang ada yang akan datang menjemput paksa Abang. Jadi besuk pukul 12 siang, saya tunggu di Pengadilan Agama untuk tanda tangan surat cerai!” Malik makin bongkok mendengar tuntutan istrinya itu. Ah... kalau saja si Malik tidak selingkuh. Ia masih ingat masa itu, ketika masih jaya-jayanya, Malik punya hobi main judi dan minum. Ketika usahanya bangkrut, hobi itu menjadi pelarian. Di tahun kedua ia main judi dan mabuk, terjadilah ‘perselingkuhan’ itu. Malik sudah menjelaskan bahwa ia selingkuh tidak sengaja, tetapi istrinya tidak terima. Pulang ke rumah orangtuanya dan meminta cerai.

Setelah Asar, anak pertama datang ke rumah. “Pak, besuk aku sudah nggak bisa sekolah lagi!”
“Kenapa?” tanya Malik
“Habis Bapak tidak membayarkan uang sekolah. Sudah tujuh bulan nunggak.”
Malik semakin bingung. Tiga masalah menumpuk dan memuncak di hari itu. Pikiran Malik semakin gelap seiring hari yang juga mulai gelap. Akhirnya malam itu, Malik memutuskan untuk bunuh diri.

Untunglah Malik masih punya sedikit iman. Sebelum bunuh diri, ia ingat belum Shalat Isya’. Sudah lama sebenarnya Malik tidak shalat, dan ia ingin shalat untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal. Keinginan untuk shalat ini rupanya adalah taufik dari Allah yang membuat Malik secara tak sengaja mengamalkan 6 amalan yang diwasiatkan Rasulullah kepada umatnya jika sedang dilanda gelisah. Fal yatawadh-dha’, langkah pertama adalah berwudhu.

Setelah berwudhu, tiba-tiba hati Malik mulai tenang. “Ya Allah... saya belum pernah dapat ketenangan seperti ini!”

Malik kemudian menunaikan shalat Isya’. Langkah kedua dalam wasiat Rasulullah: wal yushalli rak’atain dikerjakan oleh Malik. Meskipun yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Shalat Hajat, namun esensinya sama dengan Shalat Isya’ yang dilakukan Malik.

Setelah shalat, Malik melihat Al Qur’an di atas rak bukunya. “Mengaji dulu ah, untuk terakhir kali,” kata Malik yang kemudian secara tak sengaja membuka Surat Ali Imran ayat 26.

”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Seakan-akan Allah mengatakan kepada Malik: “Lik, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kata siapa rumahmu akan disita jika Allah mengamankannya? Kata siapa kau aka bercerai jika Allah menyatukan kalian? Kata siapa anakmu akan putus sekolah jika Allah memberi rezeki? Semua keputusan ada di tangan-Ku”

Namun Malik tetap belum percaya. Bagaimana mungkin uang 15 juta bisa ia dapatkan dalam hitungan jam. Bagaimana mungkin ia bisa kembali harmonis dengan istrinya jika jam 12 besuk ia harus bercerai di pengadilan.

Kemudian Malik meneruskan bacaannya. Ternyata artinya: ”Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki, tanpa batas.” (QS. Ali Imran : 27)

Malik masih ragu. Ia pun membuka lembaran mushaf yang lain dan membaca Surat Faathir ayat 2-3.

”Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yan dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling?”

Setelah membaca ayat ini, Malik pun sadar. Ia memohon ampun kepada Allah karena telah berniat bunuh diri yang dosanya sangat besar. “Kalau semua urusan adalah kehendak Allah, saya tidak jadi bunuh diri deh,” kata Malik sambil menutup mushafnya.

Malik kemudian mematikan seluruh lampu rumahnya, kecuali kamarnya dan kamar anaknya. Ia ingin bermunajat kepada Allah. Yang ternyata, itu amal keempat dalam wasiat Nabi setelah berwudhu, shalat dan membaca Qur’an.

Malik berdoa dengan khusyu’ memohon kepada Allah agar rumahnya tidak jadi disita, tidak jadi cerai dengan istrinya dan anaknya bisa tetap sekolah. Malik mengiringi doanya dengan membaca asmaul husna yang dihafalnya: Ya Aziizu ya Hakiim, ya Ghafuru ya Rahiim.

Malik terus berdoa dan membaca asmaul husna hingga jam 1. Mata terasa ngantuk, tetapi Malik tidak menyerah. Ia pun berwudhu dan membaca Qur’an lagi. Kali ini ayat yang dibuka tepat tentang keutamaan taqwa dan tawakkal. Surat Ath Thalaq ayat 2-3.

”Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”

Selesai membaca ayat ini, Malik kembali berdoa. Namun, kali ini doanya berbeda dari doa sebelumnya. Ia benar-benar bertawakkal dalam doanya. “Ya Allah... ampuniah dosaku. Jika besuk para rentenir itu datang, aku memasrahkan rumah ini. Aku telah menyerahkan semuanya kepadaMu...”

Setelah bertawakkal, kini Malik mendapatkan petunjuk untuk melakukan amalan keenam yang diwasiatkan Nabi, yaitu wal yatashaddaq, bersedekahlah. Malik ingat bahwa yang akan disita dalah rumahnya saja, sedangkan isinya tidak. Maka ia pun berencana menyedekahkan isi rumah itu. Ia akan keluar dari rumah itu hanya membawa pakaian saja.

Adzan Subuh terdengar. Malik yang sebelumnya lama tidak ke masjid, kini pergi ke rumah Allah itu untuk shalat berjamaah. Selesai shalat, dzikir dan doa, Malik tidak langsung pulang. Ia ingin terus menenangkan hatinya di masjid. Ia pun membaca surat Al Waqi’ah. Ia pernah mendengar, siapa yang membaca surat Al Waqi’ah akan dijauhkan dari kefakiran.

Tepat pukul 6 pagi, Malik keluar dari masjid. Begitu nyampai rumah, ia melihat sudah ada orang yang menunggunya. “keterlaluan si rentenir, janji datang jam 10, jam 6 sudah di sini,” kata Malik. Namun, ia tetap merasa tenang. Tak lupa ia membaca basmalah.

Ternyata tamu pagi-pagi ini bukan rentenir, melainkan teman lamanya. Singkat cerita, setelah saling sapa dan dibuatkan minum, sang teman menyampaikan maksud kedatangannya.

“Sebenarnya gue ada order Lik. Elu kan jago naksir alat-alat berat, bantu gue ya,” kata sang teman. Malik yang memang jago menaksir harga dimintanya untuk menemani ke luar kota yang mau mengadakan lelang alat berat.
“Maaf, nggak bisa. Gue lagi males,” jawab Malik.
“Aduh Lik, tolong dong... bisa rugi gue kalau elu nggak ikut”
Karena Malik tidak mau ikut temannya, ia pun iseng mengatakan, “Begini, deh. Kalau memang elu mau tetap ngajakgue juga, siapkan duit 50 juta cash di meja gue”
Perkiraan Malik, tidak mungkin temannya menyanggupi hal itu. Namun bagi Allah, semuanya bisa terjadi atas kehendakNya. Kun fayakun.
“Lik, kalau 50 juta mah nggak ada. Tapi kalau 25 juta ada, pagi ini cash pun gue siapin”
“Tolong diulang yang tadi,” kata Si Malik yang tersedak mendengar kesanggupan sang teman.
“Kalau 25 juta, bisa langsung gue siapin. Cash”

Alhamdulillah... selesailah masalah pertama. Masalah utang 15 juta itu beres, bahkan ada sisa 10 juta. Tinggal dua masalah lagi. Istri dan anak.

Rupanya, ketika Malik berdoa di malam hari, anaknya yang bungsu tak bisa tidur, ia nangis terus. Orang tua dari istri Malik menyarankan agar si anak dipertemukan dengan Malik pagi-pagi. “Barangkali anakmu kangen bapaknya, ajaklah bertemu besuk pagi sebelum kalian bercerai.”

Setelah mendapatkan uang 25 juta tersebut, datanglah si istri ke rumah Malik sesuai saran orangtuanya. Malik tersenyum lebar menyambutnya. Si istri pun terheran-heran. Namun belum lagi hilang penasarannya, Malik segera memeluknya dan berkata: “Alhamdulillah, Mah, kita selamat!”
“Selamat apa Bang?”
“Abang dapat duit, nih 25 juta. Mamah tahu kan rumah kita diincar rentenir gara-gara utang Abang 15 juta. Ini uang 15 juta nanti Mamah pegang, bayarkan ke rentenir biar nggak datang lagi selamanya. Katanya mau datang jam 10. Sisanya kita bagi dua. 5 juta buat ongkos Abang ke Riau, yang 5 juta Mamah pegang buat urusan anak-anak. Selama Abang di Riau, tolong jaga anak-anak ya”
“Iya Bang” entah mengapa tiba-tiba kata-kata itu yang keluar dari bibir istrinya. Istri yang tadinya bersikeras meminta cerai tiba-tiba lulu hatinya.

Permasalahan kedua pun selesai. Tinggal permasalahan ketiga, yaitu masalah SPP anak. Masalah ini justru yang paling ringan karena tunggakan SPP hanya 7 bulan, sebulannya Rp 50 ribu. Jadi totalnya hanya Rp 350 ribu. [Disarikan dari Buku Kun Fayakun 2 karya Ustadz Yusuf Mansur]

Kamis, 26 Desember 2013

Iklan negatif? Laporkan Bidadari yang Terbuang

Dalam banyak ayat, Allah mengingatkan kepada kita, bahwa ujian, seringkali berasal dari orang-orang yang dekat dengan keseharian kita. Baik yang bernasab layaknya bapak, ibu, saudara kandung, teman hidup baik suami maupun istri. Juga, orang-orang terdekat yang tidak ada kaitan darah seperti tetangga, sahabat atau siapapun yang dekat dalam kehidupan kita.

Tak terkecuali dalam kehidupan bisnis. Hal ini berlaku serupa. Adalah Malin Kundang. Sebuah legenda yang sangat populer. Lantaran bisnis, gengsi dengan kehidupan istri dan mertuanya, ia campakkan orang tuanya. Hingga akhirnya, dia terkutuk. Menjadi batu. Dan namanya, abadi dalam ketidakbaikan.

Tentu, sebagai orang yang berakal. Kita berharap agar tidak menjadi Malin Kundang berikutnya. Karena sebelum ajal menjelang, siapapun kita, bisa menjadi apapun selama kita tidak waspada dalam mendidik diri. Ini niscaya. Karena setan, tidak akan membiarkan kita berada dalam pendukung dan pelaku kebenaran.

Saya ingin menamainya dengan Fulan. Ia hidup di sekitar Jazirah Arab. Kegigihannya dalam berusaha telah mengantarkan dirinya menjadi seorang pebisnis ulung. Ia berpindah dari satu lokasi menuju lokasi lain untuk memperdagangkan komoditinya. Hampir semua tempat, sudah pernah ia jelajahi.

Ia hidup berempat. Bersama istri tercintanya, anak semata wayang penyejuk hati, dan ibu yang sudah tak muda lagi. Ibu yang telah melahirkannya itu, menderita lumpuh. Alhasil, cara hidup nomadennya ini, bertambah berat lantaran harus mengurusi sang ibu. Artinya, ia harus memindahkan ibunya, kemanapun ia beranjak.

Hingga akhirnya, ia mengalami puncak kegelisahan. Dalam gelisah itulah, timbul sebuah ide konyol. Ide yang sama sekali tidak manusiawi. Dan tak layak dilakukan oleh manusia manapun, apalagi dari anak terhadap ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan dirinya itu. Namun, takdir hendak memberikan pelajaran untuk kita, generasi setelah Fulan tiada.

Ia kemudian berkata kepada istrinya, menyampaikan ide gilanya itu. “Umi, sore ini kita akan beranjak ke daerah lain. Kembali menjajakan barang dagangan kita. Tolong, kemasi semua barang ibu. Kita tinggalkan ibu di tengah sahara. Abi lelah karena ibu sudah sangat merepotkan kita.”

Sang istri, hanya diam. Kemudian mengangguk sembari melaksanakan perintah belahan jiwanya itu. Naluri kemanusiaan sang istri terusik. Namun, sebagai istri, ia tak bisa berbuat banyak.

Hingga akhirnya, apa yang dititahkan oleh Fulan ditunaikan dengan baik. Sang istri, melakukan lebih dari yang diminta. Di samping meninggalkan mertuanya, ia menyertakan anaknya. Mereka berdua ditinggal di tengah sahara. Dengan ancaman mati kedinginan atau diterkam binatang buas.

Sesampainya di tempat yang dituju, Fulan memanggil istrinya. “Umi, dimana anak kita? Aku ingin rehat sejanak sembari bermain dengannya. Agar luruh lelah yang menggelayut selepas perjalanan tadi.”

Tanpa canggung, sang istri menjawab, “Aku meninggalkan anak kita bersama ibu di tengah sahara.” Bagai disambar petir, Fulan langsung menyergap, sembari membentak, “Ha?! Kenapa kau tinggalkan anak kita bersama Ibu? Bukankah aku hanya menyuruh untuk meninggalkan ibu?”

Dengan sangat tenang, sang Istri menyahut, “Jika kubawa anak kita, dan hanya meninggalkan ibu, maka kelak, anak kita akan membuangmu sebagaimana kau membuang ibumu.”

Tanpa kata, Fulan langsung memacu kendaraannya ke tengah sahara. Hingga didapatilah pemandangan yang menyadarkan hati. Ibu dan anaknya tengah dikelilingi binatang buas. Sang anak ketakutan. Dan wanita terbuang itu, tengah mendekap erat cucunya, seraya melindungi. Fulan bergegas mengibas-ngibaskan pedangnya untuk menguisir kerumunan binatang buas yang hendak menerkam ibu dan anaknya.

Setelah aman, ia menyungkur sujud, menangis sejadi-jadinya, meminta maaf, sambil menciumi ibu dan anaknya.

Begitulah. Terkadang, kehidupan dunia bisa membutakan mata hati. Maka dalam cerita ini, istri, ataupun pasangan hidup kita, berfungsi sebagai penyeimbang. Yang mengingatkan di kala kita lupa. Yang meluruskan di kala kita tengah melenceng. Pasangan hidup itu, adalah mereka yang mengulurkan tangannya di saat orang lain enggan untuk membantu.

Sejatinya, orang tua adalah sarana utama bagi suksesnya seorang anak. Meskipun, secara kasat mata, ketika keduanya sudah memasuki senja, keberadaan orang tua nampak merepotkan. Namun, jika kita menggunakan kaca mata langit, keberadaannya adalah sumber kesuksesan.

Dari cerita Fulan ini, kita belajar. Bahwa ibu, dalam berbagai kasus adalah ujian bagi kita anak-anaknya. Dari si Fulan, kita juga belajar tentang hikmah. Bahwa penentangan akan ketidakbenaran, tidak selalu berbentuk kalimat kasar, melainkan dengan tindakan cerdas yang berasal dari hati, hingga sampai pulalah ke dalam hati.

Mari, bahagiakan ibu. Maka Allah, pasti membahagiakan kita. []