Selasa, 23 April 2013
Kamis, 18 April 2013
Agak panjang, silahkan bagi yg mau & berkenan baca :)
Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu :
Derajat kebaikan :
Diantara tanda kebahagiaan dan keberuntungan; bahwa seorang hamba :
Setiap kali bertambah ilmunya, bertambahlah sifat tawadhu’ dan kasih sayangnya.
Setiap kali bertambah amalannya, bertambahlah rasa takut dan
kewaspadaannya. Setiap kali bertambah umurnya, semakin berkuranglah
ketamakannya.
Setiap kali bertambah hartanya, bertambahlah
kedermawanan dan pemberiannya. Setiap kali bertambah kemuliaan dan
kedudukannya, semakin bertambahlah kedekatannya dengan manusia,
pemenuhan kebutuhan mereka dan sifat tawadhu’nya di hadapan mereka.
Derajat keburukan :
Dan tanda-tanda kebinasaan itu adalah ketika :
Setiap kali bertambah ilmunya, bertambahlah kesombongan dan kepongahannya.
Setiap kali bertambah amalannya, bertambah pula keangkuhannya, meremehkan manusia dan baik sangkanya terhadap diri sendiri.
Setiap kali bertambah umurnya, bertambahlah ketamakannya. Setiap kali
bertambah hartanya, bertambahlah kebakhilan dan kekikirinnya.
Setiap kali bertambah kedudukan dan kemuliaannya, bertambahlah kesombongan dan kepongahannya.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
" SHALAT WAJIB ADALAH PENGHAPUS DOSA "
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sebuah sungai di depan pintu
rumah kalian yang dia mandi darinya setiap hari lima kali, apakah masih
tersisa kotoran yang melekat pada tubuhnya??
Para Sahabat menjawab :
Tidak tersisa kotorannya sedikit pun..
Lalu Nabi bersabda :
Demikian itulah perumpamaan sholat lima waktu yang dengan sebab itu Allah berkenan mengampuni dosa-dosa..
(HR. Bukhari di Kitab Mawaqit ash-Sholah [528] dan Muslim di Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ ash-Sholah [667])
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah berwasiat pada Abu Dzar Al Ghifari di mana Abu Dzar r.a berkata,
“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal:
(1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka,
(2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada
di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku,
(3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturrahim meskipun mereka berlaku kasar kepadaku,
(4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan "laa hawla wa laa quwwata
illa billah" (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan
Allah),
(5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit,
(6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan
(7) beliau menasehatiku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada
manusia *Tapi meminta dan memohon hanya kepada Allah Ta'ala.”
(HR. Ahmad 5: 159. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Assalamu ' alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ..
'' EMPAT WASIAT ALI BIN ABI THALIB ''
Ya Bunayya, ihfaż ‘anni arba’an wa arba’an la yadurruka ma ‘amilta ma’ahunna, aghna al-ghina al’aqlu, wa akbaru al-faqru al-hamqu, wa awhasyu al-wahsyati al-‘ajabu, wa akbaru al-hasabi husnu al-khuluqi
Sayyidina Ali bin Abi Tholib, sahabat sekaligus menantu Rasulullah saw mewasiatkan empat hal kepada putranya Hasan RA untuk senantiasa diingat dan dijadikan pegangan dalam kehidupannya.
1-❥ adalah bahwa paling berharganya kekayaan adalah akal dan bukan harta benda ataupun yang lainnya. Karena dengan akal, manusia bisa mencapai apa yang menjadi keinginannya dan dengan akal pula manusia akan mendapatkan harta kekayaan atau bahkan kehormatan. Tanpa akal, manusia tidaklah berarti. Akal pulalah yang menjadi pembeda antara manusia dengan binatang.
2-❥ disebutkan paling besarnya kefaqiran adalah kebodohan. Kebodohan bukan saja tidak adanya kecerdasan ataupun kepintaran dalam diri seseorang, akan tetapi orang yang tidak menggunakan akalnya dengan baik dan untuk hal yang baikpun merupakan sebuah kebodohan.
Kita tahu zaman jahiliyah dahulu kala, disebut jahiliyah bukan karena masyarakatnya yang bodoh akan tetapi lebih pada orang-orang yang tidak mau mengakui kebenaran Rasulullah padahal akal mereka membenarkannya. Jadi kebodohan itu merupakan kefaqiran yang paling akut. Seseorang yang “bodoh” tidak akan dianggap berharga dalam kehidupan sosialnya.
3-❥ adalah paling nistanya kesendirian yaitu kesombongan. Sifat sombong dan congkak tentunya tidak disukai oleh siapapun. Oleh karenanya seseorang dengan sifat sombong tidak akan disukai dan bahkan akan dijauhi oleh orang lain.
Hal ini dikarenakan orang sombong akan sulit untuk bisa menghargai orang lain. Dia hanya bisa melihat kelebihannya sendiri tanpa menyadari kekurangan yang ada pada dirinya, dan sebaliknya dia selalu melihat kekurangan orang lain, tanpa melihat kelebihannya.
4-❥ yang disampaikan Sayyidina Ali kepada putranya adalah paling besarnya kemuliaan seseorang itu terletak pada keindahan budi pekertinya. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori disebutkan bahwa Rasulullah saw diutus ke muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Ini membuktikan betapa penting dan mulianya orang yang berakhlak dan berbudi baik. Masih banyak orang yang meyakini bahwa kehormatan atau kemuliaan itu bisa didapat oleh sebab kekayaan, kecerdasan dan keturunan. Mereka tidak sadar jika kekayaan ataupun kecerdasan yang tidak diimbangi dengan akhlak yang baik bisa menjadi bumerang yang akan menjatuhkan mereka ke dalam kenistaan dan kehinaan.
Maka, jika kita bisa menjaga empat hal tersebut, insyaallah kehidupan kita akan aman dan tentram.
So, Jadilah orang yang cerdas (berakal), dan janganlah jadi orang yang bodoh. Akan tetapi, meskipun engkau dikaruniani Allah kecerdasan dan akal yang sempurna, janganlah menjadi orang yang
sombong, tetapi tetaplah menjadi orang yang berbudi pekerti yang mulia.
Wallahua’lam bish-shawwab.
'' EMPAT WASIAT ALI BIN ABI THALIB ''
Ya Bunayya, ihfaż ‘anni arba’an wa arba’an la yadurruka ma ‘amilta ma’ahunna, aghna al-ghina al’aqlu, wa akbaru al-faqru al-hamqu, wa awhasyu al-wahsyati al-‘ajabu, wa akbaru al-hasabi husnu al-khuluqi
Sayyidina Ali bin Abi Tholib, sahabat sekaligus menantu Rasulullah saw mewasiatkan empat hal kepada putranya Hasan RA untuk senantiasa diingat dan dijadikan pegangan dalam kehidupannya.
1-❥ adalah bahwa paling berharganya kekayaan adalah akal dan bukan harta benda ataupun yang lainnya. Karena dengan akal, manusia bisa mencapai apa yang menjadi keinginannya dan dengan akal pula manusia akan mendapatkan harta kekayaan atau bahkan kehormatan. Tanpa akal, manusia tidaklah berarti. Akal pulalah yang menjadi pembeda antara manusia dengan binatang.
2-❥ disebutkan paling besarnya kefaqiran adalah kebodohan. Kebodohan bukan saja tidak adanya kecerdasan ataupun kepintaran dalam diri seseorang, akan tetapi orang yang tidak menggunakan akalnya dengan baik dan untuk hal yang baikpun merupakan sebuah kebodohan.
Kita tahu zaman jahiliyah dahulu kala, disebut jahiliyah bukan karena masyarakatnya yang bodoh akan tetapi lebih pada orang-orang yang tidak mau mengakui kebenaran Rasulullah padahal akal mereka membenarkannya. Jadi kebodohan itu merupakan kefaqiran yang paling akut. Seseorang yang “bodoh” tidak akan dianggap berharga dalam kehidupan sosialnya.
3-❥ adalah paling nistanya kesendirian yaitu kesombongan. Sifat sombong dan congkak tentunya tidak disukai oleh siapapun. Oleh karenanya seseorang dengan sifat sombong tidak akan disukai dan bahkan akan dijauhi oleh orang lain.
Hal ini dikarenakan orang sombong akan sulit untuk bisa menghargai orang lain. Dia hanya bisa melihat kelebihannya sendiri tanpa menyadari kekurangan yang ada pada dirinya, dan sebaliknya dia selalu melihat kekurangan orang lain, tanpa melihat kelebihannya.
4-❥ yang disampaikan Sayyidina Ali kepada putranya adalah paling besarnya kemuliaan seseorang itu terletak pada keindahan budi pekertinya. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori disebutkan bahwa Rasulullah saw diutus ke muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Ini membuktikan betapa penting dan mulianya orang yang berakhlak dan berbudi baik. Masih banyak orang yang meyakini bahwa kehormatan atau kemuliaan itu bisa didapat oleh sebab kekayaan, kecerdasan dan keturunan. Mereka tidak sadar jika kekayaan ataupun kecerdasan yang tidak diimbangi dengan akhlak yang baik bisa menjadi bumerang yang akan menjatuhkan mereka ke dalam kenistaan dan kehinaan.
Maka, jika kita bisa menjaga empat hal tersebut, insyaallah kehidupan kita akan aman dan tentram.
So, Jadilah orang yang cerdas (berakal), dan janganlah jadi orang yang bodoh. Akan tetapi, meskipun engkau dikaruniani Allah kecerdasan dan akal yang sempurna, janganlah menjadi orang yang
sombong, tetapi tetaplah menjadi orang yang berbudi pekerti yang mulia.
Wallahua’lam bish-shawwab.
Jumat, 12 April 2013
Kamis, 11 April 2013
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Langganan:
Postingan (Atom)